My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Pak Rusli Kepo


__ADS_3

Arya terlihat gelisah menunggu kedatangan Lisa, selain ingin memastikan jika sang adik benar-benar bekerja sebagai tutor, Arya juga ingin tahu siapa pria yang menjadi pacar Lisa hingga bersedia membayar uang kuliahnya. Pikiran Arya sudah kemana-mana memikirkan apa yang dilakukan oleh Lisa pada pacaran sehingga pria itu bersedia membiayai kuliahnya.


Realistis saja, jaman sekarang tidak ada yang gratis bukan? Arya takut jika Lisa melakukan hal-hal yang tidak benar pada pacarnya, Arya tidak ingin adiknya terjerumus dalam pergaulan bebas dengan pria yang menjadi pacarnya itu.


Sudah pukul delapan malam gadis itu belum sampai rumah, membuat Arya semakin berpikir negatif. Ayah satu orang putri itu terus mondar-mandir di ruang tamu memikirkan dimana sang adik berada, hingga suara knop pintu menghentikan langkahnya.


"Lisa" ucap Arya langsung mendekati Lisa ketika daun pintu itu terbuka, dan terlihat seorang gadis dengan mengenakan blouse warna putih dan jeans hitam panjang. Wajah gadis itu tampak terlihat lelah dan lesu.


"Kamu dari mana saja sih Lis? Jam segini baru pulang?" tanya Arya dengan nada interogasi.


"Apaan sih Mas" jawab Lisa malas, gadis itu berlalu dari hadapan Arya.


"Lisa, Mas sedang bicara padamu" Arya mencekal lengan kanan Lisa, gadis itu mengerutkan keningnya.


"Besok saja bicaranya, Lisa lelah mau istirahat" tolaknya berusaha melepaskan cekalan tangan Arya.


"Katakan siapa pria itu?" Arya tak menghiraukan penolakan Lisa.


"Ckk" gadis itu berdecak tak paham dengan apa yang di bicarakan oleh kakaknya.


"Pria mana sih Mas? Jangan ngaco deh"


"Pria yang menjadi pacarmu, pria mana katakan pada Mas. Dan apa saja yang kalian lakukan sampai dia mau membiayai uang kuliah kamu?" tuntut Arya bertanya pada Lisa.


Lisa yang di tanya seperti hanya tersenyum kecut, sekarang ia tahu kemana arah pembicaraan Arya.


"Memangnya kenapa? Apa yang Lisa lakukan bersamanya itu hak Lisa. Lagi pula kamu sama-sama suka, dan dia dengan senang hati membiayai kuliah Lisa" gadis itu menghempaskan cekalan tangan Arya.


Arya yang mendengar jawaban tidak sesuai dengan keinginannya merasa kesal, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Ia sungguh tak suka dengan jawaban yang Lisa berikan.


"Apakah kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan itu Lisa?!" serunya.


"Ya, aku sadar! Bahkan seribu persen sadar" ucap Lisa menentang Arya.


"Kau itu perempuan Lisa, mau jadi apa jika kau melakukan hal yang tidak sepantasnya dengan seorang pria yang bukan suamimu?"


"Mau jadi apapun aku, Itu bukan urusan Mas Arya"

__ADS_1


"LISA!" teriak Arya, membuat Bu Nunik keluar dari kamarnya dan melihat kedua anaknya bersitegang.


"Jaga bicaramu itu, kamu adalah adikku, amanah dari almarhum Bapak, Mas punya kuasa penuh untuk mengatur hidup mu, karena itu tanggung jawab Mas" tutur Arya mengingatkan adiknya.


"Woahhh" Lisa tertawa mendengar penuturan Arya.


Prok...prok....prok...


Gadis itu bertepuk tangan dengan suara tawa yang menggelegar, namun terdekat hambar.


"Kau luas biasa Mas, bapak pasti bangga memiliki putra yang bertanggung jawab seperti mu dan juga Mas Aryo. Bertanggung jawab, menemui segala kebutuhanku, pendidikan ku, sandang panganku, menyayangi mu, melindungiku, membuat hidup ibu tenang di hari tuanya" ucap Lisa menatap sinis Arya.


"Kau putra yang sangat berbakti Mas, siapapun orang tua yang memiliki putra seperti mu pasti akan merasa bangga" ucap Lisa, lalu gadis itu mendekat pada Arya dan.


