My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Kejahatan Sintia


__ADS_3

Ravin tersenyum lega saat Ciara dan Els berpelukan seperti sedia kala. Istri dan putri itu itu saling melepaskan rasa rindu dengan pelukan hangat tanpa dirinya, ya....mungkin mulai kini Ravin akan terabaikan lagi, bahkan kehadiran seperti sosok transparan yang tidak terlihat dan di acuhkan oleh dua wanita yang paling berharga dalam hidup nya.


"Bunda juga rindu sama Ciara" ucap Els mengecup puncak kepala Ciara dan tangannya membelai lembut rambut panjang gadis kecil itu.


"Ayah juga mau di peluk juga dong" pria itu memelas pada istri dan anaknya. Tanpa menunggu dan mengatakan apapun lagi, Ravin langsung memeluk tubuh mungil putrinya dan sang istri.


"Ayah...berat, Cia tidak bisa bernafas" keluh gadis kecil itu saat tubuhnya terhimpit antara Els dan Ravin.


"Cia tidak rindu sama Ayah?"


"Rindu, tapi Cia tidak mau di peluk seperti ini" protesnya pada sang Ayah.


"Tapi Ayah juga mau peluk Cia seperti Bunda itu" Ravin belum melepaskan pelukannya.


"Bundaaaa" rengek Ciara mengadu.


"Mas, jangan bertingkah seperti anak-anak" ucap Els penuh penekanan.


"Huffff" Ravin menghela nafas dan dengan berat hati mengurai pelukannya.


"Ayah jangan ngambek seperti anak kecil" kata Ciara melihat bibir manyun Ayah nya.


"Siapa yang ngambek?" elak Ravin menciumi pundak mungil Ciara yang beraroma buah segar.


"Ayah geli" tolak Ciara terkikik.


"Perasaan Ayah gak boleh ngapa-ngapain putri Ayah. Peluk gak boleh, cium gini juga gak boleh" ucap Ravin terdengar menyedihkan.


"Lebay kamu Mas" cibir Els penuh kemenangan memeluk Ciara.


"Bunda" lirih Ciara dalam pelukan Els.


"Iya sayang"


"Keguguran itu apa?" tanya Ciara dengan polosnya, reflek Els langsung melepas pelukan dan menatap heran pada Ciara. Tidak jauh berbeda dengan Els, Ravin yang tadinya posisi terlentang kini memiringkan tubuhnya dan menatap sang putri.


"Sayang, kenapa Ciara bertanya seperti itu?" heran Ravin mendengar pertanyaan yang tidak seharusnya di ketahui anak kecil seusia Ciara, namun keluar dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Kenapa Cia bertanya keguguran?" tanya Els dengan hati berdebar-debar, ingatan wanita hamil itu kembali pada beberapa tahun silam dimana dirinya terpaksa kehilangan calon buah hatinya, memang itu sudah berlalu, namun Els tidak akan lupa dengan sakitnya kala itu.


"Sebenarnya...."


🍀 Flashback On 🍀


Setelah menjemput Ciara dari sekolah, seperti biasanya, Sintia selalu duduk berbincang dengan Tari di ruang tamu. Dua wanita itu memang tidak memiliki pekerjaan apapun selain bergosip ria di siang hari seperti ini, namun jangan tanya jika malam sudah datang, mereka berdua menjelma bak ratu kegelapan.


Bahkan beberapa hari yang lalu, dua wanita dewasa itu meninggalkan Ciara dan Vania demi kesenangan nya clubbing bersama pria hidung belang yang menjadi tamu tetap mereka. Untung saja tidak terjadi sesuatu yang buruk dalam rumah itu, seperti kebakaran, mati listrik atau hujan badai. Vania juga anteng terlelap tidak bangun minta susu seperti biasanya, Sedangkan Ciara, gadis kecil itu terjaga sepanjang malam karena rasa takut yang teramat sangat. Cia tahu dan melihat jika Mami dan temannya itu keluar dari rumah pukul 23.00, gadis itu tidak paham dengan apa yang dikatakan kedua wanita itu tentang 'Pesta sampai pagi' tapi ia mengerti jika Mami nya akan pulang pagi hari.


"Gimana rencana Lo?" tanya Tari.


"Gue mau mengeksekusinya di restoran, biar gak ada yang curiga sama gue nantinya" jawab Sintia menyulut sebatang rokok di tangannya.


