
Hari - hari tenang Elfiza sudah berlalu dan kini berganti hari dimana sangat membuatnya sibuk dan pusing tujuh keliling ya apa lagi kalau bukan karna tugas sekolahnya.
Dan dua minggu lagi dia akan dihadapkan dengan ulangan kenaikan kelas yang membuatnya sibuk untuk belajar ini dan itu dan dia juga mendapatkan cerita dari sahabatnya dipangandaran.
Siapa lagi kalau bukan si bawel Sri akhir - akhir ini dia lah yang sering mengganggu dan menghubungi Elfiza tak kenal waktu hanya untuk curhat masalah bimbel dan sebentar lagi akan diadakan simulasi UN atau yang lebih akrab dikenal dengan kata Tri Out atau TO.
Sri berceloteh tentang itu sama persis seperti saat ini dia tengah mencurahkan kekesalan kegalauannya pada Elfiza, walaupun Elfiza sudah menguap sesekali disebrang telpoh tapi Sri masih berantusias membicarakan keluh kesahnya.
Tapi karna rasa sayangnya terhadap teman yang satu itu membuatnya begadang padahal jam sudah 02.00 wib.
'Andai loe bukan sahabat gue Sri, udah gue amuk loe' batin Elfiza kala itu karna lama kelamaan kantuknya tak bisa ditahan jua.
"Gila .. gue bisa beneran gila tau ga si El, gara - gara cuman ngadepin cobaan ini" ucap Sri disebrang telpon suaranya masih sangat bersemangat untuk bercerita padahal sudah dini hari.
"Drama deh loe"pungkas Elfiza jengah dan memutar bola matanya padahal ia tau bahawa sahabatnya itu tak mugkin bisa melihatnya.
"Gimana gue ga drama loe bayangin aja tugas numpuk, bimbel jalan, belum lagi tugas bimbel dan lusa depan tri out pertama gue, bayangkan gimana gue ga stres dan drama kegini" ceritanya kembali, bahkan kini Elfiza telah menutup matanya yang mulai berat.
"Oh iya El.. lulus nanti gue mau cari kuliah diLembang " ucapan santai Sri membuat mata Elfiza yang terpejam kembali membuka.
"Are you seriusly ? " Tanya Elfiza antusias.
"Sure ." jawab Sri.
"Ga lagi ngada - ngadakan?" Tambah Elfiza memastikan.
"Insa allah engga sayang " mendengar ucapan itu Rlfiza langsung gembira dan antusias.
***
Monday morning hari ini weekend untuk Elfiza karna sekolahnya mengadakan acara Tri Out untuk kelas XII selama tiga hari dia akan berada dirumah tepatnya dikamar tercintanya.
Karna dirinya tak berniat memiliki kesibukan selama tiga hari kedepan sejujurnya ada namun ia meng cansel semuanya, hanya untuk rebahan membalaskan dendamnya yang kemarin tak bisa beristirahat karna banyaknya tugas.
Namun sepertinya harinya yang akan cerah ini menjadi redup karna suara bising dari arah balkon kamarnya itu berarti halaman samping.
Karna suara berisik itulah yang menyebabkan kegiatannya menjadi kaum rebahan terusik, pasalnya tidutnya terganggu karna suara bising itu.
"Issss... Siapa sih yang setel musik sekenceng ini. Ga tau apa ini masih pagi ganggu orang tidur aja " teriak Elfiza dari dalam kamarnya.
Yaampun masih pagi katanya padahal jam suda menunjukan puku 8.30 wib,
Elfiza keluar dari kamar dengan perasaan dongkol dan muka ditekuk dan penampilan yang masih amburadul, pasalnya dia jengkel sekali karna tidurnya terusik.
Masalahnya dia tidur baru beberapa saat saja karna semaleman Sri membuatnya begadang hanya untuk mendengarkan ceritanya padahal dirinya hari ini masih masuk sekolah seperti biasanya, tapi matanya kuat untuk begadang.
Alhasil Elfizapun ikut begadang karna mendengarkan curahan hati sahabatnya itu, dan ia berharap bisa tidur nyenyak tapi apa - apan ini dia malah dibangunkan dengan suara musik dan ocehan orang.
"Ada ribut apa si?" tanya Elfiza kesal saat ia tepat berada diantara jalur keluar dan masuk halaman samping, alangkah terkejutnya Elfiza saat melihat halamannya dipenuhi oleh kerumunan orang.
Ini lebih parah dari pengunjung kebun binatang saat hari libur tiba. Ok mulai ga waras ga sebanyak itu ko, hanya saja Elfiza berfikir seperti itu, Elfiza yang terbengong tak sadar bergumam.
