
"Eh iya El, ngomong - ngomong soal pantu emang bener yang dibilang Siska kalau tu pantun buatan si stalker loe dulu itu?" Tanya Kezia disepanjang perjalanan menuju aula.
Elfiza dkk baru keluar dari musola, dan akan segera kembali keaula kampus, karna lima menit lagi istirshat berahir, dan mereka akan kembali menjalani tugas negara mereka yang menguras tenaga dan energi serta emosi mereka.
"Nah iya gue juga tadi penasaran apa yang diomongin ama tu sinenek sihir" tambah Fahri yang mendapat tabokan dilengan dari Siska.
"Bisa ga sih loe, kalau ngomong ga usah nyelak juga" kesal Siska karna mendapat sematan nenek sihir.
"Mana sematanya berubah - ubah mulu" dengus Siska kesal.
Elfiza hanya memutar bola matanya saja, jengah sekali dia melihat tingka mereka yang tak pernah akur jika bersama, padaha dirinya sendiripun saja selalu tak akur jika bersama dengan Fahri, tapi disitulah letak keseruannya.
"Jawab apa El" kesal Kezia berucap, karna sedari tadi tak mendapatkan jawaban, bahkan mereka sudah hampir sampai diaula masi saja Elfiza tak memberikan jawabannya.
"Iya itu memang yang ada disurat waktu itu" jawab Elfiza.
"Hahh... jadi beneran itu pantun dari sistalker loe itu?" Tanya Siska ingin mendapat kejelasan yang lebih jelas lagi padahalkan sudah jelas karna Elfiza sendiri yang tadi berucap. Elfiza menganggukan kepalanya tanda menjawab pertanyaan Siska.
"Loe mah kaga kreatif masa kaya begitu aja nyontek sih" ucap Fahri.
"Males mikir" jawab Elfiza santai.
"Gila sih ni anak segitu malesnya" imbuh Kezia, Elfiza hanya mengangkat bahunya tanda tak perduli omongan Kezia tadi.
"Yang gue fikirin tu bukan itu" ucap Elfiza.
"Terus?" Tanya ketiganya berbarengan.
"Yang gue kasih ke panitia itu apaan?" Ucap Elfiza masih penasaran apa yang diserahkannya tadi kepanitia, Elfiza benar - benar tak ingingat apa yang diberikannya tadi.
"Ya udahlah pasrah aja" ucap Fahri.
"Maksudnya?" Tanya Kezia bingung.
"Pasrah saja terima hukuman" ucap Fahri.
"Kok dihukum sih, kan si El ngasih kertas juga" ucap Siska jadi bingung.
"Ya tapikan kita kaga ada yang tahu apa isi dari kertas yang Elfiza kasih, kalau tu tugas ada sama dia" ucap Fahri menjelaskan.
"Bener juga sih" ucap Siska membenarkan ucapan Fahri.
"Terus gimana El?" Tanya Kezia.
"Ya ikuti apa kata Fahri" jawab Elfiza santai.
"Gila santai amat loe, kayanya seneng banget dihukum" ucap Siska.
"Bukan seneng tapi sudah biasa, biar cepet kelar ajalah" ucap Elfiza santai sambil berjalan lebih cepat karna merasa sedari tadi tidak sampai juga keaula karna mengobrol dengan mereka padahal aula sudah didepan mata.
"Temen loe kesambet dah kayanya masa mau dihukum gitu kayanya santuy amat" ucap Fahri.
"Dia mah bukan kesambet tapi otaknya udah konslet" Kezia.
Siska yang mendengarnya terkekeh karna ucapan Kezia yang mengatai sahabatnya itu konslet. "Gue baru tau kalau tu anak otaknya kongslet" ucap Fahri sedikit brigidig ngeri membuat kedua wanita dikiri kanannya itu tergelak.
"Tapi gue suka" ucapnya lantang membuat dua wanita disampingnya memutar bola matanya malas lantas meninggalkan Fahri yang tengah berhalu ria.
***
Aula kembali dipadati oleh segerombol orang yang haus akan ilmu itu, memulai kembali aktifitas melelahkan mereka selama tiga hari ini.
