My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
SAMPAI KAPAN FAHRI?


__ADS_3

Hari berganti hari meninggalkan kisah Siska dan Alexis jauh dibelakang, namun perkembangannya semakin terlihat, jelas saja terlihat orang setiap hari diantar dan dijemput, menandakan betapa setianya Alexis ataukah betapa posesifnya seorang alexis.


Walau demimikian itu malah membuat Siska semkin sayang saja terhadap sibulenya itu, masalah taruhanpun sudah kelar, Siska yang beneran kena apesnya untuk yang satu ini, karna dia yang rugi besar, namun tak masalah orang untuk hal baik ini.


Yang lebih tak habis difikir Alexis membantunya tanpa sungkan, setelah dia tahu jika tunangannya kalah taruhan, bahkan yang dipertaruhkan dirinya, entahlah sejenis manusia macam apa si unta turki satu ini, membuat Elfiza dan Kezia menganga tak percaya sedang Siska merasa bangga atas apa yang diperbuat calon suaminya itu.


'Bener - bener calon imam impian' batin Siska.


Tinggalkan semua itu dibelakang, kali ini yang mereka hadapi adalah kehidupan kampus yang jauh sangat jauh berbeda dari kehidupan SMA, bukan hanya soal tidak mengenakan seragam saja, bukan hanya soal bangun kesiangan lagi.


Tapi soal bagai mana pusingnya menghadapi setiap tugas yang setiap harinya semakin menumpuk macan gunung, dituntut lebih produktif dan menuntut otak untuk lebih berkembang.


"Ya tuhan ternyata kuliah tak seindah yang dibayangkan" keluh Siska yang baru saja duduk dikantin.


"Kenapa loe?" Tanya Kezia heran.


Walau satu pakultas dan jurusan Siska kali ini beda kelas dengan Elfiza dan Kezia karna dia tertinggal kelas minggu lalu, jadi dia mengulang kelas minggu ini.


"Walau dosennya ganten tapi kalau ngasih tugas seabreg gini mana seneng gue" kesel Siska.


"Makanya jangan bolos pas matkul pak Semy, kerasakan loe, dosen satu itu emang ga pernah kira - kira kalau soal tugas" ucap Elfiza, Elfiza yang selalu punya cara untuk bolos, kicep juga menghadapi dosen satu itu.


"Ya mau bagai mana lagi, kemarin urgen banget" keluh Siska.


"Yayaya"


"Ayang bebbb" teriak Fahri dari kejauhan membuat seisi kantin melirik kearahnya, membuat Kezia langsung menutup mukanya dengan buku.


"Aduh El, bisa ga piaraan loe ini kaga buat gaduh" ucap Kezia kesal membuat Siska terkekeh.


"Sialan loe gue dibilang piaraan, emang loe pikir gue jenglot" kesal Fahri lantas menjitak pelan kepala Kezia.


Ternyata ucapan Kezia didengar olehnya, Elfiza memutar bola matanya malas melihat kelakuan temannya satu itu, entah kapan dia bisa jujur dengan perasaannya.


Hanya karna takut ditolak dia malah jadi seperti ini, ternyata hatinya seperti hello kitty tak bisa menerima penolakan, lantas mengapa dia biasa saja saat ditolak Elfiza jawabannya hanya satu dia tak cinta kepada Elfiza hanya itu.


"Entah kapan gue bebas dari loe" gumam Elfiza.


"Loe mah gitu beb, baru aja gue duduk" kesal Fahri tak mendapat jawaban dari Elfiza.


"Siapa yang suruh loe duduk sini" tukas Siska.


"Ehhhh grandong minuman gue maen embat aja" tukas Kezia


Tak ada satupun yang Fahri dengrkan dumelan dua maklampir itu, dia malah sibuk memandang Elfiza yang membuat risih Elfiza saja.


"Beb, gue pinjem catatan loe sih" mohonya


"Kebiasaan ada maunya aja loe datang ke gue, giliran seneng cabut sendiri ogah kerjain sendiri" kesal Elfiza.


"Mampus kaga dapet contekan" ucap Kezia dan Siska hampir berbarengan.


