My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Senja DiTaman Pinus 1 (Refisi)


__ADS_3

...💧 Saat air mata sudah menetes tak lagi ada kata - kata yang terucap💧...


...💧 Saat air mata yang berbicara semua indra tak mampu lagi bercerita💧...


...💧Hanya air mata yang bercerita betapa pahitnya rasa rindu yang tertanam, betapa manisnya kebencian menjadi duka terdalam💧...


Goresan tinta hitam diatas kertas itu dilipat olehnya menjadikannya sebuah pesawat dan diterbangkan olehnyan sesak yang menghimpit raga seakan tak mampu untuk dinetralkannya.


Ia hanya berharap dengan terbangnya pesawat itu membawa sedikit rasa sesak dihatinya, walau tidak banyak, tapi bisa sedikit mengurangi rasa sesak dalam hatinya.


"Bawalah terbang rasa yang gue benci" gumamnya lirih.


Sesak rasanya jika tak pernah bisa melupakan semua yang terjadi, apakah itu sebuah kesalahan atau kah sebuah takdir yang harus dijalaninya.


Seakan tiada henti rasa itu menggores lerung hati terdalamnya, seakan rasa itu tak cukup puas hanya menorehkan satu luka tanpa membuat luka baru didalam hatinya. Hari itu Elfiza benar - benar merutuki dirinya.


Seandainya hari itu dia dan yang lain tak kesana mungkin kejadian itu takan lagi dialaminya dan mengapa mesti kedua orang itu yang selalu menggoreskan luka untuk hatinya.


Flashback on...


Sudah satu bulan sejak peristiwa stalker bodoh itu berlalu, dan benar saja ucapan Elfiza hari tenangnya selalu diusik oleh mahluk itu ada saja tingkahnya yang membuat semua orang salah paham akan hubungan mereka berdua.


"Elfizaaaaaaaaa" terak Sri memanggil nama Elfiza yang dipanggil menoleh tak percaya jika sahabatnya itu ada dihadapannya sekarang, bersama Yunia dan Zia, pasalnya mereka membatalkan untuk berkunjung kelembang.


"Guyssss" teriak Elfiza saat kesadarannya kembali lantas berpelukan seperti teletubis.


"Ya Allah apa kabar say?" tanya Zia


"Allhamdulillah baik, kalian?" Jawab Elfiza diselingi pertanyaan pula.


"Allhamdlullilah" ucap mereka serempak yang membuat Elfiza terkekeh.


"Rumah ko sepi beut dah, udah kaya kuburan pada kemana sih?" Tanya Yunia.


"Lgii pada pergi kak" jawab Elfiza santai


"Pada weekend masing - masing ya?" tanya Sri.


"Engga si.. kak Yudis lagi ada tugas karyawisata dari kampusnya keLombok.. hari ini hari terakhirnya mungkin nanti malam atau besok pagi baru same sini" jelas Elfiza.


"Terus ayah sama ibu kemana ?" Tanya Zia


"Ayah sama ibu udah 2 minggu pergi keHongkong katanya sih urusan bisnis gitu deh, kalau kak Yudha ga tau pergi kemana tadi ama temennya" takut ditanya lagi sekalian saja Elfiza menyebutkan nama kakaknya.


"Ohhhhhh" mereka hanya ber oh ria membuat Efiza mendengus.


"Kita kangen loe El" ucap Sri yang diangguki oleh dua sahabatnya.


"Gue juga kangen banget malahan "


"Lpe kenapa sih semenjak pindah loe ga pernah main tengokin kita, cuman sekali waktu itu, itupun malemnya langsung pulangkan" kesal Yunia bila ingat waktu itu.


"Dia lupa ama kita kak" jawab Sri.


"Sembarangan kalau ngomong, ga gituhlah" jawab Efiza.


"Ya terus kenapa loe ga pernah main?" tanya Zia.


Pertanyaan Zialah yang memaksa Elfiza untuk mengingat kembali kejadian yang hampir satu setengah tahun yang lalu Ekfiza kubur dalam - dalam.


"Kenapa loe?" Tanya Sri


"Iya kok tiba - tiba loe bengong sih" timpal Yinia


"Okkk.... terus ceritakan sesibuk apa si loe ampe ga sempetin buat main kePangandaran " pinta Sri, karna tak mendapat jawaban dari Elfiza.