"Cukup sekian dari saya, dan selamat bergabung dengan kampus ini untuk para maba, satu saran saya untuk acara ini nikmatilah sampai selesai" ucap dosen muda dihadapan para maba itu, setelahnya beliau meninggalkan podiumnya.
"Trimakasih pak" ucap beberapa senior yang msih bisa didengar oleh peserta ospek.
"Nah, itu adalah pemateri terakhir diacara ospek hari ini, setelah ini kita akan lanjutkan acara kita. Seperti yang saya janjikan sebelum istirahat tadi, kita akan mengumumkam pemenang puisi terbaik dan surat cinta terbaik" ucap Yudha.
"Tapi sebelum itu kami akan mengumumkan siapa yang akan mendapatkan surat Cinta atau puisi cinta terbanyak dari kalian, ok langsung saja silahkan kak Tasya dan Kak Yudis" Tambah Yudha, menyuruh dua panitia untuk memimpin acara kembali.
Yudis dan Tasya maju untuk kembali menjadi MC acara ospek mereka, mengambil alih acara kembali.
"Ok masih pada semangat?" Tanya Yudis pada segerombolan bebek didepan mereka.
"Masih kak" sorak segerombolan bebek itu, kebanyakan yang betina yang berteriak, bagai mana tidak semangat jika disuguhkan pria - pria tampan dihadapan mereka.
Selama ospek baru hari terakhirlah mereka mendapat pemandangan indah seperti ini, "Yaampun walau tak seganteng ketuanya kak Yudis idaman" bisik salah satu perempuan yang diangguki yang lain.
Kaum adampun tak mau kalah dengan kaum hawa, mereka sama tertariknya dengan yang bening - bening.
"Ka Tasya itu thebesd dah udah baek cantik pula kaga kaya mak lampir satu itu tuh" ucap salah satu kawanan barisan belakang.
"Loe bandingkan kak Tasya sama kak Tania yang bener aja dah" ketus disebelahnya.
"Ngapa loe kok jadi sewot gitu?" Tanya pria tadi.
__ADS_1
"Ya jelaslah gue sewot, kak Tasya itu lebih dari dia kali. Loe salah kalau bandingin kak Tasya sama si mak lampir itu. Coba loe liat yang disebelah sana" tunjuk pria berkacamata itu.
Pria disebelahnya mengikuti arah tunjuk teman sebelahnya yang mengarah ketiga gadis yang berada disamping kanan barisan mereka hanya berbeda beberapa baris didepan mereka.
"Loe liat yang ditengah. Baru tuh namanya cewe cantik, baru dah loe bandingin sama kak Tasya boleh, walau kata gue mah bakalan cakep dia" ujarnya. Sipria itu tampak memperhatikan gadis yang tadi ditunjuk oleh sang teman.
"Kok gue baru tahu ya ada maba yang imut - imut gituh" ucap sipria
"Makanya jangan kabur mulu kan jadinya kaga tau" imbuh teman yang satunya.
"Dia asik orangnya, welcom juga sama yang baru kenal ke kita - kita ini" tambah sikacamata.
"Ahh masa sih?" Sangsi si pria berada ditengah kedua temannya itu.
"Kaga percaya coba loe ajak kenalan aja" ujar si kacamata.
"Tapi satu yang harua loe tau dia titisan macan, bahkan temannya saja sering nyebut dia anak macan" ucap teman yang ada disebelahnya.
"Ahhh... galak dong" ucap sipria tadi.
"Justru yang galaklah yang menantang" ujar sikacamata.
"Loe bener.. kalau ada kesempatan gue pengen kenal dia" ucap pria itu.
"Fyi aja nih ya, namanya Elfiza dan dua ecew disampingnya itu Kezia dan Siska sahabatnya" ucap Sikacamata.
"Dasar buaya loe" ucap kedua temannya bersorak dengan suara tetap pelan karna takut para seniornya melihat obrolan ketiga pemuda itu.
"Lah apa yang salah, gue cuman tau nama mereka doang, belum **********" ucapnya sensual.
"Dasar penjahat kelamin" ketus keduanya yang hanya ditanggapi kekehan saja oleh pria berkacamata itu.
