My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
TRUTH OR DARE2


__ADS_3

"Mah" sebelum sempat mamah Kelfin menutup telponnya Kelfin bersuara kembali, ingin rasanya ia membiarkan mamahnya menutup telpon itu, tapi dia masih sayang sama nyawanya.


Mata teman - temannya menakutkan memelototinya tanpa ampun, hingga membuatnya tak berkutik selain berbicara.


"Ada apa lagi?" Tanya sang mamah.


"Ini... itu .. anu" jawab Kelfin gugup maka ucapan yang keluarpun tidak jelas.


"Ini, itu, aun apa sih Fin? Kamu ini kenapa sih aneh deh, ayo cepetan ngomong udah malem ini" titah sang mamah.


"Kelfin mau jujur sama mamah, tapi mamah jangan marah ya" pinta Kelfin.


"Mau jujur soal apa?" Tanya mamahnya.


"Tapi mamah janji jangan marah dulu" pinta Kelfin sedikit memohon.


"Jujur apa sih Fin kenapa jadi mamah diancem jangan marah segala?" Bingung mamah.


"Udah mamah janji dulu ga bakal marah" todong Kelfin.


"Jangan bilang kamu hamilin anak orang iya Fin, jawa mamah bukan soal itukan Kelfin" tuduh mamah sudah murka dari nada suaranya saja sudah membuat Kelfin meremang, dia tahu bagai mana mamahnya itu kalau ngamuk.


"Ya allah Kelfin, pulang sekarang" bentak mamah Kelfin.


'Ahhh... mampus disangka hamilin anak orang' batin Siska cekikikan.


'Nasib loe Fin - Fin' batin Alif.


"Bukan itu mah. Bukan!" Tandas Kelfin tegas, dia tidak mau jadi bahan bulan - bulanan ibunya jika sampai ibunya mikir demikian.


"Nah terus apa Fin, coba ngomongnya yang bener kenapa sih Fin, jangan buat mamah itu jadi kesel" titah mamahnya.


"Soal vas bunga mamah" jawab Kelfin.


"Vas bunga" gumam sang mamah.


"Vas bunga warna pink yang gambarnya bunga sakura mah" ucap Kelfin.


"Oh iya, itu kemana ya Fin ko mamah cari - cari engga ada, mamah mau balikin ke nenek kamu, dari satu minggu yang lalu mamah cari ga ketemu juga, kamu toh yang simpen" ucap mamah.


"V...as bunganya punya nenek mah?" Tanya Kelfin.


"Iya punya nenek kamu, satu bulan yang lalukan nenek kan mapit kerumah kita, eh malah kelupaan ga dibawa vasnya" jelas sang mamah.


'Mati gue' batin Kelfin.


"Udah sekarang kamu kasih tau mamah kamu taruh mana vas bunganya, biar nanti besok mamah bisa suruh mang Tito buat kerumah nenek mu anterin vas itu, neneh mu udah cerewet tu" ucap mamahnya.


"Vas... bu-nganya ada dikamar Kelfin, tapi..." Kelfin menjeda perkatannya


"Tapi apa?" Tanya mamah


"Vas bu - bu- nganya pecah mah ga sengaja kena bola saat Kelfin main mah" jujur anak itu.


"Ohh... pecah toh ya uda...  APA!!!" Saat sadar dengan ucapan sang anak akhirnya malam ini kena juga Kelfin diamuk sama emaknya itu.


"Pokonya mamah gamau tahu kamu bilang sendiri sama nenek, masalahnya itu vas, vas kesayangan nenek kamu Fin" tandas mamah.


"Maaf, tapi Kelfin takut mah kalau berurusan sama nenek" jujur anak itu.


"Terserah kamu, yang jelas mamah ga mau ikut campur, nenek kamu kalau marah nyeremin" ucap Mamah Kelfin, membuat si anak makin mengkerut saja.


"Ingat Fin, jadi laki - laki harus tanggung jawab Fin" ucap sang mamah lantas mematikan telponnya.


