
Els berdiri didepan rumah kecil namun berada di kawasan menengah atas. Itu adalah rumah Tari, sahabat Sintia dimana Sintia juga menumpang dan tinggal di rumah itu. Ya, tanpa sepengetahuan Ravin, Els menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang Sintia, termasuk tempat tinggal dan pekerjaan yang dilakoni oleh ibu dari putri sambungnya.
Els sangat marah ketika mendengar Ciara mengatakan bahwa dirinya adalah ibu tiri meski begitu kenyataannya, amarah Els bertambah saat Ciara menolak dengan keras kehamilannya. Els sangat yakin semua itu karena bisikan setan yang di berikan Sintia pada sang putri, meskipun gadis kecil itu tidak mengatakan apapun, namun perubahan sikap Ciara sangat jelas setelah bertemu dengan Sintia, atau lebih tepatnya setelah Sintia membawa paksa Ciara dari sekolahan.
Tok...tok...tok...
Els mengetuk pintu rumah itu dengan kuat, menurut informasi dari orang suruhannya Sintia dan putri kecilnya ada di rumah sedangkan sang pemilik rumah yaitu Tari sedang pergi bersama dengan pria yang memeliharanya.
"Siapa sih, kayaknya gue gak ada janji" gerutu Sintia berjalan ke arah pintu.
Klekkk....
"Siap......" mata Sintia membulat saat melihat Els berdiri dengan tegak di depan pintu.
"Ada apa ya?" tanya Sintia datar.
"Aku ingin memperingatkan sesuatu padamu" ucap Els matanya di penuhi kemarahan di balik kacamata hitamnya.
"Tapi aku tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti mu" sahut Sintia menghadang Els di tengah pintu karena Els hendak menerobos masuk dalam rumah itu.
"Memangnya orang seperti apa diriku ini?" Els melepaskan kacamata hitamnya dan menatap tajam Sintia.
"Kau adalah wanita miskin dan murahan yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya keranjang majikan, sehingga Ravin mau menikah....."
Plakkkkk.....
Satu tamparan mulus meluncur dari tangan Els ke pipi Sintia.
"Kau!!!! beraninya menyentuh ku!" teriak Sintia merasakan panas, peri dan kebas di pipi kanannya.
"Memangnya kenapa? apa hanya para pria hidung belang yang boleh menyentuh tubuhmu yang menjijikkan ini?" telunjuk Els mendorong pundak Sintia seolah sangat menjijikkan.
"Tutup mulutmu, kau tidak tahu apa-apa tentang diriku" Sintia mengacungkan jari nya pada Els.
Els menarik tangan Sintia yang ada di depan wajahnya, lalu memelintirnya kebelakang dan memepetkan tubuh Sintia pada tembok.
"Awhhhh....sakit" pekik Sintia.
"Dengarkan aku Sintia Agatha, aku tidak punya masalah denganmu, aku juga tidak masalah jika kau ingin bertemu atau dekat dengan putrimu. Tapi kau malah berbuat hal yang tidak aku sukai, kau sengaja menemui Ciara seperti penjahat dan memberikan bisikan setan pada gadis polos itu. Dan karena perbuatan mu itu membangkitkan sisiku yang lain, kau membangunkan jiwa iblis yang bersemayam dalam diriku. Aku tidak akan segan-segan membunuh mu bahkan menguliti mu hidup-hidup jika sampai Ciara masih menjauhiku" bisik Els dengan nada rendah tapi syarat penuh penekanan dan ancaman.
"Apa kau sudah gila? kau bisa di kenakan pasal pembunuhan berencana..."
"Ya, aku gila karena menghadapi orang gila seperti mu" Els semakin menekan dan memelintir lengan Sintia.
"Hentikan itu, tanganku bisa patah" jerit Sintia kesakitan.
"Apakah sangat sakit?" tanya Els tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Dasar wanita gila" umpat Sintia. Els malah memberikan tekanan pada tengkuk nya hingga nafas Sintia tercekat
"Le..... uhukkkk...lep...askan... uhukkkk" wajah Sintia sudah memerah padam karena kekurangan pasokan oksigen.
"Kenapa aku sangat senang melihat mu seperti ini?" Els tersenyum miring. sedangkan Sintia sudah sangat lemas membuka mulutnya untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Brukkkkkkkk
Els menghempaskan tubuh Sintia dengan keras.
"Hahhhhh....hahhhhh...." wanita itu seolah ingin memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang ada di ruangan itu.
"Cihh...lemah" cibir Els lalu berjongkok di hadapan Sintia dan mencengkeram rahang wanita itu.
