My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
OSPEK OH OSPEK


__ADS_3

"Curut" seseorang memanggil Elfiza.


"Saya kak" jawab Elfiza.


"Ikut saya sebentar" titahnya.


"Ada apa ya kak?" Tanya Elfiza.


"Sudah ikut saja" titahnya kembali.


***


"Ada apa sih kak?" Tanya Elfiza setelah berhasil berhenti, dia ditarik paksa oleh sahabat kakaknya satu ini, entah apa maunya pria dihadapan Elfiza itu.


"Diam sebentar seperti itu disitu" pintanya.


"Mau apa sih?" Tanya Elfiza heran.


"Sudah diam saja dulu disitu" titah Arjuna, memang hanya Arjuna yang berani memerintahnya sepertinya.


Elfiza hanya menurut saja tanpa banyak tanya, disuruh dia ya diam, percuma juga tanya ini itu toh Arjuna akan sama menyebalkannya seperti Yudha kalau lagi konyol.


Crekkk...


Suara jepretan dari kamera ponsel milik Arjuna terdengar oleh Elfiza, sedikit tetperangah lantas dengan apa yang dilakukan sahabat sang kakak itu, namun sepersekian detik kemudian Elfiza tersadar dari keterkejutanya.


"Isss... kak Juna mah iseng, hapus ga" pinta Elfiza.


"Buat kenang - kenangan El, kapan lagi coba liat kamu kaya gini" ucap Arjuna tanpa rasa bersalah, sedang Elfiza sudah menahan kesalnya, karna kelakuan sahabat sang abang itu.


"Kak Juna hapus ah" ucap Elfiza berusaha merebut hanpond Arjuna ditangannya.


"Kalau bisa ambil ya ambil aja" ledek Arjuna sambil mengangkat hpnya tinggi - tinggi.


Kesal sekali Elfiza karna tak bisa mengambil henpon Arjuna, bagai mana tidak tinggi badan Elfiza hanya sampai dada bidang sipemuda tampan itu, bagai mana lah dia bisa mengambil henpon yang diangkat tinggi - tinggi seorang Arjuna, mau melompat setinggi yang dia bisapun, Arjuna akan lebih meninggikan lagi hpnya.


Lelah sudah dirinya merebut seseuatu yang tak bisa direbutnya sedari awal, dia mendorong dada bidang Arjuna karna kesal, Arjuna hanya terkekeh saja melihat bibir anak macan itu mengerucut kesal.


"Udah ga usah ngambek kan hari pertama ospek, mending simpen tenaganya jangan dibuat ngambek" titah Arjuna, membuat Elfiza semakin mengerucutkan bibir mungilnya.


"Engga usah digituin tu mulut biar apa coba?" Tanya arjuna sambil mencomot bibir yang mengerucut itu, membuat Elfiza memelototkan matanya tanda tak terima perlakuan sahabat kakaknya itu.


"Ngapain bawa aku kesini?" Elfiza lebih memilih mengalihkan pembahasan bertanya dari pada semakin kesal dirinya.


Arjuna mala terdiam seakan berfikir membuat Elfiza heran saja, "Kenapa sih kak?" Tanya Elfiza bingung.


"Coba muter deh El" pinta Arjuna.


"Apa?" Tanya Elfiza, siapa tahu dia salah dengar dengan ucapan Arjuna tadi.


"Muter El" pinta Arjna.


"Ngapain? Kurang kerjaan ya kak?" Bingung Elfiza dengan perintah Arjuna.


"Udah sih nurut aja, timbang muter doang juga" ucap Arjuna.


"Iya tapi kenapa aku disuruh muter?" Kekeh Elfiza menanyakan untuk apa dirinya muter.


"Nanti juga kamu tau, makanya muter dulu" kembali Arjuna berucap dengan tegas, sedikit kesal karna adik dari sahabatnya itu yang kini menjadi junior dikampusnya itu tak mau menuruti permintaannya.


"Baik ... baik" ucap Elfiza mejuruti ucapan dari sahabat kakakanya itu yang sebentar lagi menjadi seniornya itu.


Elfiza memutar - mutar tubuhnya dengan ogah - ogahannya "Yang bener kenapa El" pinta Arjuna.


"Iya ... iya" Elfiza


"Perfect" ucap Arjuna sambil mengacungkan jempolnya, semakin bingung saja Elfiza dibuat pria tampat dihadapannya itu, yang secara sembunyi - sembunyi dikaguminya itu.


Elfiza menggaruk sebelah kanan kepalanya heran karna tak mengerti, walau tak gatal Elfiza tetap menggaruknya.


"Kamu tuh sempurna" ucapan ambigu dari Arjuna membuat Elfiza bersemu merah karna malu.


"Sempurna jadi pasien kabur dari RSJ" tambah Arjuna.


"Apuuuaaa!!!" Hampir saja Elfiza berteriak kalau saja mulutnya tidak dibekap oleh Arjuna.


