
Els duduk terdiam di dalam kamar memperhatikan gadis kecil yang mulai hari ini menjadi tanggung jawabnya. Els meraba perut ratanya dan membayangkan jika saja saat itu ia tidak kehilangan calon anaknya, mungil saat ini ia bisa menimang bayi mungil di pangkuannya. Tapi takdir berkata lain, entah kapan Els bisa menikmati indahnya menjadi seorang ibu.
"Jangankan untuk menjadi seorang ibu, bahkan untuk kembali menikah saja aku tidak memikirkan nya" gumam Els, baginya prioritas utama nya saat ini adalah menikmati hidupnya tanpa ada tekanan dari siapapun.
Gadis kecil itu mulai mengerjab-ngerjabkan matanya, hingga akhirnya mata indah itu terbuka sempurna.
"Selamat pagi cantik" sapa Els tersenyum manis, namun gadis kecil itu masih diam.
"Ciara kenapa melamun?" tanya Els, berusaha mengakrabkan diri.
"Ini Bunda Cia?" tanya gadis kecil itu menatap Els lekat-lekat.
"Bukan, ini Tante Els yang akan menemani Cia bermain. Cia mau kan berteman dengan Tante Els?"
"Cia maunya Bunda" cicit gadis kecil itu.
"Tapi...."
"Cia maunya Bunda, Cia maunya Bunda hiks....hiks..." gadis kecil itu mulai menangis, membuat Els bingung.
"Eh...sayang, cantik...jangan menangis ya" bujuk Els memeluk tubuh Ciara.
"Cia mau Bunda"
"Iya, nanti kita cari bunda ya" hibur Els.
"Nggak, Cia maunya sekarang, Cia mau Bunda hiks....hiks...." gadis kecil itu meronta dalam dekapan Els.
Ceklek....
pintu kamar Ciara terbuka dan sang ayah masuk karena mendengar teriakan putrinya.
"Ada apa ini? kenapa membuatnya menangis?" semprot Ravin pada Els.
"Bukan..."
"Belum apa-apa sudah tidak becus bekerja" cela Ravin.
"Ada apa sayang?" Ravin meraih tubuh putrinya.
"Cia gak mau sama Ayah, Cia maunya sama Bunda" berontak gadis kecil itu, mengulurkan kedua tangannya pada Els.
"Eh...." kaget Els, tapi langsung menggendong Ciara. dan gadis kecil itu langsung terdiam, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Els.
"Bisa kamu jelaskan ini? kenapa putri saya memanggil mu dengan sebutan Bunda?" Ravin melayangkan tatapan tak suka pada Els.
"Saya juga tidak tahu pak, tadi saat Nona Ciara bangun langsung mengira jika saya adalah Bunda nya, tapi saat saja menjelaskan jika saya bukan Bunda nya, nona Ciara langsung menangis seperti yang bapak lihat tadi" jelas Els membuat Ravin sakit kepala.
"Kamu jaga dengan benar putri saya" ucap Ravin lalu keluar dari kamar putrinya.
🍀🍀🍀
Ravin termenung di ruang kerjanya, akhir-akhir ini Ciara memang selalu menanyakan keberadaan Bunda nya yang membuat Ravin kebingungan. Ravin dan Sintia bercerai saat Ciara berusia satu setengah tahun, wajar saja jika gadis kecil itu tidak mengenal Bunda nya dan merindukan sosok Bunda nya.
__ADS_1
Memang semua ini kesalahan Ravin yang terlalu sibuk bekerja dan tidak memperhatikan istrinya, sehingga sang istri mendapatkan perhatian dari pria lain dan rela pergi meninggalkan nya juga putri kecil mereka.
"Maafkan ayah sayang" bisik Ravin dalam hati menyesali kesalahannya, karena tidak bisa mempertahankan istrinya untuk tetap di sisinya.
"Jika saja kau hanya melakukan kekhilafan semata. Tapi...." Ravin ingat jika saat itu Sintia tengah mengandung benih dari pria lain, sehingga mau tak mau dia harus mengakhiri pernikahan nya. Dan sejak saat itu mantan istrinya pergi entah kemana bersama pria idamannya, tidak ada komunikasi lagi bahkan Sintia tidak pernah melihat atau menanyakan kabar Ciara.
"Tapi kenapa dengan wanita itu Ciara langsung mau?" heran Ravin dengan sikap putrinya, karena sebelum-sebelumnya Ciara susah sekali menerima baby sitter yang mengasuhnya.
"Apa karena wanita itu sudah berumur? dan baby sitter sebelumnya gadis yang berusia belasan tahun?" Ravin bertanya-tanya dimana letak perbedaan nya. Memang sebelumnya Ravin mengambil jasa baby sitter melalui yayasan dan selalu di kirimkan suster muda, gadis yang kisaran usia 18 hingga 20 tahun. Tapi karena Ciara selalu menolak dan artinya tidak cocok, akhirnya Ravin meminta tolong pada Bimo untuk mencarikan pengasuh putrinya, sehingga Els datang.
