My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Tanpa Judul


__ADS_3

Disebuah kamar dengan cahaya redup, seorang pria memeluk erat wanitanya dengan penuh rasa kasih sayang, pria itu sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanitanya di saat yang tepat. Terbesit rasa bersalah karena dirinya hampir saja tidak bisa menjaga sang wanita dengan baik karena ulah seseorang dari masa lalunya, namun ia berjanji akan lebih menjaga dan melindungi wanitanya sebaik mungkin.


"Mas, udah ihhhh" ucap Els saat tangan Ravin terus membelai perut buncitnya.


"Mas ingin menyapanya sayang, kan mas tidak kamu izinkan untuk menjenguknya" ucap Ravin mencari pembenaran.


"Jangan mengada Mas, kita kemarin sudah melakukanya" kata Els mengingatkan sang suami.


"Iya itu kemarin, malam ini beda lagi" bujuk Ravin.


"Yah mau ya, sekali saja" pintanya.


"No, sekali mu itu berkali-kali Mas" tolak Els tidak percaya dengan sekali yang Ravin katakan.


"Kalau begitu Mas mau yang ini saja" Ravin memindahkan tangannya pada pegunungan ranum dan merekah milik Els.


"Aku akan tidur dengan putriku saja" ucap Els bangkit dari tidurnya.


"Sayang jangan" cegah Ravin.


"Baiklah Mas tidak akan memaksamu" ucapan mengalah, bulan salah juga jika Els menolak, sebab dirinya suka lupa diri jika sudah di kuasai birahi, dan membuat wanita hamil itu kewalahan melayaninya.


"Ayo sini, Mas hanya ingin tidur dan memelukmu" Ravin kembali merebahkan tubuh Els dan langsung memeluk nya.


"Maaf" bisik Ravin.


"Untuk?" Els tidak mengerti, namun ia bisa merasakan jika kata maaf yang baru saja Ravin ucapkan bermakna dalam dan penuh penyesalan.


"Karena Mas belum bisa menjagamu dengan baik, karena wanita dari masa lalu Mas mencoba menyakiti mu dan anak kita" ucapnya menatap dalam iris mata Els.


"Mas berjanji akan menjadi suami yang lebih baik lagi untuk mu"


Cup....

__ADS_1


Pria itu mengecup dalam-dalam kening Els dengan rasa cinta yang membuncah.


"Mas adalah suami yang terbaik, Mas sangat menjagaku dan memberikan semua yang terbaik untuk ku. Jangan pernah meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah Mas lakukan" ucap Els meraih tangan Ravin dan menggenggamnya.


"Atau Mas masih mencintai mbak Sintia?" Els menatap Ravin penuh selidik.


"Bicara apa kamu ini sayang? Mana mungkin Mas masih mencintai Sintia?"


"Lalu kenapa Mas harus minta maaf atas kesalahan mbak Sintia?" Ravin menatap Els sebelum menjawab pertanyaan sang istri.


"Hubungan mas dan Sintia memang sudah berakhir saat ketukan palu di meja pengadilan itu berbunyi, meskipun saat itu Mas masih memiliki perasaan padanya, tapi itu semua sudah tidak berarti. Namun secara tidak langsung Mas masih tetap terhubung dengan Sintia, karena ada Ciara diantara kami, dan Mas harap kamu mengerti" tutur Ravin menghela nafas.


"Tapi sekarang, tepatnya saat kita menikah dalam hati Mas hanya ada kamu dan Ciara, Mas minta maaf karena masih mengingat jika Sintia adalah ibunya Ciara, dan kini Ciara di bawah pengasuhan mas juga dirimu. Mas hanya tidak ingin apa yang di lakukan oleh Sintia mempengaruhi kasih sayangmu pada Ciara" ucap Ravin sangat berhati-hati mengatakan semuanya pada Els.


"Mas terlalu berlebihan, Apapun yang dilakukan oleh mbak Sinta padaku, semua itu tidak akan mempengaruhi rasa sayang dan cintaku pada Ciara. Aku mencintai Ciara lebih dari cintaku pada Mas, dan meskipun setetes darahku tidak ada yang mengalir dalam tubuh Ciara, Ciara adalah anakku, Ciara putriku, dia milikku sampai kapanpun" ucap Els dengan penuh keyakinan, apalagi sekarang tidak akan ada Sintia dalam hidupnya.