"Ini peringatan pertamaku, jika kau berani bermain-main dengan keluarga kecilku, maka aku sangat bisa melakukan hal yang lebih dari ini. Ravindra Pradipta itu suamiku, dia milikku dan hanya milikku, jangan cina menginginkan nya meski dalam khayalan mu" Els melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, lalu berdiri.
"Jika kau berani menemui Ciara tanpa izinku, maka satu-satunya teman yang bersedia menampung mu itu yang akan menerima akibatnya, kau ingat itu. izinku, bukan izin suamiku" Els kembali memakai kacamata hitamnya dan melangkah pergi dari rumah yang di tempati Sintia.
🍀🍀🍀
Els merasa perutnya sangat bergejolak di dalam taksi, namun sebisa mungkin Els tahan agar tidak muntah, meskipun sia-sia Els meminta supir taksi untuk menepikan mobilnya dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Hoekkkk......hoekkkkk.....
Keringat dingin membanjiri tubuh Els, tubuhnya sangat lemas.
"Tolong, antar kan saya ke Nantara Hospital" pinta Els sebelum kehilangan kesadaran nya.
"Bu...ibu...." untung saja sopir taksi itu dengan sigap menangkap tubuh Els sehingga tidak terjatuh di tanah.
"Baru penumpang pertama" ucap sopir itu membawa Els masuk dalam mobil, lalu mengantarkan nya sesuai permintaan Els.
Ketika sudah sampai di IGD, tidak sengaja dokter Santi melihat Els di salah satu bed pasien dengan kondisinya tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengannya?" tanya dokter Santi pada perawat.
"Sopir taksi itu mengatakan jika pasien tiba-tiba muntah-muntah dan langsung tidak sadarkan diri Dok" jelas salah satu suster.
"Ini pasien saya, dia sedang hamil. Biar saya yang menanganinya" dokter Santi mengambil alih untuk memeriksa kondisi Els.
"Suster Rini, tolong ambil data ibu Elsava dan hubungi suaminya agar segera datang ke rumah sakit" titah dokter Santi pada asisten nya.
"Baik Dok" suster Rini langsung mencari data Els dan menghubungi Ravin.
Kurang dari 30 menit setelah suster Rini menghubungi Ravin, suami Els itu sudah tiba di rumah sakit dengan wajah sangat panik.
"Bagaimana kondisi istri saya sus?" tanya Ravin di meja resepsionis.
__ADS_1
"Maaf, atas nama siapa istri bapak?" tanya resepsionis itu.
"Elsava Ekavira, dia di tangani oleh dokter Santi"
"Pasien atas nama Elsava Ekavira masih ada di IGD pak, silahkan bapak langsung...."
"Terimakasih..." ucap Ravin langsung berlari ke arah IGD.
"Sama-sama" lirih suster yang ada di meja resepsionis menggelengkan kepalanya.
...
"Dokter Santi" panggil Ravin melihat dokter Santi baru saja keluar dari IGD.
"Bagaimana kondisi istri saya?"
"Ibu Els sudah baik-baik saja Pak, sekarang sedang tidur karena saya berikan obat tidur agar bisa ost dengan tenang"
"Lalu bagaimana istri saya bisa sampai rumah sakit?" Ravin masih bingung karena tiba-tiba mendapat telfon dari pihak rumah sakit yang mengatakan jika istri nya ada di rumah sakit, tidak sadarkan diri.
"Untuk hal itu, bapak bisa menanyakan nya pada supir taksi yang membawa ibu Els kesini" dokter Santi menunjuk seorang sopir yang duduk di kursi tunggu dengan memangku tas milik Els.
"Terimakasih Dok" ucap Ravin menghampiri supir itu.
"Pak, terimakasih sudah membawa istri saya ke rumah sakit" ucap Ravin duduk di sebelah supir itu.
"Oh, bapak suami ibu itu?" supir taksi itu mengangkat wajahnya senang.
"Iya, kalau boleh saya tahu, dari mana istri saya menaiki taksi bapak?"
"Dari daerah Radio Dalam pak" jawab supir taksi itu membuat Ravin mengerutkan keningnya
"Oh, terimakasih ya pak, ini ongkos taksi dan sebagai ucapan terima kasih saya, karena bapak sudah menolong istri saya" ucap Ravin memberikan lima lembar uang pecahan seratus ribu, yang ada di dalam dompetnya.
"Wah, terima kasih banyak pak" ucap supir taksi itu, lalu memberikan tas Els pada Ravin dan melenggang pergi setelah sedikit basa-basi.
"Untuk apa Els ke daerah Radio Dalam?" bingung Ravin.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