My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Menghibur Istri


__ADS_3

Sore itu juga Ravin dan Els mengantarkan Ciara ke rumah Sintia, awalnya gadis cilik itu menolak saat Els ikut serta mengantarkan dirinya. Namun dengan sedikit paksaan dari Ravin, akhirnya Cia setuju Els ikut mengantarnya.


"Cia, nanti di rumah Mami, Cia boleh minta apa saja sama Mami. Mami sangat sayang sama Ciara, jadi mami pasti akan menuruti semua kemauan Ciara" ucap Els membuat Ravin mengerutkan keningnya.


"Cia tahu" ketusnya.


"Bagus kalau Cia tahu" sahut Els tersenyum miring, entah apa yang di rencanakan wanita itu.


Sesampainya di rumah Sintia, atau lebih tepatnya sesampainya di rumah Tari, kedatangan Els, Ravin dan Ciara di sambut wajah bingung Sintia. Terlebih saat Sintia melihat senyum smirk Els, wanita itu bergidik ngeri mengingat kejadian yang di alaminya tadi pagi. Tangan dan tengkuk Sintia masih terasa nyeri akibat cengkraman Els.


"Ada apa?" tanya Sintia, ingatan nya masih segar saat Els memperingatkan nya untuk tidak menganggu keluarga kecil mantan suaminya itu. Dan hari ini maupun seterusnya Sintia tidak ingin berurusan dengan wanita psikopat seperti Els.


"Mami" Ciara mendekati Sintia.


"Cia mau tinggal sama Mami, bolehkan?" ucap gadis kecil itu.


"Hah??" Sintia menatap Ravin dan Els bergantian.


"Cia bilang ingin tinggal bersama dengan mbak Sintia" jelas Els mendekati Sintia dan memegang pundak mami Ciara itu, bukan hanya memegang, namun juga meremas dengan kuat, bahkan kuku panjang Els menancap di pundak mulus Sintia.


"Mbak Sintia tidak keberatan bukan?" tanya Els tersenyum manis, sedangkan Sintia meringis menahan sakit dan pedih akibat cengkraman Els.


"Te...tentu saja tidak keberatan, aku senang jika Cia mau tinggal bersamaku" ucap Sintia.


"Cia sayang, Cia temani adik kecil itu dulu ya. Ayah mau bicara sama Mami" ucap Ravin, dan gadis kecil itu menurut menghampiri adik bayinya.


"Aku membiarkan Ciara tinggal bersama mu bukan berarti kau bisa melakukan hal-hal buruk sesuai kemauan mu Sintia" tegas Ravin. "Aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan dan kebodohan seperti yang kau lakukan tempo hari" Ravin menghela nafasnya. "Putriku masih sangat lugu dan polos, jangan sampai kau meracuni otak sucinya" sambung Ravin, lalu menyeret koper milik Ciara masuk kedalam rumah kecil itu.


"Aku memberikan kesempatan untuk mu dekat dengan putrimu, jangan sampai kau melakukan kesalahan" bisik Els.


"Kau masih ingat rasa sakit tadi pagi bukan?" Els menyeringai.


"Jaga baik-baik putriku, aku akan menjemput nya setelah kembali dari bulan madu" Els sengaja memanas-manasi Sintia. Padahal kenyataannya Els tidak pernah memikirkan tentang bulan madu.


🍀🍀🍀


Setelah mengantar Ciara, Els dan Ravin kembali kerumah, namun sepanjang perjalanan Els hanya diam sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Ravin yang tidak tahan dengan kebisuan Els mencoba membuka suara.

__ADS_1


"Sayang, kita makan malam di luar ya" ajak Ravin mencairkan suasana.


"Terserah Mas saja" jawab Els.


"Sayang kamu marah sama Mas?"


"Marah kenapa?" Els menatap Ravin.


"Karena Mas membiarkan Cia tinggal bersama Mami nya"


"Tidak Mas, aku tidak marah karena hal itu atau hal lainnya. Lagi pula Cia tinggal bersama dengan mbak Sintia juga bagus, agar mereka lebih dekat dan saling memahami, semoga saja mbak Sinta tidak memberikan pengaruh buruk pada Ciara"


"Semoga saja" Ravin mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran yang menyajikan makanan kekinian dan instagramable, dimana banyak muda mudi mendatangi restoran tersebut.


