
Els duduk bersandar di headboard ranjang, tangannya terulur membelai kepala Ciara yang tertidur di sampingnya, namun pikirannya melayang kemana-mana. Pertemuan nya dengan Arya sangat mengejutkan bagi Els, sangat diluar dugaannya.
"Pantas aku merasa tidak asing melihat logo perusahaan Mas Ravin, ternyata" batin Els, ia dulu pernah melihat logo pertama Ravin di dokumen yang Arya bawa pulang.
"Aku masih tidak percaya bisa bertemu dengan mas Arya disini, apakah aku harus mengatakannya pada Mas Ravin?" bisik Els dalam hati.
"Ya sebaik aku akan mengatakan ini pada Mas Ravin agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari" putus Els untuk bicara jujur pada Ravin jika ia beri saja bertemu dengan mantan suaminya.
Ceklek....
Pintu kamar itu terbuka, dan terlihat Ravin dengan senyum hangatnya mendekati Els.
"Sudah lama dia tidur?" tanya Ravin melirik pada putri dan mengecup kening Els.
Cup....
Membuat hati wanita itu menghangat.
"Dia baru saja tertidur" Els melipat kakinya agar Ravin bisa duduk di depannya.
"Ingin makan sesuatu?" tanya Ravin.
"Mas, aku baru saja makan" Els melihat jam di pergelangannya, baru saja menunjuk pukul 14.15 dan kini suaminya menawari makan lagi.
"Mas hanya tidak ingin kamu kelaparan sayang" Ravin membelai pipi chubby Els.
"Tapi aku belum lapar, mas sengaja ingin membuatku menjadi buntalan karung?" tuduh Els.
"Kamu adalah buntalan karung yang paling cantik, dan hanya Mas yang punya" ucapnya tersenyum.
"Maksud Mas, aku benar-benar gemuk? Begitu? Iya?" cerca Els memecingkan matanya, membuat Ravin menelan gumpalan saliva nya ,dengan susah payah.
"Sepertinya aku salah bicara, dan sekarang aku berada dalam masalah besar" batin Ravin tersebut canggih pada Els.
"Sayang, Mas tidak bermaksud bicara begitu" ucap Ravin dengan nada lembut.
"Jadi maksudnya aku yang salah?"
"Tidak sayang, bagaimana mungkin istri Mas yang begitu baik ini melakukan kesalahan?" Ravin memaksakan senyumnya.
"Mas tidak sedang berbohong kan?"
"Tentu saja tidak sayang, tidak ada gunanya jika Mas berbohong" ucap Ravin dengan sungguh-sungguh, namun berbagai dengan hatinya.
"Tapi kenapa terdengar tidak tulus?" lirih Els.
"Itu hanya perasaan mu sayang, jangan terlalu di pikirkan" Ravin ingin segera mengakhiri drama ini.
Els menatap lekat netra hitam Ravin, wajah tampan, hidung mancung, alis tebal, rahang tegas mulus tanpa jambang ataupun kumis, bibir penuh. Sempurna, hanya itu yang bisa Els katakan saat memandang wajah suaminya.
"Ada apa?" Ravin menyadari saat Els menatapnya.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu" lirih Els menggigit bibir bawahnya.
Cup.....
Ravin tak tahan untuk tidak mengecup bibir ranum istrinya.
"Mas ada Ciara disini, bagaimana kalau hmpppp......" kini bukan hanya mengecup, tapi Ravin mencium dan ******* bibir indah Els yang terbuka saat wanita itu bicara.
"I love you" ucap Ravin saat ciuman itu terlepas, jarinya mengusap bibir basah Els karena salivanya.
"Apa yang ingin kamu katakan sayang?" Els masih menatap Ravin dan kembali menimbang-nimbang.
"Kita bicara di luar saja" Els belum bisa menerka Baha'i reaksi Ravin, dan ia tidak ingin apa yang akan ia katakan mengganggu tidur Ciara.
🍀🍀🍀
Els dan Ravin duduk di sofa panjang tak jauh dari meja kerja Ravin, ia ingin mengatakan semuanya pada Ravin agar hatinya tenang menjalani biduk rumah tangga barunya.
"Mas, aku tadi bertemu dengan mantan suami ku" ucap Els membuka pembicaraan, Ravin yang tadinya duduk bersandar di sofa, kini menegakkan tubuhnya.
"Kapan? Dimana?"
"Tadi siang, di kantin saat kita mau makan"
"Benarkah? Lalu?" Els memecingkan matanya mendengar suara Ravin yang biasa saja.
