My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Pesawat Kertas Pertama Elfiza (Refisi)


__ADS_3

...❄ Aku ingin seperti semak semanggi yang kokoh nan kuat ❄...


...❄ Ingin seperti batu karang yang tegar diterpa ombak yang dasyat. ❄...


"Ayo sadarlah Elfiza ga usah cengeng, udah ga harus lagi loe nangis cuman karna cowo itu" gerutuh kesal Elfiza mana kala dia mengingat kejadian satu bulan lalu.


Padahal sudah satu bulan yang lalu pertemuan tak sengajanya dengan Nano itu namun bayangan wajah Nano kalimat - kalimat yang diucapkan pria itu semuanya masih terngiang ditelinga.


Seperti suara dengungan lebah suara Nano terdengar samar namun jelas menusuk gendang telinganya dan frekurnsi itu menembuat hatinya seketika mera rasakan sakit itu kembali.


Mungkin jika dirinya tak bertemu dengan Nano dia tak akan menambah daftar rasa sakit dihatinya, sayang semesta seakan mempermainkan dirinya.


'Ya, tuhan..' Teriak batin Elfiza menahan rasa sesak yang menghimpitnya.


"Jika aku sedang tidak bisa berfikir jernih dan menemukan inspirasi sama seperti kamu, aku membuat pesawat kertas dan menerbangkannya itu akan membantuku meringankannya kau bisa mencobanya" Entah karna terlalu serius melamun atau apa tiba - tiba saja suara seorang pria terdengar samar ditelinganya namun lama - kelamaan menjadi jelas.


"Kak juna" Ucap Elfiza lirih


Ya suara yang tadi Elfiza dengar adalah sura Arjuna yang setengah tahun lalu membantunya membuat tugas sekolahnya, dan karna itu pula Rlfiza jadi dekat dengan pemuda itu.


Enta mengapa Elfiza merasa nyaman berbincang dengan Arjuna, tak jarang dia juga curhat sama Arjuna walau hanya hal - hal sepele dan belum kearah yang rahasia, tapi itu bisa saja terjadi jika Arjuna memang enak diajak ngobrolnya dan bisa jaga rahasia tentunya.


Arjuna pun tidak pernah keberatan jika Elfiza ingin bercerita kepadanya, Elfiza merasa nyambung saat bersama Arjuna tak seperti kebanyakan teman Yudha yang lainnya bukan berarti Elfiza tidak suka dengan teman - teman kedua kakaknya itu.

__ADS_1


Hanya saja dia lebih terkesan ceuk terhadap yang lainnya tak seperti dengan Arjuna, tapi hampit semua teman Yudha atau pun Yudis mengenal Elfiza dan mereka menyukai Elfiza karna walau mereka tak sedekat Arjun saat bersama Efiza tapi gadis itu asik jika diajak ngobrol dan main.


Apa lagi kalau moodnya lagi bagus dan dia lagi penget diajak main itu akan nambah keseruan.


Balik lagi kekamar Elfiza ....


Elfiza tengah sibuk mengobrak - abrik isi laci meja belajar dan meja riasnya, ya memang ada meja rias dikamar Elfiza, setomboy - tomboynya Elfiza dia memiliki meja rias walaupun gunanya bukan jadi tempat untuk merias diri, melainkan untuk benda - benda anehnya menurut Yudha dan Yudis.


Selang beberapa menit akhirnya dia menyerah karna tak menemukan benda yang dia cari, Elfiza melangkah gontai kearah meja disebelah kasurnya dan mengambil sebuah pesawat kertas buatannya, dan melangkah kebalkon kamarnya.


Balkon kamar Elfiza tersambung kehalam samping rumah yang biasa dipake keluarga Wira Atmaja untuk bersantai menghabiskan weekend mereka digazebo yang berada telat disamping pojok halaman.


Elfza menimang pesawat itu merenung kembali dan berfikir sejenak, lantas ia menerbangkan pesawat itu, pesawat itu terbang tertiup angin dan entah kemana arah terbangnya.


