
Emir menatap datar gadis yang ada di hadapannya, sedangkan gadis itu hanya menundukkan kepalanya seperti habis ketangkap basah melakukan kesalahan fatal. Jika saja Lisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang-orang disekitarnya, gadis itu tidak mungkin mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang. Lisa bukanlah gadis nakal yang suka hidup bebas dan hura-hura, hanya saja gadis itu selalu bersikap masa bodoh terhadap kehidupan sekitar. Lisa menutup diri dari orang-orang sekitarnya, bahkan gadis itu hanya memiliki beberapa teman yang notabenenya dari kalangan berada, karena itu juga sedikit banyak gaya hidupnya terpengaruh namun tidak membuat dirinya menjadi orang yang berbeda, Lisa tetaplah Lisa.
Ada rasa iba dalam hati Emir mendengar cerita dari mulut gadis 20 tahun itu, Emir hanya lulusan SMA sama seperti Els. Padahal pria itu memiliki keinginan cukup besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun apa daya pak Rusli tidak mampu mewujudkan impian nya, dan dengan sangat terpaksa Emir memendam keinginan itu.
Akan sangat di sayangkan jika kuliah Lisa berhenti di tengah jalan, pasti hatinya sangat sedih dan Emir bisa mengerti akan kesedihan itu. Tidak mudah memiliki semangat belajar yang membara, jika sekali saja kecewa, bukan tidak mungkin semangat untuk menuntut ilmu itu padam seketika.
"Di universitas mana kamu kuliah?" tanya Emir setelah terdiam cukup lama.
"Di UL Bang" jawab Lisa masih menunduk kepalanya.
Jika di pikir-pikir uang semester di universitas tempat Lisa mengenyangkan pendidikan tidak terlalu mahal, karena universitas itu untuk kalangan menengah. Jadi uang semester nya tidak terlalu membebani para mahasiswa dan mahasiswi nya, namun jika di posisi seperti Lisa pasti mengalami kesulitan.
"Kamu carilah pekerjaan paruh waktu yang kamu sukai, apapun itu asalkan halal dan kamu enjoy menjalaninya. Dan untuk uang kuliahmu, aku yang akan membayarnya" ucap Emir serius.
"Bang" Lisa mengangkat wajahnya dan menatap Emir, ia tak menduga jika Emir akan mengatakan itu.
"Aku serius, aku juga tidak akan menuntut apapun padamu. Hanya saja, jangan pernah meneruskan apa yang kamu rencanakan tadi" nasehat Emir.
"Tapi...." mata Lisa sudah berkaca-kaca mendengar penuturan Emir.
"Jika orang di sekitar mu tidak perduli padamu, bukan berarti mereka tidak menyayangi mu. Dan jika mereka tidak menyayangi mu, tidak ada alasan bagi dirimu untuk tidak menyayangi dirimu sendiri. Sayangi dirimu dan hiduplah dengan baik, jangan menghancurkan masa depanmu hanya untuk uang yang tidak seberapa itu" tutur Emir panjang lebar. Pria itu menganggap Lisa seperti adiknya sendiri, lagi pula penghasilan dari toko grosir yang di jalankan nya cukup untuk membantu biaya kuliah Lisa yang tinggal beberapa semester.
"Aku tidak tahu harus bicara apa" lirih Lisa air matanya sudah mengalir di pipi mulusnya.
"Kamu tidak perlu bicara apapun, cukup belajar dengan baik. Walau bagaimanapun kita pernah menjadi keluarga meskipun ikatan antara mbak Els dan mas Arya sudah berakhir, tapi kamu masih memanggil ku Abang, dan aku masing menganggap mu sebagai adikku. Maka jadilah adik yang baik dan manis untuk Abang mu ini" pesan Emir pada Lisa.
"Aku berjanji akan kuliah dan belajar dengan baik Bang, terimakasih sudah membantu ku" ucap Lisa tulus, ternyata Emir yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya perduli akan pendidikan dan masa depan Lisa. Sedangkan Arya dan Aryo tidak berkutik di bawah kendali istrinya, padahal jelas-jelas dua pria itu yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan Lisa sampai gadis itu mandiri atau memiliki suami, ya setidaknya sampai Lisa bekerja dan mampu menafkahi dirinya sendiri barulah Arya dan Aryo lepas tangan, tidak seperti sekarang ini.
"Bukankah keluarga memang harus saling membantu?" sahut Emir.
"Itu tidak berlaku dalam keluargaku, mas Arya dan mas Aryo bahkan tunduk pada istri-istrinya, sedangkan Ibu...."
