My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Pertemuan


__ADS_3


Keesokan harinya, Ravin mengajak Els dan juga Ciara ke pabrik garment miliknya yang sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu. RV Garment, atau Right Victoriaβ„’ adalah sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis pakaian, baik pakaian dewasa, anak-anak, pria, wanita, baju muslim, baju modern, jaket, kaus, dress, jas dan masih banyak lagi lainya.


RV sendiri juga bisa di artikan sebagai Ravin sebagai founder perusahaan, produk nya sudah sampai ke manca negara dan sangat di gemari di negeri sendiri. Melihat kemajuan bisnisnya yang semakin pesat, membuat Ravin meninggalkan pekerjaan sampingan nya sebagai GH di sebuah Bank swasta yang cukup ternama.


"Besar sekali gedung nya" ucap Els kagum melihat tinggi nya bangunan yang ada di hadapannya.


"Ini benar-benar punya Mas?" tanya Els masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Tentu saja sayang, ayo kita masuk" Ravin mengandeng tangan Els.


"Ayo sayang" Els menggenggam tangan mungil Ciara.


"Selamat datang Tuan, Nyonya" sambut Raka berdiri di lobby.


"Selamat datang Tuan, Nyonya" ucap pak Burhan (Orang kepercayaan Ravin, tapi disini pak Burhan ada dua ya, yang satu lagi mantan atasan Ravin saat bekerja di Bank).


"Terimakasih sudah bekerja keras Raka" ucap Ravin menatap Raka yang menundukkan kepalanya.


"Sudah tugas saya Tuan" ucap Raka.


"Pak Burhan juga, terimakasih sudah bersama saya dari nol hingga sekarang"


"Terimakasih juga, karena Tuan sudah percaya pada saya" ujar pak Burhan tersenyum.


Lalu mereka mengantarkan Ravin menuju ruangannya, kenapa diantar? Jawabannya adalah ini pertama kalinya Ravin datang ke kantor, sebab biasanya Ravin hanya datang ke pabrik tempat produksi barang, itupun hanya setahun sekali.


"Kita akan mulai meeting sepulang menit lagi Tuan" ucap Raka ketika Ravin sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Hem, panggil saya jika sudah waktunya" sahut Ravin. Lalu Raka keluar dari ruangan itu.


"Kamu mau sesuatu sayang?"


"Cia mau es krim Ayah" jawab gadis kecil itu, padahal Ravin sedang bertanya pada Els.


"Sayang ini masih terlalu pagi untuk makan es krim" ucap Ravin menarik tubuh kecil itu dan memangkunya.


"Bunda" rengeknya mencari bantuan.


"Ayah benar sayang, bagaimana jika kita makan pie susu pisang?"


"Tapi nanti siang boleh makan es krim"


"Tentu, tapi tidak banyak-banyak ya" gadis kecil itu mengangguk setuju.


πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


Ravin memimpin jalannya meeting secara langsung untuk pertama kalinya, semua karyawan terkejut melihat Ravin yang masih begitu muda dan tampan tentunya. Apalagi karyawan wanita, mereka seolah mendapatkan angin segar dengan melihat wajah tampan Ravin dan senyum hangatnya.


Meeting kali ini membahas beberapa kesepakan kerja sama, karena ada dari berbagai negara yang mengajukan kerja sama sebagai reseller produknya. Dan juga membahas tentang kualitas bahan baku, serta rencana peluncuran produk baru.


"Kita lanjutkan meeting setelah makan siang, tapi hanya untuk staff marketing saja" ucap Ravin mengakhirinya sesi meeting pertama.


Pria itu kembali ke ruangannya dan mengajak anak istrinya untuk makan. Sebenarnya Ravin ingin makan di ruangan saja, tapi Els yang sudah berjam-jam berada di ruangan itu merasa bosan dan ingin makan diluar sekaligus melihat-lihat gedung itu.


"Disini ada kantin nya Mas?" tanya Els berjalan beriringan dengan Ravin dan juga Ciara.


"Ada sayang, kau mau makan di kantin?"


"Tentu" sahut Els tersenyum.


"Cia mau 'kan makan di kantin?"