"Kelfin. Kelfin" ucap para temannya prihatin padahal mereka ingin sekali meledakan tawanya.


***


Permainan kembali dilanjutkan setelah perdebatan tidak logis antara Kelfin dan Melan, ah sudah lupakan soal ketidak logisan hukuman dari Kelfin.

__ADS_1


Kembali kepermainana, kali ini yang memegang botol itu adalah Kezia setelah dirinya habis dikerjai oleh Alif, ingin sekali rasanya dia memusnahkan mahluk satu itu.


'Kenapa mesti Alif sih' siapa lagi kalau bukan si pengecut satu ini yang hanya bisa bergumam dalam hati saja kalau sudah menyangkut masalah Kezia, dasar tak pernah punya kepercayaan diri, tidak seperti saat menggombali Elfiza.


Seandainya dia juga menunjukan rasa sukanya terhadap Kezia mungkin saja Fahri tidak akan semenyebalkan itu dimata Elfiza dan yang lainnya, dan tidak akan jadi bahan bullyan teman - temannya nanti tidak seramai sekarang kalau tidak ada dirinya yang saat ini.


Fahri memang bukan manusia baper jadi diapakan saja dia akan menganggap itu lelucon dan hanya sebuah candaan semata, anak - anak yang lainpun senang mendapatkan mainan mereka (Auto kesenangan diatas penderitaan orang lain itu mah😆).


Botol kembali berputar menunjuk satu persatu orang yang ada dihadapan si botol, entah siapa kali ini mangsanya.


Trakkk...


Entahlah mungkin seperti itu suara pemberhentian botol itu, korban selanjutnya yang ditunjuk oleh botol adalah.


Jeng jeng jeng.


'Mati gue kenapa malah ke dia, kan jadi bingung gue mau kasih tantangan atau nanyanya' batin Kezia.


Khemmmm...


Elfiza berdhem supaya menyadarkan lamunan sahabatnya itu, ternyata memang benar pesona kakaknya memabukan, sampai - sampai si cewe tak peka satu ini saja terpincut olehnya.


Ya yang dapat giliran bermain kali ini Yudha, sepertinya sibotol sedang ingin berbaik hati kepada Yudha, fikirnya.


"Tr - uth or dare?" Tanya Kezia sedikit terbata, Yudha tersemyum melihat tingkah bocah disampingnya itu yang sedang gugup, entah kenapa dia suka dengan kegugupan gadis disebelahnya ini.


"Emmmm" Yudha sedang berfikir, jangan sampai dia mengalami nasib yang sama seperti teman - teman adiknya itu.


Walau Kezia terlihat biasa aja dan mungkin segan padanya tapi bukan tidak mungkin jika Keziapun memiliki hal unik lainnya.


'Gue harus hati - hati jangan sampe kena jebakan' batin Yudha.


'Kalau gue pilih Truth tantangan apa yang bakalan dia berikan buat gue, terus kalau gue jawab Dare apa yang akan dia tanyakan?' Bingung otaknya menimang.


"Kak Yudha mikirnya kelamaan" keluh Sisika.


"Dare aja deh" ucap Yudha, buntu tak ada jawaban yang memuaskan otaknya saat ini.


Kezia tanpak berfikir sejenak untuk memberikan sebuah tantangan kepada abang sahabatnya itu, sesaat melihat kearah Elfiza memberi kode memeinta maaf, Elfiza yang berada didepannya malah menyeringai membuat Kezia tampak bersemangat.


Memang Elfiza sudah tak duduk bersebelahan dengan Kezia setelah tadi dirinya sempat kekamar mandi, tempat duduknya dipakai Dika yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya, alhasil Dirnya harus menggeser kesebelah sahabat gesreknya si Alif.


"Emmm... pengen dengar kakak nyanyi" pinta Kezia. Seringai dibibir Elfiza semakin nyata, pasalnya dia tahu betul bagai mana Yudha sangat - sangat tak suka jika disuruh menyanyi, padahal suaranya bisa dikatakan merdu.


