My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
BELAJAR BERBAGI ITU HARUS


__ADS_3

Monday morning, pagi - pagi sudah disuguhkan dengan orang malas satu ini, Elfiza tengah googling sambil tengkurap bertemankan cemilan kesukaannya dan juga tiga kotak susu coklatnya tentunya.


Beberapa kali membuka dan mengeluarkan situs dalam mbahnya pengetahuan itu, ohhh sedari tadi dia tengah mencari informasi tentang penerimaan mahasiswa baru toh.


Pantas seserius itu, sampai - sampai beberapa kali henponya bersering saja tidak terdengar oloehnya, saking seriusnya mencari atau saking asiknya mendegarkan musik, yap dia googling bukan hanya ditemani dengan cemilan dan minuman saja tapi juga dengan musik.


Rupanya anak macan satu ini tengah menikmati masa bermalas - malasannya, sampai - sampai googlingnya saja sambil tegkurap seperti itu, padahal lebih enak jika duduk bukan, akan lebih fokus.


Tangannya sesekali menggeser mousnya untuk mengganti situs yang dibukanya, sebelah tangannya ditopangkan didagunya, nikmat sekali pemandangan ini, jika saja penampilan bantalnya itu sudah tak nampak.


Ya tapi mau bagai manapun Elfiza tetaplah Elfiza sicuek, dengan santainya dia merasakan kenyamananya seperti itu, sering kali mengejek kakak tertuanya soal kebersihan, tapi nyatanya dia lebih parah dari sang abang.


"Pilih Uni mana ya? Kok jadi bigung gini" gumam Elfiza sambil menyesap susu coklatnya.


Srottt...


Srotttt..


Srottt...


Sudah tahu susu dalam kotak itu habis masih saja berusaha disedotnya, ah dasar gadi macan satu ini memang beda dari yang lain rupanya.


"Apa satu kampus sama abang - abang gue aja gituh ya" gumam Elfiza sambil menelentangkan tubuhnya, sesekali mereggangkan tubuh yang pegal akibat terlalu lama tengkurap.


Dia melihat henponnya yang sedari dua jam tadi terabaikan olehnya, ditekan tombol on/offnya ternyata banyak pesan masuk.


Entah dari siapa, saat dibukanya satu persatu pesan itu "Mati gue" gumamnya singkat.


Tak berselang lama dia terbirit - birit kekamar mandinya sambil menyambar handuk, 5 menit selesai sudah acara ritual pagi yang cukup telat itu, entah mandinya bersih atau tidak yang terpenting baginya adalah kena air masalah mandi selesai.


Tak butuh waktu lama Elfiza sudah siap untuk OTW, yang enta kemana dia akan pergi, "Kenapa pake acara lupa segala sih" gerutuhnya kesal.


***


"Yah, bu El pergi dulu ya" pamit Elfiza sembari mencium tangan kedua orang tuanya.


"Mau kemana sayang?" Tanya ayah


"Ada urusan bareng Kezia sama Siska" jawab Elfiza.


"Eleh bilang aja mau nongoki bareng mereka jangan alesan ada urusan segala" ujar Yudis yang membuat Elfiza terkekeh.


"Hehehe... itu tau" jawab Elfiza.


"Dasar"


"Sudahlah aku berangkat dulu udah telat nih" pamitnya.


"Hati - hati bawa motornya" perigat ibu.


"Iya bu" jawab Elfiza.


"Pulang jangan terlalu sore ya" kali ini ultimatum dari ayah.


"Siap bos qu" wajab Elfiza nyengir lebar.


"Kamu ga mau diantar kakak El?" Tanya Yudha yang baru saja datang sedikit berteriak karna Elfiza sudah berjalan menuju ruang tamu.


"Ga mau .. yang ada sepanjang jalan abis dikerjain" teriak Elfiza


"Assalamualakummm" kembali Elfiza berteriak, membuat orang yang ada diruang tamu geleng - geleng kepala saja melihat tingkah satu - satunya perempuan keturunan dari Wiraatmaja itu.


