
Meskipun terjadi perdebatan yang alot antara Ibu Nunik dan Els, namun akhirnya Els bisa pulang kampung menjenguk Mamak nya yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Bapak" panggil Els ketika memasuki ruang perawatan Mamak nya.
"Kamu datang Els" sahut Bapaknya.
"Tentu Els datang, Emir yang mengabari kemarin" Jawabnya. "Bagaimana kondisi Mamak pak?" tanya Els menatap sendu tubuh mamaknya yang terbaring tak berdaya di ranjang pasien.
"Masih belum tahu, nanti sore di jadwalkan untuk pemeriksaan CT scan" jawab bapaknya.
"Bapak sudah makan?" Els melihat tubuh Bapaknya yang dulu kuat gagah saat memukuli nya, kini terlihat menua dan kurus.
"Bapak gak selera makan, kamu sendiri? Arya mana?" tanya Bapak.
"Els sendiri pak, Mas Arya kan kerjaan nya gak bisa di tinggal" jawab Els. pak Rusli mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti kesibukan sang menantu.
"Bapak harus makan, selera gak selera harus makan, nanti kalau bapak juga sakit gimana?" bujuk Els.
"Nanti saja nunggu Emir" jawab pak Rusli.
Els melihat sekitar ruangan ada tiga ranjang terisi pasien dan dua ranjang kosong. Ini adalah ruang perawatan kelas tiga, maklum saja keluarga Els bukanlah orang mampu yang bisa menggunakan ruang perawatan kelas dua apalagi kelas satu.
Els mengenggam tangan mamaknya dan memandang wajah yang mulai mengeriput itu, Els masih ingat seperti apa garangnya wajah itu saat Els membuat kesalahan kecil, namun begitu Els tidak ada dendam ataupun marah pada orang tuanya, hanya saja Els kecewa atas perlakuan orang tuanya, kenapa harus sekasar itu? harusnya bisa lebih lembut agar Els tidak memiliki kenangan yang buruk tentang kedua tangannya.
Juga agar Els tidak di bayang-bayangi oleh mimpi buruk setiap lelah menyapa tubuhnya, harusnya Els bisa lebih percaya diri menghadapi dunia, tidak seperti sekarang. Seolah Els membatasi diri dari dunia, baik dari pertemanan ataupun impian dan cita-cita.
Enghhhh....
Mamak Els mulai membuka matanya, dan menatap sayu pada putri sulungnya.
"Mamak udah bangun?" sapa Els dengan senyum lembutnya.
"Kamu disini?" tanya mamak Sulastri.
__ADS_1
"Tentu, Els akan menemani Mamak disini" jawab Els menggenggam erat tangan Mak Lastri. "Apa yang mamak rasakan? bagian mana yang sakit?" tanya Els.
"Badan mamak sakit semua, yang paling sakit perut mamak" adu Mak Lastri. "Mungkin mamak udah mau mati" sambungnya.
"Mamak gak boleh bicara begitu, mamak kan belum liat Emir menikah. Anak kesayangan mamak itu sangat manja, siapa yang akan menggunting kuku nya kalau mamak gak ada?" ucap Els menahan sedih.
"Mamak gak kuat Els, mamak capek" tuturnya putus asa.
"Mamak yang semangat berobat nya, mamak harus yakin bisa sembuh. Els sekarang sudah menikah, Els harus ikut mas Arya, siapa yang ngurusin rumah kalau mamak gak ada? siapa yang masakin bapak sama Emir? mamak tahukan kalau suami mamak itu hanya cocok dengan masakan mamak?" tutur Els mengingatkan semua tanggung jawab Mak Lastri.
"Kan kamu bisa pindah kerumah Mamak, ajak Arya juga" ucapnya.
"Gak bisa, mas Arya mau kerja apa? mamak juga belum lihat anak-anak Els kan? mamak harus semangat sembuh, nanti Els ajak jalan-jalan keliling kota, mamak harus panjang umur, gak boleh mikir yang aneh-aneh" ucap Els menahan air matanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Mak Lastri.