"Mas tidak tahu kebaikan apa yang telah di lakukan oleh orang tua mas semasa hidupnya, sehingga Mas memiliki istri sebaik dirimu" ucap Ravin terharu mendengar penuturan Els.


"Terimakasih sayang, terimakasih. Mas sangat beruntung dan bersyukur memiliki istri seperti dirimu" Ravin memeluk Els dengan penuh rasa syukur dan bahagia.


🍀🍀🍀


Pukul 07.00 seorang wanita paruh baya tengah menata hasil masakannya di meja makan, wanita yang dulunya terlihat modis, rapih dan bossy kini terlihat sangat memprihatinkan dengan tubuh semakin kurus tak terawat, dan wajah yang semakin menua.


Nunik Astuti, kini bagaikan seorang pelayan di rumahnya sendiri, di usia yang sudah tidak muda lagi, ia harus memaksakan diri untuk bekerja lebih keras membereskan rumah juga memasak untuk seluruh penghuni rumah. Bu Ninik kini tidak bisa leha-leha atau bersantai ria merawat dan memanjakan diri. Bahkan ia sering melewatkan sarapan atau makan siangnya.


"Selamat pagi Bu" sapa putranya yang baru saja sampai di meja makan bersama dengan putri kecilnya, Kinara.


"Selamat pagi, ayo sarapan. Dimana Cindy?" tanyanya dengan senyum di wajahnya seolah tidak memiliki beban pikiran.


"Cindy sebentar lagi akan kemari"


"Ya sudah, kalau begitu kamu makan duluan" Bu Nunik mengambil nasi untuk sang putra.

__ADS_1


"Lisa kemana Bu?"


"Ibu tidak tahu, dia bilang kalau ada urusan lalu pergi begitu saja" ibu Nunik baru merasa jika akhir-akhir ini putri bungsunya itu sangat jarang berada di rumah, bahkan Bu Nunik semakin tidak mengenali Lisa.


"Nanti biar Arya yang bicara pada Lisa, agar gadis itu tidak terlalu sering keluar rumah selain pergi kuliah" ucap Arya merasa jika Lisa kini sudah tidak bisa ia kendalikan.


"Terserah padamu saja" kata Bu Nunik pergi dari meja makan meninggalkan Arya dan cucunya. Wanita itu harus bersiap-siap untuk pergi ke toko langganan nya untuk menjual emasnya guna kelangsungan hidup.


Arya sudah selesai sarapan dan kini sedang menyuapi sang putri, sedangkan Cindy tengah makan dengan tenang tanpa repot-repot mengurusi anaknya. Ya seperti itulah yang terjadi setiap hari, Arya tidak bisa marah lagi jika saat dirinya di rumah malah sibuk mengurus anaknya, seperti bermain atau makan begini. Selagi tubuhnya masih mampu, Arya pasti akan melakukannya, kadang juga di bantu Ibunya.


Bagi Cindy, saat seperti ini adalah saat yang sangat ia suka dan ia tunggu, karena jika Arya di rumah maka ia akan bersantai dan memanjakan tubuh tanpa perduli dengan anaknya. Sikap Cindy semakin semena-mena setelah tahu jika Arya akan melakukan apa saja di keutuhan rumah tangga nya, mengingat ini adalah pernikahan kedua Arya terlebih sudah ada Kinara diantara mereka. Hal itu semua membuat Arya selalu mengalah pada Cindy, karena wanita itu mengancam perceraian jika kehendaknya tidak di turuti oleh Arya.


"Ibu mau kemana?" tanya Arya melihat Bu Nunik keluar dari kamar dengan berpakaian rapih.


"Ibu mau ke pasar, belanja keperluan dapur" jawab Bu Nunik tidak sepenuhnya bohong.


"Bareng sama Arya saja kalau begitu, Kinara juga sudah selesai makan" ucap Arya bangkit dari duduknya dan mengangkat baby chair Kinara untuk di dekatkan pada Cindy.


"Mas berangkat dulu sayang" pamit Arya mengecup kening Cindy sekilas.


"Papa berangkat kerja ya sayang"


Cup...cup....cup....


Arya mencium pipi chubby putrinya, entah kebetulan atau bagaimana, Kinara adalah anak yang pendiam dan tidak pernah rewel jika di tinggal bersama Cindy.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2