My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Memberi Waktu


__ADS_3

Ravin menatap sendu Els yang terbaring di ranjang pasien, Els masih berada di IGD karena menurut dokter Santi, saat Els sudah siuman dan infus nya sudah habis, maka Ravin di perbolehkan membawa istrinya itu pulang. Jadi Els tidak di pindahkan ke ruang perawatan, untung saja di IGD tidak terlalu banyak pasien, hanya satu, dua pasien yang datang sehingga tidak menimbulkan kebisingan yang mengusik tidur Els.


Setelah hampir dua jam menunggu, Els mulai mengerjab-ngerjabkan matanya, wanita itu mulai melihat sekitar dan menemukan sang suami yang menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang lembut.


"Mas, kamu disini" lirih Els.


"Tentu saja Mas disini, Mas ini suami mu, bagaimana mungkin Mas membiarkan mu sendirian di rumah sakit?" ucap Ravin membelai rambut Els.


"Bagaimana aku bisa di rumah sakit?"


"Kamu tidak ingat?" tanya Ravin, Els menjawab hanya dengan gelengan kepala.


"Kamu muntah-muntah saat naik taksi, dan pingsan setelah itu, lalu supir taksi itu membawamu ke rumah sakit ini sesuai permintaan mu" jelas Ravin, kemudian baru Els mengingat nya.


"Sial, gara-gara memberi pelajaran pada wanita itu membuat ku mual dan harus berakhir di rumah sakit seperti ini" umpat Els dalam hati.


"Sayang" Ravin menyentuh pundak Els.


"Ya Mas" jawab Els terkejut.


"Ada apa? apakah ada yang sakit? ada sesuatu yang kamu pikirkan? kenapa melamun?" cerca Ravin.


"Tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja. Aku hanya menikmati Ciara, apakah Cia di rumah?" tanya Els.


"Ya, Cia ada di rumah. Beberapa saat yang lalu Pak Eko menghubungi Mas, jika mereka sudah sampai rumah" tutur Ravin.


"Aku ingin pulang" pinta Els.


"Ya, tentu saja kita akan pulang. Mas akan meminjamkan suster untuk melepaskan infus mu" Ravin mengecup kening Els sebelum memanggil suster untuk melepaskan selang infus istrinya.


🍀🍀🍀


"Kamu beneran baik-baik saja sayang?" Ravin kembali memastikan jika kondisi Els baik-baik saja.


"Bener Mas, masa iya aku bohong?" jawab Els gemas, sebab sejak meninggalkan kawasan rumah sakit tadi Ravin selalu menanyakan hal yang sama.


"Mas khawatir dan tidak ingin terjadi apa-apa padamu, lain kali kalau mau pergi-pergi bilang sama Mas ya, jangan bikin Mas jantungan seperti tadi" Ravin benar-benar khawatir dan perduli pada Els. Ravin tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anaknya.


"Iya, maaf sudah buat Mas khawatir dan repot" sesal Els.


"Mas tidak merasa di repotkan sayang. Mas hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" Ravin menggenggam tangan Els.

__ADS_1


"Aku juga tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa ku" gumam Els.


"Kamu bicara apa sayang?"


"Tidak ada" jawab Els tersenyum.


"Aku mencintaimu Mas, kamu hanya milikku" Els membawa tangan Ravin dalam dekapannya.


"Tentu saja kamu harus mencintai Mas, karena Mas juga sangat mencintai mu" sahut Ravin tersenyum, dengan tetap fokus mengemudi.


"Ada sesuatu yang kamu inginkan sayang?" tanya Ravin.


"Apakah mas harus kembali ke kantor?" seperti biasa, Els menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Tidak, ini sudah hampir pukul empat sore" sahut Ravin melirik arloji mahalnya.


"Aku menginginkan Mas" ucap Els menundukkan kepalanya.


"Menginginkan Mas?" Ravin masih belum paham.


"Iya"


"Maksudnya?" Ravin masih gagal paham.


