My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Ciara Kenapa?


__ADS_3

Siang berganti malam kini seperti biasanya, keluarga kecil Ravin sudah berada di meja makan untuk menikmati santap malam bersama di selingi obrolan ringan dan ocehan dari mulut mungil Ciara yang tida berhenti bicara. Akan selalu ada cerita baru yang akan menjadi topik di setiap malamnya, meski awalnya Ravin tidak suka, namun kini Ravin sudah terbiasa mendengarkan setiap cerita yang keluar dari mulut gadis kecil nya.


"Cia kenapa diam saja?" tegur Ravin, tidak seperti biasanya putri Ravin itu menjadi pendiam, memang suasana terasa lebih tenang karena tidak rame, namun entah mengapa terasa aneh menurutnya.


"Cia sedang sakit gigi ya?" tanya Els lembut, sebab sejak Ciara datang dari siang, Els hanya mendengar beberapa patah kata keluar dari mulut Ciara. Tidak ada celoteh manja ataupun gelak tawa riang gembira khas Ciara.


"Nanti malam Cia tidur sama ayah ya" pinta gadis kecil itu.


"Boleh, tapi di kamar ayah ya, biar tidak sempit jika tidur bertiga" sahut Ravin senang.


"Di kamar Cia saja, Cia hanya mau tidur dengan Ayah" ucap Ciara menghentikan makannya dan menatap sang Ayah.


"Tumben, Cia tidak mau tidur bareng Bunda?" Ravin melirik Els yang sudah berubah raut wajahnya.


"Tidak" seru Ciara lalu turun dari kursinya.


"Mbok, Cia mau ganti baju" Ciara menarik tangan mbok Yati dari dapur untuk menemani dirinya ganti baju, hal yang tidak pernah Cia lakukan setelah kedatangan Els.


"Ciara" lirih Els menatap sendu ke arah putri kecilnya.


"Ada apa dengan Ciara?" tanya Ravin.


"Aku tidak tahu Mas, sejak datang tadi siang, Cia jadi pendiam dan hanya sesekali bicara. Apa terjadi sesuatu saat Mas menjemput nya tadi?"


"Tidak, semuanya baik-baik saja saat Mas menjemput Ciara. Bahkan Mas harus mati-matian menahan diri untuk tidak meluapkan emosi pada Sintia di depan Ciara" jujur Ravin, sebenarnya ingin sekali meledak-ledak dan mencaci maki mantan istrinya, namun tidak mungkin Ravin melakukan semua itu di hadapan sang putri.


🍀🍀🍀


Ciara memeluk posesif tubuh Ravin, bahkan Ravin sangat sulit untuk bergerak. Tidak seperti biasanya putri kecilnya itu bersikap seperti itu, hal tersebut tentu saja mengusik hati Ravin untuk mencari tahu di balik sikap pendiam Ciara yang sangat aneh menurutnya.


"Cia kenapa?" tanya Ravin lembut membelai surai panjang sang putri.

__ADS_1


"Cia tidak apa-apa"


"Apakah Mami Sintia mengatakan sesuatu pada Ciara?" selidik Ravin, sebab ia menduga Sintia lah yang membuat sikap Ciara berubah.


"Tidak"


"Lalu kenapa Cia begini hem..?"


"Kenapa Cia punya dua Ibu?" hal yang tak terduga itu Ravin dengar dari mulut mungil Ciara.


"Karena Ciara sangat beruntung, Ciara anak baik, maka nya punya Bunda, dan punya Mami" jawab Ravin menggunakan bahasa yang mudah di mengerti anak-anak. Tidak mungkin bukan jika Ravin mengatakan satu ibu kandung dan satu ibu tiri? hal itu akan membuat Ciara bingung, toh seiring berjalannya waktu Ciara akan mengerti dengan sendirinya, Ravin hanya perlu memberikan sedikit penjelasan.


"Ai juga anak yang baik, tali hanya punya satu Ibu" ahh... putri Ravin ini memang cerdas.


"Tapi Cia anak yang beruntung, itu sebabnya Cia punya dua Ibu" tutur Ravin.


"Cia mau tidur sama Ayah, nanti kalau Cia sudah tidur jangan tinggalin Ciara ya" pinta Ciara mendongakkan kepalanya menatap wajah Ravin.


