My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
KEPASAR MALAM YU EL 1


__ADS_3

"Ayang beb, malam nanti kita ke pasar malam yuk" ajak sebuah suara dari arah samping Elfiza.


Saat ini Elfiza dan kedua sahabatnya berserta dua kakaknya tak lupa dengan Arjuna dan dua teman Yudis berada satu meja dikantin, seharusnya meja itu terbagi dua, tapi sengaja mereka menggeser meja itu dan menjadikannya satu meja untuk mereka mengobrol beraama.


Ketiga pria Elfiza tampak melotot tak suka, salah satunya adalah Arjuna, Arjuna sudah mengngukuhkan dirinya adalah lelaki Elfiza, walau belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, apa lagi ada Yudha diantara mereka, bukan apa - apa dia hanya takut jika Yudha malah akan menjadi penghalang terbesarnya.


Bukannya tak berani menyakinkan Yudha hanya saja dia fikir belum saatnya, lagi pula Yudha dan dirinya saat ini sudah memasuki semester akhir perkuliahannya, dia akan menyelesaikan tugasnya dulu, dia leih memilih menjadi pantas dulu untuk Elfiza setelahnya barulah dia akan mengatakan pada Elfiza apa yang dirasanya.


Saat ini pun dia masih meragu apakah Elfiza memiliki perasaan yang sama untuknya atau malah dia sama sekali tak memiliki perasaan untuknya selain menghormatinya karna dirinya sahabat dari sang abang.


Terlebih adanya saingan yang bisa dikatakan berat untuknya, dia tak bisa meremehkan lawannya, apa lagi pria yang tepat berada disamping El-nya itu sudah mengenal Elfizanya leih dulu darinya dan lebih dekat dengan Elfiza, selangkah lebih maju darinya, membuatnya kesal sendiri tak ingin mengakui hal itu.


"Ga ada, ga gue kasih izin loe bawa adek gue" ketus Yudha berbicara menyadarkan lamunan Arjuna yang sedari tadi mengelana entah kemana, mungkin sedang berfikir bagai mana caranya mengetahui perasaan Elfiza terhadap dirinya.


"Ohhh ayolah bang hanya untuk kali ini saja, biarkan gue sama ayang bebebnya gue bersenang - senang gue mohon" pinta Fahri sedikit memelas, dia menampakan mata pupy eyesnya pada abang dari sahabatnya itu.


"Hisss... jangan tunjukan itu gue enek" kesal Yudis yang melihatnya, Soleh yang memang berada disitu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, karna melihat tingkah sang sepupu, entah sejak kapan adik sepupunya itu bertingkah seperti itu, dia baru tahu setelah mereka satu kampus dan beberapa kali terlibat satu kegiatan dengan adik sepupunya dan adik dari sahabatnya itu.


"Adik loe tuh" ketus Yudis, Soleh hanya mengangkat bahunya saja tanda dirinyapun sudah menyerah akan kelakuan Fahri.


"Sekali gue bilang engga ya ENGGA!" Tekan Yudha sambil menekan kata terakhirnya.


"Apa perlu gue berlutut bang?" Tanya Fahri kali ini sepertinya anak itu serius, perubahan sikap dan wajahnya yang begitu ketara, membuat semua yang ada disana merasa heran sendiri.


'Tu anak lagi kenapa?' Tanya batin Siska


'Tumben' kali ini batin Kezia yang berbicara demikian namun dirinya sedikit tersenyum getir 'Apa dia mau menyudahinya, atau mau serius berbicara tentang perasaannya, selama ini kan dia tidak menunjukannya' lanjut batin Kezia.


'Serius amat, lagi kenapa ni anak' keluh batin Yudha dan Yudis bersamaan.


Sedangkan Arjuna hanya melirik dengan ekor matanya, dia sama sekali tak mengeluarkan suara sepatah katapun, semenjak Fahri mengajak Elfizanya jalan, rasa kesalnya sudah menggunung ditakutkan dia meledakan larvanya jika dia bersuara dan malah membuat suasana tidak nyaman, jadi leih baik untuknya diam saat ini.


Soleh hanya tepuk jidat saja karna kekehnya Fahri ingin membawa adik gadis sahabatnya itu yang sudah jelas ditentang kedua abangnya.


Elfiza tak lagi berselera dengan baksonya karna pembahasan ini, dia tahu keras kepala abangnya satu ini jika sudah mengatakan tidak, "Jemput gue jam 8 teng, lewat dari jam 8 kesempatan loe angus" tegas Elfiza berucap membuat semua yang ada disana menganga karna kaget, Elfiza mau menerima ajakan Fahri.

__ADS_1


'Apa El punya rasa sama tu beruk satu? Kenapa dia mau meng iyakan ajakan kencan tu anak, apa dia sudah luluh?' Bertanya - tanya sudah batin Arjuna saat mendengar perkataan Elfiza tadi.


"Ok, dandan yang cantik gue jemput sesuai keinginan loe, bay semuanya" ucap Fahri kegirangan.


Fahri dan kedua temannya berlalu begitu saja dari meja mereka yang malah menyisakan atmosper yang sangat tak mengenakan untuk Kezia dan Siska saat ini, tapi tidak untuk Elfiza yang kembali menikmati kuah baksonya.


"Apa maksud kamu terima ajakannya?" Tanya Yudha tegas.


