
Ravin tengah mengemudikan mobilnya di jalanan Ibu Kota, suami Els itu baru saja mengantarkan sang istri periksa kehamilannya yang sudah memasuki trimester kedua. Ya kandungan Els kini berusia 15 weeks, perutnya sudah mulai terlihat bulat membuat wanita hamil itu terlihat semakin bahagia.
"Ingin makan sesuatu?" tanya Ravin melihat Els dari tadi hanya diam saja, bukan Ravin tak tahu apa yang ada dalam pikiran sang istri. Pria itu sangat paham dan mengerti tentang rasa rindu Els pada putri sulungnya, Ciara.
"Apa Mas gak bisa bujuk Cia pulang ke rumah? aku sangat merindukan nya" ujar Els memohon.
"Mas yakin tidak lama lagi Cia pasti akan minta pulang tanpa harus kita bujuk" sahut Ravin, Ciara memang sudah dua bulan lebih tinggal bersama Sintia, namun Ravin yakin tidak lama lagi putrinya itu akan minta pulang ke rumahnya.
"Tapi ini sudah lebih dari dua bulan, Mas. Aku...aku sangat merindukan nya" mata wanita hamil itu sudah berkaca-kaca, menahan rasa rindu dan faktor kehamilan juga, yang membuat rasa mellow nya semakin menjadi.
"Sabar ya sayang" Ravin meraih tangan Els dan menggenggam nya dengan erat, tak di pungkiri jika Ravin juga sangat merindukan celoteh dari mulut mungil putrinya itu, selama dua bulan terakhir Ravin dan Els hanya sebentar saja menemui Ciara. Jika tidak di sekolah, ya saat jam makan siang, karena Ravin tidak mau jika harus bertemu dengan Sintia. Bukan karena belum move on, tapi karena Ravin sangat menjaga perasaan sang istri dengan tidak terlalu sering bertemu mantan istrinya.
🍀🍀🍀
Dengan langkah gontai, Els memasuki sebuah ruko yang di jadikan kedai bakso. Ya hari ini Els menemui Widia, sahabat Els satu-satunya yang juga menetap di Ibu Kota. Sudah lama kedua sahabat itu tidak bertemu, karena itulah Els datang berkunjung ke tempat kerjanya dulu, sekalian bernostalgia.
"Gio" panggil Els pada salah satu karyawan Widia yang juga rekan kerjanya dulu.
"Mbak Els" pemuda 21 tahun itu terkejut melihat kedatangan Els.
"Hai..." ucap Els tersenyum ramah. "Kamu apa kabar?" sambungnya.
"Gio baik Mbak, mbak Els sendiri apa kabar?" tanya gio antusias.
"Aku juga baik, Sri dan Dewi masih di sini kan?" tanya Els melihat ke arah dalam ruko.
"Sri masih di sini Mbak, kalau Dewi sudah keluar sekitar tiga bulan yang lalu. Dia pulang kampung dan nikah sama pacarnya" tutur Gio.
"Ohhhh....gitu" Els mengangguk paham.
"Mbak Els mau ketemu Bu Boss?"
"Iya, Widia ada? tadi aku tidak menelepon nya terlebih dulu" Els lupa tidak menghubungi Widia dahulu sebelum datang.
"Bu Boss baru saja keluar, tapi mungkin hanya sebentar. Soalnya Raka tidak di bawa" jelas Gio, Raka adalah anak Widia dan Bimo yang baru lahir dua bulan yang lalu.
"Raka ada di atas?" tanya Els antusias, wanita itu belum bertemu dengan bayi Widia itu.
"Iya"
"Aku ke atas dulu ya" pamit Els sedikit berlari.
"Mbak Els" suara seorang wanita menghentikan Els.
"Aaaaaa...Sri kangen banget sama Mbak Els" Sri berlari memeluk Els.
"Kamu kangen Aku atau traktiran ku Sri?" sindir Els.
__ADS_1
"Hahaaa...mbak Els emang paling pengertian" gadis itu tertawa renyah.
"Tapi beneran aku kangen sama mbak Els, dan kalau mbak Els mau traktir ya Sri gak bakal nolak lahhh, kan itu rezeki. Gak baik nolak rezeki anak Soleh" ujar Sri meringis.