"Gila, apa gak bahaya?"


"Tentu saja tidak, gue akan melakukannya dengan rapih. Gue gak sabar melihat wanita itu menangis kesakitan, dan dia pasti akan sangat hancur karena kembali keguguran" Sintia tersenyum miring.


"Memangnya Els pernah keguguran?"


"Gak usah sebut nama wanita itu, enek gue"


"Iya, dia pernah keguguran saat masih menjadi istri Arya"


"Arya siapa?"


"Mantan suami ja**ng itu" kata Sintia.


"Pasti Lo gak sabar melihat ja**ng yang menjadi istri Ravin itu kesakitan dan hancur"


"Of course"


"Gue gak rela jika Ravin bahagia tanpa gue, apalagi bersama wanita murahan itu" ucap Sintia sinis, tanpa mereka berdua sadari jika sedari tadi percakapannya di dengar oleh telinga seorang gadis kecil. Ciara tampak kebingungan mencerna obrolan orang dewasa itu, meski tidak terlalu paham dan mengerti, tapi gadis itu memahami satu hal.


"Istri Ravin? Bunda, kenapa Mami bilang kalau Bunda itu ******? Tadi Mami mau buat bunda kesakitan, tidak Bunda tidak boleh kesakitan. Cia sayang Bunda" gumam Ciara dalam hati, ia masih menguping sembari menyusun puzzle.


"Gimana cara Lo kasih obat itu?"

__ADS_1


"Gue akan campurkan obat itu dengan minuman untuknya, gue yakin seratus persen jika itu pasti akan berhasil dan ja**ng itu menangis kesakitan" Sintia memaparkan rencananya pada Tari.


"Ide yang bagus, rasa obat itu pasti akan tertutup dengan minuman sejenis jus atau smoothies"


"Exactly, Lo tahu kan maksud gue" wanita itu mengisap rokok yang di jepit kedua darinya.


"Kapan Lo lakuin?"


"Nanti sore, gue akan ajak itu ja**ng makan bersama Ciara juga. Biar dia gak curiga"


"Pastika jika minuman yang ada obatnya adalah miliknya"


"Gue sendiri nanti yang akan memberikannya"


Sintia mematikan puntung rokok nya dalam asbak.


"Bunda gak boleh minum apapun yang di berikan Mami, agar bunda gak kesakitan" gumam Ciara, pergi ke kamarnya karena Tadi menerima telepon dari sudar Daddy nya.


Sintia hanya menatap datang pada Ciara yang berjalan ke kamarnya, ia tak tahu jika nantinya gadis kecil itu akan menggagalkan semua rencana yang telah di susun rapih olehnya.


🍀 Flashback Off🍀


Gigi Ravin terkatup rapat, rahang nya mengeras dan tangannya terkepal mendengar cerita dari mulut Ciara. Ravin tidak menyangka jika Sintia tega melakukan hal sekeji itu, Sintia bertindak sangat rendahan tanpa empati dan nurani karena merencanakan dan melakukan hal sekeji itu pada sesama wanita. Untung saja Ciara mencegah hal buruk itu terjadi, Ravin tidak bisa membayangkan sehancur apa jadinya Els jika rencana jahat Sintia itu berhasil.


Ini adalah kehamilan kedua Els setelah mengalahkan keguguran di kehamilan pertama nya. Pasti bukan hal yang mudah bagi Els jika sampai kehilangan lagi, entah mengapa ada rasa sesal dalam hati Ravin karena pernah mencintai wanita sepicik Sintia.


Elsava terdiam mendengar cerita Ciara hingga akhir. Wanita hamil itu tadinya hanya marah pada Sintia, tapi kini Els membenci Sintia, tidak perduli meskipun wanita itulah yang melahirkan gadis semanis Ciara yang sangat di cintai nya. Els jadi berpikir jika Tuhan salah menitipkan Ciara pada rahim wanita seperti Sintia, menurut Els, Sintia tidak pantas menjadi ibu kandung Ciara yang memiliki hati baik dan hangat. Namun semua sudah terjadi, terima atau tidak, Sintia adalah ibu kandung Ciara, wanita yang mengandung dan melahirkan gadis manis itu. Dan itulah kenyataan yang sebenarnya tanpa bisa di ubah.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2