My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Suasana Hangat


__ADS_3

"Emirrr..." seru Els melihat saudara semata wayangnya. Wanita hamil itu langsung menghampiri Emir dan memeluknya dengan erat.


"Ughhh" keluh Emir Els membuatnya sulit bernafas.


"Mbak kangen banget sama kamu" ucap Els menepuk-nepuk punggung lebar adiknya.


"Emir juga kangen sama Mbak, tapi bisakah mbak gak meluk Emir sekuat ini, Emir gak bisa bernafas" melas Emir pada Els.


"Ckk....kenapa kamu jadi lemah begini? Baru juga dipeluk" Els melepas pelukannya dan mencubit lengan kekar Emir.


"Aduhh..... bagaimana bisa Mas Ravin betah hidup sama perempuan seperti ini" ucap Emir melirik pada Ravin.


"Ishh...." Els sengaja menginjak kaki Emir.


"Mas Ravin bisa lihat sendirikan?" adu Emir.


"Mbak mu adalah istri yang baik untuk Mas" Ravin merengkuh tubuh Els dan mencium pipi chubbynya.


"Kau dengar itu?" kata Els merasa menang dengan pembelaan Ravin.


"Bucin" lirih Emir mendekati kandang kambing.


"Kapan kita potong kambingnya?" tanya Els.


"Mbak maunya kapan?" tanya Emir.


"Malam ini, ayo potong sekarang mumpung masih jam dua siang" kata Els semangat.


"Kalau gitu, Emir panggil Pak Imam buat nyembelih kambing, sama pakde Bejo buat bantu-bantu" Emir mencari bala bantuan untuk menyembelih kambing dan membersihkan daging kambing nantinya.


"Jangan lupa panggil Bude Jum dan Bibik Sumarni sekalian" ringis Els, sebab dirinya tidak bisa mengolah daging kambing, karena memang jarang-jarang memasak daging kambing.


"Oke" Emir mengangkat jempolnya sambil terus berjalan.


"Mas doyan daging kambing?" tanya Els, posisi Ravin masih memeluknya.


"Mas mau makannya, tapi gak terlalu banyak" jawab Ravin mengecupi puncak kepala Els.


"Cia masih sama Bapak?" kata Ravin.


"Ya, dia sangat merindukan mbahnya" ucap Els.


"Kemana bapak bawa pergi Cia?"


"Seperti biasa, paling juga cuma muter-muter kampung pakai si supra" ujar Els tahu kebiasaan bapaknya, Pak Rusli pasti akan keliling kampung dan memamerkan sang cucu pada orang-orang. Ya, begitulah pak Rusli, meski Ciara bukan cucu kandungnya tapi beliau sangat menyayangi Ciara layaknya cucu kandung hingga membuat gadis kecil itu lengket dan nempel dengannya.


🍀🍀🍀


Emir mengorbankan dua ekor kambing usia 5 bulan untuk di potong demi memenuhi keinginan Els. Kambing itu belum terlalu besar, sedangkan anggota keluarga mereka banyak orang di tambah tetangga kiri kanan yang mereka ajak untuk menikmati sate dan juga gulai kambing.


Setelah magrib, seluruh keluarga dan juga tetangga dekat berkumpul di rumah pak Rusli untuk menikmati makan malam dengan lesehan di halaman luasnya. Para bapak-bapak sibuk membakar sate kambing, sedangkan ibu-ibu menyiapkan makanan pendukung seperti nasi, lalapan, sambel dan lainya.


Setelah itu mereka makan bersama-sama dengan suka cita, suasana begitu hangat dan sangat terasa kekeluargaan di selingi obrolan ringan. Els sangat menyukai suasana seperti sekarang ini, sudah lama ia tidak membaur dengan keluarga besar dan tetangganya.


Ravin yang notabenenya sering hidup sendiri sangat menikmati acara seperti ini, secara tidak langsung ia menemukan kehangatan keluar yang sudah lama hilang dari hidupnya.


"Kandunganmu sudah berapa bulan nduk?" tanya bude Jum.

__ADS_1


"Tujuh bulan Bude" jawab Els.


"Wah, mau buat pengajian tujuh bulanan Ndak?"


"Udah Bude, kemarin saat di kota. Sekalian syukur rumah baru dan santunan kepada anak-anak panti asuhan" jelas Els, memeng dua hari sebelum kerumah pak Rusli Els dan Ravin menggelar acara syukuran di rumah barunya.