"Semoga dengan begitu gue bisa sedikit lebih lega da tak memikirkan yang tak penting lagi" gumam Elfiza.


Langkah kakinya menapaki kembali ketempat tidurnya, Elfiza memandang kamarnya sedikit berantakan, salah tidak sedikit jelas sekali terlihat hampir seluruh barang yang ada dilaci riasnya bertebaran disegala arah, namun matanya seakan membuta akan hal itu.


Ia lebih memilih merebahkan dirinya dan menarik selimutnya lantas beranjak untuk tidur, namun saat Elfiza hendak mengambil vitaminnya dilaci meja samping tempat tidurnya yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan lampu tidurnya, matanya tak sengaja melihat benda yang sedari tadi ia cari.


"Ya Allah.... ternyata loe disini" Ucap Elfiza kesal.


"Gue tu udah hampir obrak abrik kamar gue tau ga si gara - gara loe" Ucap Elfiza mangkal, lantas bangkit dari tempatnya, lalu menuju mejarias.

__ADS_1


Elfiza mengeluarkan sebuah fas bunga yang berbentuk bulat, yang ia fungsikan sebagai akuarium, ia keluarkan isi akuarium itu secara brutal dan sembarang.


Isi akuarium itu sudah tercecer dimana - mana padahal dua bulan lalu dirinya merengek - rengek minta dibuatkan Yudis akuarium yang bagus karna Yudis punya bakat seni yang bagus.Tapi sekarang semuanya sudah amburadul.


Kini akuarium bekas si Lito ikan badut miliknya tiga minggu yang lalu mati karna dimakan si Manis kucing kesayangannya itu sudah bersih dari isinya dan diganti menjadi tempat penyimpanan harta karun miliknya yang kini dia anggap berharga.


Sebuah kerta biasa yang dilipat dan dibentuk pesawat itu tersimpan manis didalamnya, walau hanya sebuah pesawat kertas tanpa warna tapi itu berharga menurutnya.


"Kak Juna aku menerbangkan pesawat pertama ku malam ini dan iya walau tak semua terangkat namun rasanya lebih baik dari sebelumnya" Ucap Elfiza kepada pesawat kertas pemberian Arjuna.


"Kak Juna makasih ya udah kasih pesawat ini ke aku, walau cuman dari kertas tap ini adalah harta karun ku. Karna semua yang kak Juna omongin ke aku dulu itu ada benarnya, jika memang tak bisa diceritakan lewat seseorang masih ada perantara lain dan contohnya pesawat ini" Ucap Elfiza panjang lebar.


"Dan sekarang gue harus benar - benar tidur kalau ga mau kena omel ka Yudis. aahh kapan ya bisa bawa si bohay..." gumam Elfiza pada dirinya sendiri.


Waktu sudah menunjukan dini hari tepatnya pukul 01.00 wib dan Elfiza mulai memejamkan matanya untuk menjemput kantuknya dan bermain dialam mimpinya, dan dirinya berharap tidak kesiangan lagi jika ia tak mau kena omel Yudis kakaknya.


Yudislah yang bertugas mengantar Elfiza kesekolah dan jika pulangnya dia bisa naik taxi atau ikut bersama Kezia ataupun Siska sahabatnya, karna ayah Wira yang belum memper bolebkannya mengendarai si bohay motor kesayangannya yang dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri.


Iya itu uang jajannya yang ia sisihkan selama satu tahun dan ditambah lagi kerja partimenya saat libur kemarin membantu teman ibunya yang punya cafe, Elfiza menjadi waitress dicafe tersebut dan setelah kurang lebih satu setengah tahun akhirnya terbelilah si bohay.


Walau pun tidak semahal milik ayah dan kedua kakaknya tapi Elfiza merasa senang padahal ayahnya menawarkan yang lebih bagus tapi dirinya menolak karna telah cocok dengan sibohay.


Tapi tetap saja dirinya belum diperbolehkan untuk mengendarai sendiri oleh ayahnya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2