"Beb loe tega ya kalau gue dihukum paceklik gituh" Fahri


"Bodo amat itu mah bukan urusan si El kali, makanya kalau dosen lagi nerangin itu ya jangan molor tutup toples" ucap Kezia.


"Gue minta ke ayang beb gue bukan loe ya toa seber" kesal Fahri.


"Kalau ada ni anak bawaannya gue darting tau ga, udah ah gue mau keperpus aja loe mau ikut ga Sis?" Tanya Kezia.


"Asiap gue ikut" jawab Siska cepat.


"Loe?" Tanya Siska


"Duluan aja nanti gue nyusul" jawab Elfiza, bukan tanpa alasan Elfiza menjawab demikian.


"Loe yakin mau berduaan ama manusia kecebong kaya gini?" Tanya Kezia heran yang diangguki Elfiza membuat Siska dan Kezia menganga tak percaya.


"Kodok dong gue" keluh Fahri.


"Iya loe burik kaya kodok" ucap Siska menimpali.


"Kaga apa - apa yang penting yang jadi putrinya ayang beb gue, biar jadi pangeran lagi setelah dicium ya ga beb" ucap Fahri sambil memonyongkan mulutnya dihadapan Elfiza.


"Ngarep loe kunyuk kaga bakal gue restuin loe" tiba - tiba saja Fahri tercekik karna ulah Yudis yang menarik kerah kemeja Fahri dari belakang.


"Mau apa loe tadi hah?" Tanyanya kembali saat Fahri menengok kearahnya.


"Hehehe calon kakak ipar gue, curi - curi kesempatan lah apa lagi" jawab Fahri terkekeh.

__ADS_1


Ingin rasanya Arjuna memberikan bogem mentah saat melihat tingkah laku teman adik dari sahabatnya itu, entah bagai mana ceritanya Yudis dan Ydha serta Arjuna berada dimeja mereka, Elfiza saja sampai kaget 'kapan mereka datangnya'.


"Hajar aja bang kita ikhlas, jadiin prekedel juga ga apa - apa" santai saja Kezia berucap.


"Ehhhh mak lampir kalau ngomong dijaga, muka tampan gue masa mau dibikin biru sih" kesal Fahri.


"Penyakit PD loe piara" kesal Kezia tanpa kata lagi Kezia menari Siska menjauh dari meja itu keluar dari kanti menuju perpustakaan.


****


"Nah gapain loe masi disini?" Tanya Yudha


"Ya abang, nemenin ayang beb gue lah bang, kasian takut kesepian" jawab lugas Fahri.


Uhukkk... uhukkk...


Rasanya es teh yang Elfiza mertranspormasi menjadi sebatang ranting ditenggorokannya, sakit bukan main rasanya keselek itu.


"Pelan - pelan El" ucap Arjuna sambil menepuk pelan punggung Elfiza.


"Loe kalau ngomong tu yang bener aja kenapa sih" keluh Elfiza geram, bisa - bisanya Fahri bicara seperti itu dihadapan kedua abangnya, benar - benar punya nyali tinggi.


"Lah napa loe jadi malah marah sih, kan gue ngomong bener loh beb, gue takut loe kesepian aja" ucap Fahri membuat Elfiza meneguk ludahnya sendiri.


Gelek...


Sudah dapat dipastikan abanya yang satu ini bakalan ngamuk, Yudha selasu memperingatkan dirinya agar tak dekat - dekat dengan Fahri karna kelakuannya yang bikin Yudha darah tinggi setiap mendengar gombalannya untuk dirinya.


Tanpa fikir panjang lagi Elfiza menarik Fahri berdiri untuk pergi dari situasi yang tidak mengenakan itu, "loh mau kemana kita?" Tanya Fahri


"Kemana aja asal selamat" ucap Elfiza sambil menyeret Fahri dari hadapan ketiga pria tampan yang berwajah sangar itu saat ini.


"Tapi gue belum selesai itu" keluh Fahri


"Loe mau lanjut tapi pulang tinggal nama apa tinggalin itu tapi loe selamat?" Tanya Elfiza disela seretanya.