"Ya allah para jombi yang haus pesta " gumam Elfiza, ada salah satu diantara mereka yang menyadari kehadiran Elfiza yang berdiri diambang pintu masuk dan keluar halaman dengan pakaian yang acak - acakan dan muka bantalnya yang kesal.
"El gabung sini" ajak salah satu dari mereka, Elfiza hanya bisa mematung siapa mereka dari mana datangnya? Elfiza tak mengenal mereka.
'Kemana ayah sama ibu kenapa mereka ngijinin orang asing datang kerumah dan buat pesta pula pagi - pagi buta gini' batin Elfiza.
(Ok tak sebuta itu juga El, diri mu terlalu lebay)
"Hi dek, sudah bangun?" Tanya seseorang yang sangat dihafal oleh Elfiza, tanpa aba - aba lagi Elfiza membalika badanya lantas menatap nyalang kedua kakaknya yang sudah siap dengan senampan minuman dan senampan cemilan.
"Kakak sudah minta izin ayah sama ibu kemarin, saat ayah sama ibu mau berangkat ke Singapur " jelas Yudis, dan Elfiza masih menatap kedua kakaknya dengan marah.
"Ini hanya acara kampus ko dek, biasakan tiap tahun ada ospek dan hari ini hanya membahas soal itu dan pembentukan panitia saja kebetulan rumah lagi kosong makanya kakak bilang disini aja" tambah Yudha.
"Kalau emang mau bahas soal ospek kenapa setel musik sekenceng itu" teriak Elfiza marah kepada kedua kakaknya dan yang terkejut bukanlah mereka berdua melainkan kerumunan yang berada dibelakang Elfiza.
"Iya udah - udah .. jangan teriak - teriak gitu nanti kakak bilangin, suara kamu tuh cempreng dek " ucap Yudis diselingi jailannya, membuat Elfiza merengut sebal, namun untuk kedua kakaknya malah terlihat lucu.
"Terrserah aku saja, pokonya ga mau tau ganti rugi tidur ku yang keganggu" ucap Elfiza tegas.
__ADS_1
"Baik .. baik ... ini sudah janga teriak - teriak lagi sakit kuping kakak ini sayang" jawab Yudha semakin membuat pipi Elfiza merona merah karna marah.
"Memangnya aku anak kecil disogok sebatang coklat, cuman sebatang pula " tandas Elfiza meneka kata sebatang.
"Maunya adik kesayangan kakak ini gimana?" tanya Yudha akhirnya dia mengalah walau masih ingin menjahili adiknya namun sepertinya singa dalam diri Elfiza telah bangun dan dia enggan berurusan dengan hal itu karna nanti dirinyalah yang kelimpungan saat Elfiza mendiamkannya.
Elfiza terus saja memanyunkan wajahnya yang membuat Yudis ingin sekali mencubit pipinya jika saja ia tidak sedang membawa nampan berisi minuman itu.
"Ya udah misi dulu ini kakak berat loh dari tadi " ucap Yudis, namun Elfiza seakan menulikan telinganya dan tak bergeming dari tempatnya.
"Aduhhhhh... runyam ni urusan... El ga bakal kenal tempat kalau udah ngambek... aisssss ... siapa lagi yang stel musik sekenceng itu" batin Yudha.
'Aduhhhh .... alamat ini gue didiemin ini mah kalau gini ceritanya.. my princess bakalan jadi my penyihir kalau udah marah gini 😨' batin Yudis.
"Adek mau apa?" tanya Yudha lembut namun masih didiamkan oleh Elfiza.
"Nanti kakak beliin coklat kesukaan adek ya atau nanti kakak stokin snecknya adek gimana" tawar Yudis yang malah dijawab oleh dengusan samar Elfiza.
"Aduhhhhh ... tuhan tolong " Ucap hati Yudha dan Yudis berbarengan.
"Dek ... ayo lah banyak temen kakak ini, kasian juga mereka ini belum dikasih minum" timpal Yudha.
"Perasaan temennya aja yang difikirin ga pernah perasaan adeknya." celetuk Elfiza lirih.
"Ga gitu dong sayang ... udah ya. iya kita janji ga bakalan berisik lagi, ya udah kalau mau tidur ... tidur lagi aja " ucap Yudis yang diangguki oleh Yudha.
"Udah ga bisalah" jawab Elfiza ketus
'Alah mampus lah gua .. berabe urusan ini mah panjang ' batin Yudis
"Kelar udah" batin Yudha.