"Jangan coba-coba menginginkan pria lain sayang, bahkan membayangkan nya saja jangan pernah. Mas masih sangat sanggup membuatmu melayang-layang hingga tak bisa berjalan" ucap Ravin.


"Mas, aku hanya menginginkan mu untuk membuatku melayang-layang, bukan sampai tidak bisa berjalan" Else mencebikkan bibirnya.


"Ya, setelah sampai rumah nanti mas akan memuaskan mu" sahut Ravin mengedipkan sebelah matanya, tentu saja pria itu sangat senang membuat Els puas di bawah kungkungan nya. Apalagi kini Els sendiri yang minta di puaskan, pasti dengan senang hati Ravin melakukannya.


🍀🍀🍀


Setelah sampai rumah, telinga Els dan Ravin di sambut dengan suara tangisan Ciara. Entah apa yang terjadi dengan gadis cilik itu sehingga menangis meraung-raung dengan keras.


"Huaaaaaa.......huhuhu....huaaaa....." jerit gadis itu.


"Ada apa ini?" Ravin dan Els langsung mendatangi sumber suara itu.


"Nona Ciara menangis ingin ikut Mami nya Tuan" ucap mbok Yati.


"Apa???" seru Els dan Ravin bersamaan.

__ADS_1


"Asti" Els memanggil pelayan yang beberapa hari ini bertugas menemani Ciara ke sekolah.


"Saya, Nyonya" pelayan itu mendekat pada Els.


"Apa yang terjadi di sekolah? kenapa Cia bilang ingin ikut Mami nya?" tanya Els sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak marah dan meledak-ledak.


"Di sekolah nona Ciara baik-baik saja Nyonya, semua seperti biasa sampai kami kembali ke rumah di antar Pak Eko" jawab Asti jujur.


"Apakah ada yang menemui Ciara? atau via bertemu seseorang tanpa sepengetahuan mu?" tanya Els.


"Tidak Nyonya, bahkan saat nona Ciara ke kamar mandi, saya mengikuti nya sesuai perintah Nyonya, agar tidak membiarkan Nona Ciara seorang diri" jelas Asti.


"Ya sudah kamu boleh kembali" lirih Els bingung apa yang membuat Cia ingin ikut Sintia.


"Ayah, Cia mau ikut Mami" rengek Ciara sesenggukan dalam gendongan Ravin, sedangkan Ravin menatap bingung pada Els.


"Cia gendong sama Bunda, yuk" bujuk Els, namun tangan Els di tepian oleh gadis kecil itu.


"Cia mau sama Mami, Cia mau ikut Mami" jerit gadis itu kembali menangis.


"Cia, tidak boleh begitu sama Bunda" ucap Ravin menatap iba pada Els, sedangkan Els tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


"Cia mau sama Mami" rengek nya kembali membuat Els sangat kesal mendengar nya.


Ravin menatap Els, seolah Els tahu arti tatapan Ravin yang bingung, lu Els menganggukkan kepalanya. Rasa lega Ravin terpancar jelas dari wajahnya.


"Baiklah, ayah akan mengantar Ciara pada Mami. Tapi putri cantik ayah harus diam, dan jangan menangis lagi" ucap Ravin.


Els kembali memanggil Asti untuk menyiapkan beberapa barang Ciara yang akan di bawa ke rumah Sintia. Beberapa setel baju, piyama, seragam, mainan, boneka dan lainya di masukkan kedalam koper link hello Kitty milik Ciara. Meskipun sangat kesal, Els tidak bisa berbuat apa-apa karena Ciara sendiri yang meminta untuk ikut Sintia, jika saja Els mendengar Sintia kembali menemui Ciara diam-diam, maka malam ini juga Els akan menguliti wanita itu hidup-hidup.


Sayangnya semua ini kehendak gadis eyang sangat Els sayangi. Mungkin sekarang ini membiarkan Ciara bersama Sintia sementara waktu, selama itu Els akan memikirkannya cara untuk kembali mengambil hati putri sambungnya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2