My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Tok...tok...tok......


"Kinara.....bangun...." teriak Arya untuk kesekian kalinya membangunkan sang putri, bayi mungil itu kini sudah berusia 9 tahun dan menjadi gadis kecil yang cantik dan manis.


"Iya Papa...!!!" sahutnya dari dalam kamar, lalu menggendong tas ransel berisi buku pelajarannya.


Kinara langsung menemui Papa nya yang sudah menunggu di meja makan. Arya kini hanya hidup berdua dengan Kinara, Bu Nunik sudah meninggal tiga tahun yang lalu, dan Arya juga sudah bercerai dengan Cindy enam tahun yang lalu. Tepatnya setelah pernikahan Lisa dan Emir, Cindy menuntut cerai pada Arya dan meninggalkan Kinara di bawah pengasuhan Arya.


"Pagi Papa" sapa gadis kecil itu duduk di sebelah Papanya.


"Pagi cintanya Papa" sahut Arya, meskipun hanya hidup berdua dengan sang putri, tapi Arya merasa bahagia, meskipun dimalam hari ia merasa kesepian, tapi hidupnya sekarang benar-benar bahagia tanpa beban.


Arya tidak lagi mendengar keluhan dan tuntutan sang istri, Arya juga tidak lagi menjaga hati Ibunya karena beliau sudah wafat, dan untuk Lisa, Arya merasa lega juga bersyukur karena adiknya berkode dengan pria sebaik Emir.


Fokus Arya sekarang hanya bekerja dengan baik, menghabiskan waktu bersama dengan putrinya, dan sedikit melakukan hobinya, atau sekedar hang out bersama rekan kerja sesekali.


"Hari ini ada les, sayang?" tanya Arya di sela sarapannya.


"Ada Pah, les matematika. Ah....sungguh menyebalkan" Kinara mencebikkan bibirnya, gadis kecil itu memang sedikit bermasalah dengan mata pelajaran matematika, itu sebabnya guru mengharuskan Kinara mengikuti kelas remedial.


"Pelan-pelan nanti kamu pasti bisa sayang, Papa tidak mengharuskan kamu pandai dalam segala mata pelajaran. Yang penting kamu paham, tahu dan mengerti. Jangan terlalu membebani diri sendiri, buat dirimu nyaman dalam belajar" tutur Arya menasehati putrinya.


"Tidak semudah itu Pah, teman-teman pasti ngejek kalau nilai Kinara tidak bagus" ujarnya.


"Teman-teman kamu tidak tahu seberapa keras kamu berusaha untuk mendapatkan nilai itu sayang. Jangan terlalu memperdulikan perkataan mereka, yang penting kamu sudah melakukan yang terbaik" kata Arya.


"Tetap saja tidak semudah itu" ucap Kinara wajahnya berubah menjadi sendu.


"Kenapa lagi? Ayo cerita sama Papa" bujuk Arya, ia sangat tahu jika putrinya itu menyembunyikan sesuatu.


"Tidak ada Pah" jawab Kinara tersenyum.


"Bekal Kinara sudah Papa siapkan?" gadis kecil itu mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ya, ada di dapur. Sebentar Papa ambilkan" kata Arya, namun di cegah oleh putrinya.


"Tidak perlu Pah, Papa lanjutkan saja sarapannya, biar Kinara yang ambil bekalnya" gadis kecil itu langsung ke dapur mengambil bekal yang disiapkan oleh Arya.


Arya mengantar putrinya ke sekolah dengan mobilnya, mobil Arya tetaplah mobil sejuta umat yang hampir sepuluh tahun di tungganginya. Mobil itu memiliki banyak kenangan bagi Arya, sejak Els menjadi istri nya, Ibu Nunik masih hidup, dan sejak Lisa sekolah dan hingga kini hanya Arya dan Kinara lah yang selalu menaikinya.


"Kinara masuk dulu Pah, assalamualaikum" pamit Kinara, mencium punggung tangan Arya lalu turun dari mobil.


"Putriku" gumam Arya menatap gadis kecilnya memasuki gerbang sekolah, lalu ia melakukan mobilnya kekantor.


🍀🍀🍀


Kinara akan menjadi gadis yang sangat pendiam jika di sekolahan, bahkan gadis itu hanya sesekali bicara dengan teman sebangkunya. Tentu saja ada sebab di balik sikap diam Kinara, gadis yang sangat ceria dan cerewet saat dirumah, tapi menjadi pendiam saat di luar rumah.