Dan disisilain ada seseorang yang tengah terkekeh geli melihat Yudha dan Yudis tak berkutik oleh adiknya, jika anak yang lain bingung dan syok harus gimana Arjuna malah cekikikan melihat satu juniornya dan satu sahabatnya tersiksa membuat penjelasan untuk adik kesayangan mereka.
"Nahkan biar tau rasa dua orang itu, emang senjatanya Yudha sama Yudis mah ya itu El ... sejail apa pun loe pasti loe bakalan diem kalau udah nona macan itu ngamuk' hati Arjuna bersorak gembira.
"Kamu ga malu diliatin" akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Yudha karana Yudha paling tau Elfiza, adiknya ini tak pernah ingin jadi pusat perhatian dia akan merasa risih kalau kedapatan dirinya diperhatikan secara intens.
Saat Yudha berbicara demikian Elfiza melihat kebelakangnya dan yaps benar saja jika semua orang tengah menatapnya bingung dan itu membuatnya semakin kesal.
Alhasil membuat Elfiza mencak - mencak ditempatnya seperti anak kecil merajuk, membuat Yudha dan Yudis mengulum senyum mereka.
"Ya sudah, inget jangan berisik" ucap Elfiza seraya berlalu, pipinya memerah menahan malu dan marah secara bersamaan.
"Trimakasih" ucap Elfiza seraya berlalu pergi, baru juga Yudha akan bertanya apa lagi saat membalikan tubuhnya karna tubuhnya tadi ada yang mencolek.
"Dasar gadis kecil" ucap Yudha sambil tersenyum namun Yudis sudah tak kuat untuk menahan tawanya.
"Ihhhh.... malu - maluin dah ... rasanya pengen tenggelem aja ...tapi coklatnya menggiurkan si" dengus Elfiza kesal.
***
"Yud .. yang tadi itu adik loe?" tanya Tania salah satu senior Yudis teman satu vakultas dengan Yudha., sayangnya Tania menjadi daftar hitam untuk Elfiza karna menurutnya Tania and the gangnya itu terlalu alay, apa lagi dideket kak Yudhanya, itu ga banget.
Mendengar pertanyaan itu Yudha dan Yudis mengagguk santai sembari meletakan cemilan dan minuman tadi yang aga sedikit terlambat karna insiden tadi.
"Apa dia baru bangun tidur dha? penampilanya masa allah" Tanya Rio pada kedua kakak beradik itu.
"Anak itu emang seperti itu " jawab Yudha
"Kita ganggu dia ya dha?" tanya Arjuna.
"Nyantai lah, loe kaya ga tau dia aja Jun " jawab Yudha kembali
"Ya kalau kita ganggu gimana kalau pindah tempat aja dha" ucap Soleh yang diangguki beberapa teman lainya pasalanya mereka menjadi tidak enak hati dengan Elfiza.
"Ga usah ga apa lagi bang ... nyantai aja dia emang gitu, tapi adek gue baik ko orangnya " jawab Yudis.
"Iya dia cuman kaget, ada yang bangunin dia dihari weekendnya" tambah Yudha.
"Yakin nih ga bakalan buat dia ngamuk tadi aja dia ngamuk ?" Kali ini Natasya yang bertanya.
__ADS_1
"Santai Nat, selagi dia ga ngerasa terganggu kalian aman ko" celetuk Yudha.
"Aissss .... gila loe dha seserem itu adik loe 😨?" Tanya Jendra merinding.
"Hahaaha... engga ko dia emanggitu tapi nyantailah, dia baik ko cuman tadi itu yang dibilang bang Yudha. dia kaget doang " ucap Yudis menjelaskan.
"Tapikan El biasanya cuek ya Dha, baru kali ini gue liat dia triak - teriak manis banget dah apa lagi liat muka bantalnya pengen cubit dah rasanya" ucap Aldo membayangkan mencubit pipi Elfiza.
"Mikir ngerea apa loe tentang adik gue Kam***t ?" Tanya Yudha sembari melempar snack.
"Ya cuman gemes aja mikir bisa cubit pipi gembulnya" mendengar jawaban polos Aldo membuat Yudha melempar bantal yang ada digajebo.
"Apaan dah loe Dha" ucap Aldo
"Ehhhh.... tapi bener kata Aldo tumben banget deh adik loe teriak - teriak gitu biasanya kan cuek banget terkecuali ama ni anak dikasi apaan ama loe woy El?" tanya Kelvin pada Arjuna yang dijawab gedigan bahunya.
