
Setelah beberapa hari di kota dan berkunjung ke kantor serta ke pabrik tempat produksi barang, Ravin dan Els melanjutkan perjalanannya menuju rumah Pak Rusli. Sudah setahun lebih sejak pernikahannya dengan Ravin, Els belum sempat mudik karena kesibukan Ravin. Kini akhirnya mereka memiliki kesempatan berkunjung tanpa memikirkan berapa hari harus tinggal, karena Ravin tidak di haruskan stay di kantor, cara kerjanya kini menjadi lebih praktis dan efisien.
"Bunda" panggil Ciara.
"Ya sayang" jawab Els.
"Bunda tahu nggak, kalau Ai itu punya tiga Kakek dan tiga Nenek" kata Ciara.
"Ai?" Els mengerutkan keningnya.
"Iya Ai, teman Cia di sekolah" jelasnya.
"Oh...itu, lalu?"
"Ai bilang kalau Cia selamanya berteman dengan Ai, Nenek Kakek nya juga bisa menjadi Nenek Kakek Cia" kata Ciara.
"Berteman?" kali ini Ravin yang bersuara.
"Maksudnya berteman seperti apa sayang?" tanya Ravin.
"Berteman seperti Ayah dan Bunda, juga seperti Mommy dan Daddy nya Ai" jawab Ciara dengan polosnya, Ravin yang kini paham malah me-melototkan matanya merasa keberatan, sedangkan Els hanya tersenyum geli mendengar ucapan gadis kecilnya.
"Lalu Cia mau berteman selamanya dengan Ai?" tanya Els.
"Iya, Ai selalu baik sama Cia dan Ai selalu bantuin Cia, Ai juga selalu jagain Cia dan..."
"Dan apa?" tanya Ravin.
"Kata Ai, Cia gadis yang manis dan baik" gamblang Ciara membuat Ravin semakin tercengang tak bisa berkata-kata, tapi tidak bagi penumpang mobil lainya, Pak Eko, Asti dan juga Els malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin jika Daddy anak itu adalah seorang playboy, bisa-bisanya anak balita mengatakan hal seperti itu" kesal Ravin mendengar celoteh sang putri.
"Playboy itu apa, Ayah?" tanya Ciara membuat Ravin gelagapan.
"Aku harap Mas memberikan jawaban yang bijak" bisik Els tak suka dengan perkataan Ravin yang tidak di filter.
"Nanti kalau Cia sudah besar akan tahu playboy itu apa" jawab Ravin mencari aman, karena lirikan Els.
Ciara yang mendengar jawaban Ravin kurang memuaskan hanya diam, namun otak kritis nya memikirkan sesuatu yang pastinya diluar dugaan Ravin dan Els.
🍀🍀🍀
Perjalanan selama 4 jam itu di tempuh tanpa terasa karena ocehan Ciara yang selalu membuat penumpang mobil itu tertawa, kini mobil yang di kemudikan oleh Pak Eko berhenti tepat di halaman rumah pak Rusli.
__ADS_1
"Embahhhhh......" teriak Ciara berlari senang melihat pak Rusli duduk di teras.
"Cia kangen sama Embah" gadis kecil itu melompat dalam gendongan pak Rusli yang terkekeh mendengar ucapan cucunya.
"Embah juga kangen sama cucu cantik embah ini" ucap pak Rusli mengecup wajah mungil Ciara.
"Assalamualaikum Pak" ucap Els dan Ravin, keduanya langsung menyalami pak Rusli, dan pak Rusli memberikan tangan kanannya tanpa menurunkan Ciara.
"Walaikumsalam" jawabnya senang melihat wajah Els dengan mata berbinar, tidak seperti dulu saat Els masih menjadi istri Arya. Putrinya itu selalu bilang bahagia dan tidak apa-apa tapi matanya tampak sendu seolah menyimpan banyak beban.
"Ayo masuk, makan dulu baru istirahat" ajak pak Rusli.
"Pak Eko juga ayo masuk dan..."
"Dia Asti Pak, yang bantu Els jagain Ciara" jelas Els pada pak Rusli.
"Ohh ya, ayo nak Asti masuk" ajak pak Rusli memandu pak Eko dan Asti yang membawa beberapa koper dan barang bawaan.
"Kapan bapak renovasi rumah ini?" tanya Els, melihat rumah Pak Rusli semakin besar dan berlantai keramik.
"Memang Ravin Ndak kasih tahu kamu?" tanya pak Rusli.