"Bukannya bapak kamu namanya pak Mahmud? apa sekarang sudah ganti jadi anaknya pak Soleh?"
"Mbak Els ini yaaa" Sri mencebikkan bibirnya.
"Ya udah, nanti aku traktir. Tapi sekarang aku mau ketemu anak bujang ku dulu" ucap Els meninggalkan Sri.
"Mau Sri buatkan bakso seperti biasa nggak mbak?" tawar Sri.
"Boleh, antar ke atas ya" sahut Els memberikan jempol tangannya pada Sri.
"Siap" seru Sri.
Els membuka kamar peristirahatan Widia yang ada di lantai tiga ruko. Ruko yang di sewa Widia memang terdiri dari tiga lantai, lantai satu dan dua untuk sebagai usahanya berjualan bakso, sedangkan lantai tiga di gunakan sebagai mess karyawan wanita yang tidak pulang atau jauh dari rumahnya. Seperti Els dulu yang tinggal di ruko itu bersama dengan Sri dan Dewi, sedangkan Gio ngekost tak jauh dari ruko itu karena ia adalah pria.
"Mau di bawa kemana itu Sri?" tanya Widia yang sudah datang melihat Sri membawa nampan berisikan semangkuk bakso.
"Ehh... Bu Boss, ini Sri mau bawain bakso ke lantai tiga. mbak Els ada di sana" jawab Sri.
"Els datang?"
"Iya"
"Belum ada sepuluh menit Bu" kata Sri.
"Sini, biar aku saja yang bawain bakso nya Els" Widia mengambil alih nampan itu.
"Terimakasih Bu"
"Hemmm" sahut Widia meniti anak tangga.
🍀🍀🍀
Els memangku bayi yang masih dibungkus kain bedong itu, bayi mungil itu sangat menggemaskan dan juga tampan, meskipun tidak setampan ayahnya, karena menurut Els Bimo tidaklah tampan, karena bagi Els Ravin yang lebih tampan.
"Anak bunda ganteng banget sih" Els menggesek-gesekan hidungnya pada hidung lembut milik Raka, namun bayi itu tetap tidak membuka matanya.
"Ngantuk banget ya? semalam begadang sampai jam berapa sayang?" tanya Els seolah bayi itu bisa menjawab.
"Bagus, terus ajak Mama sama Papa begadang ya" ujar Els tersenyum.
"Nanti bunda beliin bola kalau Raka nurut sama bunda"
"Jangan dengerin Bunda mu yang sesat itu sayang" ucap Widia tiba-tiba masuk mengejutkan Els.
__ADS_1
"Kapan datang?"
"Sejak kamu membisikkan ajaran sesat pada putraku" sahut Widia.
"Gak ada ya, aku ini bunda yang baik dan Solehah. Mana mungkin membisikkan hal-hal yang tidak baik?" elak Els.
"Nih, bakso kamu" Widia memberikan semangkuk bakso yang di bawanya tadi.
"Bakso Bu Boss ini paling Joss" puji Els.
"Ingat, bayar sama Sri nanti di kasir"
"Kamu kenapa jadi perhitungan ya?"
"Tentu saja, karena sekarang uangmu banyak, tidak mungkin aku menggratiskan semangkuk bakso padamu, itu 35k" ujar Widia.
"Astaga" gumam Els.
"Perasaan dulu harganya cuma 25k"
"Sekarang sudah naik, apalagi kalau yang beli duitnya gak berseri" sahut Widia.
"Memangnya gak ada harga teman?" tawar Els sembari mengunyah bakso.
"Ada dong" Widia menyeringai.
"Your are my best friend" Els tersenyum cerah.
"Berapa harga teman?"
"150k, ingat harga teman itu mahal"
"Uhukkkk....uhukkkk...." Els tersedak kuah bakso yang baru saja di seruput nya, untung saja kuah itu tidak pedas, namun tetap saja membuat tenggorokan Els sakit dan pedih.
"Astaga Widia, itu namanya harga menusuk teman" protes Els, meminum es teh tawar buatan Sri.
"Harga teman itu mahal Els, apalagi teman yang baik hati dan tulus kayak aku ini" ucap Widia dengan bangganya, membuat Els memutar bola matanya jengah.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