My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Tak Terduga


__ADS_3

Setelah berada di kampung selama beberapa hari, kini Els dan Ravin kembali ke Ibu Kota untuk melanjutkannya aktivitas seperti biasanya. Dan rutinitas pagi ini di awali dengan sarapan bersama lalu mengantar Ciara kesekolah, karena gadis kecil itu sudah mulai masuk sekolah lagi.


"Sayang, nanti jadi kontrol ke dokter?" tanya ravin di sela makannya.


"Iya Mas, kenapa? Mas ada perlu?" jawab Els yang juga sedang menikmati sarapannya.


"Tidak, Mas hanya memastikan saja" kata Ravin.


"Cia juga mau ikut liat dedek bayi Bunda" interupsi gadis kecil itu.


"Tapi Bunda jadwal nya pagi sayang, kan Cia sekolah" Els memberikanmu pengertian pada Ciara.


"Kalau gitu hari ini Cia gak sekolah, Cia mau liat dedek bayi" gadis kecil itu sudah dalam mode ngambek.


"Begini saja, Bunda atur ulang jadwal ke dokternya jadi siang. Dan Cia bisa ikut setelah pulang sekolah, bagaimana?" tawar Els.


"Beneran Bunda? Bunda gak lagi bohong kan?"


"Benar sayang, memang kapan Bunda pernah bohong sama Ciara hemm??" kata Els. tersenyum lembut pada putrinya.


Els dan Ravin langsung mengantar Ciara ke sekolah, gadis kecil itu tampak bahagia bersama dengan ayah bundanya, tidak sekalipun Ciara bertanya tentang Sintia, atau menyinggung tentang ibu kandungnya itu.


"Nanti kalau dedek bayinya sudah lahir, bunda gak bisa sering-sering mengantar Ciara kesekolah gak apa-apa kan?" tanya Els dengan lembut.


"Memangnya kenapa Bunda?" tanya gadis kecil itu duduk di Car seat belakang Ravin.


"Sayang, dedek bayi masih terlalu kecil untuk di tinggal, tapi nanti sesekali Bunda antar Ciara sama dedek bayi juga" janji Els.


"Nanti dedek bayinya duduk di sebelah Cia ya Bunda" kata Ciara antusias, di angguki Els.


"Siapa nama dedek bayi nya Bunda?"


"Belum tahu sayang, kan belum lahir" ucap Els.


"Bagaimana kalau namanya Raihan?" ucap Ciara.


"Raihan?" kata Els dan Ravin bersamaan.


"Kenapa Raihan?" tanya Ravin.


"Karena Raihan itu baik" sahut Ciara.


"What?????" pekik Ravin mendengar jawaban Ciara, bahkan pria itu mendadak mengerem mobilnya.


"Ahhh.... Mas" keluh Els terkejut.


"Maaf sayang, Mas tidak sengaja" Ravin mengelus-elus perut Els.

__ADS_1


"Apa ada yang sakit?" tanyanya dan Els hanya menggeleng.


"Ciara sayang, bagaimana kalau Cia pindah sekolah?" tanya Ravin kembali melajukan mobilnya.


"No, Ayah. Cia suka sekolah yang sekarang, disana banyak teman-teman Cia dan juga ada Ai" jawab gadis kecil itu dengan cepat.


"Bukannya sekolah Ciara sekarang ini adalah salah satu sekolah terbaik di kota ini Mas? Kenapa harus pindah?" tanya Els.


"Mas hanya takut kalau Cia bosan sekolah disana sayang" bohong Ravin.


Mobil yang di kemudikan Ravin akhirnya sampai di sekolahan Ciara. Dan seperti biasa,.Cia akan di gandeng Els dan Ravin hingga sampai di depan kelasnya.


"Cia" seru seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Ai.


"Hai" ucap Ciara tersenyum lebar melihat kedatangan temannya.


"Lihat, hari ini aku di antar Daddy dan Mommy , Ariell juga ikut" ujar Ai menunjuk kearah pasangan suami-istri dan juga seorang bayi di gendongan perempuan.


"Hallo aunty, hallo uncle" sapa Ciara pada orang tuan temannya itu.


"Hallo sayang, kau manis sekali" puji wanita yang tak lain Mommy Ai.


"Thank you aunty" gadis kecil itu terlihat malu-malu.


Ravin yang melihat semua kejadian itu merasa geli, seolah melihat adegan remaja SMA, bukan lagi balita yang masih TK.


