My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Bukan Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Saat menjelang malam, sebuah mobil sejuta umat berhenti di halaman pak Rusli. Dan sudah pasti tidak lain tidak bukan jika mobil itu adalah milik Arya yang juga datang menghadiri acara tasyakuran empat bulanan Lisa.


Kinara turun dari mobil dan langsung berlari menyalami pak Rusli dengan senyum cerah.


"Assalamualaikum Mbah" kata Kinara disambut hangat oleh pak Rusli.


"Walaikumsalam salam nduk" pak Rusli mengusap rambut hitam gadis kecil itu. Tak lama setelahnya Arya juga menyalami pak Rusli, seperti pak Rusli menyambut Ravin, begitu pula pak Rusli menyambut kedatangan Arya.


"Tante" ucap Kinara melihat Els, gadis kecil itu juga langsung menyalami Els dan Els memeluknya.


"Capek ya?" tanya Els mengusap kepala Kinara.


"Sedikit" jawab Kinara, gadis itu sangat senang bisa bertemu Els setelah Els absen beberapa hadir di acara yang di buat Emir.


"Om" Kinara juga menyalami Ravin, dan Ravin juga memperlakukan Kinara seperti Ciara.


"Hai..." Ciara tersenyum melambaikan tangannya pada Kinara, memberi isyarat agar Kinara mendatanginya. Lalu Kinara berlari kecil bergabung bersama Ciara dan sepupu lainnya.


"Kinara jadi menginap Mas?" Lisa baru saja keluar dari kamarnya dan menemui Arya.


"Ya, dia ingin berlibur selama seminggu disini. Tidak apa-apa kan?" tanya Arya.


"Gak masalah, mbak Cindy gimana? Tumben kasi izin Kinara berlibur kesini?" Lisa sangat tahu watak mantan kakak ipar nya itu.


"Dia gak kasi izin, tapi gimana lagi? Anaknya yang mau berlibur kesini" kata Arya duduk di sofa ruang depan.


"Apa kabar Tuan?" sapa Arya pada Ravin.


"Ckk kita tidak sedang di kantor Arya, dan jangan memanggilku Tuan. Bukankah kita ini saudara?" Ravin merangkul pundak Els yang ada di sampingnya.


"Tapi..."


"Tidak ada bantahan, sebagai Boss kamu. Aku memerintahkan kamu untuk memanggilku nama saja" sergah Ravin, membuat Ela dan Lisa mengulum senyum.


"Baiklah Pak Ravin" kata Arya masih canggung.


"Pak? Apakah aku terlihat setua itu?" protes Ravin.


"Kamu memang sudah tua Mas, bahkan umur Mas sudah lewat empat puluh tahun" jujur Els.


"Sayang" kata Ravin manja, malah membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum.

__ADS_1


Pak Rusli melihat keakraban para menantu dan mantan menantunya hanya bisa tersenyum bahagia. Pria tua itu bahkan sering berdoa jika dirinya sudah siap jika harus meninggalkan dunia ini, karena merasa cukup puas melihat anak-anak dan cucu-cucunya hidup bahagia.


🍀🍀🍀


Acara tasyakuran empat bulanan Lisa berjalan dengan lancar, bahkan Emir mengundang seorang pendakwah kondang untuk mengisi ceramah yang di hadiri hampir seluruh masyarakat. Emir menyewa beberapa tenda pesta untuk menampung orang-orang yang menghadiri tasyakuran itu yang malah terlihat seperti pesta rakyat, namun Emir dan keluarga senang melihatnya.


Els menatap penuh haru pada suaminya, sekarang Bapak nya dan juga Emir menjadi salah satu orang yang sangat di hormati di kampungnya, kesuksesan toko grosir Emir, dan beberapa usaha yang di jalankan nya, serta kebaikan hati Emir dan pak Rusli menolong para masyarakat.


"Terima kasih" bisik Els pada Ravin menitikkan airmata nya.


"Untuk apa? Dan kenapa menangis sayang?" tanya Ravin bingung.


"Terimakasih karena Mas mau menikahi ku dan menerima keluarga ku" kata Els membuat Ravin bernafas lega.


"Sayang, kita sudah sering membahasnya. Dan Mas tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari mulut manismu ini, Mas lebih suka mendengar ******* keluar...aw...aw...awh...sayang kenapa di cubit?" protes Ravin ketika mendapatkan hadiah cubitan dari Els.


"Kamu merusak momen haruku Mas. Bisa-bisanya berpikiran mesum saat istrinya sedang terharu" kesal Els menggelengkan kepalanya, suami Els itu benar-benar random.