"Kenapa kesini?" tanya Els melihat suasana resto sangat ramai namun tetap cozy karena banyak spot cantik yang bisa di pilih sebagai tepat duduk.


"Memangnya hanya para remaja yang boleh kemari?" Ravin merangkul pundak Els dan membawanya masuk kedalam.


"Mau duduk dimana?" tanya Ravin.


Ravin menuruti semua kemauan Els, sebisa .ingin Ravin mengalihkan perhatian Els agar tidak terlalu memikirkan Ciara yang saat ini tinggal bersama mantan istrinya. Pasangan suami-istri itu menikmati makan malam dengan menyaksikan live music yang membuat keduanya tersenyum bahagia, sejenak melupakan kesedihan yang ada dalam hatinya, meskipun hanya sesaat.


"Bagaimana kalau malam ini kita menginap di hotel?" tanya Ravin mulai mengemudikan mobilnya.


"Menginap di hotel? kenapa?" bingung Els.


"Ingin saja, lagi pula kita belum pernah bulan madu sayang" tutur Ravin.


"Bulan madu? astaga Mas, Mas lupa jika dalam rahim mu ini sudah tumbuh bibit Mas?" Els mengingatkan Ravin jika dirinya kini tengah hamil. "Bulan mau, yang benar saja" gumam Els.


"Tidak ada larangan bagi wanita hamil untuk bulan madu" ucap Ravin.


"Lagi pula, saat kita bulan madu akan membuat calon bayi kita bahagia. Karena Ayahnya bisa puas menjenguknya, dan membuat Bunda nya terkapar lemas" Ravin menaik turunkan kedua alisnya.


"Ihhhh.... bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu ya Mas" geram Els mencubit pinggang Ravin.


"Awhhhh sayang, kebawah sedikit lagi" ucap Ravin dengan nada manja.

__ADS_1


"Mas, berhenti bicara seperti itu" wajah Els sudah sangat merona akibat perkataan Ravin yang menjurus ke adegan iya iya.


"Baiklah, kita akan menginap di hotel depan itu, aku sudah tak sabar mendengan ******* merdu mu sayang" Ravin menjawil dagu Els, tidak biasanya Ravin seperti itu. Els sangat paham jika apa yang saat ini di lakukan oleh Ravin adalah usahanya untuk menghibur Els karena Ciara bersama Sintia. Els merasa sangat beruntung memiliki suami yang peka seperti Ravin, ia tidak akan pernah membiarkan wanita lain merebut suaminya, bahkan mengkhayalkan memiliki Ravin, termasuk Sintia mantan istri Ravin.


🍀🍀🍀


Sintia menatap heran dan sedikit kesal pada Ciara, heran karena tiba-tiba saja putrinya itu ingin tinggal bersamanya, dan kesal karena dengan terpaksa Sintia harus membatalkan janji kencannya dengan salah satu kliennya, tidak mungkin kan jika Sintia meninggalkan Ciara dan Vania pada Tari, apa lagi Ciara sudah pandai bicara dan gadis kecil itu cukup cerdas dengan berbagai pertanyaan yang kritis.


"Cia, kenapa tiba-tiba ingin tinggal sama Mami?" Sintia mulai mengintrogasi putrinya.


"Cia ingin dekat sama Mami" jawab Ciara menatap Sintia, entah apa yang ada dalam pikiran gadis kecil itu.


"Apa Bunda sudah mulai jahat sama Cia?" pancing Sintia.


"Tidak" Ciara menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Bunda akan segera punya adik bayi" ucap Ciara.


"Apa????" teriak Sintia, bahkan wanita itu menggebrak meja dengan kuat, membuat Ciara dan Vania terjingkit.


"Maaf, Mami tidak sengaja" ucap Sintia, melihat raut wajah ketakutan Ciara. Bahkan Vania menangis karena terkejut.


"Sial, kenapa wanita murahan itu harus hamil? membuatku semakin susah untuk kembali pada Ravin" gerutu Sintia dalam hati, wanita itu begitu geram dan kesal mendengar kabar kehamilan istri mantan suaminya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2