***
"Okk... ada yang penasaran siapa yang dapat pusi or surat terbanyak?" Tanya Tasya yang langsung diangguki dengan sorakan yang tak kalah kencang dari kawanan bebek - bebek itu.
"Gue pusing" keluh Elfiza.
"Napa loe?" Tanya Siska
"Udah jangan didengarin paling dia ngerasa bising, kaya kaga tahu si El aja" ucap Kezia.
"Sialan loe" umpat Elfiza mencabikan bibirnya karna ucapan sahabatnya.
"Tapi gue beneran pusing ni" keluh Elfiza kembali.
"Kaga dah, nanti disangka gue sakit lagi, kaya loe berdua kaga tau aja abang gue lebaynya kaya apa" ungkap Elfiza dengan terus memonyongkan bibirnya. Cembetut sungguh menggemaskan ingin menarik bibir itu.
"Terus maunya gimana?" Tanya Kezia kesal.
"Mau kamar mandi" jawab Elfiza santai sambil mengangkat tangannya untuk meminta izin kekamar kecil.
"Sebenarnya gue heran sama tu anak, sebenernya dia pusing apa kebelet sih?" Tanya Siska bingung setelah Elfiza menjauh dari hadapan mereka.
"Loe kaya kaga tau sifat ajaib dia aja" ucap Kezia yang mendapat kekehan dari Siska.
"Udah ahh... jangan kebanyakan ngobrol nanti ketahuan mau loe disuruh nyanyi lagi?" Tanya Kezia yang langsung mendapat gelengan mantap dari Siska.
****
"Ok.. kakak mau tanya, kalian setujunya yang disebutkan sama kita yang mendapatkan surat terbanyak dulu atau pemenang dari maba dulu?" Tanyaย Yudis.
"Dari maba dulu.."
"Panitia dulu.."
"Maba"
"Pantia".
Dan masih banyak seruan - seruan itu tentunya yang membuat suasana ricuh tak terkendali, karna berebutan.
"Ok.. ok ... ini terserah dari kita saja lah kalau begitu" putus Yudis, dan seketikan.
Huhhhhhhh..
Sorakan kekecewaan terdengar digendang pendengaran masing - masing karna ucapan Yudis tadi, membuat siempunya nama terkekeh tak merasa bersalah telah membuat kecewa para peserta dan mungkin juga panitia yang berharap menang.
Elfiza juga sudah duduk manis kembali ditempatnya "Udah ada yang menang?" Tanya Elfiza basa basi busuknya yang entah mengapa dilontarkannya. Hanya sekedar ingin saja mungkin.
"Belum, abang loe ngeselin" ucap Siska yang kecewa.
"Elonya aja yang lebay Sis" timpal Kezia membuat Siska menyengir saja. Membuat Elfiza menggelengkan kepalanya. Ahhh ayolah mereka suda biasa seperti itukan El mengapa dipusingkan.
"Baiklah ... pemenangnya untuk kali ini adalah... jeng... jeng... jengggg..." ucap Yudis menggema.
__ADS_1
"Siapa kak Tasya?" Tanya Yudis pada Tasya.
"Siapa ya kira - kira ada yang tau?" Tanya Tasya balik bertanya.
"Engga kasih tau ajalah kak" pinta salah satu peserta.
"Ahhh.. elah lama kak dari tadi ni" ucap yang lain.
"Iya nih penasaran" yah bigitulah namanya juga baru masuk jadi maba, masih kebawa - bawa kebiasaan gerasak - gerusuk diSMA/SMKnya. Masih pada bocah rupanya.
"Ok.. ok . Pemenangnya siapa kak Yudis" ucap Tasya kembali melempar ucapannya kepada Yudis.
"Pemenangnya adalahhhhhh... ayo Tasya sebutkan" titah Yudis, kembali mendapatkan sorakan dari segerombol bebek - bebek itu, membuat Tasya mengulum senyumnya.
"Hadehhh ademnya hati abang" ucap salah satu peserta yang langsung mendapat sorakan dari yang lain.
Huuuuuuuhhhhhh....
