
Setelah menempuh perjalanan selama 3,5 jam, mobil yang di kemudikan oleh pak Eko sudah memasuki wilayah kota Bandung Jawa Barat. Kebetulan juga sudah waktunya makan siang, jadi sebelum menyambangi kantor cabang yang menjadi tujuan Ravin datang ke tanah Pasundan itu, ia memutuskan untuk makan siang bersama istrinya terlebih dulu.
Ravin mengajak Els mampir ke restoran khas Sunda, Els sangat antusias karena selama ini ia hanya pernah melihat dan mendengar masakan khas Sunda tanpa tahu rasanya. Sebenarnya di Jakarta pun juga banyak restoran khas Sunda bertebaran, bahkan ada juga yang di dalam Mall besar, tapi Els tidak kepikiran untuk mencobanya, dan sekalinya mencoba, ia akan langsung mencoba di tempat asalnya.
"Mau pesan yang mana?" Ravin mengulurkan buku menu yang di berikan oleh seorang pelayan.
"Nasi putih, sayur asem, gurame goreng, sambel dadak, sambel terasi, sambel leunca, ayam goreng, tahu tempe goreng, karedok, lotek, lalapan lengkap sama....."
"Sayang....." Ravin menggenggam tangan istrinya, bagaimana bisa Els memesan makanan sebanyak itu? bahkan hingga beberapa sambel, bukan Ravin pelit, tapi mereka hanya makan berdua, sedangkan pak Eko lebih memilih makan bakso gerobakan. Jika memesan menu sebanyak itu, siapa yang mau menghabiskan nya?.
"Kenapa memesan menu sebanyak itu?" tanya Ravin lembut, jangan sampai Ravin salah bicara, soalnya akhir-akhir ini Els sangat sensitif.
"Aku lapar Mas, dan aku ingin mencicipi semua menu itu" sahut Els tanpa rasa bersalah, Ravin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayang, pesan yang paling kamu inginkan saja ya, kalau mau mencicipi menu yang lainnya, besok kita kulineran keliling kota Bandung" bujuk Ravin, agar istrinya tidak memubazirkan makanan.
"Tapi semua yang aku sebutkan tadi yang paling aku inginkan Mas" rengek Els manja.
"Ya sudah" Ravin menghela nafas pasrah menuruti kemauan sang istri, sebab jika di debat akan panjang urusannya.
"Sudah di catatan semua kan mbak?" tanya Els pada pelayan wanita yang berada di sampingnya.
"Sudah Bu" jawabnya.
"Tambah lagi, Es Oyen, es cendol, sama air mineral ya" ucap Els tersenyum pada pelayan itu.
"Kamu pesen apa Mas?" Els tersenyum manis pada Ravin.
"Kan kamu sudah pesan sayang"
"Tapi itu hanya untuk ku" Els memanyunkan bibirnya.
"Pesanan istri saya bisa di makan dua orang kan mbak?" tanya Ravin pada pelayan itu.
"Bisa Pak"
"Tambah es teh manis saja kalau begitu" ucap Ravin, lalu pelayan itu pergi dari meja Ravin.
"Kenapa cemberut hemmm?" tanya Ravin lembut, meraih tangan Els.
"Itu makanan aku Mas, kenapa Mas ikutan makan?" kesal Els.
__ADS_1
"Sayang, yang kamu pesan itu banyak, kan sayang kalau tidak habis, mubazir. Nanti kalau kurang, kamu boleh pesan lagi, yang penting di habiskan" tutur Ravin, sudah seperti memberi pengertian pada Ciara, Ahhh belum ada sehari tidak bertemu sang putri, membuat Ravin merasa rindu.
"Bener ya, kalau aku mau lagi, boleh pesan lagi" Els mengacungkan jari kelingking nya.
"Iya" Ravin tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dan kelingking Els.
Tak berapa lama pesanan Els sudah datang, meja yang tadinya kosong sekarang penuh dengan berbagai macam makanan pesanan Els. Wanita hamil itu menelan ludahnya tak sabar mencicipi berbagai jenis makanan yang ada di hadapannya, berbagai lalapan, tak ketinggalan ada batu giok favorit Els alias si pete yang semakin menggugah selera makannya.