"Jangan berisik, kamu mau ada yang liat kita ke gini?" Tanya Arjuna sengit dijawab gelengan oleh Elfiza.

__ADS_1


"Ya habis kak Juna bilang aku orang gila" ketus Elfiza, setelah menarik tangan Arjuna secara paksa dari mulutnya tadi.


"Siapa yang bilang? Kakak ga bilang gitu" ucap Arjuna berkilah.


"Lah tadi aku sempurna kaya pasien RSJ yang kabur, apa namanya kalau bukan gila?" Tanya Elfiza kesal.


"Hehehe, tapikan kakak ga seganbalang itu nyembutnya" kilah Arjuna sambil terkekeh.


"Sama aja" ketus Elfiza.


"Dihh.. ketusnya" ucap Arjuna sambil mencolek dagu Elfiza.


"Udah cepet mau apa? Keburu masuk nih" kesal Elfiza bertanya.


Arjuna malah melanjutkan tawanya yang menurut Elfiza kesal walau dia tak bisa pungkiri jika dia tertawan oleh tawa merdu seorang Arjuna.


'Ahhhh pangeran wayang gue' batin Elfiza.


"Stop ketawanya, itu membuat kesal" ucap Elfiza mangkal 'kesal karna terpana' lanjut hatinya.


"Aku pergi" ketus Elfiza melangkahkan kakinya sambil menghentaknya karna kesal.


"Ehhh... tunggu - tunggu.. ok ... ok.. ha... ha... aduh perut ku" ucap Arjuna tersengal karna ulah tertawanya.


"Ishhhh nyebelin" ucap Eliza kesal, semakin membuat Elfiza memperbesar langkahnya, sayangnya dia seakan berjalan ditempat, karna tarikan dari tangan Arjuna yang mencekal lengannya, membuat Elfiza kembali ketempatnya berdiri.


"Ok.. okk... maaf deh.. kakak cuman mau kasih ini ko" ucap Arjuna Akhirnya.


"Coklat" gumam Elfiza.


"Iya, semangat jalani ospeknya gadis semberaut maniak coklat" ucap Arjuna menyemangati hari pertama ospek Elfiza.


"Makasih" ucap Elfiza mengambil coklat itu dengan senyum yang terkembang dibibirnya.


'Meleleh hati abang ini dek' batin Arjuna.


Hening tercipta ..


"Oh iya El ternyata kamu berbakat ya" ucap Arjuna setelah hening.


"Maksudnya?" Tanya Elfiza.


"Kak J-"


"Sudahlah tu, mending cepat kembali dek kalau ga mau telat" belum sempat Elfiza meneriakan suara oktafnya, sudah dipotong oleh suara sesorang.


"Astagfillah... sejak kapan kakak disini?" Tanya Elfiza sambil mengelus dadanya karna dia merasa terkejut.


"Dari mana datangnya coba?" Sungur Elfiza kembali bertanya.


"Udah ayooo" ucap Yudis sambil mendorong tubuh adiknya pelan dari belakang.


"Hisss... aku bisa jalan sendiri kak" keluh Elfiza saat didorong.


****


Penampilan Kezia dan Siskapun tidak beda jauh dengan Elfiza, peluh yang menetes dipelipis mereka menandakan baetapa lelahnya mereka saat ini.


"Baru pertama berasa udah seabad" keluh Siska.


"Baru kemaren gue ngerasa merdeka sekarang sudah dijajah lagi" tambah Kezia.


"Sebenarnya siapa sih pencetus adanya ospek?" Tanya Elfiza heran.


"Ini sih namanya bukan ospek tapi penyiksaan" kali ini Fahri yang berucap. Ya Fahri ternyata ikut mendaftar kekampus yang sama dengan tiga serangkai itu.


Membuat ketiga dara itu kaget karna hanya dia seorang yang tak pernah menyebutkan kampus pilihannya itu, tidak seperti yang lain yang mengumbarnya.


"Masih ada dua hari lagi, jadi nikmati saja setelahnyakan kalian akan sah jadi mahasiswa sini" balas Yudha sambil menempeli Elfiza dengan satu kaleng minuman soda yang dingin.


"Awww... dingin kak" rutuk Elfiza, tapi tetap menerima apa yang tadi disodorkan oleh abangnya tadi.


"Lebay deh dek" ucap Yudha membuat Elfiza mendengus saja.


"Gimana masih semangat?" Tanya Yudis yang baru saja tiba dari membeli makan siangnya tadi.


Elfiza dkk menunduk lesu sambil menggeleng, "Boro - boro mau semangat yang ada pengen pulang bang" jawab Fahri.

__ADS_1


'Tumben ucapannya bener' ucap hati Yudha, maklumlah biasanyakan suka aga kuarang waras teman adiknya yang satu ini.