***


"Sory.. sory banget" ucap Elfiza meminta maaf pada kedua sahabatnya itu, karna terlambat datang dari jam yang sudah ditentukan.


"Emang kebiasaan" keluh Siska, Elfiza hanya bisa nyengir kuda saja, sambil menggeser kursi untuk didudukinya.


Ketiga dara itu memang tengah berada disalah satu tempat makan, untuk mengisi perut mereka sebelum pergi berpetualang.


"Udah pesen belum?" Tanya Elfiza.


"Sudah, loe juga udah gue pesenin, jangan protes" tukas Kezia, bagai mana mau protes orang sudah menjadi kesepakatan bersama, hukuman untuk orang yang telat makannan yang dipesankan terserah mereka yang datang on time, bukan hanya itu yang telatpun harus mengikhlaskan dompetnya yang tiba - tiba saja sekarat. Untuk membayar semua makanan yang dipesan mereka.


Sejujurnya sih kesepakatan itu membuat Elfiza rugi,karna Elfiza yang paling sering kena apesnya.


****


Makanan yang dipesanpun sudah datang menghampiri mereka, Elfiza sempat menepuk jidatnya karna melihat betapa banyak pesanan yang dua sahabatnya itu pesan, hingga meja mereka penuh dengan berbagai macam makanan.


"Aji mumpung sekali kalian ini" kesal Elfiza.


"Namanya juga ditraktir" jawab santai Kezia yang diangguki Siska, Elfiza melihat isi dompetnya, 'Yaampun, bisa masuk rumah sakit ini dompet' batin Elfiza.


"Tetep aja emang kalian bisa abisin semua ini, inget jangan buang makanan ga baik" tukas Elfiza.


Siska tampak berfikir, memang mereka tak memikirkan sampai kesitu, mereka hanya ingin menjahili sahabatnya itu, walau terkadang mereka lupa jika sahabatnya itu paling anti sama yang namanya kemubajiran.


"Emmmm... kayanya sih ga bisa, baru 4 jam yag lalu gue sarapan" jawab Kezia sesal membuat Elfiza mendelik.


"Gampang, mba" ucap Siska sambil memanggil waitress.


"Iya kenapa kak, ada yang kurang atau mau pesan yang lain?" Tanya sipelayan wanita itu, setelah mendekat kemeja Siska dkk.


"Emmm... boleh minta tolong?" Tanya Siska.

__ADS_1


"Tentu silahkan ada yang bisa saya bantu?" Tanya waitress tersebut.


"Gini, karna tadi kami kebanyakan memesannya, baru sadar kalau ga bakalan habis, boleh minta tolong setengah yang ada dimeja ini dibungkus saja, bisa?" Pinta Siska bertanya.


Waitress itu tersenyum ramah "Tentu bisa kak, ada yang lain lagi?" Tanya Waitress.


"Sis buat apa dibungkus?" Belum juga Siska menjawab pertanyaan si waitress itu, Kezia malah memberinya pertanyaan.


"Tolong jadikan yang dibungkus beberapa porsi ya kak" pinta Elfiza menjawab pertanyaan si waitress.


"Mau berapa box kak?" Tanya si waitress.


"200 ditambah yang ini ya" jawab sopan Elfiza.


"Oh baik ada lagi kak?" Tanya si waitress.


"Minumannya air mineral sebanyak makanannya ya bak, sama es kopinya sebanyak itu juga" pinta Elfiza.


"Baik kak ada lagi?" Tanya si waitress.


"Tidak ada cukup itu saja" jawab Elfiza.


"Baik kak ditunggu ya" ucap si waitress, setelahnya si waitress permisi untuk menyiapkan pesana ketiga gadis itu.


"Faham untuk apa?" Tanya Elfiza menjawab pertanyaan dari Kezia, membuat Kezia menyengir lebar.


Setelah urusan dengan pemesanan mendadak tadi selesai, akhirnya ketiga dara itu bisa menikmati makan siang mereka yang maju satu jam itu.


