
Seharusnya mahasiswa baru sudah dibubarkan sejak setengah jam yang lalu karna upacara penutupan ospek sudah dilaksanakan.
Tapi nyatanya mereka masih ditahan diaula, entah ada apa lagi karna mereka tak mengerti sama sekali mengapa mereka sampai dikumpulkan lagi diaula. Bukan kah tadi mereka sudah diperbolehkan pulang.
"Ada apa lagi sih?"
"Bukannya tadi udah boleh pulang ya"
"Kenapa lagi sih?"
"Au lah liat aja lah"
Dan masih banyak lagi bisikan - bisikan para maba itu, semua berdengung ditelinga Elfiza bagai lebah saja.
"Haissss" ucap Elfiza
"Kenapa lagi sih?" Tanya Siska berbisik ketelinga Kezia yang mendapatkan angkatan dibahunya tanda diapun tak mengerti tentang situasi saat ini.
"Gue pengen rebahan" dumel Fahri yang berada tepat disamping Elfiza, jangan tanya bagai mana anak beruk satu itu bisa sampai berada dalam barisan perempuan.
"Ehh curut ngapain loe disini?" Tanya Kezia heran karna Fahri ada disebelah Elfiza.
"Tahu loe sejakapan disitu?" Tambah Sisika tak kalah berbisik, karna panitia mulai berdatangan kembali setelah tadi meninggalkan para maba dengan penuh pertanyaan.
"Tadi" jawab santai Fahri.
"Ehhh loe kaga liat apa ni barisan cewe ngapa loe disini" ketus Kezia.
"Suka - suka gue mak, kan gue kangen bebeb gue" judes Fahri menjawab.
"Santai aja tu mulut, pen banget dah rasanya gue comot" tukas Siska kesal walaupun suaranya berdesis karna tak ingin dipergoki seniornya.
Tak ingin dapat hukuman karna ketahuan mengobrol rupanya anak teladan satu ini, Fahri hanya memutar bola matanya saja tanda membalas ucapan Siska, padahal si Siskanya saja tak melihat hal itu.
"Udah biar aja, loe kaya kaga tahu aja, si Fahri kan kelaminnya ganda" jawab santai Elfiza. Yang berhasil membuat barisannya kena teguran dari panitia.
"Aduhhh... sumpah ya andai kata kita lagi kaga diintai begini gue pengen guling - guling" cicit Kezia.
"Ya ampun Fah, ga nyangka gue ternyata loe sepesies langka juga" tambah Siska tak kalah mencicit.
"Loe pikir gue hewan eksotis hah" mangkal Fahri mendesis.
"Lagi loe beb tega banget dah ama pacar sendiri, masa dibilang kelamin ganda" kesel Fahri.
"Terus apa geh?" Tanya Elfiza santai.
"Waria gue.. puas loe!" Pungkas Fahri kesal, merajuk sudah anak itu.
"Hahahaha"
Kembali barisan Elfiza ramai kali ini Elfiza ikut dalam tawa itu, "Aduh waria gue marah... ututut jangan malah dong.. hahaha" bujuk Elfiza, bukannya seneng Fahri malah tambah memberengut.
"Yang disebelah sanah tolong jangan berisik ya" pinta Tasya.
Segera Soleh dan dua panitia lainnya kembali kebarisan Elfiza untuk melihat mereka, "Suttt, jangan berisik" pinta Soleh tegas, membuat barisan itu kembali membungkam mulutnya bukan hanya karna permintaan dari seniornya, sepertinya yang didepan sudah mulai bersuara.
"Tunggu dulu.. kenapa kamu ada disini?" Saat Soleh akan kembali ketempatnya matanya baru menyadari ada yang aneh.
"Heheheh" Fahri hanya bisa nyengir tanpa bisa mengatakan alasanya.
"Balik ketempat mu" titah Soleh, dia benar - benar dibuat pusing dengan keempat orang disampingnya ini, sedari tadi ada saja ulah mereka.
"Boleh ya bang gue disini" pinta Fahri.
"Mau apa loe disini?" Tanya Soleh
"E.. itu..anu" bingung sudah Fahri saat ditanya demikian.
"Loe mau jadi cewe baris disini?" Tanya Soleh kembali membuat Fahri menggelengkan kepalanya cepat.
"Enak aja ya kaga lah" jawab Fahri kesal
"Ya udah balik sana cepat" titah Soleh yang langsung dituruti Fahri, seram juga kalau udah liat Soleh masang tampang gaerang.
"Ayang mbebnya babang Ai... babang Ai balik sono lagi ya loe jangan nakal jangan ganjen ama senior galak satu ini" setelah mengucapkan hal itu Fahri langsung pergi mengendap - endap dari sana, membuat Soleh benar - benar melongo karna ucapan dari Fahri.
__ADS_1
Fahri dan Soleh memang sudah dekat karna mereka sepupuan, "Kamu mau ama modelan kaya gitu?" Tanya Soleh sambil brigidig ngeri membuat Elfiza mengulum senyumnya sambil menggeleng.