"Sayang, bukan kah wajar jika Mas berpikiran mesum? Terlebih memiliki istri yang cantik, seksi dan pandai bergoy...awhhhhh....." pekik Ravin saat cubitan kecil Els menyapa pinggang nya.


"Aku akan minta pak ustadz itu untuk meruqyah kamu nanti Mas. Biar otakmu sedikit normal dan tidak kotor lagi" kata Els mencebikkan bibirnya, Ravin yang mendengar itu hanya tersenyum lalu menciumi pundak Els.


Sepasang mata sejak tadi memperhatikan pasangan suami-istri itu yang terlihat mesra dan romantis. Arya, sejak tadi hanya fokus melihat Ela dan ravin dengan merapalkan beberapa kalimat dalam hatinya.


Acara tasyakuran itu telah selesai dengan sempurna, beberapa pekerja dan tetangga yang rewang mulai membereskan rumah pak Rusli yang terlihat berantakan. Ada juga yang membereskan dapur di bangunan belakang, dan membuat berbagai makanan untuk mereka bawa pulang.


"Di dapur masih ada banyak orang?" tanya Lisa bergabung dengan Els dan yang lainya di ruang keluarga. Sedangkan kedua putrinya sudah tidur bersama dengan pak Rusli yang memang sudah kelelahan.


"Ya, hanya tetangga kiri kanan dan juga bude Jum sama Bibik Sumarni" kata Els duduk di sebelah Ravin sambil melihat Kinara, Ciara dan juga Arsen yang sedang bermain.


"Mas, sama mbak Els lama kan disini?" tanya Emir tangannya membelai rambut panjang Lisa.


"Seminggu, kasian pak Eko kalau cepat-cepat pulang" jawab Ravin.


"Om Arya, nanti Kinar sekolah SMP nya di Jakarta saja ya. Biar Cia ada temennya" kata Ciara saat melihat Arya keluar dari kamar.


"Kalau Kinara di Jakarta, Om sendirian dong dirumah" kata Arya, ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Yahhh...benar juga" kata Ciara terlihat sedih.


"Kita masih bisa bertemu dan bermain saat liburan Kak" ucap Kinara, gadis itu merasa cocok berteman dengan Ciara yang menerimanya apa adanya, tidak seperti teman-temannya disekolah.

__ADS_1


"Tapi sesekali kalau libur kamu harus ke Jakarta dan menginap di rumahku. Boleh kan Om?" tanya Ciara.


"Ya, boleh" sahut Arya tersenyum membuat kedua gadi itu tersenyum senang.


"Lebay" cibir Arsen lalu pergi ke kamarnya.


"Biarkan saja dia, Arsen memang selalu iro kalau kumpul begini" kata Ciara.


"Iri kenapa Cia?" tanya Emir.


"Karena tidak ada teman lelakinya hahahaaaa, Arsen hanya punya teman lelaki jika mengunjungi rumah Tante Widia" kata Ciara.


"Semoga saja adiknya Zoya nanti cowok. Biar Arsen ada temennya " kata Kinara.


"Kalau cewek lagi juga gak apa-apa, bukan nya makin seru?" kata Ciara di sambut tawa Kinara dan yang lainya.


"Kalau cewek lagi, berarti Emir harus bekerja lebih keras lagi untuk menghamili Lisa" celetuk Ravin.


"Bukan masalah Mas, iya kan sayang" kata Emir memeluk Lisa.


"Ckk bisakah kalian tidak bermesraan di hadapanku?" kesal Arya melihat Ravin dan Emir memeluk istrinya masing-masing.


"Iri bilang Boss" cibir Lisa menjulurkan lidahnya membuat Arya semakin kesal.


"Mas Arya gak ada rencana menikah lagi?" tanya Emir.


"Mas masih ingin menikmati waktu berdua dengan Kinara, dan belum berpikir kearah sana" jawab Arya.


"Mas masih muda, jika menemukan wanita yang cocok. Sebaiknya Mas menikah lagi" ujar Lisa.


"Tentu saja, tapi sekarang Mas cukup bahagia hidup berdua dengan Kinara" kata Arya menatap putrinya yang tersenyum bahagia bersama anak sambung mantan istrinya.


"Tidak semua kisah harus berakhir dengan bahagia kan? Beberapa kisa harus berakhir duka dan lara, bahkan ada kisah yang selesai tanpa penyelesaian, dan jika kisahku menjadi salah satu kisah yang memiliki akhir tidak bahagia, maka aku hanya perlu menjalani ya dengan baik tanpa memikirkan bahagia atau tidak" ucap Arya dalam hati, pria itu mengambil nafas dalam-dalam dan kembali ke kamarnya.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


END


__ADS_2