
Karena terlalu lama menunggu sang ayah tak kunjung datang ke kamarnya, Ciara memutuskan keluar kamar dan mencari keberadaan sang Ayah. Melihat celah pintu kamar sang Ayah, Ciara mendekati nya dan melihat sang ayah sedang memeluk bundanya. Ciara mendengar dengan jelas jika saat ini sang Bunda tengah hamil, dan dirinya pasti akan menjadi seorang Kakak, sesuatu yang saat ini sangat di takutkan oleh Ciara.
"CIA TIDAK MAU PUNYA ADIK DARI BUNDA, CIA GAK SUKA PUNYA ADIK, CIA GAK MAU PUNYA ADIK" teriak Ciara lalu berlari ke kamarnya dengan menangis.
"Cia gak mau punya adik, Cia gak mau kehilangan Bunda, Cia gak suka punya adik" ucap gadis kecil itu menangis di bawah selimut.
"Sayang, Cia kenapa menangis?" Ravin mencoba membuka selimut yang membungkus tubuh mungil putrinya.
"Cia gak mau punya adik, Ayah. Cia gak suka punya adik, Cia gak mau bunda punya adik" Cici Ciara dari dalam selimut, membuat hati Els teriris karena wanita itu berada di ambang pintu tanpa sepengetahuan Ravin.
Meskipun Ravin sudah menyuruh Els untuk istirahat, namun hati wanita itu tidak tenang melihat reaksi penolakan dari sang putri. Memiliki adik adalah sesuatu yang sangat Cia harapkan bahkan sebelum dirinya menjadi istri Ravin, lalu kenapa sekarang reaksi Ciara seperti itu? apakah ini ada hubungan lagi dengan mantan istri suaminya?.
"Cia, sini ngobrol sama Ayah" bujuk Ravin lembut, langsing di sambut pelukan hangat sang putri.
"Cia tidak mau punya adik bayi" kembali lagi kata-kata itu keluar dari mulut mungil nya.
"Kenapa?" tanya Ravin.
"Karena......" Ciara bingung mengatakan nya.
🍀 Flashback On ☘️
Setelah berhasil membawa Ciara dari sekolah, Sintia mengajak Ciara ke sebuah Kafe dimana di sana sudah ada sang sahabat Tari yang menunggu bersama dengan putri kecilnya.
"Thanks Tar" ucap Sintia.
"Bukan masalah, gue cabut dulu" sahut Tari. "Salam kenal sayang" Tari menjawil dagu Ciara lalu melangkah pergi dari Kafe.
"Duduk sayang, Cia mau apa?" tanya Sintia tersenyum pada sang putri.
"Cia tidak mau apa-apa" ketus Ciara membuat Sintia sedikit kesal.
"Mami pesankan coklat dingin ya" ucap Sintia namun Ciara diam saja, menatap heran pada bayi yang ada di high chair.
__ADS_1
"Dia namanya Vania, adiknya Cia" ucap Sintia, Ciara langsung menatapnya penuh tanda tanya.
"Vania juga anak Mami, sama seperti Cia yang lahir dari rahim Mami"
"Cia punya Bunda Els" elak Ciara.
"Cia tahu kisah Cinderella?" tanyanya dan Ciara mengangguk karena memang suka menonton kartun itu.
"Cia tahu kan jika Cinderella punya ibu tiri?" Ciara kembali mengangguk.
"Bagaimana ibu tiri Cinderella?"
"Jahat" jawab Ciara.
"Cia tahu kalau Cia juga punya ibu tiri?"
"Cia gak punya ibu tiri, Cia punya nya bunda Els"
"Cia, dengarkan Mami. Mami ini yang mengandung dan melahirkan cia ke dunia ini, Mami adalah ibu kandung Cia, sedangkan Bunda Els itu ibu tiri Cia" Sintia mulai memprovokasi Ciara.
"Itu karena masih baru, nanti jika bunda Els hamil dan punya anak sendiri, pasti akan galak dan jahat pada Ciara. Ayah juga akan lebih sayang dengan bunda Els dan adik bayinya. Setelah itu lama-lama ayah akan lupa dengan Ciara dan bunda Els akan semakin jahat pada Ciara"
"Tidak, Bunda sayang sama Cia"
"Tidak apa-apa jika Cia tidak percaya sama Mami, tali jika nanti apa yang mami katakan terbukti, Cia boleh kok tinggal bersama Mami. Karena hanya Mami, ibu kandung Cia yang selalu sayang dan tidak akan melupakan Ciara meskipun Mami punya Vania" ucap Sintia tersebut miring melihat wajah bingung Ciara.
