My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Hidup Baru


__ADS_3

Arya mulai menyiapkan dokumen perceraian nya dan Els, upaya yang di lakukan nya untuk mempertahankan istrinya ternyata tidak membuahkan hasil. Ya sampai detik ini Els masih melayani segala kebutuhan Arya dengan baik, kecuali dalam urusan ranjang, sudah hampir dua bulan Els tinggalkan, pun Arya juga tidak memintanya.


"Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik" ucap Arya memijat pelipisnya. Lalu ia berniat untuk pulang dan membicarakannya semula dengan Els.


🍀🍀🍀


Lisa baru saja pulang dari kampus, adik iparnya Els itu baru beberapa bulan yang lalu menyandang gelar mahasiswi baru di salah satu kampus yang ada di kota ini.


"Mbak, buatin aku minuman dingin dong" perintah Lisa pada Els, yang sedang membaca buku resep di ruang tengah.


"Kamu kalau mau minuman dingin buat sendiri Lis, memangnya kamu siapa berani menyuruh-nyuruh Els?" ucap Bu Nunik membuat Els heran. Sebab sudah biasa Lisa bersikeras seperti bos di rumah ini.


"Ibu kenapa sih? Lisa tuh capek baru pulang dari kampus, biasanya juga Lisa nyuruh mbak Els dan ibu diam saja" ucap Lisa.


"Sekarang kau tidak boleh menyuruh Els. dan kamu lanjutkan kegiatan mu Els" tegas Bu Nunik.


"Tidak apa Bu, biar Els mem...."


"Kamu sudah tidak menganggap wanita tua ini sebagai mertuamu Els? kamu itu masih istri sah Arya, dan ibu punya hak penuh untuk mengatur mu. Jika sudah tidak mau di atur ibu tunggu kau dan Arya benar-benar bercerai" ketus ibu Nunik.


"Iya Bu" sahut Els kembali membuka lembaran buku resep ya.


"Ibu ini apaan sih, gak jelas deh" kesal Lisa memanyunkan bibirnya.


"Kamu juga Lisa, jika tidak suka dengan aturan rumah yang ibu buat, silahkan keluar dari rumah ini" serunya membuat putrinya terkejut.


"Ibu abis makan apa sih? aneh deh" gerutu Lisa menghentakkan kakinya melangkah ke dapur mengambil minuman dingin yang ada di kulkas.


"Assalamualaikum" ucap Arya memasuki rumah.


"Walaikumsalam salam" jawab Els dan Bu Nunik. Els mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu, lalu Bu Nunik juga mengulurkan tangannya untuk menyalami Arya.


"Terimakasih" ucap Arya menerima segelas air putih dari Els.


"Sama-sama" jawab Els dengan wajah biasa saja.


"Bisa kita bicara Els?" tanya Arya.


"Ya"


"Duduklah, ibu juga duduk" pinta Arya. Pria itu menghela nafas panjang dan berat.


"Els, apakah kamu benar-benar ingin berpisah denganku?"


"Ya"


"Kau yakin Els?"


"Yakin" ucap Els menunduk.

__ADS_1


"Jika memang begitu, aku akan mengabulkan keinginan mu" ucap Arya.


"Benarkah?" Els langsung mengangkat wajahnya menatap Arya dengan rona bahagia.


"Apakah kau sebahagia itu berpisah denganku?" Arya menatap sendu pada Els.


"Tidak mas, hanya saja aku menyadari jika hubungan ini tetap di lanjutkan, tidak akan membuat mu atau aku bahagia. Aku bukan istri yang baik untuk mu, Maafkan aku. Aku juga bukan menantu yang baik untuk ibu, maafkan Els ya Bu" ucap Els menatap ibu mertuanya.


"Ibu juga minta maaf jika selama ini ibu terlalu menyusahkan mu" ucap Bu Nunik.


"Aku juga minta maaf karena gagal menjadi suami yang baik untuk mu Els" sesal Arya.


"Kamu suami yang baik mas, hanya saja kamu bertemu dengan wanita yang tidak tepat seperti diriku" ucap Els. "Aku yakin di masa depan istrimu akan bahagia memiliki suami seperti mu" Els tidak mau Arya merasa bersalah, biarlah semua sakit dan trauma menjadi milik Els semua.


"Terimakasih telah mendampingiku selama empat tahun ini" ucap Arya tulus.