"Angin kali ahhh adem"
"Ac kali"
"Dikipasin kali adem"
Masih banyak lagi yang berkomentar pedas tentag gombalan yang tiba - tiba saja terucap, membuat aula semakin ramai saja dari yang tadi.
"Ok tenang semuanya, udah ahhh ayo langsung saja kak Yudis" ucap Tasya.
"Pemenangnya Kecoaaaa alias Alya dari pakultas hukum" ucap Yudis dan Tasya berbarengan.
"Nah Alya, silahkan maju untuk disematkan selempangnya" titah Tasya.
Dan seorang perempuan yang berperawakan imut maju kedepan, satu kata untuk gadis tersebut adalah manis.
"Nah silahkan kak Yudha selaku ketua ospek kali ini menyematkan selempang kepada pemenang kita kali ini" pinta Yudis pada sang abang.
Yudha yang dipanggil maju untuk megalungkan selempang yang berisi berbagai macam jenis snack itu.
"Kalau tau dapet hadiah gue buatnya sungguh - sungguh tadi.. ahhh sanck gue melayang" keluh Elfiza mencicit.
Yang mendengarnya hanya menggeleng saja, dia ingin menang hanya karna ingin senack saja, ada - ada saja kelakuan anak macan satu ini.
"T - trimakasih kak" ucap Alya grogi.
"Sama - sama Alya" ucap Yudha.
"Ada yang mau disampaikan Alya?" Tanya Tasya.
"Nah iya, bukanya tadi surat kamupun ditunjukan untuk kak Yudha" ucapan Yudis berhasil membuat anak manis itu bersemu merah, ahhh dasar Yudis bisa sekali dirinya membuat seorang wanita bersemu, walau penyebab untamanya bukanlh dirinya.
"Emm... T - tidak a- ada kak" semakin guguplah gadis manis itu menjawab ucapan Yudis tadi.
"Kau yakin, mumpung saya masih disini?" Tanya Yudha.
Blusss....
Bisa sekali Yudha memperparah rona merah dipipi gadis kecil itu, membuat seseorang merasa semakin mangkal saja manakala Yudha malah ikutan menggoda gadis itu, ahh dasar bibit perusuh sudah terbentuk ternyata.
"Be - benar t-idak ada kak" jawab Alya setengah mati menahan gugupnya.
"Abang loe bener - bener dah El malah digoda gitu anak orang" bisik Kezia yang diangguki oleh Elfiza dan Siska.
"Kasihan kali anak itu" gumam Elfiza.
"Salah bukan kasihan. Tapi beruntung kali" ucap Siska dan Kezia berbarengan terus dengan berbisik.
Elfiza mengangkat sebelah alisnya tak mengerti dengan ucapan kedua sahabatnya itu. "Maksudnya?" Bingung Elfiza.
"Ya kita iri lah dia bisa mandangin sedekat itu mahluk tuhan yang tampan itu" ucap Siska.
"Tepat sekali" dibenarkan pula oleh Kezia, ahh teman Elfiza ini memang sudah terkena sihir abangnya itu rupanya "Sampai segitunya" cibir Elfiza, malah diacuhkan dua gadis itu.
"Nyesel gue kaga menang, kalau gue menangkan gue bisa pandangin abang loe lebih deket lagi El" ucapan Siska membuat Elfiza terperangah kaget, tak menyangka betul temannya itu bisa sampai seperti itu.
'Apa nyesel katanya kaga menang demi bisa mandangin tu si raja jahil, ahhh entah pelet apa yang kakak gunain' batin Elfiza heran.
"Jangan mendumel El" titah Kezia membuat Elfiza tersedak air liurnya sendiri.
'Sejak kapan ni bocah punya indra ke7' batin Elfiza, bukannya apa heran saja ko Kezia bisa tahu isi kepalanya.
"Inget Sis si bule loe" ucap Elfiza mendesis.
"Tentunya itu mah inget dong, tapi kan kalau cuci mata itu perlu El" ucap santai Siska.
"Kalau Alexis sampai tau, gue ga yakin dia masih tetep suka loe Sis" cibir Kezia.
__ADS_1
๐๐๐