My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Rencana Jahat


__ADS_3

Sintia dan Tari masih mengobrol di ruang tamu, sedangkan Vania sedang tidur dan Ciara tengah mewarnai tak jauh dari dua wanita dewasa itu berada. Sesekali telinga gadis kecil itu mencuri dengar apa yang tengah di bicarakan oleh Mami dan teman Mami nya itu.


"Jadi benar kalau istrinya Ravin sedang hamil?" tanya Tari.


"Sepertinya begitu" jawab Sintia lesu.


"Ehhh Lo tahu nggak obat yang bisa gugurin kandungan?" tanya Sintia.


"Buat apaan? Lo jangan macam-macam deh Sin, apalagi sama Ravin" ucap Tari mengingatkan Sintia.


"Tapi gue gak rela kalau ada wanita lain yang mengandung benih Ravin"


"Dan wanita yang sedang mengandung benih Ravin itu istri sah nya, kalau Lo lupa"


"Gue gak mungkin lupa, please Tar, cariin obat yang bisa buat gugurin kandungan" pinta Sintia memelas.


"Huffff....oke gue cariin, tapi ingat. Lo jangan bawa-bawa gue kalau Ravin murka" ujar Tari.


"Iya, iya...gue bakal main aman. Bahkan Ravin tidak akan tahu jika gue yang udah membuat istrinya itu keguguran"


"Jahat Lo ya"


"Kita ini sama, Lo juga jahat karena udah jadi pelakor" cibir Sintia.


"Ckk, udah gak usah bahas gue" kesal Tari.


"Makanya sesama wanita jahat saling mendukung, bukannya malah menghujat"


"Tapi gue benar-tidaknya mewanti-wanti Lo Sin, pokoknya gue gak mau nama gue terseret kalau sampai ada apa-apa sama bininya Ravin"


"Oke tenang aja" Sintia meyakinkan Tari.


"Jadi, kapan gue bisa dapet obat itu?"


"Lo butuh secepatnya?"


"Lebih cepat, lebih baik. Sebelum tuh kandungan wanita sialan membesar" sinis Sintia.


"Kasi gue waktu dua hari"


"Oke" Sintia setuju dengan tenggat waktu yang di minta Tari.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Emir dan pak Rusli dalam perjalanan pulang setelah menerima hasil MCU, dari serangkaian pemeriksaan yang dilakukan oleh pak Rusli tidak begitu buruk, namun tidak berarti baik juga. Sebab di usianya ini memang rentan terkena beberapa penyakit faktor U pokoknya, namun Emir lega karena kini kesehatan pak Rusli di pantau dokter, dan harus rutin periksa setiap sebulan sekali. Pak Rusli juga harus menjaga pola makannya agar tetap sehat dan panjang umur.


"Kamu tadi pagi kemana Mir?" tanya pak Rusli.


"Tadi pagi?"


"Setelah sarapan" ucap pak Rusli menginginkan putranya.


"Oh...itu, Emir ke UL Pak" jawab Emir jujur.


"UL? memangnya kamu mau lanjut kuliah?" pak Rusli sangat tahu jika dulu Emir terpaksa mengubur mimpinya untuk duduk di bangku kuliah.


"Tidak, Emir tidak akan punya waktu jika karus kuliah"


"Lalu?"


"Emmm.... Emir membantu bayar uang kuliah Lisa"


"Lisa? siapa?"


"Lisa, adiknya mas Arya, masa bapak lupa?"


"Ya karena Emir kasihan, Emir tahu rasanya sedih karena tidak bisa lanjut kuliah. Dan Emir tidak mau Lisa merasakan hal itu, sebab Emir sudah menganggap Lisa seperti adik Emir sendiri. Bapak gak keberatan kan?" tanya Emir, pak Rusli diam saja.


"Pak, bapak marah karena Emir bantuin Lisa?"


"Els tahu kamu bantuin Lisa?" dari nada bicaranya, sepertinya memang pak Rusli tidak setuju dengan keputusan Emir.


