My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Berlibur


__ADS_3

Pendar mentari menyinari kota Jakarta, udara terasa begitu sejuk dengan bau basah embun pagi. Setiap orang mulai melaksanakan aktivitasnya di pagi hari, ada yang memasak untuk keluarganya, ada membersihkan rumah, menyiram tanaman, mencuci kendaraan,baca koran dan lainya.


Namun itu semua terjadi berlakunya bagi Els dan Ravin, pasutri itu masih betah berpelukan di atas ranjang meski jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.


Kehamilan Els yang semakin membesar membuat wanita itu enggan menggerakkan tubuhnya, hal itu juga di dukung dengan perlakuan Ravin yang selalu memanjakannya. Setelah resmi menjadi pengangguran tapi saldo rekening terus bertambah, Ravin semakin memperhatikan Els dan juga Ciara, pria itu sering menghabiskan waktu bersama anak istrinya setiap saat.


"Mau sarapan di bawah atau di kamar?" tanya Ravin, tangannya mengelus-elus perut bulat Els dan langsing mendapat tendangan kecil dari dalam.


"Di bawah saja" Els memang tidak suka makan di kamar.


"Dia sangat aktif" ucap Ravin tersenyum merasakan pergerakan calon anaknya.


"Hem" sahul Els pelan.


"Ada apa?"


"Tidak ada, Mas lihat Ciara sana. Aku mau ke kamar mandi" Els menurunkan kakinya dari ranjang.


"Ayo Mas antar"


"Mas, aku sedang hamil. Bukan sekarat" kesalnya, terkadang perhatian Ravin berlebihan, cenderung ke posesif dan membuat Els kesal.


"Sayang, jangan bicara begitu. Mas tidak suka" ujar Ravin.


"Maaf" cicit Els.


"Jangan di ulangi lagi ya, Mas hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu dan juga calon anak kita. Maaf jika sikap mas berlebihan" ucap Ravin memeluk Els.


"Mas tidak berlebihan, Mas suami terbaik di dunia ini. Maaf jika aku sering membuat mas kesal"


"Tidak, kamu istri yang manis dan penurut. Sekarang kamu ke kamar mandi, dan Mas akan melihat Ciara" Ravin menuntun Els sampai di depan wastafel, kemudian ia pergi ke kamar putrinya.


🍀🍀🍀


Setelah selesai sarapan, Ravin bersiap membawa anak dan istrinya untuk mengunjungi tempat bisnisnya yang selama ini ia pantau dari jarak jauh. Kebetulan sekolah Ciara sedang libur beberapa minggu ke depan, mungkin sebagian teman-teman Ciara di ajak berlibur ke luar negeri, namun tidak dengan gadis kecil itu. Cia malah di ajak ayahnya ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.


"Sudah siap semua?" tanya Ravin pada pak Eko yang tengah memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil.


"Sudah Tuan" jawab pak Eko. Karena barang sudah tersusun rapih dalam bagasi, Els dan Ciara juga sudah berada dalam mobil.


"Asti sudah masuk?" tanya Ravin.


"Asti di sini Tuan" seru seorang gadis muda membawa rantang susun berisi buah-buahan potong milik Els dan Ciara, juga berbagai cemilan yang sengaja di siapkan oleh mbok Yati.


"Maaf lama, Tuan" ucapnya meringis, lalu membuka pintu depan mobil.


"Mbok, saya titip rumah ya. Mbok jangan terlalu bekerja berat, katakan pada uang lain jika ingin berlibur agar gantian" pesan Ravin pada mbok Yati.


"Siap Tuan" jawab mbok Yati.

__ADS_1


"Mbok hati-hati di rumah" ucap Ravin sebelum ia masuk dalam mobil.


"Ayah, kita mau kemana?" tanya gadis kecil itu dalam pelukan Els.


"Jalan-jalan sayang"


"Kenapa bawa banyak baju? Baju mbak Asti juga, baju pak Eko juga?"


"Karena kita semua akan jalan-jalan untuk waktu yang lama, liburan"


"Kita liburan naik mobil Ayah?"


"Memang Cia mau naik apa?"


