
"Kenapa mesti bekser gini sih, mana udah mau mulai lagi" Elfiza terus menggerutuh sambil masuk kedalam bilik toilet perempuan.
Bagai mana tidak menggerutu kalau dirinya sudah 5 kali bulak - balik kamar mandi karna tak tahan ingin buang air kecil terus, mungkin karna terlalu banyak minum es teh manis membuatnya jadi bekser.
"Gue yakin banget pasti rencana kita berhasil"
"Tapi bagai mana kalau sampai ketahuan Yudha kita pasti tamat, loe tau sendiri kayanya tu anak disayang banget ama Yudha"
"Ya jangan sampe ketahuan"
Baru saja Elfiza hendak membuka bilik wc yang ditempatinya tadi, dia berhasil mencuri dengar omongan dua orang yang bisa dikatakan dihafal olehnya.
Bagai mana tidak hafal dengan suaranya jika selama hampir 3 hari ini dia sering sekali kena hukuman oleh tiga orang itu.
"Apa sih yang lagi mereka obrolin? Kenapa bawa - bawa nama kakak" gumam Elfiza lirih.
Walau menguping itu tidak baik, tapi baginya menguping dihalalkan karna sudah kadung penasaran, lagi pula salah mereka sendiri mengapa mengobrol sesuatu yang penting ditoilet.
'Jangan salahin gue kalau gue tahu sesuatu ya senior gue' batin Elfiza.
"Tapi gila juga sih, si Tania itu" ucap Seli
"Maksudnya?" Tanya Mela.
"Ya bayangin aja mau mempermalukan orang dihadapan orang banyak" jawab Seli.
'Siapa yang mau dipermalukan?' Batin Elfiza bertanya - tanya penasaran.
"Namanya juga dipermalukan ya dimuka umum lah dodol" kesal Mela.
"Iya juga sih ya.. tapi"
"Apa lagi?" Tanya Mela geregetan karna temannya ini masih saja berbicara padahal dia sedang sibuk membenarkan penampilannya yang memang baik - baik sajak sedari awal.
"Gue heran kenapa Tania sampe segitunya kesel sama tu anak, padahalkan kakaknya disukai ama dia. Kalau gue jadi dia sih mending gue baikin dia biar dapetin hati kakaknya" ucap Seli tak paham dengan pemikiran Tania.
"Loe ga bakalan ngerti" Mela.
"Apa coba yang gue ga ngerti? Gue ngerti kalau Tania tak mau kalah saing sama tu anak yang sudah bisa dipastikan popularitasnya bakalan naik setelah jadi maba nanti dan Tania akan tenggelam iya kan" sergah Seli yang membuat Mela diam.
"Gue tahu mel" tambah Seli.
"Udah lah ga usah ikut campur masalah ini"
"Tapi kita udah ikut dalam permainannya sedari awal Mel" keluh Seli kembali membuat Mela terdiam.
'Sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan, kenapa berbelit - belit gini, mana lama lagi kan gue jadi kejebak disini' gerutuh hati Elfiza, karna sudah merasa tidak nyaman berada dibilik toilet itu.
__ADS_1
"Gue cuman takut jika Yudha tahu kalau ini semua rencana kita, gue ga mau kena amuk Yudha loe tahu sendiri dia kaga pandang bulu mau itu cewe sekalipun" jelas Seli.
"Ga akan ketahuan jika salah satu dari kita berdua ga ember" jelas Mela merasa ragu juga, ada rasa takut dalam dirinya bagai mana bila yang ditakutkan Seli jadi kenyataan.
"Tapi loe beneran udah masukin itu kalung kedalam tas adeknya Yudha itukan?" Tanya Mela.
"Loe juga ikut tadi kan" kesal Mela seakan Seli tak mempercayai pekerjaannya.
"Kalau ternyata tas itu bukan tasnya Elfiza gimana?" Tanya Seli
"Paling ke tasnya dua anak kunyuk sahabatnya itu" enteng saja jawaban Mela.
"Kalau sampai Tania tahu kita salah gimana? bakal gagal rencana kita" tanya Seli kembali.
"Banyak nanya loe, Tania maunya salah satu dari mereka kena masalah, mau siapapun yang kena tak masalah untuknya, karna dia yakin cewe sok pahlawan itu bakalan ngebelain sahabatnya itu yakin gue" ucap Mela.
"Kalau kenyataannya engga gimana?" Tanya Seli kembali.
"Ahhh... loe banyak omong udah ayo balik betah amat ditoilet gini" kesel Mela sambil menyeret temannya itu keluar dari toilet.
Setelah merasa aman akhirnya Elfiza keluar dari bilik toilet itu, "Akhirnya mereka pergi" gumam Elfiza.
"Tapi tunggu.. itu artinya yang mau dipermalukan tadi gue dong.. wahhh kaga bisa dibiarkan ini mah" gumam Elfiza sambil melangkah pergi dari toilet itu.
***
"Tau nih" tambah Kezia.
"Biasalah kebelet gue" jawab Elfiza santai.
"Haisss lama.. ngeluarin apa? Batu? Ampe lama gitu" cibir Siska kesal karna sudah menunggu lama, Elfiza hanya mengangkat bahunya acuh.
"Udah mulai?" Tanya Elfiza santai saja.