"Ada es krim gak Bunda?" gadis kecil itu masih sangat ingat jika Els mengijinkannya makan es krim, tentu saja akan selalu di ingat dan di tagihnya hingga ia bisa makan es krim itu.


"Bunda tidak tahu sayang" jawab Els membuat bibir mungil itu mengerucut.


"Nanti Ayah akan minta tolong sama Om Raka untuk membelikan Cia es krim" ujar Ravin membuat wajah putrinya itu tersenyum cerah.


"Senang?" tanya Els.


"Iya Bunda"


"Tapi kita makan nasi dulu ya" ucap Els di angguki oleh Ciara.


"Ah...andai saja aku bertemu dengan pak Ravin dulu" ucap seorang karyawan perempuan di meja kantin menikmati makan siang dengan karyawan lainya.


"Jika aku yang lebih dulu ketemu sama pak Ravin, maka aku yang akan melamarnya" timpal karyawan perempuan lainya.


"Beruntung banget sih yang jadi istrinya pak Ravin, udah tampan, kaya, gagah, dan senyumnya itu lohhhhh" ucap yang lainya.


"Kalian lupa kalau udah punya suami?" ucap seorang karyawan laki-laki merasa jengah mendengar kahaluan rekan kerjanya.


"Lo matahin semangat gue aja Rud"


"Tauk nih si Rudi, bikin badmood"


"Lo kayak mimpi buruk di siang bolong dech Rudi" sambung karyawan satunya.


"Udah-udah, jangan berdebat. Lagian kan niat Rudi baik, ngingetin kalian kalau kalian itu bukan wanita single. Bukankah jodoh adalah cerminan diri sendiri? Ayo lanjutkan makanya" ucap seorang karyawan pria, lalu mereka berlima melanjutkan makan siang, para karyawan perempuan itu makan dengan cepat dan meninggalkan Rudi dan temannya.


"Dasar women" cibir Rudi melihat rekan-rekan nya meninggalkan area kantin.


"Udah biarkan saja mereka"

__ADS_1


"Tapi apa yang mereka bilang ada benarnya juga sih. Pak Ravin memang hebat, bisa sukses di usia muda, padahal seumur dengan kita. Sedangkan kita hanya menjadi karyawan saja, apa yang salah dengan kita ya?" Rudi juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Boss nya itu.


"Memang ada yang salah dengan menjadi karyawan?" tanya rekannya.


"Tidak juga"


"Lalu?"


"Ahhh elo Ar, gak asik" kesal Rudi meninggalkan rekannya.


"Kenapa gue harus asik?" gumamnya lalu menyusul Rudi karena makan siangnya juga telah selesai.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Mas, kayaknya vitamin aku ketinggalan di mobil deh, aku ambil dulu ya" ucap Els saat berada di pintu kantin.


"Minta sama pak Eko aja sayang, suruh pak antar ke sini" ujar Ravin.


"Pak Eko pasti juga lagi makan siang, mas telepon pak Eko, tapi aku ambil di lobby" kata Els.


"Biar Mas aja yang ambil, kamu duduk disini sama Cia" titah Ravin tidak membiarkanku Els terlalu lelah berjalan.


Els memesan beberapa menu yang di rekomendasikan oleh pengelola kantin untuk dirinya, Cia dan juga Ravin. Karena Els tahu jika Ravin dan juga Cia akan selalu makan pilihannya tanpa protes.


"Bunda, Cia mau pipis" kata gadis kecil itu.


"Baiklah, ayo kita ke toilet" ajak Els menuntun Ciara ke toilet.


"Bunda Cia nggak tahan" gadis kecil itu berlari menuju toilet yang sudah terlihat.


"Jangan lari-lari sayang" seru Els berjalan lebih cepat menyusul Ciara, hingga bertabrakan dengan seseorang.


"Ahhhhhhhhhh..." jerit Els hampir saja terjatuh, namun sebuah tangan menahan tubuhnya.


"Terimakas....." ucap Els melihat sosok pemilik tangan yang menahan pinggang nya.


Deg.....


Els membeku begitu melihat wajah orang yang menolongnya seorang pria yang sangat Els kenal.


πŸ€


πŸ€


πŸ€


πŸ€

__ADS_1


πŸ€


TBC 🌺


__ADS_2