"Tahu, Emir ceritakan semuanya sama mbak Els. Dan mbak Els tidak keberatan jika Emir bantuin uang kuliah Lisa" terang Emir. dengan tetap fokus mengembangkan pickup nya.


"Kenapa bisa begitu?"


"Menurut mbak Els, Lisa tidak ada sangkut pautnya dengan urusan mbak Els dan mas Arya. Dan juga hubungan mbak Els dan mas Arya sudah berakhir, jadi mbak Els tidak masalah jika Emir bantu uang kuliah Lisa, asalkan tidak memberatkan Emir" jelas Emir yang memang bicara panjang lebar dengan Els.


"Ya sudah, mau gimana lagi. Memang dimana kamu ketemu sama Lisa?"


"Kemarin sore, ketika Emir sedang berada di Kafe"


"Itu dia bisa ke kafe, kenapa bayar uang kulia ya gak bisa?" sungut pak Rusli.

__ADS_1


"Bapak gak lupa kan kau ibu Nunik itu janda?"


"Bu Nunik?"


"Mantan besan bapak"


"Oh, tapi kan dia punya dua anak laki-laki"


"Mas Aryo dan Mas Arya sudah ada di bawah kendali istrinya Pak"


"Arya sudah kawin lagi?"


"Hem, kata Lisa sebulan setelah resmi bercerai dengan mbak Els, dia menikah lagi. Bahkan sekarang sudah punya anak"


"Kurang ajar itu si Arya" umpat pak Rusli.


"Udah lah Pak, gak usah urusin orang lain. Biar saja dia mau apa"


"Ya tapi sekarang kamu malah yang ngurusin adiknya"


"Pak, tidak hanya Lisa. Siapapun yang membutuhkan bantuan Emir, pasti Emir bantu. Tanpa terkecuali jika Emir mampu, lagi pula kita pernah menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluarga Lisa, tidak ada salahnya membantu" kata Emir bijak. entah kebaikan seperti apa yang pernah pak Rusli dan Mak Lastri lakukan sehingga anak-anak nya memiliki hanya yang baik dan selalu mengajarkan hal-hal yang bijak sana. Terkadang orang tua harus belajar dengan yang lebih muda, tidak semua orang tua mengerti atau selalu benar. Ada kalanya orang tua salah dan harus berguru pada yang muda.


"Bapak gak tahu harus ngomong apa" lirihnya.


"Ya gak usah ngomong apa-apa Pak. Bapak itu cukup menjadi Bapak untuk Emir dan juga mbak Els, doakan kami agar selalu berada di jalan yang benar, doakan kami agar selalu berbakti pada bapak, tegur kami jika kami melakukan kesalahan. Emir dan mbak Els sudah tidak punya doa dari seorang ibu yang bisa kami andalkan, jadi Emir minta agar bapak tetap sehat agar bisa mengasuh kami dan cucu-cucu Bapak nantinya" tutur Emir panjang lebar.


"Pasti, Bapak pasti mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Bapak. Bapak sangat bersyukur karena di anugrahi anak-anak yang baik hati seperti kamu dan mbak mu. Padahal jika melihat masa lalu, Bapak dan Mamak banyak melakukan kesalahan dam mendidik kalian, terutama pada mbak mu" sesal pak Rusli.


"Semua sudah berlalu, jadikan pembelajaran agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Emir dan mbak Els sangat beruntung karena terlahir menjadi anak Bapak dan Mamak" ucap pria itu.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kami beruntung dan bangga menjadi anak Bapak dan Mamak yang hidup sebagai petani, jika saja Emir terlahir jadi anak orang kaya, Emir gak akan tahu susahnya mencari uang dan pasti Emir akan dengan mudahnya menghambur-hamburkan harta orang tua. Tapi karena Emir anak Bapak, jadi Emir menjadi pria yang bekerja keras dan sangat menghargai apa yang Emir miliki, seperti Bapak, mbak Els, kesehatan, Bude, Pakde, Bibik dan keluarga kita yang ada di kampung" tutur Emir tersenyum mengingat seluruh anggota keluarganya yang sangat sederhana dan saling menyayangi.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2