"Aku juga berterimakasih mas, marya Arya sudah membimbing ku selama ini, terima kasih telah memberikan warna indah dalam hidupku" sahut Els yang tak kalah tulus.


🍀🍀🍀


'Delapan bulan kemudian'


Jakarta, kota metropolitan itu tampak begitu ramai, sekarang masih pukul 07.15 pagi, tapi kendaraan roda empat sudah memenuhi setiap jalan yang ada di ibu kota, kemacetan mengular di sepanjang jalan.


"Ya ampun macetnya" keluh Els melihat kepadatan kendaraan. "Kemana tadi Widia?" gumam Els melihat sekitar dengan menenteng belanjaan di tangannya.


"Capek banget sih" keluh Els, meletakkan belanjaan nya di bak mobil.


"Minum dulu" Widia memberikan sebotol air mineral dingin.


"Kamu baik banget, makasih ya" ucap Els, langsung menenggak minuman nya.


"Belanjaan nya udah semua atau masih ada yang kurang?" tanya Els.


"Udah kok, udah lengkap. Ayo kita pulang" ajak Widia langsung masuk dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


Els bekerja di warung bakso milik Widia, teman Els itu baru saja menikah tahun lalu dan suaminya memberikan modal usaha karena tidak ingin Widia bekerja sebagai baby sitter lagi. Dan akhirnya Widia membuka sebuah warung bakso di daerah Cengkareng.


Warung bakso itu lumayan menghasilkan terbukti Widia punya tiga orang karyawan lainnya selain Els, dan suami Widia sensor bekerja di sebuah bank swasta.


"Atasan suami ku lagi cari pengasuh untuk anaknya" ucap Widia.


"Anaknya umur berapa? gajinya? heheee" tanya Els mendapatkan tatapan tak menyenangkan dari Widia.


"Kan aku hanya tanya"


"Anaknya perempuan, umur tiga tahun sih. dan gajinya 3,5 juta"


"Wahhhh besar itu" ucap Els.

__ADS_1


"Iya memang besar, dari pada aku yang hanya menggaji mu 1,7 juta"


"Bukan begitu Wid, kamu kan tahu aku masih punya hutang 7 juta lagi sama kamu" ucap Els, hutang saat Els pulang kampung menjenguk almarhumah ibunya dulu. Widia meminjami Els 10 juta, dan Els baru bisa mencicilnya enam bulan ini, itu pun hanya 500 ribu perbulan nya.


"Kan sudah aku bilang gak usah di bayar"


"Gak bisa gitu dong Wid, ajukan bilangnya pinjam, berarti harus di kembalikan. Lagian uang itu juga aku gunakan untuk mengurus semua keperluan almarhumah Mamak"


"Terserah kamu saja deh. Tapi aku cerita ini sama kamu karena memang mau menawarkan pekerjaan itu sama kamu sih" ucap Widia.


"Benarkah? ya ampun, beruntung banget sih aku punya sahabat kayak kamu" ucap Els mencari memeluk Widia yang tengah mengemudikan mobil bak itu.


"Jangan macem-macem, aku lagi nyetir"


"Oh iya, lupa. maaf" cicit Els.


"Kamu mau jadi baby sitter?"


"Mau dong, kerjanya apa aja sih?"


"Ya kayak ngasuh anak sendiri, nemenin main, ngasih makan, mandiin, nganterin sekolah, nidurin, ngajarin ini itu, dan yang penting ajarin juga sopan santun" tutur Widia.


"Oh gitu"


"Tapi hati-hati, atasan suamiku itu orangnya perfeksionis, galak dan sombong tentunya"


"Benarkah?"


"Ya, maklum saja dia masih muda, tampan dan kaya"


"Oh begitu, jadi kalau orang yang tampan, muda dan kaya harus galak dan sombong?"


"Gak juga sih, tapikan rata-rata memang begitu. seperti yang sering kamu baca di novel-novel itu hihihi" Widia tersenyum geli.


"Gak usah nyindir ya, itu hobi aku taukkk, hanya seorang readers yang paham betapa indahnya dunia novel" gerutu Els yang merasa tersindir oleh kalimat Widia.


"Hahaahaaa....." Widia terasnya puas bisa menggoda sahabatnya itu. Hidup Els sekarang lebih santai dan tidak tertekan. Widia selalu mengerti dan memberikan waktu untuk Els menyendiri, selalu mendengarkan cerita Els, dan selalu mensupport Els untuk lebih menikmatinya hidupnya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2