My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Bukan Melamar


__ADS_3

Els terdiam mendengar pernyataan Ravin yang menginginkan dirinya untuk dijadikan seorang istri. Els masih belum percaya dengan apa yang Ravin katakan, ia juga bingung harus bereaksi seperti apa.


"Bapak baik-baik kan? apakah bapak merasakan ada yang sakit? atau..."


"Aku baik-baik saja, memang nya kenapa?"


"Sebab tadi saya mendengar bapak bicara aneh" cicit Els.


"Aneh? aneh seperti apa?"


"Saya dengar bapak ingin menikah lagi, dan bapak ingin menikah dengan saya. Atau telinga saya yang..."


"Els..." tegas Ravin.


"Ya Pak..."


"Ckk, berhenti memanggilku Bapak, aku belum setua itu" protes nya.


"Baiklah Tuan" Els mengganti panggilan nya.


"Tidak Tuan juga"


"Lalu saya har..."


"Panggil Mas aja"


"M...ma...mas?" terkejut Els. "Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, keputusan saya sudah final" Ravin tidak ingin di bantah.


"Baik Pak eh... Mas" ralat Els.


"Jadi bagaimana?" tanya Ravin.


"Apanya yang bagaimana Pak eh, maksudnya Mas"

__ADS_1


"Aku ingin menikahi mu Els, apakah kamu bersedia menjadi istri ku dan Bunda untuk Ciara?" Ravin menatap mata indah Els, membuat wanita itu menundukkan wajahnya.


"Kenapa harus saya pak emm.....Mas?"


"Sejujurnya aku belum mencintaimu Els" ucap Ravin, Els mengangkat wajahnya. "Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku ingin pernikahan kedua ku adalah yang terakhir dan untuk selamanya" sambung Ravin.


"Maksudnya adalah niat saya menikahi kamu ini sungguh-sungguh, bukan main-main karena pernikahan bukan untuk di jadikan permainan. Saya merasa nyaman bersama kamu, dan yang terpenting Ciara sangat sayang sama kamu bahkan dia lebih menyayangi mu dari pada ibu kandungnya. Semua yang aku lakukan memang untuk Ciara, tapi aku sangat berharap bisa membangun sebuah keluarga bahagia, tentunya bersamamu" jelas Ravin.


"Pak...emm... maksudnya Mas, sejujurnya saya belum memikirkan tentang pernikahan. Apalagi dengan kegagalan yang terjadi dalam rumah tangga saya sebelumnya, saya belum siap jika harus hancur dan kecewa lagi" ucap Els mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan juga Arya kala itu.


"Apa yang membuatmu takut?" Ravin tidak menyerah, Ravin yakin jika kegagalan nya dan Els bisa di perbaiki.


"Saya...."


"Bicaralah dengan santai Els, anggap saja aku temanmu"


"Aku takut kecewa lagi, aku takut jika kebahagiaan yang aku impikan di hancurkan orang lain, aku takut di salahkan, aku takut di anggap tidak berguna, aku takut seseorang menuntut menjadi sempurna, aku takut..." Els tidak mampu mengatakan semua ketakutan nya, kini hanya ada air mata yang membasahi pipinya.


"Els, jika saat ini aku belum mencintaimu, tapi percayalah kedepannya aku akan berusaha mencintai mu. Aku tidak menjanjikan kehidupan bahagia dan sempurna untuk mu, tapi aku berjanji akan selalu ada di sisimu, saat kamu membutuhkan pelukan, aku akan memeluk erat dirimu, saat kamu butuh bersandar, aku akan memberikan bahuku, saat kamu ingin mengeluh dan bercerita, kedua telingaku siap untuk mendengarkan nya. Aku bukan pria romantis, aku juga bukan pria yang peka, tapi aku tidak akan marah jika kamu menegurku saat ada kata-kata atau tingkah laku ku yang menyakitimu" Ravin menghela nafas panjang.


"Tapi Mas, aku bukanlah wanita yang sempurna"


"Lalu apakah menurutmu, aku ini pria yang sempurna?"