"Udah ga usah bahas dia ini jadinya gimana?" tanya Yudis mengalihkan topik.
"Engga gue masih penasaran aja gitu ko bisa yang cuek kaya adik loe teriak sekeras itu" masih saja Aldo memikirkan hal itu.
"Ye sikambing, ga nyadar apa tadi loe stel musik sekenceng apa? orang sekampung juga bisa teriak woy " jawab Arjuna.
"Hahahaa sory deh" ucap Aldo merasa malu.
"Tapi benerkan dha adik loe ga bakalan ngamuk?" tanya Jendra.
"Udah tenang aja dia udah anteng ama coklatnya, udah kita lanjut bahas ospek lagi aja, itu yang sempet kepotong tadi gimana An?" tanya Yudha pada salah satu juniornya teman satu fakultas dengan Yudis.
"Gila sih adik loe serem kalau ngamuk " bisik Jendra pada Yudis yang dibalas dengan kekehan saja oleh Yudis.
***
Kacau sudah hari minggunya karna ulah teman - teman kedua kakaknya, membuat Elfiza memberengut sebal, Elfiza masih enggan menggati pakaiannya yang amburadul itu, terlanjur kesel jadi dirinya malas untuk ngapa - ngapin bahkan mandipun malas.
"Pagi non El, loh ko mukanya kusut gitu kenapa?" tanya bok Sum asisten rumah tangga Dikeluarga Wira Atmaja, Sumiati itu lah namanya namun semua orang yang ada dirumah itu memanggilnya dengan sebutan mbok Sum, bukan hanya karna dia senior asisten rumah tangga saja tapi karna usia sudah lanjut dan mereka menghor mati mbok Sum juga.
Bahkan ayah dan ibu juga memper lakukan bok Sum seperti ibunya, mbok Sum sosok yang bisa dibilang ke ibuan dan tegas jadi semua pekerjaan pun telaten dikerjakan oleh bok Sum, makanya kenapa ayah sama ibu masih mempertahankan mbok Sum, bukan hanya karna kerjanya saja tapi ayah dan ibu sudah menganggap kalau bok Sum itu keluarganya.
Ok ... balik lagi ke Elfiza.
"Ga apa - apa ko bok .. cuman lagi kesel aja ama kakak" jawab Elfiza sopan.
"Kenapa dijahilin lagi atau berisik?" Tanya mbok Sum mendengar pertanyasn itu Elfiza cengengesan.
"Hemmmm.. ya sudah mbok buatkan es kopi mau?" tawar mbok Sum. "Boleh deh mbok "
"Satu ice coffe buat gadis maniak coklat" ucap Arjuna.
"E kak zjuna" ucap Elfiza kaget.
"Kenapa mukanya ditekuk gitu?" Tanyanya yang dibalas gelengan saja oleh Elfiza, melihat nonanya sudah sedikit ceria karna teman kakaknya mbok Sum memutuskan meninggalkan mereka.
"Kenapa hem... kesel ya ama kakak - kakak mu mengundang kami tanpa memberitahu El dulu iya ?" pertanyaan Arjuna membuat Elfiza tak enak hati juga kalau menjawab iya jadi dari pada berbohong ia memilih untuk diam dan tersenyum.
"Maaf ya" ucap Arjuna tulus semakin membuat Elfiza tak enak hati.
"Bukan gitu ko kak, cuman kaget aja" Elfiza ngeles.
"Hahahah" Arjuna malah tertawa yang membuat hati Elfiza dag ... dig.. dug... tak karuan.
'Apaan banget dah el' batin Elfiza, Arjuna mengacak rambut Elfiza membuat siempunya rambut mendelik sebal tapi malah Arjuna semakin mengacaknya karna gemas membuat penampilan absrudnya semakin nyata.
"Isss kak Juna" protes Elfiza.
"Kamu ga pandai bohong El, aku tau kamu bt karna tidurnya keganggu dan kamu benci keramaian, kalau ga ganggu kamu cenderung cuek dan megabaikannya" jelas Arjuna membuat pipi Elfiza memerah menahan malu.
"Apa kamu mau gabung El?" Tanyanya
"Apa.. oh.... engga " jawab Elfiza cepat.
"Haahahaha.. ok deh aku balik dulu ya nanti pulang aku temui kamu lagi deh kalau sempet ok" ucap Arjuna seraya berlalu yang dibals senyuman Elfiza.
__ADS_1
Dan hari itu Elfiza benar - benar bermalas - malasan ria, ingin tidur lagi tak bisa karna teman - teman kakaknya semakin berisik.