'Sudah gue duga' batin Yudha kesal 'Awas saja kau adik ku sayang' batin Yudha kembali.


"Emmmm... Kez boleh ga kalau jangan itu, yang lain aja deh" pinta Yudha menawar.


"No. Tak ada tawar menawar" bantah Elfiza.


"Dih tadi teman kamu aja boleh, terus kenapa kakak ga boleh sih El?" Tanya Yudha kesal.


"Waktu mepet bentar lagi jam 2 udah cepetan" titah Elfiza final membuat Yudha mendengus, karna memang kesepakatan mereka bermain sampai jam dua saja.


"Dasar otoriter..." kesal Yudha, Elfiza hanya nyengir kuda saja puas sudah dapat mengerjai kakaknya.


"Nyanyi atau minum ini" Kezia memberi penawaran terhadap Yudha, kalau tak ingin menerima tantangannya harus dapat hukuman darinya.


Yudha mencium bau minuman yang disodorkan oleh Kezia tadi, warnanya kuning pekat entah apa itu, saat menciumbaunya betapa Yudha ingin muntah.


Dia benci duren, tapi dia lebih membenci jika orang lain mendengarnya bernyanyi, enta apa penyebabnya hanya tuhan dan Yudha sendiri yang tahu.


Tanpa aba - aba Yudha meminum jus durian yang bagi Elfiza dan Kezia itu sangat lezat, berbeda kalau untuk Yudha, Kezia sih tidak tahu kalau Yudha tidak suka sama durian.


Tapi sepertinya Kezia tahu kalau Yudha tidak ingin bernyanyi entah mengapa, mungkin suaranya sember seperti radio rusak, Kezia jadi merasa bersalah.


Niat hati sih ingin membantu dengan durian itu, fikirnya ini hukuman teringan untuk Yudha, toh hanya meminum jus durian saja, tanpa dia tahu jika orang yang tengah meminumnya ternyata sangat bermusuhan dengan durian.


Sedangkan Elfiza sudah tak dapat meledakan tawanya, 'Segitu ga maunya bang nyanyi ampe milih minum, padahal sama - sama ga suka.. hahaha' batin Elfiza tertawa keras.

__ADS_1


Melihat Elfiza tertawa keras membuat yang lain melihat kearahnya, heran kenapa dia tertawa sampai segitunya, kan tidak ada yang lucu, mereka dibuat bingung dengan tingkah Elfiza.


Setelah tadi dibuat kesal oleh Kezia, karna menurut mereka tak adil hukuman yang dia berikan ke abang Elfiza itu, membuat Yudha malah memilih hukumannya tanpa pikir panjang. Menurut mereka.


Tatapan mata bingung itu beralih kearah Yudha yang kini lari terbirit - birit kearah pintu keluar halaman samping, terdengar suara muntahan dari sana membuat semua tertuju terus kearah tadi Yudha pergi.


Sedangkan Elfiza semakin tertawa diatas penderitaan abangnya itu "Puas gue, thans Kez" ucap Elfiza.


"Emang kenapa sih loe ketawa, terus itu kak Yudha kenapa juga?" Tanya Siska bingung melihat tingkah Elfiza.


"Abang gue benci banget kalau disuruh nyanyi padahal suaranya bagus.. Hahaha terus dengan entengnya Kezia mita dia buat milih minum jus atau nyanyi.. hahahaha" Elfiza kembali tertawa.


"Terus apa hubungannya dengan muntahnya abang loe?" Tanya Kezia bingung.


"Abang gue juga benci durian" ungkap Elfiza.


"Selamat loe orang pertama yang membuat abang gue mau meminum jus buah kramat itu.. hahahaha" ucap Elfiza memberi selamat pada Kezia.


Akhirnya semua tahu mengapa Elfiza tertawa sampai terpingkal - pingkal seperti itu. "Parah loe adik durhaka, masa kakaknya susah loe malah seneng" ucap Siska tak habis percaya sahabatnya setega itu.