Dari mana Elfiza harus memulai bercerita, merasa bingung juga untuk bercerita, dia hanya tak mau dianggap lemah oleh para sahabatnya karna kejadian itu yang mengakibatkan dirinya habis kena amuk ayahnya.


Bagai mana tidak kena omel sang ayah jika anak gadis satu - satunya yang mengaku akan menginap dipangandaran itu malah pulang dini hari.


Flashback On Didalam Flashback


Sore itu juga setelah pulang dari pantai pangandaran Elfiza langsung bergegas bersiap - siap untuk segera kembali kelembang karna dia tak ingin lagi melihat atau berurusan dengan Nano.


Sri, Zia dan Yunia saja yang mencoba melarang Elfiza tak lagi mampu untuk menghalanginya untuk pulang malam itu juga, bahkan Sri yang merasa hawatir dan menawarkan bantuan kepada Elfiza agar diantar oleh Tigor kakaknya,


akhirnya mengalah karna Elfiza tetep kekek mau pulang sendiri.


Dan malam itu akhirnya dengan penuh drama dari para sahabat akhirnya dia berhasil pulang dengan selamat sampai tujuannya.


Sampai rumah jam sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari, yang membuatnya takut, Elfiza memang selamat sampai rumah tapi dia tak selamat dari omelan ayahnya.


"Apa kamu udah gila dek, ini itu udah jam berapa dek kenapa nekat pulang sih?" tanya Yudha yang membukakan pintu untuknya, saat itu Yudha baru saja akan tidur, jika saja Elfiza tak menelponnya dan meminta untuk dibukakan pintu depan.

__ADS_1


"Kamu kan bisa minta kakak buat jemput" Yudha benar - benar tak habis fikir dengan cara berfikir adiknya yang nekad itu.


"Maaf kak" itulah yang diucapkan Elfiza.


Setelah sampai didepan pintu vila yang megah itu, Elfiza langsung menelphon kakaknya Yudha agar dibukakan pintu, dia tak mau memencet bel rumahnya karna takut mengganggu yang lainnya karna itu dia menelphon Yudha.


"Ya Allah dek .. dek .. kalau ayah sampai tau gimana coba dek?Kamu ini" Tanya Yudha ..


"Ya sudah cepet masuk " tambah Yudha.


"Emang ayah sudah pulang ya kak?" tanya Elfiza berbisik sambil berjingkat.


"Iya sudah pulang tadi sore, udah makanya kamu cepetan balik kamar"jawab Yudha, mendengar perintah kakaknya Elfiza mempercepat langkahnya.


Karna Elfiza sendiri takut kena omel sang ayah, dan saat itu ayah Wira yang bangun karna merasa haus, mepregoki kedua kakak beradik itu tengah mengendap - ngendap untum masuk kekamar masing - masing.


Awalnya ayah Wira mengira yang dibukakakan pintu sama Yudha itu Yudis anak laki - lakinya, yang


baru pulang dan mungkin tak ingin mengganggu yang lainnya, namun saat Elfiza dan Yudha semakin dekat dengan tangga barulah ayah Wira sadar bahwa itu bukan lah Yudis melainkan anak gadisnya.


"Elfiza" panggilan seseorang membuat Elfiza menegang ditempatnya, karna dia sangat tau siapa yang memanggilnya.


"Bukannya kemarin kamu minta izin sama ayah buat minginap diPangandaran?" Tanya ayah Wira yang mendekat kearahnya, raut wajahnya sudah menunjukan betapa murka dirinya.


"Latas mengapa kamu sudah ada disini sekarang?" Kembali pertnyaan terucap dari mulut ayah Wira.


Karna rasa takut Elfiza tak berani menjawab satupun pertanyaan ayahnya.


"Jawab ayah Anestasia!" Itu pertamakalinya ayah membentak Elfiza.


Takut, terkejut dan hal yang lainnya yang bercampur didalam diri Elfiza membuatnya bungkam tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya.


Padahal saat tadi Yudha menanyainya dia dengan lihainya berbohong, entah darimana datangnya ucapan itu yang muluncur begitu saja dari bibirnya, padahal dirinya tak pernah pandai berbohong.


