My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Sintia


__ADS_3

Di ruang makan, Ravin duduk dengan wajah masam dan kesal. Bagai mana tidak kesal, ia berharap bisa bercinta dengan istri nya di kamar mandi malah sengaja diceburkan Els kedalam bathtub yang sudah terisi penuh dengan air dingin. Tentu saja hal itu membuat rasa kantuk dan hasrat ingin bercinta nya menguap pergi begitu saja.


Ravin tidak pernah menyangka jika Els akan memperlakukan dirinya sekejam itu, Ravin benar-benar tidak bisa mengenali Els yang sekarang, sifat dan sikapnya jauh berbeda dengan Els yang dulu, entah apa yang mendorong Els berubah seperti itu.


"Ayah kenapa wajahnya begitu? ayah masih sakit ya?" dari tadi Ciara memperhatikan wajah sang ayah yang tidak bersahabat.


"Sayang, habiskan makanan nya" ucap Els.


"Iya Bunda" patuh Ciara, sedangkan Ravin hanya diam saja.


"Mas, makan" ucap Els, namun sepertinya suami Els itu berada di dunia lain.


"Mas..." ucap Els penuh penekanan, tidak lupa Els juga meraba paha atas Ravin bahkan hampir menyentuh ************ nya membuat Ravin langsung menatap ke arah Els.


"Makan" ucap Els mengedipkan matanya, entah belajar dari mana Els bisa bertindak seperti wanita penggoda yang sangat agresif.


Setelah sarapan seperti biasanya, Ravin mengantar Ciara dan Els, tapi kali ini penampilan Els sungguh berbeda. Jika biasanya Els hanya mengenakan pakaian sederhana, kini Els mengenakan pakaian yang ala model terkesan seksi namun masih terhitung sopan karena Els akan berada di lingkungan sekolahan.


"Kamu tidak ikut turun mas?" tanya Els.


"Baiklah masih ada waktu" jawab Ravin melihat arloji nya. Lalu mereka bertiga masuk kedalam area sekolahan.


"Hai Cia, good morning" sapa anak laki-laki sebaya Ciara.


"Cia gak mau temenan sama kamu" judes Ciara.


"Sayang gak boleh begitu sama temannya" ucap Els.


"Tapi Bunda dia itu..."


"Hallo aunty, saya temannya Ciara" potong anak laki-laki itu.


"Tuh kan nyebelin" Ciara langsung pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya, ia merasa sangat kesal dengan teman barunya itu.


"Cia, tunggu" anak laki-laki itu langsung berlari mengejar Ciara.


"Ada-ada saja" gumam Ravin.


"Ayo mas, aku antar ke mobil" Els menggandeng tangan Ravin.


"Kamu sedang tidak sakit kan Els?" tanya Ravin heran dan semakin heran dengan sikap istrinya.


"Memang kenapa? mas gak suka kalau aku bersikap manja seperti ini?"


"Manja?" ulang Ravin.


"Yang benar saja, kau bukan hanya manja Els. Tapi juga sangat agresif, liar dan menggairahkan" ucap Ravin dalam hati.


"Apakah aku terlalu manja? bagian mana yang mas tidak suka? aku akan mengubahnya" ucap Els.


"Kamu tidak harus mengubah dirimu seperti yang aku mau Els, tapi tetaplah jadi dirimu sendiri, karena aku menerima apapun yang ada pada dirimu" sahut Ravin.

__ADS_1


"Aku suka dengan diriku yang sekarang ini mas, kamu tidak keberatan kan?" tanyanya.


"Jika hal itu membuatmu nyaman, aku tidak akan keberatan. Tapi jangan memaksakan jika itu membuatmu tidak nyaman dan bahagia" tutur Martin.


"Terimakasih ya Mas"


"Baiklah, aku pergi dulu. Nanti pak Eko yang akan menjemput kalian" ucap Ravin.


"Apakah nanti siang kita bisa makan bersama?"


"Kerjaan ku banyak Els, jadi aku tidak berani janji. Tapi nanti siang aku kabari" ucap Ravin.


"Aku menunggu kabar baik itu" sahut Els mengambil tangan Ravin dan mencium punggung tangan suaminya.


"Hem, jaga dirimu baik-baik" Ravin memberikan kecupan singkat di kening Els, lalu masuk kedalam mobilnya dan menuju ke kantor.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sebuah rumah sederhana terlihat seorang wanita tengah memandangi sebuah bingkai foto, wanita itu adalah Sintia mantan istri Ravin. Pernikahan kedua Sintia telah kandas beberapa bulan setelah ia melahirkan anak keduanya, ia mendapati suaminya selingkuh dan memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu. Sintia berniat kembali pada Ravin namun kini mendapati kenyataan jika Ravin sudah memiliki pengganti dirinya.