"Iya" ucap Ravin, untung saja tadi sudah sepakat dengan Els untuk benar-benar tidur di kamar Ciara. Jika tidak, Els pasti akan menunggu nya.


"Kenapa?"


"Cia maunya begitu" cicit Ciara.


"Cia tidak mau tidur di temani Bunda?" pancing Ravin.


"Cia hanya mau di temani Ayah, bukan orang lain"


"Sayang bukan orang lain, tapi Bunda. Bunda kan Bundanya Ciara, bukan orang lain" ucap Ravin.


"Tidak, Cia hanya mau Ayah saja" Ravin jadi yakin jika Sintia mengatakan sesuatu pada Ciara.

__ADS_1


"Cia yakin jika Mami tidak mengatakan apapun pada Ciara?"


"Apakah Mami orang jahat?"


"Tentu saja tidak sayang, kita tidak bisa menilai orang lain jahat atau tidak. Bisa jadi yang menurut kita tidak baik itu adalah baik, tapi bisa juga yang menurut kita baik sebenarnya tidak baik" Ravin tidak ingin menjelek-jelekkan mantan istrinya. Bagi Ravin, jika Ciara dewasa nanti pasti bisa menilai dengan sendirinya tanpa harus mengatakan keburukan sang istri, sebab bagaimanapun juga dirinya turut andil dengan kelakuan Sintia berbuat seperti itu, jika saja dirinya peka, mungkin tidak ada ada pria idaman lain dalam rumah tangganya, sehingga perceraian tidak terjadi. Namun semua sudah terjadi dan berlalu, Ravin tidak ingin berandai-andai, penyesalan mungkin ada, tapi Ravin akan memperbaikinya di 💒 keduanya bersama dengan Els.


🍀🍀🍀


Saat pagi datang seperti biasa rutinitas sarapan pagi itu di mulai, namun kini semakin terasa jika Ciara menghindari Els, bahkan gadis kecil itu tidak mau makanannya di ambilkan oleh Els, membuat hati Els semakin tak karuan. Dan sekarang Els hanya bisa menatap kepergian Ciara ke sekolah karena tidak mau di antar Els, meskipun Ravin sudah memaksa dan membujuk gadis kecil itu. Tapi keras kepala Ravin yang menurun pada Ciara tetap menjadi pemenangnya sehingga meninggalkan Els di teras rumah dengan perasaan sedih, kacau dan marah tentunya.


"Aku yakin jika wanita itu pasti mengatakan hal yang tidak benar pada Ciara" gumam Els, sangat tidak masuk akal jika Ciara yang selalu menempel padanya dan tidak ingin jauh darinya kini berubah dengan alasan sudah besar dan ingin mandiri. Yang benar saja seorang anak balita bisa mengatakan ingin mandiri sedangkan mandi dan memakai baju saja masih di bantu orang lain.


"Aku tidak akan tinggal diam" geram Els, namun ia sedikit bingung karena tidak tahu nomor ponsel juga alamat rumah Sintia, bagaimana caranya Els membuat perhitungan dengan mantan istri suaminya itu?.


"Mbok buburnya sudah jadi?" tanya Els menemui Mbok Yati di dapur, wanita itu ingin makan bubur kacang hijau. Tiba-tiba saja Els membayangkan makanan itu hingga air liur memenuhi mulutnya.


"Sebentar lagi Nyonya" mbok Yati mengaduk bubur kacang hijau yang ada di dalam panci.


"Hufff...belum ya?" gumam Els berjalan ke arah kulkas dan mengambil satu cup besar es krim vanilla, lalu pergi ke teras belakang untuk menikmati es krim itu sembari memikirkan cara bagaimana aga dirinya bisa bertemu dengan Sintia, sebab tiga kali pertemuan antara dirinya dan Sintia terjadi secara tidak sengaja.


Mbok Yati yang melihat Els mengambil satu cup besar es krim merasa sedikit heran, Ini masih jam delapan pagi, dan Els sudah memakan es krim?.


"Bukankah masih terlalu pagi untuk makan es krim?" gumam mbok Yati merasa sedikit aneh dengan tingkah Els beberapa hari ini.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2