My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Awal Baru


__ADS_3

Di rumah Bu Nunik tidak ada pekerjaan rumah yang benar semenjak Els pulang kampung, Tentu saja rumah berantakan karena yang biasanya membereskan rumah adalah Els, sarapan pagi dan makan malam tidak pernah tersaji


Masing-masing dari mereka harus membeli sendiri, nasi uduk, ataupun lontong sayur, sesuai dengan keinginan mereka akan sarapan dengan apa.


Begitu juga makan malam, mereka akan membelinya secara online atau mereka akan makan malam di luar. Sedangkan untuk urusan pakaian, karena tidak ada yang mau mencuci dan menyetrika, maka semua pakaian kotor mereka laundry kan.


"Hufff...rumah ini sudah tidak terlihat seperti rumah karena tidak ada yang membersihkan nya" gumam Bu Ninik menatap sekeliling, padahal baru empat hari Els pergi.


"Kapan wanita tidak berguna itu kembali? setidaknya tenaganya lumayan juga" lirih ya.


"Bu" panggil Arya sudah pulang kerja.


"Kau sudah pulang?"


"Iya, Arya akan menyusul Els ke kampung, ibu mertua meninggal tadi siang" ucapnya.


"Jadi istrimu masih lama di kampung?" ucap Bu Ninik tanpa rasa empati.


"Bu jangan seperti itu" Arya mengambilnya segelas air putih untuk di minum.


"Ck, memang kerjaan kamu sangga? sehingga bisa kamu tinggal ke kampung istri mu?"


"Ya tidak juga Bu, kerjaan Arya mana ada senggang nya? malah lagi banyak-banyak nya"


"Jadi ngapain kamu nyusul Els?"


"Kan gak enak sama bapak mertua Bu, lagian Els juga pasti butuh Arya mendampingi nya kan?"


"Kamu itu kerja untuk menafkahi Els juga Arya, kenapa mesti gak enak sama mertuamu? lagi pula Els juga bukan anak kecil lagi, di sana pasti juga banyak saudara yang mendampingi dan menghibur nya. Lebih baik kamu fokus kerja gak usah ke kampung" ucap Bu Nunik.


"Tapi Bu..."


"Arya, biar pun kamu sudah dewasa, sudah menikah, kemanapun langkah mu itu butuh doa restu dari Ibu, dan ibu tidak merestui mu untuk ke kampung Els" ucap Bu Nunik merasa paling benar.


"Baiklah jika begitu, Arya akan menghubungi Els dulu"


"Katakan pada Els, untuk segera pulang, tidak baik jika terlalu lama mengabaikan suaminya"


"Ya" sahut Arya pergi ke kamarnya untuk menelfon istrinya.


🍀🍀🍀


📞Tut...Tut...Tut....


Terdengar nada sambung Els saat Arya menghubungi nya.


"Halo assalamualaikum" jawab Els di ujung sana.


"Walaikumsalam salam, sayang Els"


"Iya Mas, kenapa?"


"Aku dan keluarga disini turut berdukacita atas meninggalnya Mamak, dan maaf aku baru bisa menghubungi mu, tadi di pabrik sibuk"

__ADS_1


"Iya Mas, terimakasih. Els gak apa-apa kok, Els mengerti jika mas Arya pasti sibuk kerja"


"Aku juga minta maaf tidak bisa datang Els"


"Gak apa mas" sepertinya Els sudah tahu jika beginilah reaksi suaminya.


"Kau yang kuat ya, tabah, sabar menghadapi semua ini"


"Insyaallah"


"Sampaikan belasungkawa mas dan keluarga pada Bapak, dan maaf dari mas"


"Iya mas, ya udah Els tutup dulu, Els lagi sibuk, assalamualaikum"


"Walaikum....."


Tut...Tut...📞


Panggilan itu berakhir tanpa sempat Els mendengar jawaban salam dari suaminya.


"Maaf" lirih Arya menatap nanar ponselnya.


Els menangis tersedu di dalam kamar, ia sudah memperkirakan beginilah kejadiannya, namun entah mengaduh setelah mendengar langsung dari mulut suaminya, rasanya berkali-kali menyakitkan.


"Els..." panggil pak Rusli.


"Hiks...hiks...iya Pak"


"Iya Pak" jawab Els, kemudian keluar kamar dan menuju dapur membantu yang lainnya mempersiapkan acara tahlilan.