"Kalau menurut Mami, mulai sekarang Cia harus tidur dengan Ayah, agar bunda tidak bisa punya adik bayi" Sintia terus menerus mempengaruhi pikiran Ciara.
"Lihat Vania, dia cantik dan lucu seperti Cia. Karena sama-sama anak Mami" Sintia mengelus-elus puncak kepala bayinya.
"Jika saja tidak ada Bunda Els, pasti saat ini keluarga kita bisa hidup bahagia. Ada Mami, Ayah, Cia, juga Vania, kita bisa tinggal di rumah yang sama, pergi piknik, liburan, bermain, pasti sangat menyenangkan" ucap Sintia, namun Ciara hanya diam seolah mencerna pemaparan Sintia tentang ibu tirinya.
"Cia mau pulang" gadis kecil itu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, mami akan menghubungi ayahmu untuk menjemput Ciara disini" Sintia mengambil ponselnya dalam tas.
"Mami tidak tahu nomer Ayah, Cia tahu nomer Ayah?" Sintia menyodorkan ponselnya pada Ciara dan langsung di ambil oleh gadis kecil itu lalu mengetikkan beberapa angka dan mengembalikan lagi ponsel Sintia.
"Mami sudah memberi tahu Ayah untuk menjemput Cia di sini" ucap Sintia dan Ciara tetap diam tanpa menanggapi apapun.
"Cia tahu? jika di dunia ini hanya kasih sayang seorang ibu kandung yang sangat tulus. Mungkin Bunda Els akan mengatakan jika dia menyayangi dan mencintai Ciara, tapi semua itu hanyalah kebohongan. Cia akan tahu betapa jahatnya Bunda Els sebentar lagi" Ciara hanya menatap datar wajah Sintia gadis kecil itu jelas kebingungan ketika seseorang yang tidak ia kenal sama sekali datang dan mengatakan jika dirinya adalah ibu yang mengandung dan melahirkan nya.
☘️ Flashback Off 🍀
Ciara tertidur dalam dekapan Ravin, gadis kecil itu terus menolak dan tidak mau punya adik. Entah apa saja yang di katakan oleh Sintia pada balita itu, sehingga menolak keras kehadiran adik yang selalu ia impikan. Kini pekerjaan Ravin bertambah berat, ia harus memberi pengertian pada Ciara tentang kehadiran Els, Ravin juga harus membersihkan bisikan-bisikan setan yang di berikan Sintia pada putrinya, belum lagi Ravin harus menjaga emosi dan perasaan Els yang kini sedang hamil muda, belum lagi pekerjaan di Bank, dan juga tetap memantau perkembangan bisnisnya. Rasanya kepala Ravin akan meledak karena semua harus ia selesaikan tanpa bisa di wakilkan oleh orang lain.
Ceklek...
Pintu kamar Ciara di buka oleh Els, wanita itu bisa melihat jika suaminya terbaring di ranjang dengan memeluk putri kecilnya. Dan jangan lupakan tangan kanan Ravin yang memijat pelipisnya seolah memikirkan banyak masalah.
"Mas...." lirih Els mendekati ranjang Ciara.
"Sayang kamu kenapa kesini? Mas kan sudah menyuruh mu untuk istirahat" Ravin terkejut melihat Els tiba-tiba ada di dekatnya.
"Aku merindukan putriku" ucap Els dengan mata berkaca-kaca menatap sendu Ciara yang tertidur dengan mata masih basah, putri sambungnya itu tertidur karena kelelahan menangis.
"Maafkan Mas, ya g tidak bisa menjaga perasaan mu hingga kamu bersedih dan menangis seperti ini" Ravin bangkit dari tidurnya dan merengkuh tubuh Els dalam pelukannya.
"Mas tidak bersalah, Mas sudah sangat memperlakukan ku dengan baik" Els membalas pelukan Ravin dengan erat, kenapa di usia pernikahan mereka yang baru seumur jagung harus diterpa masalah seperti ini? bahkan hubungan suami istri yang sesungguhnya baru saja di mulai, dan langsung mendapatkan kado manis dengan adanya janin di rahim Els, namun kepahitan juga datang dengan penolakan Ciara, gadis kecil yang sangat berarti dalam hidup Els meskipun tidak memiliki ikatan darah.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