
Arya dan Kinara sedang menikmati makan malamnya, ayah dan anak itu tadi memasak bersama dan membuat rasa makanan itu menjadi lebih enek saat mereka menikmatinya.
"Ternyata memasak itu menyenangkan, Kinar akan lebih sering belajar memasak kedepannya" ucap Kinara disela makannya.
"Kinara bisa belajar masak sama Papa jika papa sedang masak. Tapi ya hanya masakan sederhana, karena hanya itu yang papa bisa" sahut Arya.
"Tidak masalah Pah, bukankah untuk pemula memang harus belajar dari yang sederhana dan mudah kan?" kata dinara di angguki Arya.
"Oh iya Pah, nanti saat kita ke rumah Tante Lisa, Kinar boleh tinggal lebih lama di rumah Tante Lisa tidak?" tanya Kinara, gadis itu menghentikan makannya.
"Kenapa?" tanya Arya menatap putrinya.
"Kinar ingin berlibur disana, bermain dengan Zara dan Zoya. Bolehkan Pah?" kata Kinara.
"Sayang, bukan Papa gak bolehin. Tapi bukannya jika kamu libur sekolah, Mama akan menjemputmu?" ucap Arya, hubungannya memang sudah berakhir dengan Cindy, pun baik Cindy dan Arya tidak pernah berhubungan baik pasca perceraian itu terjadi. Tapi Cindy masih sering mengunjunginya Kinara disekolah atau membawa Kinara saat gadis itu libur sekolah.
"Tapi Kinar ingin berlibur ke tempat Tante Lisa Pah" ucap Kinara memelas.
"Kalau begitu, nanti Kinar bilang sama Mama jika libur sekolah kali ini Kinar akan berlibur kerumah Tante Lisa. Papa hanya tidak ingin Mama kamu salah paham sayang, kamu mengerti kan situasi Papa dan Mama?" Arya memang sudah menjelaskan semua permasalahannya pada Kinara, ayah dan anak itu selalu berbagi segalanya meskipun tanpa sepengetahuan Arya, Kinara merahasiakan pembullyan yang dialaminya.
"Kinar tahu Pah, nanti Kinar yang akan bicara dengan Mama" kata Kinara tersenyum.
"Terima kasih sayang, maaf jika papa memaksamu dewasa lebih cepat dan....."
"Pah, kita sudah pernah membahas tentang hal ini, dan Kinar bisa mengerti situasi kalian. Lagi pula kehidupan kita juga lebih bahagia bukan? Mama bisa bebas dan menikmati hidupnya, dan kita juga bisa hidup dengan baik. Bukan kah semuanya sudah lebih dari cukup?" tutur Kinara terdengar sangat dewasa dan bijaksana, namun hati manusia siapa yang tahu?.
"Kamu adalah hidup Papa sayang, Papa akan melakukan apapun untuk membahagiakan mu" kata Arya menatap putri penuh rasa haru, ada rasa bersalah dalam hatinya karena tidak bisa memberikan keluarga sempurna untuk putrinya, namun semua juga diluar kuasa Arya.
"Kinar tahu itu, tapi...."
"Tapi?"
"Kalau Papa merasa kesepian dan ingin menikah lagi, Kinar tidak akan melarang" kata Kinara membuat Arya tidak percaya.
"Papa belum berpikir kearah sana sayang, Papa ingin menikmati kebersamaan kita tanpa hadirnya orang lain, kamu tidak masalah kan?" Arya takut jika Kinara menginginkan kasih sayang seolah ibu, namun Arya juga masih ragu jika untuk kembali menikah. Dua kali gagal membina rumah tangga bukanlah sebuah prestasi yang bisa di banggakan.
"Tentu" sahut Kinara tersenyum dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Ravin membawa seluruh anggota keluarganya untuk mengunjungi rumah mertuanya, lebih tepatnya menghadiri tasyakuran empat bulanan kehamilan Lisa sang adik ipar.
"Pak Eko kalau sudah lelah bilang ya, jangan dipaksa menyetir" kata Ravin duduk disebelah kursi kemudi. Pak Eko memang masih bekerja dengan Ravin meskipun usianya sudah memasuki setengah abad.
"Kita baru keluar rumah satu jam yang lalu Tuan, tidak mungkinlah saya lelah" jawab pak Eko tersenyum, ia sangat nyaman bekerja dengan Ravin dan Els.
"Berapa lama kita dirumah Embah, Bun?" tanya Ciara.
"Bunda belum tahu sayang, ada apa?" kata Els.