"Tapi semua itu hanya ada dalam mimpimu" bisik Lisa lalu meninggalkan Arya yang mematung.


"Tapi aku tetap berterimakasih karena Mas Arya sudah membantu uang pendidikan ku, dan memenuhi segala kebutuhan dulu. Tapi sekarang, biarkan aku sendiri yang menentukan jalan hidupku, Mas tidak perlu lagi ikut campur!" ucap Lisa sesaat menghentikan langkahnya, lalu kembali berjalan menuju kamarnya.


Sepasang mata wanita paruh baya menitikkan air mata melihat perdebatan buah hatinya. Ia tidak bisa menyalahkan sikap putrinya yang seperti itu, karena sikap Lisa juga imbas dari sikapnya yang dulu. Sedangkan Arya, wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang putranya, ia hanya berharap jika sang putra mampu membimbing menantunya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.


Emir, pria itu senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan sebuah pesan. Hati yang dulu kosong kini mulai terisi oleh hadirnya gadis yang beberapa bulan lalu di temuinya. Sejak pertemuan nya dengan Lisa, keduanya intens bertukar pesan membicarakan hal-hal yang tidak penting namun mampu membuat keduanya tersenyum bahagia.


Sepasang mata mengamati tingkat laku Emir yang terus menyunggingkan senyuman, deretan gigi putih itu terus terlihat seperti iklan pasta gigi. Pak Rusli tahu jika sang putra kini tengah kasmaran, pria itu hanya bisa berdoa agar kali ini Emir benar-benar berteman dengan jodohnya.


"Gadis mana?" tanya pak Rusli duduk di depan Emir yang berada di balik meja kasir.


"Gadis mana apanya Pak?" Emir tak paham.


"Yang membuatmu tersenyum terus, pasti seorang gadis kan?" ucapnya membuat Emir menegakkan duduknya.


"Bapak sok tahu deh, orang Emir liat video lucu makanya Emir tersenyum" elak Emir, dirinya belum siap bicara terus terang pada pak Rusli, lagi pula antara Emir dan Lisa belum ada hubungan apa-apa, hanya sekedar abang-adek saja. Meskipun tidak bisa di lingkungan jika Emir memilikinya rasa suka pada Lisa, namun belum tentu gadis itu juga suka padanya, apalagi di kampus Lisa banyak pria-pria tampan dan berpendidikan. Tidak seperti Emir yang hanya pria kampung, ahhh... memikirkan hal itu membuat Emir menjadi insecure.


"Bapak ini memang bodoh, tapi bapak gak bisa kamu bodoh-bodohi. Bapak tahu kalau yang membuatmu tersenyum itu bukan sebuah video" ujar pak Rusli tak terima diremehkan oleh Emir.


"Kami hanya berteman Pak, tidak lebih" jujur Emir, karena tidak semudah itu membohongi pak Rusli.


"Gadis mana? Apakah bapak mengenalnya?" tanyakan antusias. Emir menatap ragu pada pak Rusli, pria itu menimbang-nimbang untuk mengatakan tentang Lisa atau tidak.

__ADS_1


"Bapak mengenalnya" kata Emir.


"Benarkah? Kapan kita melamarnya?"


"Melamar?" beo Emir.


"Kan udah Emir bilang kalau kamu hanya berteman, bapak mikir ya kejauhan" Emir menggelengkan kepalanya.


"Jodoh siapa yang tahu? Orang mana? Namanya siapa?"


"Kami hanya berteman Pak" lagi-lagi Emir mengingatkan pak Rusli.


"Iya bapak dengar, memangnya bapak Ndak boleh tahu namanya?"


"Ndak, udahlah jangan di bahas lagi"


"Kamu suka sama dia?"


"Pakkkk" ucap Emir dengan nada memohon.


"Bapak kan cuma tanya, lagian gak apa-apa kalau kamu mau curhat sama bapak" ucapnya menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya kalau Emir suka sama dia kan wajar, Emir pria dan dia wanita. Kalau Emir suka ya sama Toro, itu baru gak wajar" sahut Emir membuat pak Rusli menatap kesal. Lalu pergi dari hadapan Emir, dan memilih untuk menimbang gula pasir. Emir yang melihat wajah kesal pak Rusli malah tertawa penuh kemenangan.


"Tidak semudah itu pak'e...pak'e..." gumam Emir membuka aplikasi chatting berwarna hijau, karena ada beberapa notifikasi pesan masuk.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2