"Sudah, jangan khawatirkan Els, mamak mau apa? mau makan? minum?" tawar Els.
"Sudah" ucapnya, lalu tak lama kemudian Mak Lastri memuntahkan kembali air yang baru saja membasahi tenggorokan nya,
Hoekkkkk......hoekkk....
Mak Lastri memuntahkan cairan coklat yang jumlahnya lebih banyak daripada air yang baru saja ia minum. Els yang baru pertama kali menyaksikan Mak Lastri muntah dengan luar bisa masih terdiam (shock) tentu saja.
"Mamak" jerit Els langsung menadahkan sebuah baskom yang tadi ia lihat di bawah ranjang.
"Ya Allah Mak...." ucap Els yang sudah menagis. Tak lama pak Rusli pun masuk bersama Emir, kedua pria itu sigap memijat tengkuk Mak Lastri dan mengelap bagian tubuh Mak Lastri yang terkena cairan muntahan itu.
"Udah?" tanya Pak Rusli ketika istrinya sudah sangat lemas dan tidak muntah lagi, sedangkan Mak Lastri hanya mengangguk lemas.
Emir langsung menutup kain penyekat dan mengambil ember di kamar mandi, Els pun segera mengganti baju Mak Lastri yang tak luput dari muntahan nya.
Dengan telaten Els mengelap tubuh wanita yang melahirkan nya itu, Els membersihkan dengan hati-hati dan penuh kelembutan. Wanita paruh baya itu benar-benar terpejam tak berdaya, tubunya lemas bagai tanpa tulang.
__ADS_1
"Els cuci ini dulu" ucap Els pada pak Rusli dan Emir yang ada di dekatnya, lalu Els membawa kain-kain dan pakaian kotor Mak Lastri ke kamar mandi untuk di cuci.
Els mencucinya dengan lelehan air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya, ia tak menyangka jika tubuh yang dulu sehat dan kuat kini terbaring lemah tak berdaya. Jika hanya minum air putih saja seperti itu, bagaimana bisa sembuh?
Bayang-bayang Mak Lastri meninggalkan Els dan keluarganya sungguh membuat wanita berusia 27 tahun itu ketakutan. Ia tak pernah membayangkan akan secepat ini berpisah dengan wanita yang telah melahirkan nya ke dunia ini.
"Mamak harus sembuh, apapun yang terjadi. Mamak gak boleh menyerah, mamak harus kembali sehat" gumam Els bersimbah air mata dengan tangan terus mengucek-ngucek kain kotor yang ada di dalam ember.
🍀🍀🍀
Mak Lastri sudah melakukan pemeriksaan CT scan tadi sore dan nanti malam hasilnya akan keluar, bersama dengan dokter yang bisa membaca hasil pemeriksaan tersebut. Kini Mak Lastri, Pak Rusli berada di kamar perawatan. Sedangkan Els dan Emir pergi keluar membeli jus jambu yang di inginkan oleh Mak Lastri.
"Sepertinya mamak gak mungkin langsung sakit parah begitu?" ucap Els sambil berjalan berdampingan dengan Emir.
"Memang sudah 6 bulan ini mamak berobat terus mbak, tapi hanya ke bidan-bidan gitu, karena mamak gak mau di bawa periksa kerumah sakit. Mungkin mamak mikirin biayanya" sahut Emir.
"Kamu kenapa gak ngabarin mbak kalau mamak sakit-sakitan?" tutur Els.
"Kalau Emir kabarin, memangnya mbak Els bisa langsung pulang?" tanya Emir, benar juga apa yang di katakan oleh adik Els ini. Meskipun di kabari belum tentu ia bisa pulang, ini saja Els pulang karena kemurahan hati Widia yang dengan suka rela membantu Els. Berharap pada Arya sungguh mustahil bagi Els.
Els dan Emir sudah sampai di ruang perawatan Mak Lastri, keluarga itu menunggu kedatangan dokter yang membawa hasil pemeriksaan dan membacakan hasilnya bagaimana dan penyakit apa yang sebenarnya menggerogoti tubuh wanita yang sangat berjasa dalam hidup seorang Elsava Ekavira itu.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1