Elfiza mengangkat kepalanya yang tertunduk karna menikmati kuah baksonya itu, "kenapa? Ada yang salah?" Elfiza malah memberikan pertanyaan diatas pertanyaan yang Yudha lontarkan.


"Itu bukan jawaban untuk sebuah pertanyaan El" Yudha mulai serius, karna ucapannya tegas dan tak ingin dibantah, sama seperti sang ayah jika ketegasannya muncul bahkan Yudis pun merasa takut.


Elfiza menghela nafasnya dia mulai tak menyukai situasai saat ini, "Memangnya kanapa kalau aku jalan dengan teman ku, biasanya juga kakak tak melarangnya" keluh Elfiza.


"Ini lain dek, kamu kan tahu dia suka sama kamu" kesal Yudha.


"Lantas kenapa?" Tanya Elfiza polos.


"Astaga" kesal Yudha, menghadapi adiknya satu ini.


"Apa salahnya sih kak? Aku kan hanya jalan saja bareng tu anak" kesal Elfiza bertanya, matanya terus melirik kekiri dan kananan tempatnya berada.


'Sumpah gue benci jadi pusat perhatian, tapi kakak ga bakal lepasin gue gitu aja' dongkol hati. Yudha memang tidak tau tempat jika sudah seperti ini, inilah buruknya Yudha yang harus dirubah anak itu.


"Bukankah tadi sudah kakak bilang kalau dia suka sama kamu" ulang Yudha.


"Lantas kenapa kakak malah melarang aku hanya karna alasan itu? Ga masuk akal tau ga" kesal Elfiza.


"Aku akan tetap pergi sama Fahri walaupun kakak larang aku" tegas Elfiza, Elfiza beranjak dari duduknya ingin meninggalkan tempat menyebalkan menurutnya.


"Loe yakin mau kasih kesempatan buat Fahri, El?" Tanya Kezia, membuat langkahnya terhenti.


"Adakalanya, seseorang butuh dihibur Kez" jawaban dari Elfiza benar - benar tidak nyambung dengan pertanyaan yang terlontar dari Kezia, membuat Siska menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Siapa yang harus dihibur, si tutup toples? Emang dia lagi kenapa?' Batin Siska bingung.

__ADS_1


"Sorry Leh, loe tahukan gue cuman ingin yang terbaik buat adik gue, dan gue rasa Fahri tak cukup baik untuk anak itu, dia tidak pernah tunjukin keseriusannya pada adik gue" ucap Yudha meminta maaf pada sepupu Fahri.


Dia tak ingin Soleh salah paham akan hal ini dan malah merusak perteman antaran adiknya dengan Soleh, karna setahu Yudha, Soleh dan Yudis sudah seperti dirinya dan Arjuna.


"Nyantailah bang, gue tahu kok maksud loe apa, tapi bener apa kata El, dia lagi butuh dihibur" jawab Soleh santai, biasanya dia akan marah jika ada yang menjelekan sepupunya itu, walau memang sepupunya gesrek, tapi dia tetap sayang adik sepupunya itu.


Untuk kali ini dia tak marah, memang apa yang dibilang Yudha benar, tanpa harus Fahri ceritapun Soleh sedikit Faham apa yang dirasakan Fahri saat ini, apa lagi sempat tak sengaja mencuri dengar obrolan Fahri dan Kezia beberapa hari kebelakang.


"Maksud kak Soleh dihibur gimana?" Tanya Siska yang sedari tadi bingung memikirkan kata - kata itu.


"Dia lagi patah hati" jawab Soleh singkat.


"Patah hati" gumam serempak sekelompok meja itu, Soleh hanya mengangguk.


"Dis, balik yok, dosen udah masuk dari 10 menit lalu" ajak Soleh yang langsung membuat mata Yudis melotot.


"Loe ngapa ga bilang dari tadi sih" kesal Yudis sambil menyeruput es jeruknya yang sisa setengah itu hingga tandas.


"Tadi lagi nanggungkan, udahlah ayo" ajak Soleh.


"Ok ... ok" Yudis.


"Kita duluan ya semua" pamit Soleh sambil menyeret Yudis yang dikiranya lelet itu, yang lain hanya geleng - geleng kepala saja karna kelakuan mereka.


Beberapa teman Yudis yang ikut dudukpun ikut pamit, kerna mereka jugah harus mengikuti pelajaran yang sama dengan kedua orang yang sudah meninggalkan mereka.


"Teryata bang Yudha ketat juga ya" ucap salah satu dari mereka berbisik sambil jalan yang diangguki kedua temannya yang lain.


"Apa El nolak Fahri lagi ya?" Tanya Kezia yang mendapat angkatan bahu dari ketiganya.


"Sudah ayo kita juga ada kelas 10 menit lagi" ajak Siska yang sudah bersiap - siap untuk pergi dari kantin.


"Kami pamit ya kak" ucap Siska kembali yang diangguki kedua pria dihadapan mereka, Kezia hanya tersenyum sekilas kearah Yudha yang dibalas dengan usapan dikepala anak itu, membuat pipi gadis itu bersemu merah, lantas mereka pergi dari hadapan kedua lelaki itu.


"Sepertinya dia masih malu" ucap Arjuna tiba - tiba yang diangguki oleh Yudha, Kezia memang pasif jika berdekatan dengan Yudha disaat ada semuanya, mungkin masih malu atau memang karna sipat cueknya, saat bersamapun harus selalu Yudha yang memulai pembicaraan dengannya, baru setelahnya dia bisa tahu apa saja tentang hari yang dilewati kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2