My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Sulastri Selalu Di Hati


__ADS_3

Emir Prayoga adalah pria berusia 27 tahun, satu-satunya adik Elsava jika Bapak Els tidak menikah lagi. Pak Rusli yang menyandang status Duda hampir tiga tahun itu belum ada rencana untuk menikah lagi, jika di lihat dari perawakannya, Bapak dari Elsava ini belum terlalu tua, namun sudah berusia 56 tahun.


Baik Els maupun Emir tidak melarang jika pak Rusli ingin menikah lagi, karena memang ada satu kebutuhan yang tidak bisa di gantikan perannya oleh siapapun kecuali istrinya. Els dan Emir paham akan hal itu, namun pak Rusli mengatakan jika dirinya tidak ingin menikah lagi dan menjalani hari tuanya bersama anak serta cucu-cucunya nanti.


Kembali pada Emir, pria berusia matang itu juga belum terpikirkan untuk menikah, apalagi sekarang dirinya sibuk mengelola toko grosir yang baru saja di buka beberapa bulan lalu. Ravin sang kakak ipar mempercayakan penuh pengelolaan toko itu pada Emir, bahkan Ravin mengirim seseorang untuk mengajari Emir tentang pembukuan, pemasukan, pengeluaran dan lainya. Satu bulan penuh Emir belajar memanage toko grosir itu agar tidak membuat kesalahan dan mengembangkan nya.


Entah berapa ratus juta dana yang Ravin gelontorkan untuk mendirikan toko itu, karena toko itu sangat besar dan sangat lengkap, minus furniture, sayuran, dan pakaian. Lainya semua tersedia di 'EMIR GROSIR ' dari sembako hingga kebutuhan petani, seperti bibit, pupuk, alat tani dan masih banyak lagi.


Emir pun tidak sendiri, ada Bude Jumi dan Bibik Sumarni yang membantunya. Kedua pengganti Mamak bagi Emir itu akan datang jika sudah selesai dengan urusan rumah tangga nya masing-masing, dan juga pak Rusli akan datang siang hari jika sudah pulang dari ladang/sawah.


"Rame tokonya Mir" ucap Pak Rusli yang baru saja datang.


"Alhamdulillah pak, rame" sahut Emir duduk di balik meja kasir.


"Kamu sudah makan?"


"Hehe...lupa Pak" Emir meringis.


"Kok bisa sampai lupa makan siang? Bude mu bawain bontot kan?"


"Iya Bude bawain Emir nasi tadi, tapi Emir lupa belum makan"


"Kamu ini, jangan karena kerja tapi kamu lupa jaga kesehatan" omel pak Rusli.


"Kenapa Rus?" tanya bude Jumi yang baru saja selesai membungkus gula pasir dan tepung terigu.


"Ini si Emir lupa makan bontot yang dari mbakyu"


"Padahal bude sudah ingetin kamu dari tadi Mir" Bude Jum ikut mengomel.


"Nama nya juga lupa Bude, kan gak inget" sahur Emir membuka tantangan dan mulai memakan bontot dari Bude Jumi.


"Harus ada yang ingetin kamu, dan kamu selalu nurut kalau di ingetin" ucap Bude Jumi.


"Siapa?" Emir menyuapkan nasi dan sambel jengkol plus ikan asin goreng.


"Istri, kamu sudah pantas untuk menikah Mir. Ya kan Rus?"


"Ya kalau Emir nya mau dan calon nya ada" jawab pak Rusli.


"Emir belum siap Bude, nanti sajalah mikirin nikah. Emir mau fokus ke toko dan menyicil uangnya sama mas Ravin" tutur Emir.


"Memang Ravin minta uang nya di kembalikan?" tanya bude Jum.

__ADS_1


"Ya tidak, tapikan Emir harus tahu diri Bude. mas Ravin mengeluarkan uang lebih dari seratus juta untuk membangun toko ini, belum lagi pickup itu"


"Halah, Ravin pasti tidak akan mau menerimanya uang itu" ucap bude Jum.


"Ya urusan mau nggak nya belakangan Bude. Yang penting niat Emir mengembalikan modal mas Ravin sekaligus berterima kasih atas bantuannya. Lagi pula yang saudaraan itu orangnya, bukan uang nya"


"Yo wes terserah kamu saja, Bude ndak ikutan" Bude Jumi kembali membungkus gula pasir dan minyak goreng bersama Bik Sumarni atau biasa di panggil Bik Sum.