"Pilih kabur lah" ucap Fahri yang malah kini menyeret Elfiza dari sana, membuat Yudha melempar botol air mineral kearah Fahri untung mereka gesit berlari jadi Fahri tak terkena lemparan botol itu.


"Sial, makin hari makin jadi aja tu anak" kesal Yudha.


"Mana El malah kayanya nyaman aja lagi digituin, ampe seisi kampus ini tahunya kalau mereka punya hubungan" ucapan Yudis menambah kekesalan Yudha.


****


"Loe itu kalau mau kaya tadi liat - liat orang ke, loe kaga tahu apa muka abang - abang gue udah kaya apa tadi" kesal Elfiza.


"Ya sory, lepas kontrol gue" ucap Fahri.


"Kebiasaan, giliran ke Kezia aja ciut" kesal Elfiza


"Itu lain ceritanya dong" ucap Fahri namun tiga detik kemudian Fahri menghentikan langkahnya, membuat Elfiza juga otomatis terhenti, karna mereka seperti trek gandeng saat ini posisinya, legan Fahri yang menarik tangan Elfiza.


"Tahu dari mana loe?" Tanya Fahri curiga, padahal selama ini tak pernah ada yang tahu tentang rasa sukanya terhadap Kezia selain si bule.


"Awas aja tu an-"


"Sebelum si bule tahu juga gue udah tahu duluan kali" jelas Elfiza memotong omongan Fahri.


"Ikut gue" ucap Elfiza menarik Fahri.


"Mau bawa gue kemana lagi?" Tanya Fahri


"Udah ikut aja ngapa sih banyak nanya loe" kesal Elfiza, mau tak mau Fahri mengekor Elfiza karna kali ini tanganya lah yang tengah diseretnya.


***


"Mau apa kita kesini?" Tanya Fahri setelah mereka duduk disalah satu kursi ditaman itu.


"Cumam pengen ngobrol doang" jawa Elfiza.


"Apa?" Fahri.


"Mau sampai kapan ?" Tanya Elfiza


"Maksud loe?" Tanya Fahri bingung


"Ya loe mau sampai kapan jadi pecundang Fah?" Kembali Elfiza bertanya membuat Fahri terdiam, faham sudah pembicaraan yang akan dimulainya dengan Elfiza sesuatu masalah yang berat yang sudah tiga tahun dihadapinya.


"Apa loe mau ditikung orang?" Tanya Elfiza santai membuat mata Fahri melotot, hampir keluar.

__ADS_1


"Kenapa ko loe kaget, loe tahu abang gue kan, sepertinya bang Yudha naruh perasaan juga ke Kezia" tutur Elfiza, Fahri mengangguk tanda dia juga tahu tentag hal itu.


"Terus apa loe ga mau bergerak?" Tanya Elfiza.


"Susah El" jujurnya.


"Apa susahnya tinggal jujur aja kok" jawab Elfiza.


"Loe ga ngerti" keluh Fahri


"Apanya yang gue ga ngerti Fah, loe hanya takut ditolak kan" ucap Elfiza yang lagi - lagi dibenarkan Fahri oleh anggukan.


"Loe kalah sebelum perang Ri" ucap Elfiza.


"Loe ga tahu gimana Kezia ke gue, apa loe pura - pura ga tahu El?" Tanya Fahri.


"Kita ga pernah tahu hati orang Fah" jawab Elfiza.


"Tapi gue ga yakin kalau dia mau ama gue" ucap Fahri.


"Loe punya banyak waktu buat bikin dia percaya, sama seperti loe usilin gue kenapa loe ga gunain waktu loe buat yakinin dia kalau loe suka sama dia dari pada buang waktu loe kegue" jelas Elfiza.


Fahri bukanya tak ingin tapi kepercayaan dirinya tak pernah ada setiap kali akan melakukannya, dia punya pengalaman buruk tentang cinta, tapi dia juga tak bisa pungkiri jika dirinya bisa jatuh cinta lagi setelah apa yang pernah dia alami sebelumnya.


"Kenapa loe buang waktu loe buat gue?" Tanya Elfiza mana kala Fahri tak memberikan respon apapun terhadap ucapannya.


