
Ravin masih memeluk erat Els yang tertidur di dadanya. Wanita hamil itu menangis tersedu mengingat calon buah hatinya yang sudah tiada hingga kelelahan dan tertidur dalam pelukan hangat suaminya.
"Aku berjanji tidak akan membuatmu merasa kesakitan ataupun sendirian" bisik Ravin di telinga Els. Pria itu sedikit menyesal karena telah mengungkit masa lalu Els yang menyakiti dan membuat wanitanya menangis, namun ada rasa lega karena bisa lebih memahami dan mengerti sang istri untuk kedepannya.
"Ayah" Ciara baru bangun tidur, gadis kecil itu berdiri di ambang pintu dengan mengucek matanya.
"Kemari sayang" Ravin melambaikan tangan kirinya, karena tangan kanannya ia gunakan untuk memeluk Els.
"Bunda tidur?" Ciara duduk di sisi kiri Ravin.
"Ya, Bunda juga mengantuk seperti Ciara" ujarnya.
"Lihat, dia bergerak" ucap Ciara melihat sebuah tendangan di perut bulan Els.
"Dia ingin menyapa Kakak nya" Ravin mengusap lembut kepala Ciara.
"Apakah dia laki-laki?" tanya Ciara.
"Entahlah, Cia mau adik laki-laki?"
"Ya, Cia mau adik laki-laki"
"Bagaimana kalau nanti adik nya perempuan?" kata Ravin.
"Kenapa ayah tidak membuat adik laki-laki?"
"Itu...."
"Harusnya ayah buat adik laki-laki saja, kenapa malah buat adik perempuan?" gadis kecil itu memanyunkan bibirnya.
"Tuhan tolong selamatkan aku kali ini saja, berdebat dengan wanita bahkan yang masih anak-anak sangatlah menguras tenaga" batin Ravin meminta pertolongan.
"Sayang, maksud Ayah. Kita tidak bisa menentukan akan punya adik laki-laki atau perempuan" ujar Ravin lembut.
"Maksudnya ayah tidak bisa membuat adik laki-laki?" tanya Ciara dengan polosnya, namun mengiris hati Ravin.
"Cia mau minta sama Bunda saja, agar membuatkan adik laki-laki" gadis itu melipat tangannya di dada dan bibirnya mengerucut tajam.
"Apa" seru Ravin reflek, hingga membuat Els bangun.
"Maaf sayang, sungguh mas tidak sengaja" sesal Ravin mengusap-usap pundak Els.
"Cia kenapa sayang" Els mengabaikan Ravin dan malah terfokus melihat Ciara yang sepertinya tengah merajuk.
"Bunda, Cia mau dibuatkan adik laki-laki" pintanya dengan polos.
__ADS_1
"Hah?" bingung Els belum paham dengan kata-kata Ciara.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, karena ini sudah hampir sore" ucap Ravin mengalihkan pembicaraan.
Ravin menggendong Ciara dan menggenggam tangan Els berjalan keluar dari kantornya, di depan meja resepsionis seorang pria mengamati Els yang tengah berjalan berdampingan dengan Ravin. Pasangan serasi, keluarga bahagia terlihat dari raut wajah ketiganya.
"Kenapa pria itu terus melihat ke arah kita?" ujar Ravin, Els mengikuti arah pandang Ravin dan menemukan sosok Arya yang melihat ke arahnya.
"Dia mantan suamiku" kata Els menundukkan kepalanya.
Arya yang sadar jika Boss dan mantan istrinya menyadari diperhatikan olehnya langsung berlalu begitu Ravin dan Els semakin mendekat ke arahnya.
"Kenapa dia pergi?" ucap Ravin, Els hanya mengedikkan bahunya.
"Apakah dia masih mencintai mu sayang?" kini mereka sudah sampai lobby.
"Itu tidak mungkin, karena dia sudah menikah lagi bahkan memiliki seorang anak"
"Kau tahu?" ketiganya sudah masuk kedalam mobil, karena Pak Eko memang menunggu tepat di depan lobby.
"Ya, Emir yang menceritakannya padaku saat mengantar bapak untuk MCU waktu itu"
"Bagaimana Emir bisa tahu?"
"Kamu tidak mengatakannya pada Mas, sayang" kata Ravin.
"Aku rasa itu bukanlah sesuatu yang penting, karena aku juga tidak perduli dengan cerita itu" jawab Els jujur.