"Oalah, bude kira kamu belum buat acara pengajian" ucap bude Jum, mereka semua melanjutkan makan malam dengan berbagai cerita dan candaan.


Els mendekati Emir yang berada di ruang tamu dengan ponselnya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.15 dan acara makan-makan sudah selesai dari tadi. Tapi di teras masih ada beberapa tetangga dan juga keluarga Els yang laki-laki atau para bapak-bapak, mereka masih betah ngobrol sambil main karambol seperti anak-anak.


"Ehem..., chatting sama siapa sih Mir? Kok senyum-senyum begitu?" Els duduk di sebelah Emir mencoba melihat layar ponsel adiknya.


"Ada deh, mbak gak tidur?" kata Emir, namun jari-jarinya masih berduet dengan keypad smartphone miliknya.


"Kamu punya pacar?"


"Ndak"


"Kamu PDKT sama cewek?"


"Ndak"


"Jadi?" Emir menghela nafas dan menoleh ke arah mbak nya.


"Ada apa sih mbak? Tumben tanya-tanya begitu?"


"Rumah ini besar Mir" Emir mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti arah pembicaraan Els.


"Kapan kamu nikah? Biar rumah nya gak terlalu sepi" kata Els menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu.


"Kamu belum ada rencana mau nikah?" tanya Els tanpa memperhatikan wajah masam Emir.


"Nikah itukan gak gampang mbak, yang paling utama adalah punya calon istrinya. Sedangkan Emir gak punya calon istri" ucap emirrr.


"Jadi kamu gak punya pacar Mir?" adik Els itu hanya mengangguk.


"Dengan kata lain kamu jomblo?"


"Hem" sahut Emir kembali memainkannya ponselnya.


"Jadi dari tadi kamu main HP dan senyum-senyum sendiri itu ngapain?" Els memecingkan matanya.


"Ya kan gak harus chatting sama cewek, mbak. Orang Emir lagi ngobrol sama temen"


"Temen kamu cewek?"


"Iya"


"Mbak kenal?"


"Iya"


"Siapa namanya?"


"Lisa"


"Lisa?" beo Els langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Lisa siapa yang kamu maksud Mir?" Emir menoleh ke arah Els seolah menyadari sesuatu.


"Emmm..."


"Jangan bilang kalau itu adalah Lisa adiknya Mas Arya?" tebak Els.


"Memang kenapa mbak? aku dan Lisa kan cuma berteman, gak ada hubungan apa-apa kok" jelas Emir pada Els.


"Kamu suka sama Lisa?"


"Semua pria pasti suka dengan wanita yang cantik Mbak" jawab Emir realistis.


"Tidak semua, karena Mas Ravin hanya suka sama aku" bangga Els.


"Ya...ya....ya... kecuali mas Ravin" jengah Emir, melihat saudaranya semakin menyebalkan.


"Jadi kamu beneran suka sama Lisa?" ulang Els kurang puas dengan jawaban Emir.


"Entahlah" Emir meletakkan ponselnya dan merebahkan tubuhnya dengan kepala di paha Els.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Els mengusap kepala adiknya.


"Tidak ada, hanya saja Emir masih menikmati kesendirian Emir. Cuma bapak udah sering nyuruh Emir menikah" Emir memejamkan matanya menikmati usapan tangan lembut Els.


"Agak di tekan-tekan Mbak, biar enakan dikit" pinta Emir agar Els memijat kepalanya, bukan hanya mengusap-usap.


"Memang benar-benar belum ada cewek yang kamu suka?" Els menuruti permintaan Emir memijat kepalanya.


"Ada sih, tapi Emir sendiri juga belum yakin"


"Lisa?"


"Menurut mbak?"


"Lisa sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia terlalu cuek. Bahkan dengan keadaan sekitarnya" ucap Els mengingat sifat adik iparnya dulu.


"Menurut mbak begitu?"


"Hem"


"Kalau misalnya Emir berhubungan dengan Lisa, apakah mbak setuju?"


"Apapun yang memberikan kamu bahagian pasti mbak setuju" jawab Els apa adanya.


"Tapi sepertinya bapak kurang setuju" lirih Emir, karena sampai sekarang pak Rusli masih kurang respect dengan keluarga Arya sejak kepulangan Els dengan berurai air mata saat itu.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2