"Sukurlah gue fikir loe ga waras" ucap Soleh sambil lalu.
"Sepupunya aja ampe kaya gitu ngadepin tu anak"
Ucap Kezia yang mendapatkn kekehan dari Elfiza dan Siska, "Tapi heran kok dia kaga pernah kapok ya padahal ditolak mulu ama loe" heran Siska.
"Dia mah udah kebal ama penolakan Sis" jawab Elfiza santai.
"Iya juga sih ya.. udah biasa ini" ucap Siska.
"Yang Aneh tuh kalau sampai si Elnya nerima tu anak baru aneh" timpal Kezia yang mendapatkan pelototan tajam dari Elfiza dan kekehan dari Siska.
'Andai loe berdua tahu kalau tu anak kaga pernah serius sama gue' batin Elfiza.
"Kok gue kesel ya" gumam Elfiza yang dapat didenger oleh Kezia.
"Kenapa?" Tanya Kezia bingung.
"Tau kesel aja" jawab Elfiza santai yang membuat krinyitan didahi Kezia saking bingungnya dengan apa jawaban Elfiza.
'Sebenernya sih bukan kesel cuman geregetan aja gemes gimana gitu liat tingkah si Fahri. Haisss' cerocos batin Elfiza.
"Temen - temen semuanya mohon perhatiannya sebentar" suara dari pengeras suara itu mencuri antensi diaula itu, dengah serentak semua suara lebah tadi berhenti seketika.
"Sebelumnya saya mewakili para panitia meminta maaf karna waktu kalian kembali disita oleh kami, salah satu dari panitia kehilangan benda berharganya" Yudha menjeda ucapannya.
Ia menarik nafasnya sebentar lantas melanjutkan ucapannya, "Tan" panggil Yudha kepada salah satu temannya, dan yang dipanggil maju kedepan.
Degg....
Jantung Siska berdesir entah mengapa perasaannya jadi tidak enak, 'Entah apa yang tengah direncanakan cewe itu' batin Siska, matanya terus menatap kearah dimana Tania berjalan kedepan.
Tanpa bicara Yudha memberikan pengeras suara kepada Tania, membiarkan wantita itu sendiri yang berbicara.
"Maaf sebelumnya untuk kalian karna dikumpulkan lagi disini, saya cuman mau tanya sama kalian apa kalian melihat kalung saya? Liontinya berbentuk kepala hello kitty" tanya Tania.
"Masalah nih" bisik Kezia kekedua sahabatnya yang diangguki kedua sahabat itu.
"Maaf sebelumnya kak, saya mewakili semua teman - teman yang lain tidak pernah melihat atau menemukan kalung itu" jawab Geril.
"Kamu yakin?" Tanya Tania yang sangsi dengan ucapan perwakilan maba itu.
"Tentu saja, semua kelompok sudah ditanyakan dan tak ada satupun dari kami yang melihat termasuk saya" jawab Geril kembali, sedikit ketus karna merasa seniornya itu secara tidak langsung menuduh para maba.
"Kalau seandainya saya mau periksa kalian bagai mana?" Tanya Tania, pertanyaan Tania sukses membuat para maba itu melotot kaget.
"Apa?" Ucap Geril tak percaya.
"Kenapa kok kaget gitu sih, ga apa - apa dong kalau saya periksa kalian" enteng saja Tania berbicara tanpa memikirkan perasaan yang tersinggung para juniornya itu.
"Tan loe apa - apan sih" tukas Yudha
"Maaf kak bukan kah saya sudah katakan tadi jika kami tak ada yang melihatnya" jawab Geril kembali berusaha menekan emosinya yang tiba - tiba saja muncul.
"Bisa sajakan ada salah satu dari kalian yang berbohong" ucap Tania kembali.
"Kok kakak nuduh kami bohong sih"kesal sudah Geril dibuat panitia dihadapannya itu.
"Tania sudahlah, dan kamu boleh ketempat mu lagi. Maaf ya" ucap Yudha menengahi, akhirnya Geril kembali kebarisan dengan perasaan kesalnya.
"Apaan sih Dha, kenapa disuruh kembali kebarisan anak itu?" Tanya Tania tak terima.
"Loe yang apa - apaan udah kaya anak kecil aja, merekakan udah bilang kalau mereka ga tahu soal kalung itu, itu artinya kalung loe emang ga ada disekitar sini" jelas Yudha berbisik mencoba memberi pengertian.
"Iya Tan loe jangan asal nuduh gitu" timbal Jendra.
"Siapa yang nuduh sih?" Kesal Tania.
"Perkataan loe tadi itu sama aja dengan yang namanya tuduhan" jelas Yudha.
"Gue ga nuduh Dha" sangkal Tania.
"Gue cuman pengen kalung gue balik Dha itu aja apa salahnya?" Tanya Tania
__ADS_1
"Salah jika loe nuduk sembarangan tampa bukti" jelas Jendra.
"Udah gue bilang gue ga nuduh gue cuma-"
"Cuman apa?" Tanya Yudha memotong ucapan Tania.