"Ada apa Anestasia?" Sekali lagi ayah Wira bertanya dan kali ini dia benar - benar menuntut jawabannya, Elfiza masih tetap dengan diamnya.


"Ayah tanya sekali lagi sama kamu El, kenapa sekarang ada disini?" bentak ayah Wira karna geram melihat anak gadisnya tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Em...ee... i....i..itu . a..anu. a..yah " ucap Elfiza terbata - bata berucap.


"Bicara yang benar " kembali bentakan itu terdengar.


"Ayah jangan membentaknya, ayahkan tau El ga bisa dibentak" ucap Yudha mencoba menenangkan ayahnya.


"Jangan menangis ayah butuh jawaban bukan tangisan kamu" jelas ayah Wira.


"Ayah sudahlah. kasian El " pinta Yudha kepada ayah, merasa kasian melihat adiknya dibentak seperti itu.


"Justru karna ayah ini kasian sama anak ayah, makanya ayah begini" kali ini yang menjadi sasaran ayah Wira adalah Yudha, namun Yudha sudah sangat terbiasa dengan omelan ayahnya.


"Kamu tau ini jam berapa Anestasia?" Aembali ayahnya bertanya, Elfiza mengangguk.


"Lantas kalau kamu tau ini jam berapa kenapa nekat pulang sendiri?" Kembali bentakan terdengar.


"Ayah sudahlah kasian El" kembali Yudha berucap.


"Diam Prayudha, biar adik mu tau kalau apa yang dia lakukan salah " jelas ayahnya.


"Tapi yah... jangan sekarang kasian El, ini sudah larut pasti dia cape yah" pinta Yudha kembali membujuk.


"Lantas kapan? Samapai dia melakukan hal yang sama lagi begitu mau kamu iya?"


"Bukan begitu juga yah" jawab Yudha serba salah, Yudha tak lagi bisa membela Elfiza jika yang dilakukan adiknya itu memang terbukti salah.


"Apa kamu tak punya kleuarga? Tak punya nomor ayah, atau kakak - kakak mu? Sampai kamu tak menelepon salah satu dari kami, kamu anggap apa ayah ini?" Kembali terdengar bentakan yang membuat isakan Elfiza semakin menjadi.


"Bukan.. hiks..hiks...begitu ... a...hiks ... yah" ucap Elfiza terbata.


"Lantas bagai mana?" tanya ayah Wira yang mulai merendahkan suaranya, namun tetap terdengar tegas.


Sejujurnya ayah Wirapun tak tega melihat anak gadis kesayangannya menangis seperti itu, ayah Wira tak pernah menaikan intonasi ucapannya apa lagi membentak putrinya itu.


Tapi dia juga ingin gadis kecilnya tau kalau apa yang dia lakukan itu salah dan akan berakibat fatal baginya, dan ayah Wira tak ingin Elfiza mengulanginya lagi lain kali, jika tak diberi teguran seperti ini.


Ayah Wira takut Elfiza melakukannya lagi suatu saat nanti.


"A...ku.. cuman ... hiks ...hiks ... tak ingin ... merepotkan.... hiks....hiks ... ayah dan kakak saja " jawab Elfiza masih denga tangisnya.


"Dengar dek .. kalau seperti ini kamu malah membuat semua orang repot, seandainya terjadi sesuatu sama kamu bagai mana?" Tanya Wira, dan Elfiza menyadari kesalahannya.


Elfiza tak sadar jika tindakannya itu akan membuatnya celaka, dia baru sadar saat ayahnya berbicara seperti itu. "Maaf ayah, adek ga mikir sampai kesitu " ucap Elfiza jujur.


"Sudah ... ini kesalahan pertama kamu, tapi jika ayah mendengar kamu melakukannya lagi ayah tak akan segan - segan menghukum kamu" jelas ayah Wira. Elfiza menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah istirahatlah dan satu lagi seorang Wira Atmaja tidak lah lemah dan itu pun berlaku untuk mu, jika jatu terpuruk harus bisa bangkit kembali .. mengerti" tegas Wira.


"Mengerti ayah ".


Flashback off didalam Flashback....