"Kereta api"


"Kapan-kapan ayah bawa Cia naik kereta api"


"Sama pak Eko dan mbak Asti juga?" polosnya.


"Cia mau ajak pak Eko dan mbak Asti?"


"Emmmm....emang boleh Bunda?" Els tersenyum mendengar pertanyaan Ciara.


"Kenapa tidak tanya ayah saja?" protes Ravin.


"Kenapa tidak tanya bunda saja?" balas mulut mungil itu.


"Cia belum tahu Bunda"


"Coba Cia tanya pak Eko, pak Eko tahu banyak tempat wisata" ujar Els.


"Benar pak Eko?" Cia langsung berdiri di belakang kursi kemudi pak Eko.


"Sedikit Nona" jawab Pak Eko tersenyum.


"Kalau mbak Asti?" gadis itu menoleh ke arah pengasuhnya.


"Mbak malah tidak tahu Nona" sahut Asti.


Perjalanan itu di warnai dengan celoteh Ciara yang menanyakan segala hal yang di lihat maupun yang di pikirkan nya, gadis kecil itu sangat senang begitu sampai di pelabuhan karena berpikir akan kerumah Mbah Rusli dan Om Emir kesayangannya. Ya bisnis Ravin merupakan sebuah pabrik berada di kota asal Els, meskipun tidak tepat di tempat tinggal asal Els, namun masih satu Provinsi.


"Ayah, kita akan kerumah Mbah?" tanya Ciara dalam gendongan Ravin.


"Ya, tapi kita ke tempat kerja Ayah dulu ya" jawab Ravin tangan kanannya menggenggam tangan Els.


"Aku baru tahu kalau Mas mendirikan bisnis di kota ini" ucap Els dengan nafas tersengal-sengal karena kehamilannya sudah memasuki usia 28 minggu.


"Nanti kamu akan tahu sayang" kata Ravin menuntun Els kesebuah bangku kosong, karena mereka sudah berada di atas kapal.

__ADS_1


"Mau beli sesuatu?" tawar Ravin.


"Tidak, Asti membawa banyak buah dan cemilan, kita habiskan itu saja" kata Els.


Els dan Ciara menikmatinya perjalanannya, kedua ibu dan anak itu sangat senang bisa melihat laut lepas hingga perjalanan dua jam lebih itu tak terasa karena kapal yang mereka tumpangi sudah bersandar di pelabuhan tujuan.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, mobil yang di kendarai pak Eko berhenti di sebuah kawasan rumah minimalis namun elegan.


"Ini rumah siapa Mas?" tanya Els memandang bangunan dua lantai dengan cat putih dan abu-abu.


"Ini rumah kita sayang, kamu suka?" Ravin merangkul pundak Els.


"Mas bercanda?" Els tidak percaya.


"Tentu saja tidak sayang, Mas punya usaha di kota ini, jadi Mas pikir kita harus punya rumah di sini. Tidak mungkinlah kan setiap kita disini kita akan menginap di hotel?" ujar Ravin realistis.


"Sudah ayo masuk" ajak Ravin, sedangkan Cia sudah berada di halaman rumah bersama dengan pengasuhnya.


"Kapan Mas membelinya?"


"Bukan Mas, tapi Raka. Dia membelinya sejak beberapa bulan yang lalu, bahkan sebelum Mas resign dari Bank" jelas Ravin.


"Mas yang memilih rumah ini?"


"Tidak, Mas hanya bilang jika mas mau rumah yang nyaman, asri, tidak terlalu besar, simple, tapi elegan. Dan inilah yang Raka pilih, kamu suka?"


"Tidak ada alasan yang membuatku tidak suka" sahut Els tersenyum.


"Bagus, itu artinya kita tidak perlu beli rumah lagi"


"Apakah Mas benar-benar kaya?"


"Kamu mau apa?"


"Jika mas kaya, maka aku tak akan segan untuk berbelanja sesuka hati, tanpa melihat harga apalagi tawar menawar" ucap Els membuat Ravin tersenyum.


"Lakukan apapun yang kamu mau sayang. Suamimu ini akan bekerja keras menghasut banyak uang untuk mu"


"Sungguh?"


"Tentu saja" kata Ravin mencium pipi Els dengan gemas.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2