"Mas tidak marah?" tanyanya lalu Ravin tersenyum.
"Apakah istriku ini masih cinta dengan mantan suamiku?"
"Tentu saja tidak " sahut Els cepat.
"Jadi, apa alasan yang membuat Mas harus marah?" Ravin menangkup kedua pipi chubby Els.
Cup....
Pria itu kembali mengecup bibir ranum Els.
"Jadi apa yang kalian bicarakan?" Ravin meletakkan kepala Els di dadanya dan membelai rambut Els yang mulai memanjang.
"Tidak ada, tadi dia menolong ku saat aku hampir jatuh karena mengejar Ciara yang berlari ke toilet"
"Kau jatuh? Ada yang terluka? Apakah sakit?" Ravin mengurai pelukannya dan menelisik tubuh Els.
"Mas, aku tidak jatuh. Tapi hampir jatuh karena mas Arya tadi menahan tubuhku" jelas Els.
"Kau disentuhnya?" Els mengangguk.
"Bagian mana?" Els menunjuk pinggang dan lengannya, lalu Ravin menciumi bagian tubuh yang Els tunjuk.
Cup..cup...cup...cup....cup...
__ADS_1
Ravin melakukan itu berilah kali hingga membuat Els terkikik geli.
"Mas, apa yang kau lakukan? Ahhh...berhenti" Els menahan kepala Ravin.
"Diam sayang, Mas sedang menghilangkan jejak pria itu" Ravin memegang tangan Els.
"Mas, ini sangat berlebihan" ucap Els lalu Ravin melepaskan tangannya dan menatap dingin Els.
"Jadi kamu suka dengan sentuhannya?" tuduh Ravin, membuat Els kikuk.
"Tidak"
"Lalu?"
"Baiklah, terserah Mas saja" pasrah Els, membuat Ravin menyeringai penuh kemenangan dan kembali menghujani tubuh Els dengan kecupan nakalnya.
"Lain kali harus lebih hati-hati sayang, Mas tidak ingin kau terluka, bahkan seujung kuku" ucap Ravin setelah puas mengecup tubuh indah Els.
"Hemmm" sahut Els bersandar di dada bidang Ravin.
"Tapi bagaimana bisa kamu bertengkar dengan mantan suamimu disini?"
"Kurasa dia salah satu karyawan Mas, dulu aku tahunya dia bekerja di pabrik garment. Tapi selebihnya tidak tahu lagi" jujur Els.
"Mas bolah tanya sesuatu?" Els mengangguk.
"Apa yang membuatmu bercerai dengannya dulu?" tanya Ravin, sebab pria itu belum tahu penyebab perceraian Els dengan mantan suaminya. Els terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Ravin.
"Ibu mertua ku tidak menyukaiku karena aku bukan dari kalangan orang berada, dan lagi karena aku tak kunjung hamil padahal sudah di tahun ketiga pernikahan. Hal itu semakin membuat beliau tidak suka dan memperlakukanku dengan buruk, bahkan diam-diam beliau mengenalkan Mas Arya dengan wanita pilihannya" tutur Els menghela nafas panjang.
"Jangan di teruskan jika membuatmu sedih sayang" ucap Ravin.
"Tidak, aku tidak sedih sama sekali" sahut Els.
"Saat itu aku pulang kampung karena Mamak sakit dan akhir meninggal, dan satu tahun setelah itu, aku merasa jika Mas Arya berubah, aku merasa semakin jauh darinya, dia sering marah bahkan berteriak padaku, padahal dia tahu jika kedua hal itu adalah sesuatu yang paling aku benci dan aku takutkan, tapi dia melakukannya membuat luka hatiku kembali menganga" Ravin mengeratkan pelukannya.
"Saat itu aku sakit, Tubuhku benar-benar lemas tak berdaya. Tapi Ibu mertua mengatakan hal yang tidak-tidak sehingga mas Arya marah dan memperlakukanku dengan kasar. Dia mendorong ku dengan kuat hingga aku jatuh kesakitan dan pingsan, Mas tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Els mengurai pelukan dan menatap Ravin, pria itu menggeleng tanda tidak tahu.
"Aku keguguran karena mereka terlambat membawaku ke rumah sakit, hiks.... satu-satunya hal yang ku sesali. Aku kehilangan calon anakku tanpa aku tahu kehadirannya, hiks...hiks...itu sangat menyakitkan dan membuatku hancur" Ravin kembali memeluk Els, memberikan rasa aman dan nyaman. Ravin paham jika hal itu sangat tidak mudah bagi Els.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1