
Ravin mengajak Ciara dan Els memasuki salah satu toko baju milik brand asal Spanyol. Hal itu tentu saja membuat Els mendadak sakit kepala, mengingat harga paling murah berkisar 300k untuk sepotong baju. Jika beli di pasar, Els bisa mendapatkan tiga potong baju plus masih memiliki sisa.
"Pak" Els menyentuh lengan Ravin.
"Ada apa?" Ravin bisa melihat kegelisahan di wajah Els.
"Kita pulang saja" lirih Els agar Ciara tidak mendengar.
"Kamu belum beli baju, bagaimanapun bisa pulang? pilihlah baju yang kamu mau" perintah Ravin duduk di salah satu sofa yang dada di toko itu.
"Tapi pak..."
"Pilih Els, saya tidak mau mengulang" tegas Ravin, sedangkan Ciara sibuk dengan ponsel milik ayahnya.
Els akhirnya melihat-lihat baju yang ia inginkan. Tidak, bukan itu sebenarnya yang Els lihat, melainkan bandrol harga yang tertera di setiap baju yang ia ambil. Membuat Els banyak-banyak mengelus dada.
"Kau masih belum menemukan apa yang kau inginkan?" Ravin tiba-tiba saja berdiri di belakang Els.
"Pak, disini bajunya mahal-mahal. Kita pulang saja" ucap Els menarik Ravin dan sedikit berbisik. Membuat duda satu anak itu merasakan getaran aneh.
"Ck" kesal Ravin menatap Els. "Kau duduklah dan temani Ciara" perintahnya, tanpa membuang waktu Els langsung menemani anak asuhnya.
"Mang seberapa mahalnya?" ucap Ravin mengambil dress yang tadi sempat di pegang oleh Els.
"Hanya 450rb" gumam Ravin, lalu ia mengambil beberapa jenis dress dari Midi Vest drees, Off shoulder, One shoulder, Fit and Flare, Turtleneck, Square neck, Asimetris, Kasual, Wrap, Floral dan masih banyak lagi. Jika di hitung, lebih banyak dress untuk Els dari pada Ciara. Menurut Ravin tidak masalah memberi nanya baju untuk Els, mengingat Els sangat tulus menyayangi putri nya.
"Ayo pulang" ajak Ravin menenteng dua paper bag besar di tangan nya.
🍀🍀🍀
Begitu sampai rumah, Els langsung menggetarkan Ciara yang sudah tidur. Gadis cilik itu sangat kelelahan hingga saat Els menggendongnya ia tidak bangun. Els terpaksa hanya menyeka bagian-bagian tubuh Ciara, karena Ciara benar-benar tidak membuka matanya meskipun Els membangunkan.
"Ini milikmu, dan ini punya Ciara, pastikan di cuci dulu sebelum kalian mengenakannya" Ravin memberikan tiga paper bag, dua di antaranya milik Els. Lalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Els.
Els langsung melihat harga baju yang Ravin belikan, dan melihat itu membuat jantung Els tidak baik-baik saja.
"Bagaimana aku akan membayar nya" Els menjambak rambutnya frustasi, lalu ia mendatangi kamar Ravin guna memperjelas sistem pembayaran baju miliknya.
Tok...tok...tok...
"Masuk" seru Ravin dari dalam.
Ceklek...
__ADS_1
Els membuka pintu kamar Ravin dan mendapati Ravin hanya mengenakan lilitan handuk di pinggang nya.
"Aaaaa...." jerit Els menutup rapat matanya menggunakan kedua tangan nya.
"Kenapa bapak tidak memakai baju?" protes Els tanpa sadar menggunakan nada tinggi.
"Memangnya ada yang salah?" jawab Ravin santai dengan mengenakan piyama. "Jika saya tak mengenakan apapun juga tidak masalah, selama masih dalam kamar saya sendiri" ucap Ravin.
"Ada apa?"
"Saya akan kembali lagi nanti, jika bapak sudah memakai baju" cicit Els berusaha mencari pintunya.
"Bukalah Maya, aku sudah berpakaian lengkap" perintah Ravin, lalu Els mengintip di antara sela jari nya.
"Huhhhh" Els merasa lega karena Ravin tidak menipu nya.
"Ada apa?" ulang Ravin.
