My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
PASAR MALAM


__ADS_3

Pasar malam yang dibuka setiap malam minggu itu, kini telah ramai pengunjung, Fahri dan Elfiza saja hampir kehabisan tempat parkir, saking padatnya pengunjung malam ini.


Malamnya anak muda sedang memadu kasih, semua yang Fahri liat memiliki pasangan malam ini, tidak sepertinya yang hanya menggandeng angin saja, padahal disebelahnya ada wanita cantik dengan segala keunikannya.


Iri tentu saja dia merasa iri saat ini, melihat sekelilingnya semua bergandeng tangan, hanya dirinya yang tidak, inginnya sih menggandeng tangan cewek ajaib di sampingnya itu, tapi dia masih memiliki otaknya yang dibawanya malam ini.


'Gue ga mau cari perkara, hanya karena iri' batin Fahri yang membayangkan yang tidak - tidak kalau sampai Fahri berani menggenggam tangan Elfiza, sama saja dengan mengibarkan bendera perang kepadanya.


***


Fahri dan Elfiza memulai petualangan malam mereka  dipasar malam, "Mau naik apa dulu?" Tanya Fahri, pasar malam yang mereka kunjungi memang taman hiburan mini, ada beberapa wahana yang disediakan oleh pihak pasar malam, dan juga beberapa permainan jadul.


"Emmm main tembak - tembakan gimana?" Tanya Elfiza pada Fahri.


"Ok" jawab Fahri singkat sambil melangkah kearah stand permainan tembak - tembakan.


"Kang dua" jawa Fahri.


"Silahkan" ujar si penjaga.


"Kita taruhan, siapa yang paling banyak menjatuhkan bebek - bebek itu dia yang akan keluar modal malam ini" ajak Elfiza.


"Ok siapa takut, awas jangan nyesel loe" todong Fahri dengan senapannya.


"Cihhh" Elfiza hanya berdechi saja


"Ayo mulai kang" pinta Fahri yang diangguki oleh si penjaga, dia mulai memutar mesinnya untuk membuat bebek - bebek itu bergerak.


"Tunggu dulu, hadiahnya apa kang?" Tanya Elfiza yang tak mau rugi, dia ingin tahu saja.


"Kalau cuman dua yang tertembak hanya dapet dadah dari akang saja neng" jawab si akang penjaga mencoba bergurau.


"Ais si akang mah" keluh Elfiza


"Terus?" Tambahnya


"Minimal harus bisa menjatuhkan lima bebek neng baru dapet, yang disebelah sini" jawab si akang sambil mengarahkan ke sisi kanannya, ada meja kecil disana yang diatasnya tertulis angka lima, dan dimeja itu pula ada berbagai macam jajanan, seperti gula - gula kapas, satu pak permen, ciki - cikian, dan makanan ringan lainnya.


"Kalau berhasil menggulingkan 10 bebek, dimeja keduanya" tunjuk si akang penjaga permainan tembakan itu, Elfiza dan Fahri mengikuti arah telunjuk si akang dimeja kedua sebelah si akang, hampir sama ada tulisan angka juga bedanya ini angka 10 dan dimeja itu pula ada berbagai pernak - pernik kecil, seperti jam tangan laki - laki dan perempuan, ada pula kalung - kalungan imitasi dan juga gelang - gelang imitasi plus gelang metal, ada topi dan bandana juga serta beberapa jepit rambut disana.


"Kalau bisa nembak 15 bebek, disana" jawab si akang, Elfiza dan Fahri kembali mengikuti arah telunjuk si akang.


Si akang penjaga permainan tembakan itu, mengarahkan telunjuknya kesebrang kirinya, ada dua meja kecil lagi disana disamping meja besar yang berfungsi untuk permainan tembakan.


Terlihat angka 15 dimeja itu, dan juga ada beberapa pasang baju laki - laki dan perempuan, ada pula sepatu laki - laki dan perempuan, serta sandal dan beberapa gesper dan dasi juga celana pendek.


"Nah kalau bisa nembak bebek yang paling besar bisa dapet yang disebelahnya neng, aa" jawab si akang Elfiza dan Fahri kembali melihat telunjuk itu menunjuk, dimeja terakhir ada satu buah boneka teddy bear berukuran besar, hampir sebesar tubuh Fahri.