🍀🍀🍀
Di meja makan, Els sedang menemani Ciara sarapan setelah memandikan gadis kecil itu dan mendandaninya secantik mungkin. Els melakukan semua itu dengan senang hati dan ia juga sangat menyukai Ciara yang cantik dan bersikap manis itu
"Wah, Nona Ciara cantik sekali. Siapa yang mendandani?" sapa mbok Yati yang ada di ruang makan.
"Cia di mandiin dan di dandani sama Bunda mbok" sahut gadis kecil yang ada di gendong Els itu.
"Bunda?" ulang mbok Yati bingung. "Maksud Nona Cia, Tante Els?" tanya mbok Yati heran.
"Bukan Tante, tapi Bunda Els, iya kan Bunda?" ucap Ciara tersenyum manis.
"Hehe.." Els tersenyum canggung, tidak tahu harus berkata apa.
"Iya kan Bunda? Bunda Els, Bunda nya Cia kan?" kekeh gadis kecil itu.
"Eh...Nona Cia sarapan dulu ya" ucap Els mencoba mengalihkan pembicaraan.
"No" ucap Ciara melipat tangan di dada dan mengerucutkan bibirnya.
"Ngambek dia" ucap mbok Yati pada Els tapi tanpa suara.
"Oh.." paham Els. Dari kejauhan Els melihat Ravin melangkah ke arah meja makan, membuatnya tidak tahu harus berbagi apa untuk membujuk momongannya itu.
"Anak ayah cantik sekali" puji Ravin melihat tatanan rambut Ciara.
"Kenapa manyun begini? Cia mau apa?" tanyanya duduk di sebelah Ciara.
"Bunda jahat" cicitnya membuat Els kelabakan.
"Bunda?" ulang Ravin.
"Bunda, Bunda Els kan bundanya Cia kan yah? iya kan ayah" gadis kecil itu mencari pembenaran.
"Itu..."
"Ayah juga jahat, Cia kan cuma mau Bunda, Bunda Els kan punya Cia hiks...hiks...." Ciara menatap sendu pada Els, membuat wanita berusia 28 tahun itu tidak tega.
"Sayang" Els memeluk anak asuhnya. "Anak cantik gak boleh nangis oke, nanti kalau cantik nya ilang gimana?" Els menghapus air mata di pipi mungil Ciara.
"Gak apa-apa cantik nya ilang, asal bukan bunda yang ilang" ucap Ciara memeluk erat leher Els. Sedangkan Ravin semakin bingung dengan keadaan ini.
"Bunda Els bundanya Cia kan" lirihnya tapi bisa di dengar oleh semua orang yang ada di ruang makan, termasuk mbok Yati yang menitikan air mata karena kasihan pada Nona kecilnya itu.
__ADS_1
"Ya, Bunda Els, bunda Cia" bukan Els yang mengatakan itu, tapi Ravin. "Sekarang Cia makan ya" bujuknya.
"Cia mau makan sama Bunda" sahutnya.
"Baiklah, kalau begitu Cia duduk dengan benar"
"Cia mau dipangku sama Bunda"
"Sayang Cia kan sudah besar"
"Cia masih kecil kan Bunda?" tanya gadis kecil itu menatap Els.
"Iya sayang" ucap Els mengelus sayang pipi Ciara.
"Tapi Cia itu berat" Ravin mencoba membujuk Ciara.
"Bunda kuat kok gendong Cia, kan Bunda?"
"Iya" Els tersenyum kaku melihat wajah masam Ravin.
"Jangan terlalu memanjakan nya" ucap Ravin.
"Iya Pak" sahut Els. "Cia mau makan apa sayang?" tanya Els.
"Cia mau makan masakan Bunda" jawab gadis kecil itu.
"Hari ini mbok Yati sudah masak banyak makanan, jadi kan kasihan kalau makanan nya tidak di makan. Bagaimana jika besok Tan.. Bunda masakin Ciara?" bujuk Els.
"Kenapa kasihan?"
"Karena, makanan yang sudah di masak harus di makan. Di luar sana banyak orang yang kelaparan karena gak punya makanan" tutur Els.
"Di luar sana orang siapa Bunda? kenapa tidak punya makanan?" tanyanya.
"Nanti Bunda ceritakan, tapi sekarang Cia makan dulu" bujuk Els mengambil kan lauk dan sayur hijau untuk Ciara.
"Cia tidak suka bayam" ucap Ravin.
"Benarkah? Cia tidak suka sayur ini?" tanya Els.
"Itu sayur apa Bunda?"
"Ini namanya sayur bayam, bagus untuk Ciara, biar tubuh Cia kuat" jelas Els.
"Cia mau coba" ucap Ciara membuat Ravin semakin terheran-heran, dan mbok Yati terkikik geli.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