"Eh.., itu baju-bajunya bagaimana pak? sudah saya katakan baju-baju di sana itu mahal-mahal. Uang sebanyak itu jika di bulan di pasar bisa dapat tiga kali lipat nya" oceh Els.
"Sekarang saya harus bagaimana mencicilnya pada bapak? potong gaji sampai tahun depan juga belum tentu lunas" keluh Els.
"Sudah selesai ngocehnya?" tanya Ravin datar.
"Saya membelikan baju itu untuk kamu sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu menjaga dan menyayangi Ciara dengan baik. Saya tidak akan memotong gaji kamu, lagi pula saya tulus memberikan nya untuk mu" jelas Ravin.
"Tapi pak, saya juga tulus menyayangi Nona Ciara, meskipun bapak membayar saya. Tapi kasih sayang yang saya berikan tulus, to pernah mengharapkan imbalan seperti ini" tutur Els menundukkan kepalanya.
"Saya tahu itu, maka nya saya memberikan sedikit hadiah untuk mu. Jangan menolak nya, karena saya tidak suka penolakan" tutur Ravin.
"Kalau begitu terima kasih banyak pak, saya permisi" pamit Els hanya di jawab anggukan kepala oleh Ravin.
🍀🍀🍀
Setelah perdebatan baju itu, Ravin lebih sering memberikan hadiah pada Els. Tentu saja semua perhatikan Ravin menjadi buah bibir di antara pekerja yang berada di rumahnya, namun semua bisa di Kendari oleh mbok Yati sebagai pelayan senior di rumah itu.
"Ayah, Cia ingin ikut lomba mewarnai bersama bunda, tapi bunda tidak mau" adu Ciara saat sarapan bersama ayahnya juga Els.
"Kenapa bunda tidak mau?" tanya Ravin mulai menyuapkan makanan nya.
"Tidak tahu" Ciara mencebikkan bibirnya, sedangkan Els hanya tertunduk lesu.
"Ada apa?" namun tidak ada reaksi apapun baik dari Els maupun Ciara.
__ADS_1
"Els" Els mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Ravin. "Ada apa katakan?"
"Apa nya Pak?" tanya Els.
"Kenapa kau tidak mau ikut berlomba dengan Ciara?"
"Itu...itu karena perlombaan yang di peruntukan anak dan orang tuanya pak, tentu saja saya tidak bisa ikut" lirih Els, ternyata sedekat apapun dirinya dengan Ciara, masih ada saja batasannya.
"Memangnya kau benar-benar tidak bisa mengikuti nya?"
"Pak, sekolah sudah menentukan aturannya, dan kita harus mematuhinya" lirih Els dengan berat hati.
"Bagaimana jika Cia ikut lombanya dengan Ayah?"
"No, Cia hanya ingin lomba dengan Bunda" tegas Ciara, keras kepala seperti Ravin.
"Hufff, memang kapan lombanya?"
"Dua minggu lagi" ucap Els.
"Baiklah ayah akan pikirkan sebuah cara" janji Ravin pada putrinya.
Ravin mengantar Ciara dan Els ke sekolah, seperti biasa Ravin hanya sampai pintu gerbang lalu melanjutkan perjalanan nya ke kantor.
Ravin tidak tahu cara apa yang bisa membuat Els mendampingi Ciara dalam perlombaan itu, ia yang berjanji tapi dirinya juga yang pusing dengan janji itu.
"Apa aku harus menikahinya Els?" hanya cara itu yang terlintas di pikiran Ravin, tapi tidak lucu juga jika sebuah pernikahan terjadi hanya karena lomba mewarnai, terlebih Ravin dan Els pernah sama-sama gagal di pernikahan pertamanya.
"Aku memang tidak mencintai Els, tapi berada di dekatnya bersama dengan Ciara membuatku nyaman. Apa lagi Els terlihat tulus menyayangi Ciara, tapi...." masih ada keraguan dalam hati Ravin.
"Els tidak mungkin menerima sembarangan pria untuk jadi suaminya. Oh ayolah Ravin, kemana otakmu yang jenius itu?" frustasi Ravin, ia merasa menemui jalan buntu.
"Sial" umpat Ravin kesal karena tidak menemukan jalan lainnya. "Tidak ada salahnya mencoba, bukankah cinta akan datang karena terbiasa?" Ravin mantapkan hatinya untuk mengajak Els menikah.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