"Dengan begitu gue punya alesan buat bisa liat dia" jujur Fahri.


"Fikiran loe terlalu rumit Fah, kaya loe kaga punya temen, loe punya kita kalau loe ga bisa dengan usaha loe sendiri, ada kita yang siap bantu loe" ucap Elfiza.


"Gue siap jadi jembatan loe sama Kezia, tapi bukan seperti yang loe lakuin" tambanya.


"Kenapa loe mau bantu gue? Sedangkan abang loe aja suka sama Kezia" tanya Fahri heran.


"Karna abang gue tahu bagai mana caranya buat dekat dengan Kezia, mungkin aja sebentar lagi dia nembak sahabat gue" jelas Elfiza.


"Itu artinya gue ga ada harapan" keluh Fahri.


"Masih ada harapan Fah, sebelum janur kuning melengkung" ucap Elfiza.


"Kenapa loe seakan lebih setuju gue sama dia sedangkan abang loe jelas suka dan mampu buat bahagiain dia?" Tanya Fahri.


"Loe terlalu merendahkan kemampuan loe sendiri Fah" ucap Elfiza.


"Kenapa loe segininya kegua El?" Tanya Fahri.


"Karna gue tahu gimana loe berusaha menekan rasa cemburu loe hanya demi melihat orang yang loe cintai senang, menjadi orang bodoh hanya untuk mengukir senyum dibibirnya" jawab Elfiza.


"Itu yang buat gue yakin loe bisa bahagiain sahabat gue, bukannya gue ga yakin sama abang gue, tapi gue udah liat gimana perasaan loe ke Kezia selama tiga tahun ini" jelasnya.


"Apa loe mau ngalamin yang namanya penyesalan Fah?" Tanya Elfiza, Fahri tampak berfikir.


"Sebelum terlambat, sebelum abang gue nyatain perasaannya ke Kezia, karna setelah itu gue ga yakin loe bakalan dapetin Kezia" ucap Elfiza.


"Gue ga mungkin bersaing bareng abang loe, gue pasti kalah, ga yakin Kezia bakal nerima gue" keluh Fahri.


"Loe ga siap untuk pata hati Fah?" Tanya Elfiza yang diangguki oleh Fahri.


"Terus kenapa loe jatuh cinta?"


Deg...


Pertanyaannya kali ini entah mengapa malah menohok hatinya sendiri, 'mungkin ini jawabannya, gue ga siap buat patah hati, itu kenapa gue masih menyimpannya dihati, gue ga siap buat patah hati, walau gue tahu hati gue udah patah' batin Elfiza bermonolog tiba - tiba saja melamun.


"Loe bener El apa yang loe bilang semua bener gue emang pecundang tapi loe ga bakalan ngerti jadi gue El" ucapan Fahri membuyarkan lamunannya.


"Gue Emang ga ngerti jadi loe, tapi gue lebih ngerti bagai mana hati loe setiap hari ngerasa sesak, ada didekatnya hanya sekedar bayangan yang cuman ngikutin dia doang tanpa bisa menyentuhnya" Kezia.


"Denger Fah,sebelum loe nyesel utarakanlah sebelum semuanya terlambat Fah, fikirkan itu baik - baik"


Elfiza berdiri dari duduknya ingin melangkah pergi dari taman itu, memberi waktu untuk Fahri memikirkan semua ucapannya tadi.


"Gue perna punya hal kelam tentang cinta El" akhirnya Fahri jujur juga dengan apa yang selama ini menjadi masalahnya, membuatnya takut untuk memulai kembali kisah cintanya.


Akhirnya Elfiza duduk kembali untuk mendengarkan cerita Fahri, Elfiza berharap dengan bercerita dapat sedikit memberi titik terang bagi masalah Fahri.


Elfiza hanya tak ingin sahabatnya itu memiliki penyesalan, setidaknya  Fahri sudah mencoba memulainya dengan cara mengutarakan persaannya, walau tak sesuai dengan keinginannya, setidaknya dia pernah mencoba, dan suat saat nanti dia tak menyesali hal itu.


🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2