'Waw .. lumayan kalau dapet itu' ucap Elfiza dalam hati.


"Gimana sudah siapkan?" Tanya si akang yang diangguki oleh keduanya.


"Hanya tiga kali percobaan setelahnya permainan selesai, dan angka yang paling tinggilah yang akan dijadikan acuannya" jelas si akang membuat keduanya mengerti.


"Kalau bisa langsung tembak bebek yang besar itu, maka permainan usai ya, dia lah winernya" jelas siakang lagi, membuat Elfiza terkekeh karena ada terselip kata bahasa inggris disana, siakangnya ternyata doyan bercanda.


"Siap kang" jawab keduanya serentak.


Fahri mendapatkan giliran pertama untuk jalan, percobaan pertama dia tak berhasil menggulingkan satu bebek pun, malah pelurunya tinggal sedikit.


"Akang lupa kasih tahu, kalau peluru yang ada disenapan habis itu artinya permainan pun berakhir ok, terkecuali ingin bermain kembali" jelas si akang menjeda pergerakan Fahri.


"Arrrhhhhh... kenapa ga bilang dari tadi sih kang" kesal Fahri, dia merasa kesal karena menurutnya dia telah menyia - nyiakan banyak peluru percobaan pertamanya yang gagal itu.


"Maaf a' lupa" jawa si akang cengengesan menahan malu.


"Dasar.." kesal Fahri, tapi tetap melanjutkan aksinya, kali ini dia harus lebih teliti dan hati - hati lagi, agar memenangkan permainan itu, dia tak mau tekor hanya karna malam ini.


Permainan dilanjut, setelah Fahri usai melakukan permainan hanya dengan 5 bebek yang dia dapatkan kali ini giliran Elfiza yang akan bermain, "Yakin loe bisa gue aja yang laki cuman dapet lima?" Tanya Fahri, Elfiza tak memberi jawabannya, dia hanya memegang senapannya, lantas memulai permainan.

__ADS_1


Awal yang bagus Elfiza bisa mengantongi tiga bebek, 'mudah - mudahan ini awal yang bagus buat gue, kan lumayan kalau menang dapat hadiah, terus ga usah keluar modal malam ini' batin Elfiza.


"Ngapa loe senyum - senyum kaga jelas?" Tanya Fahri, yang hanya mendapatkan cengiran saja dari Elfiza. 'dih ni anak, sarapnya kumat' batin Fahri.


Selang lima menit akhirnya permainan Elfiza selesai, dan sudah dipastikan jika Elfizalah pemenangnya, karena bebek yang dijatuhkan olehnya unggul satu ekor dari Fahri.


"Sial!" Ucap Fahri mengumpat


"Nah silahkan ambil, pilih yang mana" ucap si akang.


Elfiza dan Fahri kompak memilih gula - gula kapas sebagai hadiah untuk dijadikan cemilan sepanjang jalan melihat pasar malam atau mencoba wahana, "Nah, sekarang tepati janji loe, malam ini kita senang - senang" ucap Elfiza bersemangat sambil menyeret Fahri.


"Gue rasa, gue malah bakal tambah sedih" jawaban Fahri membuat Elfiza terkekeh saja, "udah pokonya kita pasti senang - senang malam ini" ucap Elfiza, Fahri hanya bisa pasrah.


"Iya loe yang seneng - seneng, tapi dompet gue yang menderita" jawab Fahri lesu, membuat Elfiza meledakan tawanya. "Ayolah, ga akan ngebuat dompet loe mati ini Fah" ucap Elfiza menyakinkan Fahri.


Fahri hanya mengangguk pasrah saja, berharap saja Elfiza tidak akan membuat dompetnya masuk IGD tiba - tiba, 'nasib - nasib, udah lagi patah hati, malam ini sial gegara kalah taruhan' membatin Fahri.


Dan malam itu mengalir begitu saja dengan asik, semua wahana dinaiki oleh mereka, dari mulai komedi putar, sampai kincir ria pun dinaiki mereka, permainan disetiap stanpun dijajaki mereka, dari mulai rumah hantu, sampai permainan anak TK mereka lakukan, melukis dan memancing ikan magnet apa namanya kalau bukan permainan TK, tapi mereka terlihat asik walau beda sendiri.