"Kakak it...." Ciara langsung membungkam mulut adiknya, kebetulan mereka bertiga duduk di kursi belakang kemudi.
"Tidak ada Bun, hanya bertanya saja" kara Ciara meringis.
"Ish.... Kakak apaan sih" protes Arsen saat Ciara sudah melepaskan bungkamnya.
"Itu di bibir kamu ada bekas coklat dek" bohong Ciara.
"Coklat dari mana? Hari ini Arsen belum makan coklat ya" sangkal Arsen tak terima.
"Adek duduk disini, biar Bunda yang di tengah atau kalian akan terus berdebat" kata Els bertukar posisinya dengan Arsen.
"Kita dirumah Embah satu minggu, agar tidak terlalu cepek karena lama di perjalanan" kata Ravin.
"Satu minggu?" beo Ciara terkejut.
"Tapi Yah, bagaimana dengan les..."
"Kakak tenang saja, ayah sudah mengatur ulang semua jadwal les Kakak. Lagi pula bukannya Aiden juga ke Belanda selama satu minggu mengunjungi Opa, dan Nenek nya?" ujar Ravin, ia tahu apa yang di khawatirkan oleh putrinya.
"Baiklah" sahut Ciara tak semangat.
Pak Eko mengemudikan mobil dengan santai, Ravin beberapa kali berganti menyetir dengan pak Eko juga membawa mobil itu dengan santai, sehingga memerlukan waktu hampir sepuluh jam untuk sampai didepan rumah pak Rusli.
Rumah besar itu sekarang tidak sepi lagi, ada suara tangisan dan teriakan dari cucu-cucunya yang selalu membuat rumah terasa ramai dan lebih hidup lagi.
__ADS_1
"Budeeeee....." seru Zara, putri pertama edan Lisa berlari menyongsong kedatangan Els yang baru saja turun dari mobil.
"Hallo sayang, assalamualaikum" Els langsung menggendong bocah lima tahun itu dan menciumi pipi gembul nya.
"Walaikumsalam muach...mucah.....muachhh...." Zara juga tidak mau kalah dengan memberikan ciuman di wajah Els.
"Sayang, pakde mau juga" Ravin mengambil alih tubuh mungil itu dan menciuminya.
"Sekarang sudah semakin berat ya" kata Ravin sambil menggendong Zara masuk kedalam rumah.
"Zara sudah besar pakde, Zara mau punya adik lagi. Hebat kan ayah Zara?" kata bocah polos itu.
"Iya, ayah Zara memang hebat" sahut Ravin tersenyum mendengar celoteh bocah cantik itu.
Pak Rusli menyambut kedatang anak, menantu, dan cucunya dengan gembira. Suasana rumah akan semakin ramai dengan gelak tawa dan tangisan cucunya.
"Bagaimana kehamilan kali ini?" tanya Els pada Lisa.
"Alhamdulillah lancar Mbak, tidak sampai mabuk seperti hamil Zara dan Zoya dulu" kata Lisa.
"Bisa jadi yang ini cowok, udah USG?" tanya Els.
"Sudah sih, tapi seperti biasa. Kita tidak mau tahu jenis kelaminnya, yang terpenting janinnya sehat" kata Lisa, ia dan Emir memang tidak mematok harus punya anak laki-laki. Jikapun yang dikandung Lisa sekarang adalah anak perempuan, maka baik Emir atau Pak Rusli tidak mempermasalahkan nya, yang terpenting ibu dan bayinya sehat selamat sampai persalinan.
"Iya, itu yang terpenting. Tapi kalau menurut Mbak, yang ini sih baby boy. Soalnya dulu pas Mbak hamil Arsen juga gini, ya ada sih muntah-muntah sedikit tapi tidak sampai yang parah atau tidak bisa makan apapun" kata Els menceritakan kehamilannya dulu.
"Mbak tidak ingin hamil lagi?" tanya Lisa sembari mengusap perutnya.
"Mbak sudah memiliki Cia dan Arsen, dan mbak rasa mereka sudah lebih dari cukup. Mbak tidak ingin membagi kasih sayang dan perhatian mbak pada yang lainya lagi" kata Els, memandang anak-anak dan keponakannya bermain diruang tamu. Els hanya takut jika ia tidak bisa menyayangi Ciara seperti sekarang ini jika ia kembali punya anak, dan Ravin memahami itu. Ravin juga tidak memaksa Els untuk hamil lagi, Ciara dan Arsen adalah dua permata berharganya.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