
Pagi ini seperti biasanya, eks menyiapkan sarapan dan bekal untuk Ciara. Gadis kecil itu benar-benar menurut apa kata Els, seperti saat ini Ciara duduk makan nasi dan sayur capcay tanpa pilih-pilih sayur lagi.
"Sayang, puding dan buah nya jangan lupa di makan ya. Boleh sharing sama teman juga, Bunda bawain agak banyak" ucap Els memasukkan bekal di tas Ciara.
"Ciara gak bawa cake ya bunda?"
"Tidak sayang, besok-besok lagi ya"
"Iya"
"Selamat pagi kesayangan Ayah" sapa Ravin sudar rapih dengan pakaian kerja nya.
Cup....
Ravin mendaratkan bibirnya di pipi chubby Ciara dengan senyum cerah.
"Ayah..." rengek Ciara.
"Kenapa?"
"Ciara sudah besar, jangan cium lagi" protes nya. "Iya kan Bunda?"
"Kok jadi Bunda?" bingung Els.
"Kan bunda udah besar dan gak mau di cium ayah lagi" Ciara mengerucutkan bibirnya.
Cup...
Tiba-tiba saya Ravin mengecup kening Els, membuat wanita itu membeku.
"Ayah juga sudah cium Bunda" ucap Ravin, gadis kecil itu terdiam dan memperhatikan Els.
"Bunda, kenapa?"
"Emmm, Bunda ke...keeekamar mandi dulu" ucap Els gugup,dan Ravin tersenyum geli.
"Baru juga sebuah kecupan, belum yang...ahhhh sudahlah, apa yang aku pikirkan" Ravin menggelengkan kepalanya.
Ravin mengantar Ciara dan Els ke sekolah, kali ini Ravin ikut mengantar sampai ke dalam area sekolah tidak seperti biasanya yang hanya sampai pintu gerbang.
"Pak...emmm, maksudnya Mas, bisa bicara sebentar?"
"Kita bicara di dalam mobil saja ya" pinta Ravin di angguki Els, lalu keduanya berjalan ke arah mobil Ravin.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ravin ketika sudah berada di dalam mobil.
"Saya....."
"Bicaralah dengan santai Els, aku ingin kita bisa bersikap lebih santai lagi" sela Ravin.
__ADS_1
"Mas, seperti nya saya tidak bisa menerima lam...."
"Kenapa begitu? apakah aku ini terlalu buruk untuk kamu?" Ravin langsung menyela ucapan Els.
"Tidak, bukan seperti itu" ucap Els. "Hufff, mas Ravin terlalu sempurna untuk ku yang hanya orang biasa. Mas Ravin belum tahu jika aku ini hanya lulusan SMA dan anak seorang buruh tani, rasanya aku tidak pantas bersanding dengan mas Ravin yang...."
"Els, aku tidak pernah memandang seseorang dengan seperti itu. Aku akan tetap memintamu menjadi istri ku sekalipun kamu bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Tolong jangan menolak niat baikku ini, aku benar-benar tulus ingin membangun sebuah keluarga denganmu sebagai istriku"
Ravin meyakinkan Els jika dirinya tidak sedang berbohong.
"Ta...tapi bagaimana dengan keluarga mas Ravin, apakah mereka juga akan menerima ku seperti mas Ravin menerima ku? Lalu orang tua mas Rav..."
"Kamu tenang saja, keluargaku semua ada di luar negeri, mereka tidak akan untuk campur dengan urusan pribadi ku. Bahkan mereka tidak mungkin ingat jika ada aku di sini yang masih hidup, mereka terlalu sibuk dengan dunianya dan untuk orang tuaku, mereka sudah tiada sejak aku remaja" jelas Ravin.
"Maaf" sesal Els.
"Aku harap setelah ini tidak ada keraguan dalam hatimu untuk menerimaku" Els hanya mengangguk. "Dan beri kabar pada ayahmu, jika dua hari lagi kita akan kesana, aku harap minggu ini kita sudah resmi menjadi suami istri" ungkap Ravin.
"Apa tidak terlalu cepat Mas?"