"Setelah ini mau kemana?" Tanya Siska disela makannya.


"Bagikan makanan yang tadi" jawab santai Elfiza.


"Gue tahu kalau itu, setelahnya Maemun?" Kesal Kezia.


"Ngebolang ke biasa aja sih" pinta Siska yang disetujui Kezia dan Elfiza.


****


Makan siang yang lebih awal satu jam itu akhirnya selesai, Elfiza melirik jam dipergelangan tangan kirinya, waktu menunjukan pukul 11.30 wib.


"Ayo kita cemon" ajak Elfiza kepada kedua sahabatnya yang langsung berdiri, urusan bayar membayar sudah dilakukan tadi.


Ketiga gadis itu beriringan keluar dari rumah makan itu, diikuti dua karyawan rumah makan itu, dua karyawan itu bertugas untuk membawaka pesana mereka kedalam mobil Kezia.


"Trimakasih ya mas" ucap Kezia setelah semua sudah dimasukan kedalam bagaisi mobilnya.


"Sama - sama kak, kalau begitu kami permisi dulu" jawab sipemuda yang Elfiza kira - kira usianya seusia Yudis itu.


"Tunggu mas, ini" ucap Siska memberikan beberapa lembar uang 50.000 ribuan.


"Tidak apa - apa mas, anggaplah tips karna telah membantu kami" ucap Elfiza.


"Iya terima saja, rezeki jangan ditolak" tambah Kezia.


"Nah jadi, tidak apa - apa" timpal Siska sambil menyodorkan kembali uang itu.


"Trimakasih kalau begitu kak" jawab keduanya.


"Sama - sama mas" jawab ketiganya.


Setelah kedua karyawan itu kembali masuk kedalam rumah makan itu, tinggallah Kezia dan kedua sagabatnya diparkiran.


"Kali ini bagikan dimana?" Tanya Siska


"Gimana kalau targetnya anak jalanan saja, kayanya kalau kepanti yang biasa kita datangi kurang makanannya" jawab Kezia.


"Gimana El? Loe punya tempat yang dituju?" Tanya Siska.


"Ada sih, gimana kalau kesana aja" saran Elfiza.


"Cus" ucap keduanya.


Elfiza mengendarai sidenoknya untuk menunjukan jalan, dimana mereka akan membagikan makanan yang telah mereka pesan tadi, sedangkan Kezia dan Siska mengikutinya dengan mengendarai mobil Kezia.


Mereka memang sering melakukan bakti sosial seperti itu, tanpa diketahui orang banya, salah satu rutinitas setiap ada kesempatan untuk berbagi.


Awalnya keisengan dari Elfiza karna dirinya waktu itu kembali terlambat dan sialnya pertemuan mereka pada saat jam makan siang, saking kesalnya Siska karna ketidak on timean sahabatnya satu itu, dia memesan makanan terlalu banyak.


Maksud hati sih ingin membuat anak macan itu jera, tapi malah dirinya yang kena semprot karna Elfiza benci yang namanya mubajir atau hambur - hambur.


Dan dari situlah ide berbagi itu ada didiri mereka, dan dari situ pula berbagi menjadi salah satu keharusan dalam kegiatan mereka, setiap mingunya mereka menyisihkan sebagian uang mereka kepada bank berjalan mereka.


Siapa lagi kalau bukan Siska, karna dari ketiganya yang paling bisa menyimpan uang adalah Siska, mereka selalu berusaha untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk berbagi.


Jika sudah terkumpul maka mereka akan menuju tempat - tempat yang sekiranya membutuhkan bantuan, mereka bukan melulu memberikan bantuan dalam bentuk makanan siap saji, kadang bahan pokok, juga uang biasa. Karna mereka tidak tahu sebenarnya kebutuhan yang paling urjen yang mereka butuhkan.


Memang tidak setiap bulan mereka mengadakan acara bakti sosial mereka, hanya setiap uang itu sudah terkumpul maka akan dilakukan bakti sosial mereka, bahkan karna hal itu, ada salah satu panti asuhan yang bisa dikatakan mereka menjadi salah satu donatur panti itu.