"Mas Ravin?" Els menoleh kearah suaminya dan Ravin hanya tersenyum.
"Tapi ini besar sekali untuk di tinggali Bapak sama Emir" kata Els melihat rumah itu sudah berubah total dengan perabotan lengkap.
"Berapa kamar Pak?" tanya Els.
"Kamar Bapak, Emir, Kamu, dua kamar tamu dan satu kamar khusus untuk kita mengaji, berzikir, atau baca Yasin" jelas pak Rusli.
"Aku tidak tahu harus berlatih apa, terimakasih sudah memberikan segalanya untuk ku dan keluargaku Mas" ucap Els dengan mata berkaca-kaca memeluk Ravin.
"Ini tidak ada apa-apanya sayang, karena kamu sudah memberikanku sebuah keluarga. Bapak dan adik, kamu juga menjadi seorang istri dan Bunda yang baik untuk ku dan Ciara" ucap Ravin mengecup kening Els di depan pak Rusli.
"Ayo makan, Bude mu tadi sudah masak banyak" ajak pak Rusli ke meja makan.
"Bude Jum kemana Pak?"
"Biasa, dia di toko bantuin Emir" ujar pak Rusli.
"Pak Eko, nak Asti juga ayo makan sama-sama" ajak pak Rusli. Keduanya malah saling tatap-tatapan.
"Pak Eko, Asti malah pandang-pandangan. Nanti jatuh cinta lho" goda Ravin.
__ADS_1
"Ayo sini makan bareng-bareng" ajak Ravin, ia tahu jika dia pekerjanya itu canggung makan bersama dengannya. Padahal setiap hari apa yang di makan Ravin dan Els, itu juga yang para pekerjanya makan, hanya saja biasanya mereka makan di ruangan mereka sendiri atau di dapur belakang, itulah yang membuat mereka canggung.
Akhirnya mereka makan bersama saku meja, Ciara masih nempel sama pak Rusli bahkan di suapi oleh pak Rusli. Meskipun Els sudah melarangnya, namun pak Rusli dengan senang hati menyuapi Ciara dengan dalih jarang bertemu Ciara, dan hanya sesekali memanjakan gadis kecil itu. Pak Rusli meminta Els dan Ravin agar tidak melarangnya memanjakan cucu cantiknya.
"Rumah ini benar-benar besar" ucap Els untuk kesekian kalinya, kini ia dan Ravin berada di halaman belakang yang banyak pohon Pete, pisang, belimbing wuluh, coklat, kelapa, jambu, dan juga mangga. Pekarangan rumah Pak Rusli memang luas sehingga banyak tanaman, bahkan dulu juga ada kandang sapi dan kandang kambing di belakang rumah. Pokonya rumah kampung khas pedesaan milik petani, itulah rumah pak Rusli.
"Kandang sapi dan kambingnya kemana?" gumam Els.
"Sepertinya itu sayang" Ravin menunjuk sebuah kandang sapi besar di pekarangan sebelah.
"Itukan pekat milik pas Sarno, sepertinya tidak mungkin" ucap Els, karena setahunya itu adalah pekat milik tetangga Els yang bernafaskan pak Sarno.
"Kata Emir pekarangan itu di jual oleh pemilikan yang saat itu butuh uang untuk biaya berobat anaknya. Dan Mas meminta Emir untuk membelinya, karena rumah bapak kan sedang di renovasi menjadi besar dan..."
"Jadi Mas juga membeli pekarangan itu?" sela Els.
"Ya, ada yang salah?"
"Mas beli pekarangan sudah seperti beli kacang goreng" sungut Els.
"Mas hanya melihat sebuah peluang investasi masa depan sayang, karena sebuah lahan itu semakin lama harganya semakin mahal" jelas Ravin memeluk Els dari belakang.
"Tapi kenapa di jadikan kandang sapi?"
"Karena Mas sudah memberi pengarahan pada Emir untuk berternak sapi dan kambing, dan sepertinya Emir cukup paham mengelolanya, lihat berapa banyak sapi di kandang itu?" Els dan Ravin berjalan ke arah kandang itu.
"Tujuh ekor sapi" ucap Els.
"Padahal saat kita kesini dulu hanya ada tiga ekor sapi di kandang kan?" ucap Ravin di angguki Els.
"Ini banyak sekali kambingnya, aku mau sate kambing muda" ucap Els melihat ke arah kandang kambing tepat sebelah kandang sapi.
"Baru juga datang, tiba-tiba minta sate kambing muda ckckckc" ucap seseorang yang baru saja datang.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