"Woi malah ngelamun" ujar Sri mengagetkan Elfiza. "Ihhhh loe mah " ucap Elfiza kaget.


"Ya abis ngelamun sih" keluh Sri.


"Emang ngelamunin apa sih loe?" Tanya Yunia, Elfiza hanya menggeleng saja.


"Sudahlah kak, loe kaya ga tau aja sifat ajaibnya tu anak, kada dia ngelamuk kaya tadi, kadang senyum - senyum sendiri bahkan yang parahnya ketawa sendiri, kan bikin ngeri" ucap Sri.


"Iya Yun, kan waktu SD dia pernah jatuh dari sepeda " tambah Zia.


"Apa hubungannya?" Tanya Yunia.


"Adalah, otaknya sedikit geser kak, untung aja ga geger otak ya "jawaban Sri yang terakhir membuat Sri meringis karna jitakan dikepalanya dari Elfiza.


"Sia****n enak banget kalau ngomong ga pada pake filter " dengus Elfiza, yang membuat para sahabtnya tertawa.


"Ehh iya katanya temen - temen loe mau pada main kesini mana?" tanya Zia.


"Udah pulang" jawab Elfiza singkat.


"Ko pulang?" tanya Sri.


"Kan kalian yang bilang ga jadi dateng ya pulang lah mereka" jelas Elfiza.


"Yah ga bisa ketemu dong " ucap Sri


"Fa bisa ketemu siapa ?" seseorang dari pintu masuk dan keluar halaman samping bertanya, Elfiza dan kawan - kawan pun menoleh.


"Alifffffff " teriak ketiga gadis itu bersamaan.


"Iya ini gue ga usah teriak - teriak bisa ga?" tanya Alif.


"Sejak kapan?" Sri balas bertanyan,


"Lima bulan yang lalu" Elfizalah yang menjawab pertanyaan Sri.


" Barusan .. baru saja sampai kenapa bilang lima bulan yang lalu?" tanya Alif yang dijawab oleh Elfiza dengan memutar bola mata malasnya.


"Ko loe bisa ada disini? dan sudah lima bulan pula, pantes aja gue ga pernah liat loe lagi junior songong " tanya Sri.


"Gue ikut bonyok ( bokap, nyokap ) gue pindah kakak senior ku yang sopan!" jawab Alif.


Alif dan Sri memang takpernah akur jika bersama maka tak heran jika mereka seperti itu. "Aduh Elfiza sayang " ucap Alif yang membuat semua orang melototkan matanya menghadap Elfiza dan Alif bergantian.


"APA!!. Sayang?" ucap ketiga gadis itu sedikit berteriak bersamaan.


"Santai dong bosku, kalian emang belum pernah dapet panggilan sayang apa sebelumnya?" tanya Alif yang dihadiahi jitakan oleh Sri.


"Enak aja kalau ngomong" sergah Sri cepat.


"Ya abis gitu aja langsung melotot, denger dulu yang mau gue omongin sayang " ujar Alif kepada Sri sabil mencolek dagunya.


Membuat siempunya dagu mengibaskan tangan alis dari dagunya, dan memelototkan matanya siap marah.


"Isss galaknya," ucap Alif sembari melangkah menedekat kearah Elfiza.


"Merekakan sudah datang jauh - jauh kenapa ga bikin pesta" usul Alif.


"Ya sebagai upacara penyambutan gitu" jelas Alif.


"Ide loe ok juga, gimana?" tanya Elfiza, dan ketiga temannya sukses menganga begitupun dengan Alif, pasalnya mereka tau betul sifat El yang tak suka dengan pesta karna ramai orang, ini malah menyetujui ucapan Alif.


"Loe yakin El?" tanya Sri


"Kenapa engga" ucap Elfiza.


"Bukannya loe paling benci pesta ya alasanyakan ramai orang" jawab Yunia.


"Pestakan ga harus banyak orang kita berlimapun jadi tinggal tambah musik dan cemilan" balas Elfiza


"Bener juga" ucap Zia.


"Dari pada pesta seperti itu gimana kalau keliling Lembang saja?" tawar Alif memberi saran kembali.


"Gimana?" tanya Elfiza


"Setuju" jawab serempak dari ketiga gadis itu.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2