"Tau loe kualat nanti loe" ucap Dara yang dibenarkan beberapa anak.


"Biar saja sekali - kali bikin raja jahil susah.. Hahahahah" jawab santai Elfiza sambil terus tertawa.


Elfiza kembali meledakan tawanya mana kala sang abang kembali duduk dengan muka lesu bercampur kesal kepada adiknya itu, 'Awas saja kamu El' batin Yudha.


Sedang Arjuna sudah terpukau sedari tadi mendengar dan melihat tawa yang tiba - tiba saja menawan hati. 'Ya tuhan Juna loe udah gila kalau beneran suka ama adik saabat loe sendiri' batin Arjuna, sambil menggelengkan kepalanya mengenyahkan pemikiran yang terlintas, bagai mana rasanya menikmati bibir berwarna peach tanpa pulasan lipstik itu, akan semanis apa.


'Arjuna loe udah benran sinting' keluh bantinnya kembali.


Lain Arjuna lain pula dengan Kezia yang merasa bersalah, "Maaf kak aku ga tau" ucap Kezia tulus berbisik.


"Tak masalah Kez, kakak yang mau ko" jawab Yudha tak kalah berbisik.


'Remuk sudah hati gue ini, melihat sinetron' batin Fahri saat melihat kedekatan antara Yudha dan Kezia.


****


Botol kembali putar Yudha benar - benar berharap adiknyalah yang dapat gilirannya kali ini, sayang seribu sayang kali ini ternyata dewi fortuna sedang berpihak pada Elfiza, botol itu tertuju pada Sahabatnya.


"Troth or dare?" Tanya Yudha sedikit ketus kesal sudah dia tak bisa menjahili adiknya, mana waktu permainan semakin menyempit, entah ada kesempatan lagi atau tidak dia tidak tahu.


"Truth" jawab Arjuna santai.


"Siapa orang yang loe sukai?" Tanya Yudha penasaran, bukan tanpa alasan dia menanyakan hal ini, hanya saja dia beberapa kali memperegoki sahabatnya itu tengah memperhatikan adik kecilnya, hanya ingin memastikan.


Arjuna sudah tersedak air liurnya sendiri, walau tak sampai membuatnya batuk, tapi mampu membuatnya merasakan tenggorokannya sakit, akibat dari pertanyaan sahabatnya itu.


'Mati masa ia gue harus jujur' bati Arjuna sambil melirik keara Elfiza, blus tiba - tiba saja wajahnya memerah menahan malu, terlihat begitu menggemaskan.


'Seorang Arjuna bisa tersipu begitu' bati Yudha heran.


"Udah cepet jawab" titah Yudha.


Baru saja Arjuna akan menjawab tapi alarem yang sengaja diset untuk bertujuan mengakhiri permainan itu berbunyi.


Arjuna benar - benar menghembuskan nafasnya lega karna permainan selesai tepat pada waktunya fikir Arjuna 'Selamat juga' batin Arjuna, sedangkan Yudha sudah mendengus karna kesal.


"Yahhhh" sebagian orang kecewa, karna tak dapat giliran main karna waktu yang tak mengijinkan. "Baiklah saatnya tidur" sorak Elfiza kesenengan.


"Awas saja kamu El" bisik Yudha pada adiknya itu, rupanya dia masih kesal atas tingkah adiknya itu. Elfiza hanya memeletkan lidahnya saja setelah melihat kakak dan teman kakaknya itu beranjak dari ruang tengah menuju kekamarnya.


"Jadi sudah kebagian selimut dan bantal semuakan?" Tanya Elfiza yang diangguki oleh semuanya.


"Baiklah silahkan tidur dimanapun posisi nyaman kalian" ucap Elfiza menyuruh kawanannya itu untuk tidur mengemper beralaskan karpet berbulu tebal itu.


🍁🍁🍁


TBC.

__ADS_1


__ADS_2