"I love you, jangan menyembunyikan apapun dariku sekalipun itu tidak penting"
"I love you more my husband" ucap Els meskipun terdengar kaku, namun cukup membuat hati Ravin senang.
🍀🍀🍀
Arya pulang kerumah dengan menekuk wajahnya, entah kenapa pertemuannya dengan Els membuat hatinya gamang. Ada perasaan tak rela jika Els telah menjadi istri pria lain, tapi ada rasa bahagia karena melihat Els baik-baik saja dan menjalani hidupnya dengan bahagia.
Bu Nunik heran melihat Arya berlalu begitu saja melewatinya bahkan masuk rumah tanpa mengucapkan salam, pria itu hanya menunduk kepalanya seolah melihat sesuatu yang menarik di lantai.
"Arya" panggil Bu Nunik beberapa langkah setelah memasuki pintu.
"Eh..." Arya langsung berbalik menyalami tangan ibunya.
"Assalamualaikum Bu" ucap Arya meskipun terlambat.
"Walaikumsalam" sahut Bu Nunik memperhatikan wajah putranya.
__ADS_1
"Ibu sendirian? Dimana Kinara?" tanya Arya, karena biasanya Bu Nunik dan Kinara lah yang menyambut kedatangannya di teras.
"Memangnya Cindy tidak izin pada jika dia mau menginap dirumah ayahnya?" Bu Nunik tanya balik.
"Cindy tidak mengatakan apapun pada Arya" jujurnya, membuat Bu Nunik menghela nafas berat.
"Cindy membawa Kinara kerumah Ayahnya, dia bilang akan menginap disana beberapa malam" jelas Bu Nunik, lalu keduanya masuk kedalam rumah.
"Biarkan saja kalau begitu" Bu Nunik yang tengah mengambilkan segelas air untuk Arya semakin keheranan.
"Ada apa?" Bu Nunik memberikan gelas berisi air itu pada Arya.
"Apanya Bu?" Arya menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga tandas.
"Kamu seperti sedang memikirkannya sesuatu" ujar Bu Nunik.
"Arya tadi bertemu Els, Bu" jawabnya lesu.
"Benarkah? Dimana? Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja?" Bu Nunik mencecar Arya dengan berbagai pertanyaan.
"Dia baik-baik saja Bu, bahkan sangat teramat baik" ucap Arya menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.
"Ada apa Arya?" tanya Bu Nunik mendengar nada suara Arya sendu.
"Entahlah Bu, Arya senang melihat Els baik-baik saja. Tapi ada sedikit rasa tidak rela juga melihat Els di bahagiakan oleh pria lain" jujur Arya.
"Els sudah menikah lagi? Dimana kamu bertemu dengannya?"
"Tadi siang di kantor"
"Untuk apa Els di kantor mu?"
"Bukan kantorku Bu, lebih tepatnya itu kantor suami Els. Karena Els sekarang menjadi istri dari pemilik perusahaan tempat Arya bekerja" jelas Arya tersenyum miris.
"Benarkah?" tanya Bu Nunik tidak percaya, Arya hanya mengangguk dengan mata masih terpejam.
"Apakah dia bersikap angkuh dan sombongnya saat berteman denganmu?" pertanyaan Bu Nunik membuat Arya membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
"Bu, Els tetaplah Els. Dan Els tidak memiliki sifat seperti yang baru saja ibu katakan itu" bela Arya.
"Kamu masih mencintainya? Itu sebabnya kamu bicara seperti ini?" tebak Bu Nunik.
"Bu, Els adalah masa laluku, seperti apa dirinya dia pernah menjadi istriku dan mengabdikannya dirinya untuk patuh padaku. Dan selama Els menjadi istriku, dia adalah seorang istri yang baik, bukan aku masih mencintainya atau tidak. Tapi melupakan seseorang yang pernah ada dalam hati kita, tidaklah semudah itu. Apalagi orang itu tidak pernah melakukan kesalahan, mungkin dulu saat kami berumah tangga sering berselisih paham, tapi semua itu masih dalam tahap wajar" tutur Arya memberi pengertian pada ibunya.
"Ya aku menyesal karena tidak bisa mempertahankan pernikahan ku dengan Els, tapi semua sudah berlalu. Sekalipun beberapa kenangan masih tersimpan apik dalam hatiku. Biarkan kenangan indah itu menjadi milikku, karena kisah kami sudah usai dan Els telah menemukan tulang rusuk yang sebenarnya" Arya beranjak dari duduknya meninggal Bu Nunik yang masih terpaku mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Arya.
__ADS_1