"Aku tidak menyangka jika kamu sudah menikah lagi" ucap Sintia memandang foto Ravin yang ada di dalam bingkai tersebut.


"Dan istrimu sangat dekat dengan putri kita, membuatku iri saja" kesal Sintia.


"Tapi aku yakin jika kamu masih mencintai ku, aku harus mendapatkan mu kembali bagaimana pun caranya" Sintia tersenyum miring, ia berencana untuk kembali dalam kehidupan Ravin. Jika memang tidak bisa menyingkirkan Els, jadi istri kedua Ravin pun Sinta tidak masalah, asalkan bisa kembali hidup mewah dan nyaman.


"Lo kenapa senyum-senyum sambil mandang foto mantan?" tanya seorang wanita duduk di samping Sintia.


"Gue mau balikan sama Ravin"


"Dia tidak pernah bisa menolak pesona seorang Sintia" sombongnya.


"Itu dulu, sekarang beda lagi. lagian bukannya Lo bilang kalau Ravin udah kawin lagi?"


"Nikah, Tari, nikahhhh astaga bahasa Lo ya" ralat Sintia.


"Sama aja kali, lagian ujung-ujungnya juga kawin kan?" ucap Tari semakin membuat Sintia kesal.


"Ckk" decak Sintia.


"Eh, nanti malam om Surya ngajakin Lo kencan itu"


"Dia gak ada ngomong sama gue"


"Barusan orangnya chat gue, katanya nomer Lo gak bisa di hubungi" jelas Tari.


"Ahhh...gue lupa matiin ponsel gue dari semalam"


"Lo mau?"


"Ya kali gue gak mau, gue masih butuh duit"

__ADS_1


"Ckckckck, gue yakin kalau Ravin tau pasti dia bakalan jijik sama Lo" cibir Tari.


"Mulut Lo ya Tar, Lo sama gue ini sama"


"Beda dong, gue gak ngebet balikan sama mantan. Dan lagi gue cuma jadi simpanan om Robby" elak Tari, dirinya memang hanya menjadi simpanan pejabat, bukan main dengan banyak pria hidung belang seperti Sintia.


"Ya sekarang, dulu-dulu Lo juga menjajakan tubuh Lo ke banyak pria kan?" cibir Sintia.


"No, gak sembarangan pria bisa tidur sama gue. Gue kan pakainya sistem kontrak, bukan sekali pakai" Tari kembali mengelak.


"Intinya sama sudah banyak pria yang nikmati tubuh Lo" Sintia tidak mau kalah.


"Sialan Lo"


"Nanti malam gue nitip Vania ya" ucap Sintia menatap bayi yang tengah merangkak itu.


"Ckk, memang siapa lagi yang bisa Lo titipin kalau bukan gue?" sahut Tari.


"Lagian kenapa gak Lo serahin ke bapaknya aja sih?"


"Gimana mau diserahin kalau Dandy aja gak perduli?"


"Huffff, lagian Lo udah bener-bener dapat Ravin malah main serong sama Dandy si bajingan itu"


"Namanya juga khilaf"


"Khilaf Lo kebablasan" Tari mengambil bayi yang main sendirian itu.


"Nanti malam bobok sama aunty ya sayang, Mama kamu mau bisnis lendir" ucap Tari bicara tanpa di saring.


"Lo jangan biasain kasi bisikan-bisikan setan ke anak gue Tar" ucap Sintia tak terima dengan perkataan Tari.


"Gue cuma kasih tahu apa adanya, jadi dia gak kaget kalau tahu emaknya ja Lang" Tari tertawa bahagia.


"Temen sialan" kesal Sintia, namun hanya Tari lah satu-satunya teman yang bisa ia mintai tolong dan bersedia menampung sekaligus Sintia repotkan seperti sekarang ini.


πŸ€


πŸ€


πŸ€


πŸ€


πŸ€


TBC 🌺


Hai semua....maaf ya kalau jarang update,


Author ada kesibukan di real life, dan juga sedikit kurang sehat, jadi menghambat kehaluan author 🀭🀭🀭🀭

__ADS_1


Terimakasih untuk yang setia baca dan support author


SarangeeeeπŸ’ž


__ADS_2