
Els terbaring lemah di salah satu bed pasien yang ada di IGD, wanita berusia 28 tahun itu sudah sadar dan tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun ia memilih diam dan menutup matanya untuk menenangkan hatinya. Bukan perkara mudah tanpa tahu kehadiran si buah hati tapi langsung kehilangan begitu mengetahuinya. Apalagi Els sudah menanti kejam itu selama empat tahun.
Srekkk....
Arya membuka tirai yang menjadi sekat antar pasien yang ada di IGD. Ia memandang sendu pada istrinya yang terbaring lemah dengan mata tertutup. Sesal, itulah yang Arya rasakan, jika saja ia cepat membawa Els ke rumah sakit saat Els mengeluh kesakitan dan minta tolong, mungkin calon bayinya masih bisa di selamatkan. Namun semua hanya tinggal penyesalan yang takkan bisa mengembalikan calon bayinya.
"Maaf" ucap Arya duduk di bangku yang ada di samping ranjang Els. Arya meraih tangan istrinya dan menggenggam tangan itu dengan erat.
"Els, sayang" Arya mengecup tangan Els dalam-dalam seperti penyesalannya yang dalam. "Maafkan aku" ucapnya, tapi tidak ada reaksi apapun dari Els, wanita itu tetap menutup matanya dan diam.
🍀🍀🍀
Setelah beberapa saat, Els sudah membuka matanya namun tetap diam saja tanpa ada satu suara yang luar. Arya semakin di rundung rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya.
"Els" ucap Arya dengan nada lembut. "Jangan diam saja, katakan lah sesuatu, ayo marah padaku, pukul aku sepuas hatimu" bujuk Arya agar Els mengeluarkan suaranya.
"Sayang, tolong jangan diam saja" mohon Arya karena istrinya masih betah membisu.
Els hanya melirik sekilas pada suaminya, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Aku mau pulang" ucap Els lalu menutup matanya lagi, entah apa yang ada dalam benak istrinya itu, yang pasti sikap Els membuat Arya tidak nyaman.
"Baiklah, aku akan bertanya pada dokter" ucap Arya senang mendengar tiga kata yang keluar dari mulut istri nya.
Arya menemui dokter Wirda yang tadi menangani Els untuk meminta izin pulang, karena Els yang menginginkan nya. Sebenarnya dokter masih menyarankan Els untuk tetap di rawat di rumah sakit, mengingat betapa hebatnya pendarahan yang Els alami, tapi Els tetap bersikeras untuk pulang karena merasa sudah baik-buruk saja, bagi Els tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan calon bayinya, itulah kesakitan yang sesingkat tanpa Els hiraukan sakit yang ada di tubuhnya.
"Anda harus segera membawa nya ke rumah sakit jika ibu Elsava kembali mengalami pendarahan atau mengeluh sakit pada bagian perutnya" pesan dokter Wirda. "Jangan lupa obat dan vitamin nya di habiskan" sambungnya.
"Terimakasih dokter" ucap Arya menuju ke bagian farmasi untuk menebus obat yang telah di resep kan oleh dokter Wirda. Dan setelah mengantri hampir setengah jam, Arya sudah mendapatkan obat yang harus di minum Els beberapa ke depan.
Arya kembali ke IGD tempat Els di rawat karena memang belum di pindahkan ke kamar inap, selain itu Els juga tidak mau di rawat di rumah sakit.
"Ayo kita pulang" ajak Arya melihat seorang suster telah melepaskan selang infus yang ada di tangan Els.
__ADS_1
"Hem" jawab Els dingin langsung jalan tanpa mau di tuntun Arya. Akhirnya setelah 5 jam terbaring di ranjang IGD, dan menghabiskan tiga botol infus. kini Els kembali kerumah seperti keinginan nya.
🍀🍀🍀
Sudah tiga hari ini Els diam tanpa ada suara dan tanpa ada yang berani menegurnya pasca kejadian yang menyakitkan itu. Arya pun tidak bisa berbuat apa-apa selama bersabar karena ini semua memang kesalahan. Seandainya saja ia tidak marah pada Els, seandainya ia tidak menarik dan menghempaskan Els dengan keras, seandainya ia segera membawa Els ke rumah sakit, seandainya dan seandainya Arya lebih peka, semua rasa penyesalan dan bersalah itu memenuhi hati dan pikiran Arya. Entahlah Arya harus berbuat apa untuk mendapatkan maaf dari istrinya.
"Mas" ucap Els untuk pertama kalinya setelah tiga hari membisu.
"Ya sayang, kau ingin apa?" Arya senang dan antusias.
"Aku ingin bicara" ucap Els tanpa ekspresi.
"Baiklah, kau ingin bicara apa?" Arya duduk di ranjang sebelah Els.
"Ayo kita berpisah"
Deg.......
"A...ap..apa?" Arya masih tidak percaya.
"Berpisah, mari kita bercerai, kita akhiri saja pernikahan ini" ucap Els dengan mata penuh keyakinan menatap Arya tanpa berkedip.
"Kau bercanda? pernikahan bukanlah sebuah permainan" ucap Arya kesal.
"Aku serius dan sedang tidak ingin bercanda" jelas Els.
"Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu Els, aku tahu aku salah, tapi tolong maafkan aku, aku janji akan menjadi suatu yang lebih peka dan lebih baik lagi" ucap Arya menggenggam erat tangan Els.
"Aku sudah memaafkan mu Mas, tapi aku sungguh tidak bisa menjadi istri mu lagi. Bukankah ibu sudah menyiapkan calon istri yang baru untuk mu?" ucap Els.
"Kau..."
"Ya aku tahu dan aku juga mendengar semuanya" ucap Els. "Lepaskan aku dan menikah lah dengan wanita terbaik pilihan ibu, mungkin jodoh kita hanya sampai di sini" ucap Els tanpa beban.
__ADS_1
"Els..."
"Aku mohon Mas, lepaskan aku. Aku tidak akan menuntut apapun dari mu, aku hanya ingin kau membebaskan ku dari ikatan pernikahan ini" ucap Els.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu sampai kapanpun" ucapnya lalu pergi dari kamarnya.
"Jika kau tidak mau menceraikan ku, maka makamkan lah jasadku" ancam Els.
"Kau mengancam ku Els?" rahang Arya mengeras geram mendengar kalimat Els.
"Tidak, namun kau bisa membuktikan nya" ucap Els membaringkan tubuhnya.
"Aku yakin kau tidak akan mungkin melakukan hal konyol itu" ucap Arya.
"Benarkah? jika aku mati, aku akan bersama mamak dan calon anakku. Hal yang paling membuatku bahagia, abaikan saja permintaan ku ini. Karena aku dengan senang hati meninggalkan dunia yang kejam ini" ucap Els.
Sebenarnya Els sudah memikirkan dari sebelum kejadian naas itu menimpa nya, Els merasa Arya sudah tidak bisa di ajak untuk berjuang mempertahankan pernikahan nya karena doktrin dari ibu Nunik, tak jarang setahun belakangan ini Arya juga bersikap kasar pada Els, sudah tak selembut dulu. Dan puncaknya adalah kejadian tiga hari yang lalu.
Els berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya pada Arya, Els tidak bisa menahan nya lebih lama lagi. Els sudah merasa tak sanggup dan permintaan ini adalah batas akhir kemampuannya untuk bertahan menjalani biduk rumah tangga dengan Arya.
Els sudah lama mengubur semua mimpi indahnya bersama Arya, membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia itu tidak mungkin lagi bisa Els lakukan terlebih ibu Nunik masuk terlampau jauh dalam pernikahan Els dan Arya.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1