🍀🍀🍀


"Els.... suami kamu kok belum datang?" tanya kakak mendiang Mak Lastri.


"Mas Arya gak bisa datang Bude" sahut Els, tak bisa lagi menghindari pertanyaan tentang suaminya.


"Ya Allah kasian bener adikku, menantu nya gak datang kerumahnya untuk baca satu ayat"


"Mendoakan kan bisa dari mana saja Bude"


"Iya mendoakan memang bisa dari mana saja, tapi suamimu itu keterlaluan Els, gak ada rasa hormat nya sama orang tua" sahut Bibik nya.


"Apalagi anak mbak Lastri itu cuma dua, dan dia menantu sulung rumah ini" omelnya yang membuat hati Els semakin perih.


"Mau bagaimana lagi Bik, mas Arya punya tanggung jawab besar pada kerjaannya"


"Ck, kamu itu Els, belain aja terus suamimu. Kalau suami Bude kayak gitu, gak akan Bude kasih jatah sampai dua bulan" kesalnya.


"Nanti kalau jajan di luar gimana mbak?" tanya adiknya.


"Berani jajan ya pisah lah, kok enak bener, jadi wong Lanang. Mau sama anaknya tapi gak hormat sama orang tuanya" omelnya membuat Els geleng-geleng kepala.


"Kamu juga harus begitu Els, lanangan itu perlu di tegasin sekali-kali, biar bisa menghargai kita" tuturnya.

__ADS_1


"Ingat itu Els, jangan mau di Perla seenaknya aja" sahut Bibik nya.


"Iya" jawab Els.


"Jangan cuma iya-iya" sahut Budenya.


Els bersama Bude juga Bibik nya dan saudara yang lain menyiapkan jajanan pasar untuk di hidangkan pada orang-orang yang datang bertahlilan. Di kampung Els memang seperti itu, sampai malam ketujuh. Tapi di malam ke tiga dan ketujuh nanti akan di adakan berkatan.


🍀🍀🍀


"Mbak" Emir mendekati Els yang ada di halaman belakang.


"Ada apa?" jawab Els sambil menjemur pakaian.


"Mbak sampai kapan di sini?"


"Kenapa? apa kamu ingin mbak cepat-cepat pulang ke rumah mas Arya?"


"Bukan begitu mbak, aku malah berharap mbak dan mas Arya tinggal di sini" lirih Emir.


"Ya itu gak mungkin Mir, kamu tahu sendiri mas mu itu kerjanya di kota. Belum lagi ibu mertua Mbak, beliau pasti gak mau di tinggal" tutur Els apa adanya.


"Memangnya mbak gak mau tinggal di sini?"


"Ya kalau ngikutin kemauan mbak, ya mbak lebih memilih tinggal di sini. Dekat sama kamu, Bapak dan saudara yang lainnya" Els menghela nafasnya. "Tapikan kamu tahu sendiri, mbak ini sudah menikah, sudah ada yang menanggung jawab diri mbak mu ini, dan mbak harus menurut juga berbakti padanya, yang tak lain ya mas Arya" tutur Els.


"Jadi nanti di sini hanya ada aku dan bapak dong?"


"Memang kenapa?"


"Kami semua laki-laki mbak, gak ada yang bisa masak" melasnya.


"Mungkin awalnya kaku dan susah tapi lama-lama kamu pasti bisa" Els memberikan semangat pada adiknya.


"Rumah pasti akan sangat sepi dan berantakan" keluh Emir.


"Iya, tidak ada suara mamak yang marah-marah lagi kalau kamu bangun siang, gak akan ada yang ngomel lagi jika kamu dan teman-temanmu buat kotor halaman" tutur Els, mengingat segala omelan Mamak nya.


"Gak ada yang potongin kuku Emir lagi mbak" tuturnya.


"Kamu sudah besar Mir, sudah tahu cewek cantik, harus bisa lebih mandiri lagi. Potong kuku juga bukan perkara yang susah, kamu pasti bisa" Els memeluk satu-satunya saudara kandungnya itu. Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Meski itu sebuah kemalangan, tapi tetap saja meninggalkan hal yang positif, mungkin saja dengan kepergian Mak Lastri akan membuat seorang Emir menjadi pria yang lebih dewasa dan mandiri.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2