Perceraian kedua orang tuanya menjadi salah satu dari faktor diamnya gadis berusia 9 tahun itu. Sejak kepergian Cindy dari rumah, Kinara di asuh oleh neneknya, gadis itu sering mendengar omongan-omongan yang kurang menyenangkan dari beberapa mulut yang tidak bertanggung jawab.


Terlebih ibunya adalah istri kedua sang Papa, banyak orang yang mengatakan jika Papa nya bukanlah pria baik, hingga dua kali menikah berakhlak dengan perceraian. Sikap Cindy yang selalu angkuh dan ketus juga menjadi bahan cibiran bagi tetangga sekitar.


Disekolah Kinara selalu menjadi bahan Bullyan jika mendapatkan nilai rendah, teman-teman nya akan mengatakan jika Kinara bodoh, karena tidak punya ibu yang mengajarinya, dan masih banyak lagi lainya.


Namun semua itu Kinara telan mentah-mentah, ia tidak pernah mengatakan apapun pada Arya. Kinara selalu bercerita dengan bahagia pada Arya, meski semua itu hanya karangannya semata.


"Selamat pagi Kinara" sapa teman sebangkunya.


"Pagi Kanaya" balas Kinara, lalu duduk di bangkunya.


"Kamu ikut jalan-jalan kan?" tanyanya, pihak sekolah memang akan mengadakan Field trip kesebuah museum dan perpustakaan kota, namun Kinara belum mengatakan apapun pada Papanya.


"Aku..." sebenarnya gadis itu malas pergi-pergi seperti itu, tapi sayangnya kali ini ia tidak bisa mengelak, toh kepergiannya kali ini untuk belajar juga kan?.


"Aku tadi sudah di daftarkan sama Ibu, kamu juga harus minta Papa mu untuk mendaftarkan mu" ucap Kanaya.


"Ya, nanti pulang sekolah aku akan bilang sama Papa" Jawab Kinara.

__ADS_1


Kanaya adalah satu-satunya teman yang tidak bosan mengajak Kinara bicara. Jika di kelas-kelas sebelumnya teman sebangku Kinara selalu ganti-ganti, tapi tidak dengan Kanaya, sudah hampir lima bulan ini dia masih betah duduk bersama Kinara yang tak banyak bicara, bahkan jika tidak di tanya, suara Kinara tidak akan terdengar.


🍀🍀🍀


Lisa menjalani hari-harinya dengan bahagia, menjadi ibu dari dua orang putri cantik, dan kini di rahimnya juga tengah tumbuh malaikat kecilnya, buah cintanya bersama Emir.


"Nduk, kamu ngapain?" tanya pak Rusli, mertua Lisa.


"Ini mau nggiling sprei Pak" kata Lisa membawa satu keranjang sprei dari kamarnya dan juga kamar anak-anaknya.


"Udah, jangan angkat yang berat-berat. Sini biar bapak saja yang giling" pak Rusli mengambil alih keranjang berisi sprei kotor itu.


"Ini gak berat pak, lagi pula hanya tinggal masukkan ke mesin cuci kan?" ujar Lisa masih mempertahankan keranjang itu.


"Udah gak apa-apa, bapak juga kalau cuma nyuci gini. Kamu istirahat, sebentar lagi anak-anak bangun tidur, kamu gak bisa istirahat" ujar pak Rusli perhatian pada menantunya.


"Tapi..."


"Udah, nurut sama Bapak" kata pak Rusli berlalu membawa keranjang itu ke kamar mandi belakang yang ada mesin cucinya.


"Jika saja dulu mendiang ibu memperlakukan mbak Els seperti ini, mungkinkah sekarang mas Arya masih menjadi suami mbak Els" lirihnya menatap punggung kokoh pak Rusli. Mertua Lisa itu memang sangat perhatian dan menyayangi Lisa seperti putrinya sendiri. Pak Rusli tidak membedakan kasih sayangnya pada Els ataupun Lisa. Pak Rusli juga sudah bersikap baik pada Arya, mantan menantunya itu sering berkunjung menengok adik dan keponakannya, hubungan mereka benar-benar seperti keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, padahal dulu pak Rusli sangat marah pada Arya, namun kini hatinya benar-benar melunak dan menerima semuanya sebagai garis takdir putrinya. Melihat kehidupan Els yang sudah bahagia, dan Emir yang kini sudah menikah, bagi pak Rusli sudah lebih dari cukup. Sisanya ia ingin menikmati masa tua dengan bermain bersama cucu-cucunya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2