"Sudah tidak perlu membahas sesuatu yang menyakitkan, cukup jadilah orang yang baik dan jalani kehidupan mu sebaik mungkin" Emir bersikap netral dan tidak ingin berprasangka buruk pada keluarga mantan kakak ipar nya itu.
__ADS_1
Lisa hanya mengangguk dan tersenyum tipis, ia merasa beruntung hari ini bisa bertemu dengan Emir. Jika tidak, entah bagaimana nasibnya, mungkin Lisa akan benar-benar menjadi sugar baby dan terjerumus pada kubangan dosa yang menawarkan kesenangan sesaat.
"Abang kok ada di kota?" tanya Lisa menghapus air matanya.
"Tadi habis ngantar bapak MCU"
"Pak Rusli sakit?"
"Tidak, hanya saja aku tidak ingin apa yang terjadi pada Mamak terjadi juga pada Bapak. Makanya aku meminta bapak melakukan MCU sebagai langkah antisipasi hal-hal yang tidak di inginkan" jelas Emir, Lisa hanya mengangguk paham.
"Mbak Els sudah lama di Jakarta, Bang?" Lisa penasaran dengan kehidupan mantan kakak ipar nya.
"Sebulan setelah perceraian resmi itu mbak Els berangkat ke Jakarta. Di sana ada temannya yang punya kedai bakso, dan mbak Els bekerja kedai itu" cerita Emir.
"Jadi, belum lama dong mbak Els menikah lagi?"
"Sudah beberapa bulan yang lalu, tapi belum ada setahun kayaknya" jawab Emir seadanya.
Tanda pesan masuk dalam HP Lisa, gadis itu membaca pesan tersebut tampak terkejut.
"Ada apa?" tanya Emir.
"Ini ada sugar Daddy yang ngajak ketemuan" jawab Lisa jujur membuat Emir melotot kan matanya.
"Sudah aku tolak Bang" ucap Lisa dengan cepat begitu melihat reaksi Emir.
"Lebih baik kamu sekarang pulang, dan besok pagi kita ketemuan di UL jam sembilan pagi" titah Emir.
"Ya udah, terimakasih atas traktiran nya. Lisa pulang dulu ya Bang" pamit gadis itu.
"Kamu ada ongkos untuk pulang?" tanya Emir saat Lisa sudah berdiri.
"Ada Bang" jawabnya, akan sangat malu jika Lisa mengatakan tidak ada uang. Ya meskipun sangat pas pasan tapi kalau untuk naik angkot bisa lah.
__ADS_1
"Berikan nomer ponselmu" Emir menyodorkan ponselnya, Lisa mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomernya.
"Udah" Lisa mengembalikan ponsel Emir.
"Hem" jawab Emir, pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil lima lembar uang merah yang ada dalam dompetnya.
"Ini untuk ongkos mu" Emir mengulurkan uang itu pada Lisa.
"Aku ada uang kok Bang" tolak Lisa.
"Jangan pernah menolak rezeki, ini memang tidak banyak, tapi tidak seharusnya kamu tolak. Apalagi yang memberi Abang mu" tegas Emir tidak dapat di tolak.
"Terimakasih Bang" Lisa mengambil uang itu.
"Hem, hati-hati di jalan" balas Emir.
"Iya, aku duluan ya Bang" pamit Lisa, gadis itu berjalan keluar dari Kafe.
"Yang aku lakukan sudah benar kan?" gumam Emir, ia berencana membicarakan semua keputusan nya itu dengan Els nanti, meskipun e.ir yakin jika Els tidak akan keberatan, tapi ia ingin berbagi cerita dengan saudara satu-satunya itu.
Keesokan harinya, seperti yang sudah di janjikan oleh Emir, pria itu sudah berada di kampus tempat Lisa menimba ilmu. Emir membayar uang kuliah Lisa sesuai janjinya, entah mengapa ada kelegaan dalam hati Emir setelah membantu Lisa. Pria itu memang sangat ringan tangan, bahkan sekarang dirinya di jadikan tujuan jika sanak keluarga membutuhkan bantuan berupa dana dan Emir selalu bersedia membantu tanpa memikirkan uang itu dikembalikan atau tidak, yang penting seluruh keluarganya hidup damai dan saling menghargai. Tabungan yang rencananya akan Emir kembalikan pada Ravin juga sudah lumayan, entah di terima atau tidak oleh Ravin, yang pasti Emir sudah menyiapkan uang sebagai ganti modal yang digelontorkan oleh Ravin.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1