"Enak?" Ravin melihat sang istri sangat lahap menyantap makanan nya.
"Hemmmm" sahut Els mulutnya penuh dengan makanan.
"Makan pelan-pelan sayang" Ravin mengulum senyum melihat Els makan dengan penuh semangat empat lima.
"Mas, sambelnya jangan di jauhin" rengek Els, karena Ravin menjauhkan ketiga jenis sambel itu dari jangkauan Els.
"No, sayang. kamu sudah mencicipi ketiganya, jangan makan sambel banyak-banyak, kasihan calon anak kita" Ravin hanya takut jika Els mengalami sakit perut dan berujung kontraksi pada kandungan nya.
"Please sedikit lagi" rengeknya.
"No" ucap Ravin sudah melihat bibir Els yang memerah karena kepedasan, dan keringat di sekitar pelipis Els.
"Mas, please" Els masih berusaha merayu suaminya.
"Ya sudah" putus Els, jika rayuan Els yang paling manis tidak bisa meluluhkan Ravin, itu artinya pria itu benar-benar tidak ingin di bantah.
🍀🍀🍀
Mobil yang di tumpangi Ravin dan Els berhenti di salah satu kantor cabang Bank yang akan di kunjungi Ravin. Pria itu langsung ke kantor cabang pertama sebelum menuju hotel tempat dirinya dan Els akan menginap, Ravin mengatakan melewati kantor cabang itu ketika akan ke hotel yang ia tuju, jadi sekalian saja.
"Kamu mau tunggu di sini atau ikut ke dalam?" tanya Ravin, istrinya itu sedang mode ngambek gara-gara di larang makan sambel banyak-banyak.
"Memang boleh ikut kedalam?"
"Memang siapa yang melarang?"
"Ishhh" Els mencubit dada Ravin.
"Ahhh...sayang" desah Ravin, bisa-bisanya ia bereaksi seperti itu saat ada orang lain diantara mereka.
"Lebay kamu Mas" cibir Els.
__ADS_1
"Ayo ikut" ajak Ravin.
"Memang Mas berapa lama di dalam?" Els enggan masuk ke tempat orang-orang pintar itu bekerja, rasa tidak percaya dirinya mulai muncul.
"Mas tidak tahu, mungkin bisa dua jam atau lebih" ucap Ravin melihat data di kantor cabang ini ancur-ancuran, seperti akan lama, dan Ravin akan melakukan beberapa perombakan bahkan mungkin ada beberapa pegawai yang akan ia mutasi ke cabang lain.
"Aku tunggu disini saja Mas" ucap Els, dirinya benar-benar merasa kecil hati.
"Ya sudah, jika bosan minta di temani Pak Eko jalan-jalan tapi di sekitar sini saja" Ravin mengerti jika Els kembali merasa insecure, padahal Ravin tidak pernah menuntut atau mempermasalahkan apapun tentang Els.
"Ya" jawab Els.
"Baiklah, Mas masuk dulu"
Cup....
Ravin mengecup kening Els sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil dan mulai sidak di cabang itu.
Sudah 30 menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda Ravin keluar dari kantor itu. Els sudah mulai merasa bosan, terlebih tidak ada yang bisa ia kunyah di dalam mobil.
"Pak Eko" panggil Els, pria paruh baya itu mendekat di jendela mobil yang Els buka.
"Ada makanan apa di sekitar sini?" tanya Els, matanya menyapu sekitar.
"Ada siomay, seblak, batagor, tahu susu dan masih banyak lagi Nyonya" jelas pak Eko.
"Tolong pesankan masing-masing satu porsi dari semua yang bapak sebutkan tadi" Els mengulurkan dua lembar uang merah pada pak Eko.
"Jangan lupa beliin air mineral ya Pak" ucap Els.
Wanita hamil itu sekarang sering lapar, dan tidak terlalu pilih-pilih makanan seperti sebelumnya. Kini Els sangat menikmati kehamilan nya, terlebih Els tidak mengalami morning sickness yang menyiksa itu, dan Els sangat bersyukur atas itu. Ya meskipun Els mengalami morning sickness, Els tetap akan sangat bersyukur karena di berikan kesempatan untuk bisa hamil dan melihat seperti wanita pada umumnya.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC