
Ravin menggendong Ciara menuju meja makan, lalu mendudukkan gadis kecilnya itu di kursi dekatnya dan bersiap untuk memulai sarapan tanpa Els sang istri.
"Mbok Yati" panggil Ravin, wanita paruh baya itu mendekati Ravin.
"Saya Tuan" jawab mbok Yati menundukkan kepalanya.
"Tolong buatkan jus sirsak untuk Els, dia menginginkan nya tadi" ucap Ravin.
"Tapi di rumah tidak ada stok buah sirsak Tuan, apa tidak apa-apa jika menunggu saya belikan dulu di pasar?" sahut mbok Yati.
"Coba mbok tanya sama Els dulu, sekalian tanya ada yang dia inginkan lagi atau tidak" perintah Ravin.
"Baik Tuan" mbok Yati melangkah pergi namun suara Ravin menghentikan langkahnya.
"Mbok ke pasar naik apa?"
"Biasanya naik ojek pangkalan Tuan, sudah langganan sama si Sugeng"
"Kalau begitu nanti pergi sama pak Eko saja, mau naik motor atau mobil terserah. Tapi bilang sama pak Eko, kalau sudah selesai langsung jemput Ciara di sekolah, karena Els tidak ikut ke sekolah" jelas Ravin.
"Baik Tuan" jawab mbok Yati lalu menaiki anak tangga menuju kamar Ravin.
"Cia nanti di sekolah jangan nakal ya, Bunda gak ada di sana, Cia berani kan?" tanya Ravin pada putrinya.
"Cia gak nakal Ayah, dan Cia gadis pemberani" sahut gadis kecil itu dengan mulut penuh sereal dan susu sebagai menu sarapannya.
"Pintar, putri ayah memang sangat pemberani" puji Ravin mengusap kepala Ciara.
🍀🍀🍀
Setelah mengantarkan Ciara dan menitipkan putrinya pada gurunya, Ravin melanjutkan perjalanan nya ke kantor. Sebenarnya Ravin harus melakukan kunjungan ke anak cabang Bank, namun hal itu masih bisa Ravin tunda selama bebarapa hari kedepan.
Setelah kepergian Ravin dari lingkungan sekolah, seorang wanita datang dengan pakaian formal beserta kaca mata hitamnya. Jika ada yang tanya siapa wanita itu? maka jawabannya adalah Sintia mantan istri Ravin, dan tentu saja Sintia datang dengan maksud tertentu, dan untuk mencapai maksud nya itu kini ia mendatangi sekolahan sang putri.
"Selamat pagi Miss" sapa ramah Sintia pada guru Ciara.
"Selamat pagi, ibu siapa ya?" tanya guru itu merasa asing dengan wajah Sintia.
"Saya ibu Sintia, ibu kandungnya Ciara" ucap Sintia tersenyum.
"Ohh...ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Saya tadi sudah izin dengan Ravin untuk mengajak Ciara berkunjung kerumah orang tua saya, kebetulan beliau sedang sakit dan ingin bertemu dengan Ciara. Jika boleh, tolong panggilkan putri saya, maaf ini mendadak" pinta Sintia.
"Tapi Pak Ravin tidak mengatakan apa-apa tadi, beliau malah bilang kalau Bund...."
"Apa perlu saya telfon Ravin agar Miss percaya dengan saya?" Sintia memotong kalimat Miss Nina.
"Baik, saya percaya dengan ibu Sintia. Sebentar saya akan panggilkan Ciara nya" Miss Nina masuk kedalam kelas Ciara dan membawa gadis kecil itu menemui ibu kandung yang tidak pernah di kenalnya.
"Hallo sayang, Cia apa kabar?" Sintia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ciara.
__ADS_1
"Tante siapa?" tanya Ciara membuat Miss Nina bingung.
"Sayang ini Mami, Mami yang melahirkan Ciara" jelas Sintia.
"Cia gak mau Mami, Cia maunya Bunda" tolak gadis kecil itu, namun Sintia tak patah arang membujuk Ciara hingga akhirnya berhasil membawa gadis kecil itu bersamanya.
...
Els sudah keluar dari kamar, wanita itu juga sudah mandi terlihat rapih dan segar meskipun tidak bersemangat seperti hari biasanya.
"Mbok, pesanan saya tadi ada?" Els menghampiri mbok Yati di dapur.
"Ada Nyonya, tapi tidak begitu bagus dan segar. Bukan musimnya sih" jelas mbok Yati membawa satu ikat rambutan pesanan Els.
"Tidak masalah, yang penting ada" senang Els menerima rambutan itu.
"Pak Eko sudah menjemput Ciara kan?"
"Sudah Nyonya, sudah dari tadi" sahut mbok Yati. Sebenarnya Els tidak mau di panggil Nyonya, namun mbok Yati tetap memaksa karena ia memanggil Ravin dengan sebutan Tuan. Els merasa sangat risih ketika mendengar kata Nyonya itu di tunjukkan pada dirinya dan pernah mengeluh pada Ravin, namun sang suami menanggapi nya dengan biasa saja 'Lama-lama juga akan terbiasa' itulah yang Ravin katakan.
🍀🍀🍀
Pak Eko kebingungan karena tidak menemukan Ciara di sekolah, ia ketakutan setengah mati jika sampai di amuk Ravin gara-gara telat menjemput Nona kecilnya. Padahal menurut perkiraannya pak Eko sampai di sekolah Ciara satu jam setelah sekolah itu di mulai, entah kemana nona kecilnya itu hingga ia bertemu dengan Miss Nina dan mengatakan jika Ciara di jemput maminya tidak lama setelah Ravin meninggalkan sekolahan.
Tut....Tut.....Tut....
Suara nada sambung Ravin saat pak Eko menghubungi Tuan nya.
"Ya pak Eko, sudah sampai rumah?" jawab Ravin.
"Anu apa?" sela Ravin.
"Nona Ciara tidak ada di sekola...."
"Bagaimana bisa Ciara tidak ada di sekolah?" seru Ravin sudah emosi, padahal belum mendengar penjelasan pak Eko.
"Apa pak Eko terlambat menjemput Ciara, hingga Ciara tidak ada di sekolah? bagaimana pihak sekolahan ini, kenapa sangat teledor?" teriak Ravin di ujung telepon.
"Maaf Pak seb..."
"Maaf bagaimana? lalu kemana perginya Ciara? bagai jika sesuatu terjadi padanya?"
"Pak Nona Ciara baik-baik saja" ucap Pak Eko cepat.
"Apa maksudnya baik-baik saja?"
"Tadi Miss Nina mengatakan jika Nyonya Sintia datang menjemput Nona Ciara tidak lama setelah anda pergi"
"Apa???"
"Nona Ciara bersama dengan Nyonya Sint..."
__ADS_1
Tut..!!!
Ravin langsung memutuskan panggilan itu.
"Nona Ciara bersama ibunya Tuan" ucap pak Eko menatap nanar ponselnya.
"Sial...." umpat Ravin. "Apa maunya wanita itu? sehingga membawa putriku" Ravin segera keluar dari ruangannya untuk mencari Ciara.
"Dimana tempat tinggal wanita itu sekarang" gumam Ravin semakin kesal karena tidak tahu dimana rumah Sintia ataupun nomer ponsel mantan istrinya itu.
Ting...
Notifikasi pesan masuk di ponsel Ravin.
📩
'Datanglah ke kafe pelangi jika ingin menjemput Ciara'
Setelah membaca pesan yang Ravin yakini itu dari Sintia, Ravin langsung meluncur ke lokasi yang dimaksud.
Drtttt..... drttt......
Sebuah panggilan masuk dan itu dari Els. Ravin yakin jika Els sudah tahu bahwa Sintia membawa Ciara.
"Ya sayang" jawab Ravin.
"Mas, Ciara di bawa mbak Sintia. Bagaimana jika...."
"Els dengarkan aku. Ciara baik-baik saja, Sintia tidak akan mengambilnya dan sekarang aku sedang menjemput nya" jelas Ravin, ia sangat tahu jika Els takut kehilangan Ciara. Istrinya itu sangat menyayangi Ciara melebihi Sintia, dan Ravin sangat bersyukur akan hal itu.
"Mas yakin?" suara Els terdengar bergetar.
"Ya, mas yakin. Sekarang kamu tunggu di rumah dengan tenang ya"
"Segera bawa Ciara pulang"
"Pasti" jawab memutus panggilan itu.
Mungkin terkesan egois, namun Els benar-benar menyayangi anak sambung nya itu dan tidak ingin kehilangan Ciara. Dirinya sudah pernah kehilangan seorang anak meskipun belum tahu rupa dan wujudnya, dan itu sangat membuat Els sedih, apa lagi Els kehilangan calon anaknya akibat perlakuan buruk sang suami.
Namun jika Sintia datang baik-buruk dan mengatakan ingin membawa Ciara atau ingin lebih dekat dengan Ciara, mungkin Els tidak akan ketakutan seperti ini. Tapi mendengar Ciara tiba-tiba tidak ada di sekolahan tanpa ada konfirmasi pada dirinya, membuat Els tidak bisa berpikir positif, pikiran-pikiran negatif menguasai dirinya.
"Ciara putriku, tidak ada yang boleh mengambilnya. Ciara putriku, selamanya tetap akan menjadi putriku" ucap Els menatap tajam pantulan dirinya yang berada di dalam cermin, seolah berbicara dengan bayangan dalam cermin itu.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