🍀🍀🍀


"Kamu benar-benar belum ingin menikah Mir?" tanya pak Rusli pada putra bungsu nya.


"Menikah sama siapa Pak? pacar saja Emir ndak yang punya" bapak dan anak itu tengah bersantai berbincang didalam rumah sebelum tidur.


"Gimana mau punya pacar kalau kamu ndak nyari, atau mau bapak jodohkan sama anaknya Pak Samsuri?"


"Ya ampun Pak, Emir ini masih bisa cari jodoh sendiri. Ngapain di jodohkan, seperti tidak laku saja"


"Lah, biar ada yang ngurusin dan merhatiin kamu"


"Dari pada Bapak sibuk ngurusin jodoh Emir, mending Bapak cari jodoh bapak sendiri, biar ada temen tidur, dan temen ngobrol" saran Emir.


"Bocah gemblung, jodoh bapak itu ya Mamak mu, istri bapak cuma Sulastri selalu di hati" ucap pak Rusli dengan bangga.


"Sok gaul bapak ini, belajar sama siapa?" Emir tertawa menggelengkan kepalanya.


"Pantes saja, eh ngomong-ngomong bapak ngobrol sama Toro apa mau PDKT sama ibunya? Bude Rukmini itu kan Janda" tebak Emir.


"Ngelantur itu namanya, Yo bapak gak mungkin PDKT sama ibunya Toro, aneh-aneh aja kamu"


"Gak aneh pak, janda ketemu duda itu hal yang wajar. Lagi pula Toro pasti bakalan setuju"


"Bapak yang gak setuju, enak saja. Pokoknya Sulastri selalu di hati gak bisa di ganti meskipun dengan Rukmini, ataupun Jumini" ucap pak Rusli, lalu masuk ke kamar meninggalkan Emir yang terbahak-bahak mendengar kalimat pak Rusli.


🍀🍀🍀


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.15 namun belum ada tanda-tanda bangun dari Els. Ravin sudah bangun lebih dulu, bahkan pria 35 tahun itu sudah siap dengan pakaian kerjanya, namun sang istri belum juga tersadar dari alam mimpinya.


"Apakah tadi malam aku bermain keterlaluan hingga dia lelah dan tak kunjung bangun?" gumam Ravin melihat istrinya bergelung dalam selimut tebal tanpa sehelai benang selain selimut yang menutupi tubuhnya.


"Sayang, bangun" ucap Ravin selembut mungkin.


"Sayangku istriku"

__ADS_1


Cup...cup...cup...


Ravin sengaja mengecupi bibir Els agar wanita itu bangun.


"Mas, aku lelah. Biarkan aku beristirahat" Els malah menarik selimutnya hingga menutupi kepala.


"Apa kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya lelah" lirih Els dari dalam selimut.


"Baiklah, aku turun dulu. Kamu mau susu hangat atau jus?"


"Aku mau jus sirsak"


"Oke, aku akan minta mbok Yati untuk membuatnya" ucap Ravin lalu keluar kamar menuju kamar putrinya.


"Good morning princess Ayah" ucap Ravin begitu memasuki kamar Ciara.


"Morning ayah" gadis kecilnya itu selalu saja ceria.


Cup...cup....


Ravin mencium kedua pipi chubby Ciara.


"Bunda mana?"


"Bunda sedang tidak enak badan, Cia hari ini sekolah di tungguin sama pak Eko ya?"


"Bunda sakit? Cia mau lihat Bunda" Ciara hendak berlari ke kamar Ravin, tali langsing di tahan oleh sang Ayah. Tidak mungkin Ravin membiarkan Ciara bertemu dengan Els dengan kondisi Els yang polos seperti bayi dengan penuh tanda merah keunguan yang memenuhi tubuh Els. Bisa gawat dan berujung banyak pertanyaan dari Ciara yang tak mampu Ravin jawab.


"Sayang Bunda sedang tidur, jangan di ganggu ya. Nanti siang saja Cia temui Bunda, kan kasihan kalau bunda bangun karena Ciara datang" bujuk Ravin.


"Oke deh, nanti siang Cia temui Bunda"


"Ya udah sekarang kita sarapan dan ayah antar Ciara sekolah" Ravin langsung menggendong Ciara keluar dari kamarnya.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2