My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Terakhir


__ADS_3

Derren menempelkan telinganya di pintu kamar saat pertama kali mendengar jeritan histeris dari mulut Sintia, pria itu tidak bisa membayangkan apa yang Els lakukan pada Sintia sehingga wanita itu berteriak kesakitan. Percayalah, saat pertama kali Derren melihat Els, wanita hamil itu terlihat sangat lugu, lembut, dan pendiam, tidak ada bayangan seperti wanita kejam atau galak di wajah Els. Mendengar jeritan Sintia yang mengasuh kesakitan seperti itu, membuat Derren merinding, namun ia tetap tidak meninggalkan tempat itu dan masih setia berdiri di depan pintu.


Di dalam kamar Els menarik rambut Sintia dengan kuat, bahkan sudah beberapa helai rambut wanita itu terlepas dari kulit kepalanya. Meskipun kesakitan, Sintia tetap mengumpat dan mencaci maki Els dengan kata-kata kasar, hingga Els menghempaskan kepala Sintia membentur sisi ranjang.


Bugh.....


"Akkhhhhh.....sialan" teriak Sintia, pelipisnya mengeluarkan darah segar.


"Aku tidak suka jika seseorang mengusik hidupku, apalagi seseorang itu wanita seperti mu" ucap Els penuh penekan, jika dulu Els hanya mencengkeram rahang Sintia, tapi kali ini Els mencekik leher wanita itu.


"Le...lepas..kan....aku wanita sial.... uhukkkk...uhukk.." maki Sintia terbata, bahkan dada wanita itu terasa panas karena tidak bisa bernafas.


Plakkkkk...... plakkkkk....


Els melepaskan cekikan nya dan menampar kedua pipi Sintia dengan sekuat tenaga.


"Akkkhhhhh sakit..." jerit Sintia, Els tidak memberi kesempatan untuk Sintia membalasnya. Wanita hamil itu seperti orang kesetanan dengan menganiaya Sintia tanpa ampun.


"Aku akan melaporkan mu pada polisi, ini adalah penganiayaan terencana dan...."


"Dan sebelum kau melaporkan ku pada polisi, aku akan terlebih dulu menghabisi mu" seru Els, kakinya menginjak tengkuk Sintia karena tamparan nya tadi membuat tubuhnya wanita itu oleng.


"Berani-beraninya kau berencana melenyapkan anakku? Bahkan anakku belum melihat dunia ini, dan kau berniat membunuhnya?" teriak Els membuat Sintia terkejut.


"Ba... bagai mana..."


"Bagaimana aku tahu itu tidaklah penting!" Els semakin menekan kakinya, membuat Sintia meringis kesakitan.


"Kau pikir apa hah? Kau berharap rencana busuk mu itu berhasil dan Ravin akan kembali padamu?" sinis Els melihat Sintia yang tak berdaya di bawah kakinya.


"Ya...yahh...aku memang berharap kau hancur dan Rav.....akhhhh"


"Jangan coba-coba menyebut nama suamiku dengan mulut kotor mu itu" Els kembali menarik rambut Sintia hingga wanita itu berdiri.


Klek... pyarrrrr....


Pendar lampu menerangi kamar itu saat Els kembali menyalakan nya, sehingga tubuh polos Sintia terlihat sangat jelas dengan beberapa luka di bibir dan pelipisnya.


"Kau lihat?" Els membawa Sintia ke depan cermin.


"LIHAT!!!!!! LIHAT DAN BUKA MATAMU LEBAR-LEBAR!!" bentak Els.

__ADS_1


"Sudah berapa pria yang menikmati tubuhmu ini? Tidak terhitung bukan?" ucap Els dengan sinisnya.


"Bukankah kau sangat menikmati profesi mu sebagai wanita malam? Lalu kenapa kau menginginkan suamiku yang sudah kau tinggalkan hah?"


Brukkkk....


Els mendorong Sintia hingga membentur meja rias di depannya.


"Ini peringatan terakhir dariku Sintia. Jangan mengusikku, jangan mengusik keluargaku, bahkan jangan pernah menemui Ciara. Aku tidak perduli sekalipun kau adalah ibu kandung Ciara, karena bagiku Ciara adalah putriku" tegas Els bersikap egois ingin memiliki Ciara seorang diri, jika saja Sintia bersikap baik atau setidaknya tidak pernah merencanakan sesuatu yang jahat pada Els, mungkin wanita hamil itu tidak akan mengambil sikap seperti ini. Sebab bagaimanapun Sintia adalah ibu kandung Ciara, dan itu tidak akan pernah tergantikan, olehnya sekalipun meksi kasih sayangnya begitu tulus dan berlimpah, tapi Els tetaplah ibu tiri.