"Baru mulai" jawab Kezia yang ditanggapi anggukan saja oleh Elfiza lantas duduk manis disebelah Kezia.
***
"Terus gimana ceritanya itu kalaung bisa ada ditasnya kak Mela?" Tanya Siska penasaran.
Elfiza dan ketiga temannya memang masih berada dicafe depan kampusnya, melepas penat dengan makanan manis memang sungguh enak, memanjakan lidah itu perlu, membuat puas lambung juga kewajiban untuknya.
Maka tak heran jika lelah dia lebih memilih memanjakan kedua organ tubuhnya itu, ketiga sahabatnya itu tengah penasaran Elfiza malah asik dengan tiramisu yang ada didalam mulutnya, tak menanggapi pertanyaan Elfiza.
"Eh si Maemun ditanya malah ngelamun lagi" kesal Siska menggoyangkan lengan Elfiza.
Memang tadi Elfiza menceritakan apa yang didengarnya tadi saat ditoilet pada ketiga temannya itu, yang mengakibatkan drama beberapa jam yang lalu terjadi membuat mereka tertahan diaula kampus.
__ADS_1
"Ya gue balikinlah kepemiliknya, mana gue tahu kalau salah sasaran" jelas Elfiza santai padahal dia memang sengaja memasukan itu ketas Mela, hanya saja dia tak ingin banyak menjelaskan malas rasanya.
"Yakin loe ga sengaja?" Tanya Siska kembali.
"Gue mah kaga yakin tu kalau bebep gue salah sasaran" lugas saja Fahri berbicara, tiga tahun mengenalnya siapa yang tak tahu bagai mana karakter salah satu temannya yang selalu diganggu oleh gombalannya itu.
Dia sangat yakin jika Elfiza itu sengaja memasukannya kedalam tas salah satu teman Tania seniornya itu, bukan tanpa alasan pastinya itu terjadi hanya saja dia tak tahu alasannya apa.
Dan itu pula lah yang membuat Fahri dan kedua sahabat perempuan Elfiza ini merasa penasaran, karna Kezia dan Siska pun memiliki pemikiran yang sama dengan si manusia jadi - jadian satu ini.
"Udahlah gue lagi nikmatin makanan gue, jangan ganggu mulu, tadi aja gue ga konsen karna ditodong kalian buat cerita jadi tolong biarin gue makan dengan tenang kali ini. Toh lagian masalahnya udah lewat ini" kesal Elfiza nyerocos karna merasa waktu makannya diganggu para sahabatnya itu.
"Ya tapi gara - gara loe kita penasaran ini" ucap Kezia.
"Tau nih" timpal Fahri.
"Ya disuruh siapa kalian penasaran?" Tanya bingung Elfiza jangan lupakan mimik wajah Elfiza yang entah berpura - pura polos atau memang polos atau jangan - jangan bloon karna tampangnya membuat Farhi memiliki pemikiran untuk melakukan tindakan kriminal ya itu mengunyel pipi Elfiza saking gemasnya.
"Loe mah" kesal Siska.
"Udah ahhh.. gue mau makan" tutup Elfiza tanpa mau dibantah lagi membuat ketiga sahabat itu mendengus berjamaah karna dibuat penasaran oleh sahabat gesreknya itu.
'Jika kalian tahu entah sekencang apa kalian akan tertawa karna demi berhasilnya rencana ini, gue harus rela mengendap - ngendap keruang panitia bahkan sampai jantung mau copot karna hampir saja ketahuan' batin Elfiza kala mengingat tingkahnya beberapa jam yang lalu.
Setelah mendengar pembicaran dua panitia itu, Elfiza memilih balik keruang kelas memeriksa tasnya dan tas kedua sahabatnya, dan itu pula yang membuatnya lama balik ke aula.
Dan apa yang didengarnya ternyata benar adanya, kalung yang berliontin kepala hello kitty itu ada ditas Siska tergeletak indah.
Elfiza tahu betul itu bukan milik Siska karna walau Siska terkesan gerlly dan feminin tapi dia tak memiliki benda seperti ini, itu terlalu pingky untuk Siska yang memang terkesan elegan itu.
Setelah memihat hal itu Elfiza memiliki ide gila yang terbersit diotaknya, entah kenapa dia ingin membalas perbuatan Tania, fikirnya seru jika seandainya apa yang menjadi niat Tania dkk untuk mempermalukan orang lain malah berbalik kepada mereka.
Maka tanpa fikir panjang lagi dia mengendap - endap keruang panitia untuk mengembalikan benda itu pada pemiliknya, namun setelah berhasil dia masih memiliki fikiran gila lainnya yang terlintas dalam otaknya.
'Akan lebih seru jika temannya lah yang menyimpan kalungnya sendiri' monolog batin Elfiza.
"Ga sabar liat reaksi mereka, is show time guys" senyum devil ditunjukan Elfiza selepas mengucapkan kata is show time.
***
"El ayolah kasih tahu kami" pinta Kezia masih saja penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Elfza tadi.
"Sudahlah nikmati saja makanan kalian, sebelum kenikmatanya tak lagi bisa dirasakan" ungkap Elfiza menyarankan.
Mau tak mau mereka memakan makananya lagi degan hikmat, meresapi setiap makanan yang ada dimeja mereka, hingga seseorang menghampiri meja mereka.
"Hai semuanya"
__ADS_1
🍧🍧🍧