"Mau kemana lagi?" Tanya Fahri


"Isi daya dulu lah, gue haus sama laper nih" jawab Elfiza, tanpa bicara lagi Fahri menarik Elfiza untuk mengikutinya, mereka mencari stand jajanan yang bisa mengganjal perut mereka dan minuman yang menghilangkan dahaga mereka.


"Teh, es tehnya ya dua," Fahri memesan minuman sedangkan Elfiza bertugas memesan makanan, kompak sekali mereka rupanya malam ini.


Dilain tempat ada hati dan pikiran yang risau tak tenang karena memikirkan Elfiza, "apa mereka jadi ya jalan berdua?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutnya.


"Atau tidak jadi? Kan Yudha dan Yudis ga kasih ijin" kembali berucap.


"Atau malah mereka maksa pergi, dan sekarang lagi bersenang - senang" asumsinya, pria ini dibuat frustasi oleh pemikiran - pemikirannya terhadap Elfiza dan Fahri.


Arhhhhhhgggggghhhhhh..,. 


Kesalnya berteriak untung saja dia tidak lupa menyalakan tombol kedap suara, kalau tidak bisa kacau, ibu dan para asisten rumah tangga rumahnya, bisa saja menyerbu kamarnya karena teriakan yang ditimbulkan itu.


"Ahhh kenapa gue jadi sekacau ini sih, cuman gara - gara El", kesal Arjuna pada dirinya sendiri. Ya pria dewasa yang sedari tadi mengoceh sendirian tak jelas bak orang gila itu adalah Arjuna.


****


"Emang ga buat dompet gue mati sih, tapi kolep iya" ketus Fahri saat dirinya melihat isi dompetnya yang hanya tinggal sisa selembar - lembarnya, mana jatah bulanannya masi satu minggu yang akan datang lagi ditransfernya. "Alamat makan kaya anak kosan ini mah" ucap Fahri malah semakin membuat Elfiza tertawa.


"Seneng banget loe temennya susah" kesal Fahri


"Hehehe… gak seseneng itu juga ko, loe lucu abisnya marah - marah Mulu" ujar Elfiza malah membuat dengusan Fahri semakin jelas.


"Nasib - nasib" ucap Fahri, Elfiza hanya menepuk bahunya saja, "selamat menjadi anak kosan, dirumah tercinta" ucap Elfiza sambil kembali terkekeh.


"Sial!" Kesal Fahri.


Fahri memang tinggal bersama keluarganya, tapi untuk uang jajan Fahri selalu diberikan setiap satu bulan sekali, sudah seperti macam gajian saja, cukup atau tidaknya itu tergantung Fahri, ayahnya menerapkan hal itu pada semua anak - anaknya agar anak - anaknya mulai belajar tanggung jawab sedini mungkin dan bisa mengurus keuangan mereka sebaik mungkin.


"Loe udah ikhlas?" Tanya Elfiza kali ini setelah jeda beberapa saat dengan kesunyian akhirnya Elfiza membahas topik inti yang menjadi kegalauan Fahri.


"Ya ikhlas ga ikhlas sih judulnya, tapi mau gimana lagi" ucap Fahri.


"Ga mau coba buat ngerebut Kezia dari abang gue gitu?" Tanya Elfiza.


Pltakkkkkk.


"Awwww… sakit ogeb" kesel Elfiza sambil mengusap keningnya yang seketika memerah karena disentil Fahri.


"Makanya kalau kaga mau disentil tu mulut ngomongnya jangan asal! Bukannya ngelarang ini malah disuruh" ketus Fahri, membuat Elfiza menerbitkan seulas senyumnya.


"Ya siapa tau gitu loe mau ngelakuin hal yang sama kaya yang dilakuin mantan sahabat loe itu" ucap Elfiza.


"Kesalahan yang pernah gue perbuat ga mungkin gue lakuin lagi, apa lagi kalau buat nyontoh kelakuannya sikamfret itu, kaga deh" ujar Fahri.


"Bagus deh, terus gimana sekarang udah lega?" Tanya Elfiza.

