My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Calon Pengantin


__ADS_3

Pagi ini Els dan Ravin pergi ke pemakaman kampung, calon pengan itu akan berziarah ke makam Mak Lastri. Keduanya hanya berjalan kaki, karena area pemakaman tidak begitu jauh dari rumah Els sekaligus menikmati udara pagi yang asri di antara banyak tumbuhan, dan tanaman para warga kampung. Jangan tanyakan kemana Ciara, sebab gadis kecil itu selalu nempel pada Emir, bahkan Ciara mengatakan jika ingin menikah dengan Emir, seperti tahu saja arti pernikahan. Namun tentu saja semua itu hanyalah ocehan dari anak yang bahkan belum genap empat tahun.


Meski begitu, diam-diam ada yang merasa di untungkan karena Ciara lebih memilih bersama Emir. Siapa lagi jika bukan Ravin? ya, Duda itu merasa jika sang anak sangat peka karena dirinya ingin lebih dekat dengan Els agar tidak terlalu canggung saat pernikahan tiba. Maklum saja, keduanya memutuskan menikah tanpa ada proses PDKT apa lagi pacaran. Dan mengingat status keduanya sebelumnya yang hanya sebatas pekerja dan majikan, belum lagi Ravin tahu jika Els adalah wanita yang gampang merasa rendah diri. Membuatnya harus lebih membuka diri dan merangkul Els agar nyaman bersamanya.


"Mas lelah?" tanya Els berjalan berikut dengan Ravin.


"Mana mungkin lelah, baru juga berjalan beberapa meter" tentu saja Ravin belum lelah, bahkan ia betah berlama-lama lari di atas treadmill.


"Apakah kau sudah lelah? jika begitu biar aku menggendong mu?" tawar Ravin membuat Els mencebikkan bibirnya.


"Memangnya aku ini Ciara"


"Jangan salah Els, aku juga kuat jika hanya menggendong mu"


"Ada-ada saja" sahut Els, mempercepat langkahnya.


Sesampainya di pemakaman, Els dan Ravin berjongkok di hadapan pusara Mak Lastri. Keduanya melantunkan doa untuk pemilik nama lengkapnya Sulastri itu.


"Mamak, Els datang berkunjung. Maaf sudah terlalu lama Els tidak mengunjungi Mamak, tapi insyaallah Els tidak lupa mendoakan Mamak, Mamak tahu itukan? Mak, Els tidak datang sendiri, Els membawa seseorang yang mudah-mudahan jodoh Els dunia akhirat, mudah-mudahan juga dia adalah calon imam terbaik yang Allah berikan pada Els, namanya mas Ravin, dia seorang duda dengan satu anak dan Els akan langsung menjadi seorang Bunda. Doakan ini pernikahan terakhir Els ya Mak" Els tersenyum merasa konyol, karena minta di doakan oleh Mak Lastri. "Maaf ya Mak, kenapa Els malah minta di doakan sama Mamak? harusnya kan Els yang mendoakan Mamak. Huffff Mamak yang tenang di sana, Els, Bapak, Emir hidup dengan baik disini" ucap Els dalam hati dengan memandang tulisan yang terik di batu nisan.


🍀🍀🍀


Setelah selesai mengunjungi makam Mak Lastri, Els dan Ravin langsung pulang. Bude dan Bibik Els sudah mewanti-wanti kedua calon pengantin agar tidak keluyuran kemana-mana lagi, apa lagi kemarin bude Els mendapat laporan jika Els kebut-kebutan mengendarai sepeda motor, dimana sehat tidak Els lakukan karena dia adalah seorang calon pengantin. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, begitulah kira-kira.


"Kamu ngapain Els?" tegur sang Bude menghentikan langkah Els.


"Mau makan Bude, memangnya mau apa lagi" ucap Els mengangkat piring berisi nasi dan lauk yang ada di tangan kanannya.


"Bude tahu kamu mau makan, tapi apa itu di tangan kiri mu?"

__ADS_1


"Ya ampun Bude, ini petai. Masa iya Bude gak tahu" Els mengangkat satu papan petai yang akan ia jadikan lalapan.


"Iya Bude tahu itu petai, mau kamu apakan?"