"Tentu, itu terbukti dengan adanya Ciara"


"Els, aku bukanlah pria yang menuntut jika seorang istri itu harus hamil dan melahirkan meskipun aku belum punya Ciara. Menikah berarti menjalani kehidupan bersama dengan pasangan, saling mengasihi, mencintai, menghormati, menghargai, menua bersama hingga akhir hidup. Anak itu bonus, rezeki dari Tuhan yang tidak bisa kita paksakan" penjelasan Ravin membuat Els tertegun, apakah benar Ravin berpikir begitu?.


"Kamu tidak perlu mempercayai perkataan ku, tapi kamu bisa membuktikan nya nanti" ucap Ravin tenang.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa?" Els menundukkan kepalanya.


"Els, aku pun tidak jauh berbeda denganmu. Aku juga takut gagal, dan kecewa. Tapi perasaan ingin hidup bahagia ku lebih besar dari pada ketakutan ku, aku memberanikan diri untuk melangkah maju meraih kebahagiaan di depan sana. Bersediakah kami menemaniku? mari kita berjalan bersama meraih kebahagiaan, meskipun kita tidak saling mencintai. karena kebahagiaan tidak harus bersama dengan orang yang kita cintai, tapi kebahagiaan tercipta ketika kita bersama dengan orang yang tepat" Ravin menadahkan tangan di depan wajah Els.


Dan seperti terhipnotis, kata-kata Ravin bagaikan mantra yang tidak bisa Els tolak, bahkan tanpa sadar tangan Els terulur menyambut tangan Ravin.

__ADS_1


"Terima kasih sudah bersedia menerima ku, dan berjalan bersamaku, aku berharap kita bisa menemukan kebahagiaan yang kita cari" ucap Ravin menyematkan cincin di jari manis Els.


"Mas..." Els terkejut bukan main.


"Percayalah padaku" Ravin meyakinkan Els, sebelum wanita itu melayangkan protes.


🍀🍀🍀


Ravin tak berhenti mengulum senyum di dalam kamar. Misinya untuk melamar Els telah ia selesaikan dengan sempurna meskipun dengan sedikit pemaksaan. Namun apapun yang Ravin lakukan semuanya bukanlah isapan jempol, ada niat baik dan ketulusan juga harapan besar untuk kembali memiliki sebuah keluarga bahagia, dengan memiliki Els sebagai istrinya, itu akan melengkapi kebahagiaan keluarga Ravin.


"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan dirimu Els" gumam Ravin memandangi foto Els yang dia ambil secara diam-diam.


"Aku harap minggu ini kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri" harap Ravin, terbayang penampakan Els tadi siang.


"Sepertinya aku sudah gila" Ravin menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya. "Tapi ini sangat wajar, karena aku tidak mungkin gila" Ravin bermonolog.


Di kamar Ciara, gadis kecil itu sudah terlelap ketika Els datang, dan hingga kini Els malah tidak bisa memejamkan matanya. Bola mata Els terus memandangi sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, kini jari manis Els tidak kosong lagi.


"Apakah keputusan ku benar untuk memulai kehidupan pernikahan dengan Mas Ravin?" Els belum yakin, sejujurnya Els memang tidak yakin, tapi semua kata-kata Ravin seolah mempunyai kekuatan magis.


"Tapi aku dan Mas Ravin sangat berbeda, Mas Ravin orang kaya, pintar dan tampan" tanpa sadar Els memuji Ravin tampan. "Sedangkan aku? cuma anak petani, yang bekerja jadi baby sitter. Apakah Mas Ravin nanti tidak malu jika memiliki istri sepertiku?" Els semakin tidak percaya diri.


"Bu Nunik, yang tidak terlalu kaya saja memperlakukan ku seperti itu" ingatan Els melayang pada mantan ibu mertuanya. "Lalu bagaimana orang tua Mas Ravin? yang memiliki anak tampan sempurna, masih muda, pekerjaan bagus. Tidak.... tidak, aku tidak bisa menjadi istri Mas Ravin. Aku tidak ingin di hina dan di permalukan lagi" ketakutan Els semakin nyata akan kejadian buruk di masa lalu terulang kembali.


"Aku harus mengatakan semuanya pada Mas Ravin besok" putus Els yakin menolak Ravin. Bayangan buruk kembali menari-nari di pelupuk matanya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2