Memang tidak sebesar para orang dewasa itu lakukan untuk memberi dengan sebagai mana mestinya seorang donatur, tetapi cukup membuat ibu panti merasa senang.


Seharusnya sih tidak bisa dibilang donatur, hanya saja ibu panti itu terlalu melebih - lebihkan kebaikan mereka yang tak seberapa bagi mereka, namun bagi ibu panti dan anak - anak panti yang bisa dikatakan kekurangan itu bantuan mereka berharga.


Karna donatur yang biasa mendonasikan uang mereka sudah beberapa tahun silam tak lagi memberikan donasinya, entah mengapa, sering kali ibu panti melihat anak - anaknya bekerja untuk menghidupi kebutuhan mereka.


Setelah pertemuan Jihan dengan ketiga dara itu, semua seperti berubah memang tidak setiap bulan mereka mendapatkan donasi dari ketiga dara itu, tapi setidaknya ibu panti bisa sedikit bernafas.

__ADS_1


Dan karna mendengar perihal soal donatur yang sudah tidak ada membuat Elfiza membulatkan tekad untuk bisa mendonasikan sebagian rizkinya untuk panti asuhan Nurullhuda itu menjadi setiap bulannya.


Hal itu didukung sepenuhnya dari kedua sahabatnya, mereka bekerja ekstra untuk bisa menyisihkan uang mereka untuk bisa mengumpulkan uang dalam satu minggu lebih dari yang biasa mereka kumpulkan, agar saat satu bulan nanti uang itu bisa diberikan untuk ibu panti.


Memang tidak sampai belasan atau puluhan bahkan ratusan juta dalam setiap bulannya, namanya juga belum bekerja masih seorang pelajar yang masih mengandalkan uang jajan mereka, jadi hanya semampu mereka saja tak pernah memaksakan juga, mereka hanya ingin belajar untuk berbagi.


Walau demikian untuk setiap urusan berbagi mereka diberi jalan kemudahan, mungkin tuhan tahu maksus mereka baik, maka tuhan memudahkan jalan mereka.


****


Motor Elfiza berhenti disalah salah satu ruko yang kebetulan tutup, disusul dengan berhentinya mobil sahabatnya itu, Kezia dan Siska keluar dari dalam mobil.


"Mau kemana?" Tanya Siska to the point, saat Siska celingukan tapi tak ada tempat yang memang dituju untuk membagikan makanan.


Mereka memang sedang berada dipinggir jalan raya, ruko itu sendiri berada tepat dipinggir jalan raya, berjejer dengan beberapa ruko lainnya yang buka.


Elfiza tampak memperhatikan sekitar, tak jarang Elfiza menengok kanan kirinya, seperti mencari sesuatu.


"Apa sih yang dicari?" Tanya Kezia penasaran, tak ada jawaban dari Elfiza, malah temannya satu itu berjalan kearah jalan raya itu.


..


"Kebiasaan ditanya bukannya jawab malah main pergi aja" dumel Kezia, membuat Siska terkekeh geli.


Niat hati ingin menyebrang jalan, tapi ternyata anak yang ingin ditemui Elfiza sudah menyadari keberadaan Elfiza sendiri, membuat anak itu berlari kearahnya.


"Kalau nyebrang itu tengok kanan kiri Dika" tegur Elfiza sesaat setela anak yang dipanggil Dika sampai dihadapan Elfiza. Sianak malah cengengesan saja.


"Teh El ngapain kesini?" Tanya bocah lelaki yang kira - kira berusia 10 tahun itu.


"Teman - teman kamu mana?" Bukannya menjawab pertanyaan Dika, Elfiza malah bali bertanya dasar kebiasaan.


"Ada ko teh, memang ada perlu apa?" Tanya Dika kembali.


"Ada sedikit rezeki buat kalian, itu dua orang disana sahabat teteh, kita kesini mau kasih makan siang buat kalian" jawab Elfiza.