"Gue cuman pengen mastiin aja apa itu salah Dha?" Tanya Tania yang Emosi.
"Tapi tadi itu loe terkesan nuduh Tan" Arjunapun ikut dalam obrolan mereka pada akhirnya.
"Harus berapa kali gue bilang gue ga nuduh" tukas Tania kesal.
"Lantas yang tadi apa Tan, sudahlah loe jangan buat masalah, kasian mereka sudah cape dibuat lebih cape lagi gegara nunggu begini, mereka ingin pulang Tan" ucap Arjuna kesal melihat tingkah Tania yang menurutnya kekanakan itu.
"Lagian belum tentu juga tu kalung hilangnya disini, bisa ajakan ketinggalan dirumah" tambah Arjuna.
"Bukan cuman mereka yang pengen pulang Ar, gue juga pengen bukan cuman mereka doang yang cape kita semua juga cape Ar" bentak Tania emosi sambil menunjuk para maba yang terdiam karna suasana mulai memanas.
"Itu loe tau terus kenapa loe malah kumpulin lagi kita - kita kaya gini sih" kesel Jendra.
"Gue tanya sama kalian kalau barang berharga kalian hilang apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Tania.
"Pasti sama kaya gue kan paniknya" tambahnya, membuat Jendra terdiam, benar juga apa yang dikatakan Tania dia juga akan panik jika yang hilang benda kesayangannya.
Tapi tidak sampai membuat semua orang juga ikut kena imbasnya seperti ini fikir Jendra.
"Terus loe maunya apa?" Pada akhirnya Yudha bertanya demikian.
"Gue mau semua anak maba diperiksa" tegas Tania.
"Ga bisa gitu dong kak" tegas salah satu anak karna merasa kesal atas permintaan Tania, itu sama saja Tania menuduh mereka secara tak langsung, memang sedari tadi Tania sudah menuduh mereka juga.
"Kenapa apa kalian takut?" Tanya Mela ikut bersuara.
"Atau jangan - jangan memang ada salah salah satu dari kalian yang mengambil kalung itu" tuduh Seli.
"Kakak jangan asal tuduh gitu dong" kembali salah satu maba berbicara dia juga sama kesalnya dengan yang lainnya.
"MELA ... SELI" Yudha membentak kedua sahabat dari Tania itu.
"Apa salah Seli dan Mela berucap demikian Dha, jika memang bukan mereka pelakunya mereka ga bakalan takut buat diperiksa" jelas Tania ketus.
Elfiza, Sika dan Kezia saling pandang satu sama lain, seakan mengengerti dengan apa yang difikirkan satu sama lain ketiga dara itu mengangguk kompak lantas berjalan menuju arah depan.
Semua mata tertuju kepada ketiga gadis yang tengah berjalan itu tak terkecuali yang ada didepan, melihat hal itu Fahripun mengikuti mereka mengekor dari belakang.
"Silahkan periksa seuska hati kakak" jawab datar Kezia setelah keempatnya meletakan tas mereka dihadapan panitia.
Senyum Tania mengembang tanpa disadari yang lain hanya satu pasang mata yang menyadari hal itu membuat siempunya mata memutar bola matanya malas. 'Tanpa disuruh sudah maju duluan, apa tikusnya sudah terjebak ya' batin Tania.
Sejujurnya Yudha merasa kaget degan apa yang dilakukan oleh adik dan kawan - kawannya itu lakukan, namun dia memaklumi hal itu jika sudah seperti ini maka adiknya itu sudah sangat kesal.
Tania dengan tak tahu malunya akan mengambil salah satu tas dari keempat tas yang berada dihadapannya, namun kegiatanya tertunda saat kalimat itu terucap dari mulut Elfiza.
"Jika kakak mau periksa tas kami, maka kamipun minta kakak semua periksa tas panitia" pinta Elfiza.
"APA!!" Ucap Mela tak percaya juniornya ini sungguh berani.
"Kenapa? Kok kaget gitu sih kak?" Tanya Siska.
"Wajarkan kalau kita minta kalian juga untuk diperiksa" tambah Fahri, Elfiza sedikit kaget entah sejak kapan anak satu ini ada disampingnya.
"Kalian nuduh kami gitu?" Tanya Seli tak terima dengan semua ucapan juniornya ini.
"Kenapa kesel ya?" Tanya Elfiza.
"Itu juga yang kami rasakan tadi, tanpa bukti yang akurat kenapa kakak tuduh kami?" Tanya Elfiza.
"Gue ga ada nuduh loe ko" sanggah Tania.
"Yang kak Tania bilang tadi sama saja secara tak langsung menuduh kami kak" jawab Kezia datar.
"Itu artinya loe ngerasa" sarkas Tania
"Siapapun orangnya pasti tidak akan terima jika kakak berucap demikian, walau sekalipun orang itu tak mengambil barang kakak, samahalnya dengan dua teman kakak yang merasa kesal karna ucapan saya" pungkas Elfiza.
__ADS_1
🍁🍁🍁