"Uncle, apakah uncle dulu seorang playboy?" celetuk Ciara membuat empat orang dewasa didekatnya tercengangnya.


"Ciara, sayang" ucap Els dan Ravin bersamaan.


Sedangkan seseorang yang mendapat pertanyaan itu hanya diam tidak tahu harus berkata apa, berbeda dengan sang istri yang tersenyum puas.


"Playboy itu apa?" tanya Ai yang juga ikut penasaran, dan membuat tawa Mommy nya pecah.


"Honey" kata Daddy Ai, tak suka melihat istrinya tertawa.


"Oke, baiklah. Ehemm..." wanita itu menghentikan tawanya.


"Kenapa Ciara bertanya kalau uncle dulu playboy?" tanyanya.


"Karena kata Ayah, pasti dulu Daddy Ai adalah seorang playboy" ucap Ciara mencopy perkataan Ravin beberapa minggu yang lalu.


"Sayang, Cia salah dengar. Kapan ayah bilang seperti itu?" ucap Ravin meringis menahan malu.


"Kemarin saat kita berangkat liburan, dan Cia cerita kalau Ai mau berteman selamanya sama Cia, seperti Ayah Bunda, dan seperti Daddy dan Mommy Ai. Tapi ayah malah bilang kalau dulunya Daddy Ai itu playboy" jelas Ciara lancar jaya mulus bak jalan tol.


"Jadi Ai ngajak Cia berteman selamanya?" tanya Mommy Ai, gadis kecil itu mengangguk.

__ADS_1


"Cia mau berteman sama Ai? Cia gak bosan?" tanyanya.


"Cia mau aunty, Cia gak akan bosan. Ai teman yang baik, dan Ai janji akan ajak Cia jalan-jalan dengan pesawat besar milik Opa nya, iya kan Ai?" Ciara mencari pembenaran dari temannya.


"Tentu saja, kita akan mengunjungi Toby dan melihat salju yang tebal" jawab Ai dengan penuh keyakinan.


"Astaga, rencana macam apa ini?" Ravin semakin kehilangan kata-kata.


"Ohhhh so sweet sekali" ucap Mommy Ai.


"Cia sayang, sebaiknya sekarang Cia masuk ke kelas dulu ya" sela Els, sebelum suaminya ledak-ledak.


"Biar Cia sama Ai saya Tante" ucap Ai langsung menggandeng bergandengan tangan dengan Ciara dan masuk ke kelasnya.


Ravin langsung pergi tanpa mengucapkan apapun, sedangkan Els tersenyum tipis pada orang tua Ai, sebelum akhirnya menyusul sang suami.


"Kau dengar rencana putramu itu sayang? Dia benar-benar anakmu, bahkan bakat playboy sudah terlihat sesak usia dini" ucap Mommy Ai pada suaminya.


"Honey, aku bukan pria playboy seperti yang di tuduhkan Ayah gadis kecil itu, karena aku tidak pernah mempermainkan wanita" elaknya.


"Ya, kau memang bukan seorang playboy, tapi seorang player penjajah wanita" cibir sang istri, lalu meninggalkan suaminya.


🍀🍀🍀


Ravin memasuki mobilnya dengan rasa kesal, ia merasa terancam dengan persahabatan putri kecilnya. Sungguh Ravin tidak ingin jika Ciara tumbuh begitu cepat, dan menemukan pria lain sebagai sandaran hidupnya.


"Mas baik-buruk saja?" tanya Els yang baru saja masuk dalam mobil.


"Sayang, sepertinya Cia harus benar-benar pindah sekolah dech" ujar Ravin, ia ingin menjauhkan putrinya dengan teman kecilnya itu.


"Sayang, mereka hanya anak-anak. Dan Ciara tidak akan secepat itu meninggalkan kita" ucap Els tahu maksud suaminya.


"Sayang, kau dengar sendiri kan apa yang sudah mereka rencanakan?"


"Itu hanya rencana anak kecil, dan perjalanan mereka masih panjang, merek harus melalui sekolah dasar, junior high school, senior high school, kuliah, dan aku yakin jika masih ada banyak hal yang ingin Ciara lakukan" ucap Els menenangkan Ravin.


"Hufffff, kamu benar sayang. Sepertinya aku terlalu berlebihan" kata Ravin merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan Els panjang lebar. Pria itu sangat menyayangi putrinya, Ravin tidak ingin Ciara bersama orang yang tidak tepat, karena pasti dirinya akan sangat terluka jika sampai itu terjadi.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2