"Jalanin aja kan cuman tiga hari ini, kalau hari ini usai berartikan tinggal dua hari lagi" ujar Arjuna mencoba menyemangati calon juniornya itu.


Ketiganya kompak memghembuskan nafas berat mereka, "Loe punya exstra sabar ga beb?" Tanya Fahri.


"Kaga abis buat gue sendiri" ketus Elfiza.


"Tega banget sih beb, ketusin gue terus" keluh Fahri.


"Diem deh.. udah tau gue lagi cape jangan ngajak debat deh" tukas Elfiza makin kesal, entah kenapa jadi emosi anak macan itu.


"Minum beb minum... loe garangnya udah macam kak Ros disebelah loe aja" ujar Fahri sambil memberinya air mineral, yang diterima Elfiza dengan memelototkan matanya.


"Tutup toples, mending loe cabut sana gih" usir Sisika kesal karna ikut dapat imbasnya, padahal dia tak ikut campur.


'Baru juga dibilang bener ucapannya, udah balik lagi gilanya' batin Yudha.


"Sing agengken sabarna El, boga babaturan jiga kitu, aduh teu kabayang ku kakak mah ( besarin sabarnya El, punya teman kaya gitu, aduh ga kebayang sama kakak mah)" ucap Arjuna, Elfiza hanya tersenyum saja, sedangkan Fahri yang dibilang acuh saja seperti tak tersindiri sama sekali.


Malah terus saja menggoda Elfiza yang mengeluarkan taringnya, Yudha dan Yudis sudah tak perduli lagi dengan apa yang diperbuat oleh adik temannya itu.


"Ehhh.. ngomong - ngomong ko kak Yudha bisa jadi ketua ospek sih? Bukannya kak Yudha ga mau ya?" Bingung Elfiza bertanya.


"Ini semua gegara sibotak itu" kesal Yudha menjawab pertanyaan adik singanya itu.


"Sibotak" gumam serempak.


"Siapa?" Tanya Siska penasaran.


"PaCeklik" jawab Yudha kesal.


"Paceklik teh bukannya sebuah musim ya, kalau ga salah artinya kurang atau sama dengan kata melarat gitu bukan sih?" Tanya Fahri.


"Iya tapi ini orang" jawab Yudis.


"Masudnya?" Elfiza bingung sendiri.


"Namanya itu Ceklik Al - Mahera, anak kampus sini aja yang suka menerabasnya dengan paceklik, tanpa adanya jeda" tutur Arjuna menjelaskan.


"Ohhh gitu, kirain lagi musim paceklik gitu" jawab Kezia.


"Lagian kakak tu kalau ngomong yang bener apa" Elfiza.


"Itu udah bener adik abang tersayang" ucap Yudha, Elfiza hanya menggedigkan bahunya tanda tak perduli.


"Emang loe diapain sama pak Ceklik bang?" Tanya Yudis penasaran yang diangguki yang ada dimeja itu terkecualu Arjuna.


"Diancam" keluh Yudha.


"Diancam gimana?" Kali ini Siska bertanya serius, masa ia ada dosen yang suka ngancam kaya gitu, kan serem banget.


"Kalau dia nolak permintaan dosen satu itu, bisa dipastikan nilai dalam matkulnya akan bernilai E, dan kamu tau sendirikan El abang mu satu ini tak pernah mendapatkan nilai E" tutur Arjuna.


"Karna itulah IPKnya tinggi" lanjutnya


"Jadi karna itu loe mau aja disuruh jadi ketua ospek gitu?" Tanya Yudis meminta kejelasan dari sang abang yang diangguki Yudha.


Hahahahaha ....


Terdengar tawa yang kencang dari kakak beradik itu, "Ga nyangka abang gue satu ini takut juga sama nilai yang turun.. hahah" ucap Yudis diselingi tawa.


"Ya mau bagai mana lagi, dari pada nilai  E, percuma nantinya gue ngulang kelas dia lagi satu semester" keluh Yudha.


Hahahaha...


Kembali tawa itu terdengar kali ini lebih meriah karna semua ikut tertawa, mentertawakan ketidak beruntungan seorang pangeran kampus.


"Terus aja ketawa, belum tau aja gimana tu dosen ngajar sih" kesel Yudha.


"Emangnya cara mengajarnya bagai mana bang?" Tanya Fahri penasaran, jujur saja dia tak mau berhadapan dengan dosen yang aga geser sarapnya, tak ingin bermasalah, padahal dirinya sendiri yang buat masalah.


"Kalau gue kasih tau itu ga seru jadi, biar nanti kalian rasakan sendiri." Ujar Yudha.


"Yahh.. kak Yudha gitu" keluh Kezia.


"Biar seru aja Kez" ujar Yudha yang dapat sorakan dari yang lain, ya maksudnya para maba yang ada dimeja itu.

__ADS_1


🌴🌴🌴


__ADS_2