__ADS_1


"Lumayan lah, ternyata loe bisa berperan jadi badut juga ya" jawaban Fahri sukses membuat botol air mineral yang isinya tinggal setengah itu mendarat di kepalanya. "Maksud loe gue jelek dan gendut gitu" kesal Elfiza "sudah ditolong malah menghina" tambahnya.


"Maksud gue bisa menghibur Maemun, ahhh susah kalau ngomong Ama otak yang isinya cuman seperempat ons doang kaga bakalan faham"- Fahri


"Si alan loe" ketus Elfiza.


"Hahaha" setelah tawa yang menggema sunyi melanda mereka berdua, seakan meresapi pikiran masing - masing, "harus mulai menyembuhkan kembali", gumam Fahri tanpa sadar.


"Gue yakin loe bisa" ucap Elfiza memberi semangat.


"Asal loe mau berusaha, mungkin bukan dengan Kezia tapikan masih banyak cewe lain yang ngantri" Elfiza menggantung kata - katanya.


"Ngantri apa?" Bingung Fahri


"Ngantri nagih utang sama loe lah, kan mulai besok loe pasti jadi anak kosan"seloroh Elfiza, malah membuat dongkol Fahri


"Sehari aja loe kaga nyela gue kaga bisa apa?" Tanya Fahri ketus.


"Kaga" jawab tanpa dosa seorang Elfiza.


"Untung gue punya banyak stok sabar El" selorohnya. Elfiza hanya terkekeh saja, dia senang malam ini Fahri kembali kedirinya, tawanya tidak sehambar beberapa hari yang lalu, Fahri memang hanya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya, tapi bukan berarti dia tak butuh teman untuk menghiburnya, disinilah peran Elfiza saat ini.


****


"Thanks, malam yang sangat asik" ucap Elfiza berterimakasih manakala mereka sudah sampai didepan pintu villa kediaman keluarga Atmaja.


"Iya loe yang asik dompet gue yang sekarat, ahhhh miskin deh gue besok" ucap Fahri kembali membuat Elfiza terkekeh, "tenang saja nanti bakal ada santunan". Seloroh Elfiza.


"Loe yakin?" Tanya Fahri.


"Yakin lah, besok bakal ada santunan kalau loe mau pake baju compang - camping sambil bawa kaleng dilampu merah" ucap Elfiza.


"Kamfrettttt" 


"Hahahaha" 


"Udah sana balik" titah Elfiza.


"Loe kaga mau nyuruh gue buat mampir gitu ayang beb?" Tanya Fahri, dia kembali menggunakan bahasa alaynya.


"Bapbep..  bapbep kaga ada udah malam pulang sono gih" usir Elfiza.


"Loe mah tega ama pacar sendiri" kesel Fahri


"Modelan kaya loe mau jadi pacar gue, ngimpi loe udah balik sana", usir Elfiza.


"Iya udah gue balik, sekali lagi thanks ya El, dan ini tolong kasih ke abang - abang loe" ucap Fahri sambil memberikan dua harum manis berwarna merah muda itu pada elfiza.


"Sip.. thanks ya malam ini, kapan - kapan kita seru - seruan lagi tapi jangan di pasar malam lagi" ucap Elfiza.


"Ada waktu kita naik gunung gimana?" Tawar Fahri, penawaran bagus tentu Elfiza mau 


"Wah, asik tu, ok bareng anak - anak pendaki kan?" Tanya Elfiza antusias 


Pukkk…


Pukkk..


Pukk…


Fahri mengepul kepala Elfiza, kebiasaan yang tak banyak orang tahu yang Fahri suka lakukan terhadap Elfiza, dan gadis itu tak pernah mempermasalahkannya, "Masuk gih udah malem, nanti gue cari waktu yang pas, gue kabari loe lagi kalau udah ok semuanya" jawab Fahri.


"Ok deh, gue tunggu ya kabar baiknya" Elfiza


"Sip, sana masuk udah malam", titah Fahri..


"Ok, hati - hati dijalan loe, dah"  yang dapet anggukan dari Fahri dan lambayan darinya, setelahnya Fahri benar - benar pergi dari rumah Elfiza.


Dan malam itu berakhir begitu saja dengan menyenangkan untuk Fahri dan juga Elfiza, walau dompet Fahri menjadi korban keusilan Elfiza. 

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2