"Ya untuk lalapan Bude, memang untuk apa lagi. Pakde Bejo tadi metik banyak, kalau bude mau minta saja sama pakde Bejo. Els kangen banget makan petai, di Jakarta mahal ini, termasuk makanan mewah" jelas Els.


"Gak bisa, kamu itu besok mau menikah, bisa-bisanya malah makan lalap petai. Kamu mau buat suami mu semaput di malam pertama?" omel sang Bude merebut petai yang ada di tangan Els.


"Apa hubungannya petai sama semaput? lagian kenapa bude pake bawa-bawa malam pertama sih" kesal Els, kembali kebelakang dimana pohon petai itu berada.


"Ngapain balik lagi nduk?" tanya pakde Bejo mengumpulkan petai yang ia panen.


"Bude Jum ngambil petai Els, minta lagi Pakde" adu Els pada Pakde Bejo yang tak lain suami Bude Jumi.


Els memilih makan dengan tenan di bawah pohon petai agar tidak ketahuan lagi oleh Bude nya.


"Apakah seenak dan senikmat itu?"


Els tersedak mendengar suara itu.


"Ya ampun pelan-pelan sayang, aku tidak memintanya" ucap orang itu tak lain adalah Ravin.


"Uhuk, mas Ravin ngapain ke sini?" Els sungguh malu kepergok Ravin dengan posisi seperti ini.


"Aku sedang mencari calon istriku yang sedang menikmati makan siangnya tanpa ingat aku"


"Memang mas Ravin belum makan siang?" Ravin hanya menggeleng.


"Aku juga mau itu?" Ravin membuka mulutnya.

__ADS_1


"Ini?" Els mengangkat piring nya.


"Iya, aku sangat lapar" Ravin kembali membuka mulutnya.


"Tapi..." bukan apa-apa, di piring Els hanya ada nasi putih dan sambel goreng ati ampela, dan jangan lupa batu giok favorit Els alias si petai.


"Els" Ravin memelas, membuat Els tanpa sadar menyuapinya.


"Enak, coba petai nya" pinta Ravin.


"Hah...?" Dan siang itu untuk pertama kalinya kedua calon pengantin makan sepiring berdua di bawah pohon petai, bahkan Ravin dan Els beberapa kali menambah.


🍀🍀🍀


Malam harinya selepas isya, Els harus terpaksa mengikutinya kemauan Ravin juga Bude dan Bibik nya untuk bersedia melakukan Henna art ditangan dan kakinya. Memang tidak ada proses lamaran, siraman atau pengajian seperti pernikahan pada umumnya, mengingat mendadak nya rencana pernikahan yang kurang dari satu minggu.


Namun kehebohan dan kemeriahan pernikahan kedua Els melebihi pernikahan pertamanya yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari dan di persiapkan secara matang. Bahkan dulu Els tidak terpikirkan untuk menghias tangannya dengan Henna art, Semua ini karena Ravin mengambil paket tenda terbaik, terlengkap, bahkan termewah, lengkap dengan sang pelukis Henna. Dan jadilah Els berpasrah diri menyerahkan kedua tangannya dan juga kaki untuk di lukis indah dengan pasta Henna berwarna merah maroon menghiasi kulit putihnya.


"Cantik sekali warnanya, untung kulitmu putih Els" puji Bude melihat coretan pasta hena mulai menghiasi permukaan kulit tangan sang keponakan.


"Mbak Henna" panggil Bibik Els, asal saja menyatakan nama pada seseorang. "Kalau untuk kulit coklat kehitaman kayak yayuk ku ini ada warna yang cocok nggak?" ceplos nya.


"Dasar Sumarni, seenak nya aja ngatai mbakyu mu ini" di sambut tawa oleh orang-orang yang mendengar.


"Bude mau di Henna juga?" tanya si pelukis Henna.


"Ndak usah mbak, mas Bejo udah cinta mati sama aku" gelak tawa kembali memenuhi kamar Els.


"Cia boleh di henna juga juga nggak, Bunda?" cicit gadis kecil yang duduk di samping Els.

__ADS_1


"Cia mau?" tanya Els di angguki nya.


"Boleh, tapi tunggu teman Tante datang ya, soalnya Tante lagi lukis tangan Bunda" ucap sang pelukis Henna membuat Ciara mengangguk senang.


__ADS_2