"Wah, kebetulan kita memang belum pada makan, sebelumnya makasih loh teh" ucap Dika, yang dibalas senyum manis Elfiza dengan sebuah anggukan dikepalanya tak luput dari penglihatan Dika.


"Jadi bisa kita ketemu teman - teman Dika?" Pinta Elfiza.


"Bisa dong teh, teteh tunggu disini aja nanti Dika kembali sama teman - teman, kalau teh El yang kesana kasian teh El sama teman - teman teh El" jawab Dika.


"Makasih Dika" jawab Elfiza.


"Salah Dika yang makasih sama teh El" jawab Dika.


"Kenal dari mana loe?" Tanya Kezia setelah Dika pergi dari hadapan Elfiza.


"Waktu itu motor gue abis bensin didaerah sini, kondisi udah sore banget, untung ada Dika yang mau nolongin gue buat dorong motor gue sampai ke tukang jual bensin eceran, dari situ gue kenal tu anak" jawab Elfiza.


****


Tak lama menunggu akhirnya teman - teman Dika yang berjumlah 15 orang beserta Dika tentunya datang, tak banyak bicara lagi Kezia, Siska dan Elfiza membagikan makanan yang sudah mereka siapkan tadi.


Elfiza memberi satu orang tiga bungkus kotak makan, sengaja biar yang dua lagi mereka bawa pulang untuk orang dirumah mereka, tentu saja mereka senang bukan main.


"Sekali lagi makasih ya teh, teteh sudah  sering bantu Dika sama teman - teman Dika" ucap Dika.


"Sama - sama Dika" jawab Siska yang mendapat senyum dari Dika.


"Oh iya Dik, teteh masih ada sisa makanan, bisa Dika bantu teteh buat bagikan makanan ini, Dikakan tau tempatnya" pinta Elfiza.


"Tentu teh" jawab Dika.


"Tapi kalau Dika mau makan, makan dulu aja bareng anak - anak yang lainnya" ucap Kezia memberi saran.


"Engga usah nanti saja Dika makannya, dika belum laper kok teh, tapi sebelum pergi bisa minta tolong anterin Dika pulang, mau kasih ini ke emak" ucap Dika.


"Boleh. Ayo" ajak Elfiza.


"Temen - temen Dika pergi dulu ya" ucap Dika.


"Iya Dika"


"Kami pergi dulu ya anak - anak" ucap Siska pamit.


"Iya teh.. sekali lagi makasih ya teh" jawab salah satu yang paling besar diantara mereka.


"Sama - sama anak - anak" jawab Kezia.


Setelahnya mereka berempat melanjutkan perjalanan membagikan makanan, Kezia dengan Siska didalam mobil sedangkan Elfiza mbonceng Dika.


Dika bekerja sebagai loper koran keliling, biasanya anak itu menjual korannya dilampu merah dan dibis, teman - temannya tadi ada yang satu propesi dengannya ada juga yang beda propesi dengannya.


Mereka semua anak - anak jalanan, yang memang putus sekolah karna keterbatasan biaya, dan mengorbankan pendidikan mereka demi menjemput rizki membantu orang tua mereka.


Dika salah satu dari mereka, walau Dika cukup beruntung masih bisa mengenyam pendidikannya sampai saat ini dibanding teman - teman yang lainnya, memang dengan kekuarangan disana sini, sehingga dirinya nekat untuk berjualan koran, demi membantu keuangan keluarg, walau tak bisa membantu banyak tapi setidaknya meringankan orang tuanya.


******


Jam 01.30wib akhirnya acar bagi - bagi makan siang itu selesai, Elfiza juga sudah mengantar Dika untuk pulang, setelah semuanya beres akhirnya ketiga dara itu memutuskan jalan - jalan sekitaran lembang.


Meneruskan tujuan utamanya ngebolang, untuk menghilangkan kepenatan karna kejenuhan yang tidak memiliki kegiatan berati selama satu minggu kemarin.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2