
Els mengemudikan sebuah mobil Mercedes-Benz CLA-Class warna putih menuju sekolah anak-anaknya. Kini Els sudah mahir mengemudikan mobil dan mengantar jemput Arsen dan juga Ciara ke sekolah. Meskipun jarang sekali Ciara ikut pulang bersamanya, karena banyak mengikuti kegiatan disekolah dan selalu bersama Ai sang sahabat.
"Sayang nanti pulang jam berapa?" tanya Els pada Ciara.
"Cia, nanti ada kelas tambahan Bun, mungkin sulang jam tiga sore, dan akan langsung ke tempat les bahasa Prancis sama Ai" kata Ciara duduk disebelah kursi kemudi Els.
"Kau sayang?" Els melirik putranya melalui kaca spion.
"Arsen pulang seperti biasa Bunda" sahut Arsen, bocah itu duduk bersandar di kursi mobil, matanya terpejam dan kedua tangannya ada di dada.
"kau masih mengantuk sayang?" tanya Els, bocah itu langsung membuka matanya.
"Tidak, ayah kapan pulang Bun?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Els mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Arsen, sedangkan Ciara tersenyum tipis tahu maksud adiknya itu.
"Seperti baru pertama di tinggal ayah saja" ucap Els menggelengkan kepalanya dan fokus mengemudi.
"Bukan begit..."
"Arsen belum puas begadang Bun" celetuk Ciara menyeringai.
"Kakak!" seru Arsen kesal karena mulut bocor Ciara.
"Ahh.... Jadi ada yang begadang main game?" kata Els melirik putranya.
"Ckk...hanya sesekali Bun, lagi pula tidak akan mempengaruhi sekolah ataupun nilai Arsen" sangkalnya.
"Sayang, poinnya bukan itu, tapi begadang itu tidak baik, apalagi kamu masih terlalu kecil" kata Els menasehati putranya.
"Baiklah, tidak lagi" putus Arsen.
"Bohong itu Bun" timpal Ciara tersenyum miring.
"Kakak! Ih resek banget sih jadi orang" Arsen memanyunkan bibirnya.
"Sudah-sudah, nanti malam Arsen tidur sama Bunda" ucap Els menyudahi pembahasan.
"Hahaha....." Ciara tertawa puas melihat wajah pais adiknya.
"Kakak juga tidur sama Bunda" kata Els tidak dapat di tolak.
"Woahhhhhh, Bunda memang terbaik" Arsen mengacungkan jari jempolnya pada Els.
__ADS_1
"Tapi Bun..."
"Bunda sudah lama tidak tidur bersama anak-anak Bunda, dan Bunda ingin kita tidur bersama sampai ayah pulang minggu depan" putus Els membuat wajah gadis itu masam.
Ciara dan Arsen masuk kedalam sekolah, keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar, dan ini adalah tahun terakhir Ciara berada di Elementary School, tahun depan gadis itu sudah masuk junior high school.
"Makanya Kakak jangan ember-ember jadi orang" ucap Arsen berjalan bersama Ciara di koridor sekolah.
"Kamu nyebelin dek" kata Ciara masih dengan wajah masam.
"Kakak yang lebih menyebalkan, aku jadi tidak bisa main game lagi. Tapi kakak masih bisa bertemu dengan Kak Ai" ucap Arsen menggelengkan kepalanya.
"Lagi pula, seharian bersama, setiap hari, memang tidak bosan sampai harus chatting setiap malam?" Arsen heran dengan persahabatan Kakak perempuannya itu, seolah tidak ada kata lelah dan bosan.
"Kami membahas banyak hal adik kecilku, dan yang pasti kau belum paham" Ciara merangkul pundak Arsen, meskipun Arsen baru berusia tujuh tahun, tapi bocah itu memiliki postur tubuh yang lumayan tinggi.
"Cia" panggil Ai berlari dari arah belakangnya.
"Good morning Ai" ucap Ciara mengembangkan senyumnya.
"Good morning my BBF, good morning Ar" ucap Aiden pada Ciara dan juga Arsen dengan senyum tampannya.
"Ckck, aku mau ke kelas" Arsen melepaskan tangan Ciara di pundaknya, dan meninggalkan dua sahabat itu.
"Dia kenapa?" tanya Aiden menatap kepergian Arsen.
"Lalu kamu sendiri kenapa?" tanya Aiden, keduanya mulai berjalan menuju ke kelasnya.
"Bunda juga memintaku untuk tidur bersama, so..." Ciara melirik Aiden.