"Els, Ciara juga putriku bag...."


"AKU TIDAK PERDULI!!" teriak Els penuh amarah pada Sintia.


"Aku tidak perduli dengan semua itu, Ciara adalah putriku, aku akan mencintai menyayangi dan merawatnya lebih baik dari pada dirimu. Jangan coba-coba kau menemui putriku, kau hanya bisa bertemu dengannya jika dia ingin bertemu denganmu" tegas Els dengan mengacungkan jari telunjuk nya.


"Setelah ini, entahlah dari hidupku. Pergilah kemanapun asalkan jangan menunjukkan wajah mu di hadapanku, Jika setelah hari ini aku masih melihatmu, akan ku pastikan jika itu adalah hari terakhir mu melihat dunia ini" ancam Els.


"Kau mengancam ku, Els?"


"Tidak, ini bukanlah ancaman. Tapi kau bisa membuktikan nya sendiri nanti" ucap Els membalik tubuhnya hendak keluar, namun ia kembali menghentikan langkahnya.


"Kau mengerti maksud ku kan?" Els tersenyum smirk.


"Ya" kata Sintia tidak memiliki keberanian lagi. Untuk kedua kalinya Sintia melihat sosok berbeda dari Els, tentu saja hal itu membuat dirinya ketakutan. Sintia memang bukan orang baik, tapi setidaknya ia tidak menyeramkan dan menakutkan seperti Els barusan, bahkan beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit dan ngilu dibuat Els.


Ceklek.....


Pintu kamar itu di buka dengan kasar oleh Els, sehingga membuat pria yang berdiri di samping pintu terjingkat karena kaget.


"Kau masih disini?" tanya Els datar.


"Ya, aku hanya memastikan jika dirimu baik-baik saja" jujur Derren.


"Aku bukan anak kecil, dasar menyebalkan" kesal Els berlalu meninggalkan Derren yang masih setia menatapnya dari belakang.


"Dia bukan wanita biasa Derren" ucapnya sedikit mengagumi Els, tapi ia sadar jika Els adalah istri orang.


🍀🍀🍀


Ravin dan Bimo berada di sebuah kafe untuk menikmati makan siangnya, atasan dan bawahan itu memiliki hubungan layaknya teman jika di luar kantor. Terkadang keduanya juga menghabiskan waktu bersama jika ada waktu luang dan pekerjaan tidak menumpuk. Pembaharuan mereka tak jauh-jauh dari pekerjaan dan rumah tangga, Ravin yang memang tidak terlalu dekat dengan teman-teman masa sekolah ataupun kuliah sangat nyaman jika bicara dengan Bimo.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Ravin basa-basi.


"Lancar Pak, hasil tagihan dan pencairan dua bulan ini sangat lancar, dari bulan-bulan sebelumnya" tutur Bimo, Ravin mengangguk paham, karena dengan begitu pekerjaan nya juga akan lebih mudah.


"Jika aku berhenti, menurutmu siapa yang akan menggantikan ku?"


"Bapak akan resign? Jangan dong Pak"


"Hanya rencana"


"Jangan di rencanakan Pak" cegah Bimo, ia sangat nyaman memiliki atasan seperti Ravin.


"Kenapa?"


"Karena saya sudah cocok dengan bapak"


"Kata-kata mu membuat ku merinding, jangan asal bicara nanti ada yang salah paham" Ravin bergidik geli.


"Salah paham?"


"Saya masih pecinta tempe dari pada terong Bimo" kata Ravin, membuat Bimo terdiam.


"Bapak jangan salah, saya juga pecinta tempe, ya kali saya mau sama terong" ucap Bimo.


"Bahkan terong saya sudah menghasilkan terong junior yang sangat lucu dan menggemaskan" Bimo tersenyum bangga mengingat putranya.


"Cihhh, terong ku juga sudah menghasilkan seorang putri cantik, dan jangan lupa jika saat ini bibit premium ku juga sedang tumbuh subur di rahim istri ku" ucap Ravin tak ingin kalah dari Bimo.


"Kenapa malah bahas terong sih?" ucap Bimo, lalu kedua pria dewasa itu tertawa bersamaan. Ya begitulah Ravin, jika di kantin akan sangat bersikap tegas dan berwibawa, namun saat di luar kantor, apalagi bersama Bimo, sikap random nya akan keluar dengan sendirinya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2