"Beberapa bulan tinggal bersamamu, aku tahu jika kamu wanita yang baik. Dan yang lainya kita bisa belajar bersama ketika kita sudah resmi menikah, bukankah lebih enak?"
"Enak?" lirih Els, pikirannya sudah bercabang kemana-mana.
"Ya, karena jika aku ingin berdua denganmu, atau memeluk dan mencium mu bukan dosa yang kita dapatkan, melainkan pahala" tutur Ravin membuat pipi Els bersemu merah.
🍀🍀🍀
Hari ini Ravin, Els dan Ciara dalam perjalanan menuju rumah orang tua Els, Ravin juga membawa seorang supir dan juga mbok Yati ikut serta. Perjalanan yang di tempuh cukup memakan waktu, rumah orang tua Els masih termasuk dalam kategori pedalaman, jauh dari tata kota.
"Jika pak Eko merasa lelah, kita bisa gantian nyetirnya pak" ucap Ravin pada pria paruh baya yang menjadi supirnya.
"Saya masih kuat Tuan, lagi pula sebentar lagi sampai pelabuhan. Istirahat nya di dalam kapal saja" sahut pak Eko.
"Ya sudah"
"Kita mau pergi kemana Bunda?"
"Kita mau pergi kerumah kakek sayang" bukan Els, melainkan Ravin yang menjawab.
"Jadi Cia punya kakek?"
"Ya, berkat Bunda, Cia sekarang punya kakek dan Nen..."
"Hanya Kakek, dan juga Om" sela Els.
"Lalu ib..."
"Mamak sudah berpulang dua tahun yang lalu"
__ADS_1
"Maaf" ucap Ravin, Els hanya tersenyum tipis.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam 30 menit, mobil yang mereka tumpangi sampai di pelabuhan, dan kini sudah masuk dalam kapal feri yang akan membawa mereka menyebrangi selat Sunda.
"Lautnya luas sekali" seru Ciara baru pertama kali melihat hamparan laut lepas.
"Cia senang?"
"Senang ayah, senang sekali. Cia suka kerumah Kakek" gadis kecil itu tak berhenti tersenyum.
"Sini mbok fotoin Nona Ciara sama ayah bunda, untuk kenang-kenangan perjalanan pertama kali ke rumah kakek" ucap mbok Yati, tak di sangka beliau membawa sebuah kamera.
"Ambil yang banyak mbok" ucap Ravin, menggendong Ciara dan merangkul pinggang Els. Ketiganya sudah seperti keluarga bahagia, berbagai macam pose dan angle foto berhasil mbok Yati abadikan dalam lensa kameranya.
"Ternyata seru juga naik kapal" ucap Ravin melihat birunya lautan.
"Mas Ravin belum pernah naik kapal?"
"Pernah sih, tapi tidak seseru ini"
"Dari mana ke mana? kenapa tidak seru?" Els sudah mulai aktif bertanya pada Ravin, dan Ravin senang akan hal itu.
"Dari Ancol ke Kepulauan Seribu, sudah lama, acara kantor" jelas Ravin.
"Aku harap mas Ravin tidak terlalu kaget setelah sampai di rumah Bapak" Els kembali merasa rendah diri mendengar kata-kata 'Kantor' yang Ravin ucapkan.
"Aku menerimamu dan keluargamu apapun kondisi Els, bukankah aku yang lebih beruntung?"
"Maksudnya?"
"Aku beruntung, karena menikahi mu, aku jadi punya orang tua lagi, dan seorang adik"
"Aku juga beruntung karena langsung menjadi Bunda" Els menatap Ciara dari kejauhan, gadis kecil itu berjalan-jalan di ikuti oleh mbok Yati dan pak Eko.
"Jika kamu merasa beruntung, tolong jangan ragu untuk menjadi istriku. Karena aku sangat berharap bisa menjadi suamimu"
"Aku akan mencoba menghapus keraguan dalam hatiku Mas, aku akan berusaha menerimamu menjadi imam ku" tutur Els membuat Ravin tersenyum senang.
"Terima kasih, mari kita sama-sama belajar menerima dan hidup lebih baik lagi" Ravin menggenggam erat tangan Els, seolah meyakinkan Els untuk melangkah maju bersamanya.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