"It's okay, hanya satu minggu kan?" tanya Aiden, ia tahu maksud sahabatnya itu.
"Thank you" Ciara tersenyum manis, Aiden memang sahabat terbaiknya, selalu pengertian dan menemani Ciara kemanapun itu.
"Anything for you" ucap Aiden menggandeng tangan Ciara masuk ke kelasnya.
Untung ukuran anak yang masih berusia 12 dan 13 tahun, mungkin persahabatan Ciara dan Aiden sudah seperti anak SMA, namun pembahasan mereka adalah tentang pelajaran. Aiden dan Ciara sama-sama mengikuti les bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Mandarin, dan Rusia. Bahkan kedua bocah itu berencana menambah beberapa bahasa lagi jika ada waktu luang.
🍀🍀🍀
Emir mengunjungi toko bajunya bersama Lisa, pasangan suami istri itu terlihat sangat serasi dan disukai banyak orang. Hal itu juga menambah poin plus usaha Emir, baik toko grosir ataupun toko bajunya semakin maju.
"Abang jadi menyediakan jasa layanan antar?" tanya Lisa melihat-lihat baju yang tertata rapih di besok hollow.
__ADS_1
"Jadi sayang, kita sudah punya dua kurir" jawab Emir.
"Benarkah? Siapa?"
"Itu, si Toro, sama Deny. Selain mereka punya motor, mereka juga sudah paham daerah sini" jelas Emir. Kampung itu sekarang semakin ramai dengan banyaknya penduduk, Emir juga melakukan penjualan secara online disalah satu platform e-commerce untuk menunjang penjualan dan mengikuti perkembangan teknologi.
"Apakah banyak peminatnya di e-commerce?" tanya Lisa.
"Tentu saja, Rani dan Hendra bilang kebanyakan dari kalangan anak muda, pelajar dan ibu rumah tangga yang sudah melek teknologi" papar Emir pada istrinya.
"Pantas saja di toko jarang ada pengunjung" kata Lisa, memang beberapa bulan belakangan ini toko baju Emir tidak terlalu padat pengunjung.
"Ya mereka beralih ke mode belanja yang lebih praktis dan mudah" sahut Emir tersenyum, pria berusia 36 tahun itu terlihat semakin dewasa dan bijaksana.
Lisa tersenyum menatap wajah tampan suaminya, ia tidak menyangka jika pria itu mau menikahinya. Saat pertama kali Lisa menerima pernyataan cinta Emir, ia pikir jika Emir hanya main-main saja, namun di tahun berikutnya ternyata Emir mengajak Lisa melangkah ke jenjang yang lebih serius, hingga kini sudah enam tahun menjalani biduk rumah tangga.
Pembawaan Emir yang dewasa, tenang dan lembut, membuat rumah tangga Lisa adem ayem. Hanya saja berdebat kecil sering terjadi namun semua hanya karena masalah sepele yang sebenarnya bisa mereka selesaikan secara baik-baik.
"Ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Emir.
"Tidak ada. Oh iya, nanti acara empat bulanan kita, apakah mbak Els bisa datang?" tanya Lisa mendekati Emir.
"Ya, seharusnya datang, lagi pula anak-anak juga memasuki musim liburan. Jadi tidak ada alasan untuk mbak Els tidak datang" kata Emir berpikir realistis.
"Benar juga" gumam Lisa.
"Tapi aku juga ngundang Mas Arya, Bang. Apakah tidak masalah?" hubungan mantan suami istri itu memang baik, namun hanya beberapa kali Els dan Arya menghadiri acara yang sama.
"Tentu saja tidak apa-apa sayang. Baik mbak Els, Mas Ravin, dan Mas Arya itu sudah dewasa. Apalagi sekarang aku dan kamu adalah suami istri, kedepannya pasti kita akan sering mengadakan acara dan mengundang keduanya bukan?" jelas Emir.
"Ya, Abang benar" lirih Lisa.
"Bagaimana dengan Mas Aryo? Apakah kali ini masih tidak bisa datang?" saudara Lisa yang satu itu memang selalu absen di setiap acara yang dibuat oleh Lisa, bahkan saat pernikahan Lisa, Aryo hanya hadir beberapa jam lalu pergi lagi.
"Aku tidak tahu Bang, tapi aku juga sudah mengundang dan memintanya untuk datang" ucap Lisa, pikirannya menerawang jauh merindukan sosok yang sudah lama tidak ia temui.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