
Emir menatap heran ketika Lisa memakan semua menu pesan tampak lahap, sudah seperti tidak makan berhari-hari. Dan gadis itu tidak malu makan dengan pipi mengembung karena mulutnya penuh dengan makanan, tidak ada jaim atau bersikap feminim didepan Emir yang notabenenya seorang pria, benar-benar tidak seperti biasanya Lisa selalu menjaga image di depan pria-pria tampan. Eiitttsss bukan berarti Emir tidak tampan, meskipun tidak memiliki hidung mancung dan mata setajam elang, tapi Emir cukup tampan ala pria Indonesia. Emir juga memiliki tubuh atletis meskipun ia tidak pernah memasuki Gym, sebab mengangkat padi dan singkong saat panen juga termasuk olahraga dan membuat tubuh Emir berotot.
"Abang benar-benar tidak mau?" tawar Lisa untuk kesekian kalinya pada Emir, pria itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Enak lho Bang, cobain deh" Lisa menyodorkan satu sendok kue coklat pada Emir.
"Tidak, kamu saja yang makan" tolak Emir menepis sendok itu dari hadapannya, lalu menyesap cappuccino hangat miliknya.
"Kalau tidak mau lalu kenapa liatin aku kayak gitu?" protes Lisa melanjutkan makannya.
"Aku melihatmu makan bukan berarti aku menginginkan makanan mu. Tapi karena kamu makan dengan lahap, seperti tidak pernah makan kue coklat saja" jelas Emir, membuat Lisa menghentikan makannya, gadis itu menyedot milkshake strawberry dalam jar.
"Aku memang sudah jarang makan di Kafe" lirih Lisa, Emir mengerutkan keningnya tak mengerti. Karena setahu Emir, Lisa sangat di manjakan oleh mantan Kakak iparnya.
"Kehidupan ku berubah 180° setelah Mas Arya dan mbak Els bercerai, karena tidak lama setelah itu, Mas Arya menikah lagi dengan wanita pilihan Ibu" Lisa melirik Emir yang menyimak ceritanya.
"Aku rasa, Bang Emir sudah tahu tentang itu"
"Tentang apa?" Emir tak paham.
"Tentang mas Arya menikahi wanita pilihan Ibu" ucap Lisa.
"Mbak Els memang bilang kalau mas Arya di kenalkan dengan wanita lain oleh ibumu, tapi aku tidak menyangka jika mas Arya akan menikah secepat itu" tutur Emir sejujurnya.
"Sebenarnya aku tidak bisa dikatakan adik ipar yang baik untuk mbak Els, karena sikap ibu selalu memperlakukan mbak Els dengan buruk dan aku tidak pernah membelanya. Lebih tepatnya, aku tidak pernah mau ikut campur urusan orang-orang dalam rumah itu, baik mas Arya dan mbak Els ataupun mas Aryo dan mbak Dini" jelas Lisa.
"Tapi sepertinya aku salah karena bersikap masa bodoh. mbak Els terlalu lemah berhadapan dengan Ibu, dan mas Arya yang tidak bisa mengambil sikap tegas, sehingga perceraian antara mereka terjadi" Lisa menundukkan kepalanya, ada rasa sesal karena kehilangan kakak ipar sebaik Els.
"Semua sudah berlalu, baik mbak Els dan mas Arya sudah kembali melanjutkan kehidupannya dengan pasangan masing-masing. Aku yakin hidup mereka jauh lebih bahagia" sahut Emir sangat berharap kehidupan rumah tangga Kakak nya itu benar-benar bahagia.
"Bahagia?" Lisa tersenyum kecut mendengar kata bahagia pada kehidupan Arya. Bahkan gadis itu sangat yakin jika kehidupan Arya morat marit karena beristrikan Cindy yang memiliki sifat Bossy dan mau menang ya sendiri.
"Mas Arya menikah dengan wanita pilihan Ibu setelah satu bulan perceraiannya dengan mbak Els" ucap Lisa membuat Emir terkejut bukan main, pria itu benar-benar tidak menyangka jika Arya akan secepat itu menikah lagi.
"Biasa saja Bang, jangan terkejut" Lisa tersenyum melihat wajah Emir benar-benar terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak pernah tahu bagaimana jalan cerita mereka, tapi yang aku tahu Cindy bukanlah wanita yang baik" ucapnya.
"Cindy?" ulang Emir.
"Istri barunya mas Arya namanya Cindy. Dan mereka sekarang sudah dikaruniai seorang anak perempuan berusia satu tahun kalau tidak salah" jelasnya, hanya di angguki Emir.
"Dan sejak mas Arya menikahi Cindy, kehidupan ku berubah. Mas Arya jarang ngasih uang jajan, sehingga aku tidak pernah lagi ke Kafe. pulang pergi ke kampus harus naik bus atau angkot, tidak ada lagi yang namanya ojek apalagi taksi. Dan sekarang uang kuliahku di berhentikan oleh Cindy" Lisa menghela nafas berat.
"Lalu bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Emir.
"Ya aku harus mencari uang sendiri Bang, tahun ini sudah masuk semester enam, sayang sekali jika harus putus di tengah jalan" tutur Lisa.
"Lalu bagaimana dengan uang kuliahmu?"
"Sebenarnya...." Lisa ragu memberi tahu Emir, ia juga malu memberitahu kebenarannya.
"Ada apa?" tanya Emir penasaran.
"Huffff..... sebenarnya aku kesini tadi mau mencari uang" ucap Lisa mengaduk-aduk milkshake nya.
"Ya karena janjiannya di hotel" Lisa menundukkan kepalanya.
"Aku tidak mengerti" ucap Emir.
"Tadi aku bertemu dengan calon klien ku"
"Calon klien?"
"Aku berencana menjadi...." gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa sangat malu.
"Jangan bilang kalau kamu berencana menjual diri" tebak Emir membuat Lisa kelabakan.
"Tidak Bang, aku tidak semurah itu" elak Lisa.
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku tidak menjual diri, karena aku berencana menjadi sugar baby" lirihnya, Emir terperangah mendengar ucapan Lisa.
Brakkkkkkkkkk.....
Entah sadar atau tidak, Emir menggebrak meja dengan keras bahkan cappuccino di cangkir nya tumpah.
"Itu sama saja Lisa" seru Emir membuat pengunjung Kafe lainya memperhatikannya.
"Bang, jangan keras-keras dong" lirih Lisa memelas dengan melihat orang-orang sekitarnya.
"Ehem, maaf" ucap Emir. sedangkan liha hanya menundukkan kepalanya.
"Memang tidak ada cara lain selain cara kotor itu?" tanya Emir.
"Aku tidak pernah kerja Bang. Dan jika bekerja pun gaji nya juga tidak seberapa, sedangkan uang kuliah ku tidak murah, belum lagi aku juga harus menafkahi diri sendiri" tutur Lisa.
"Tapi tidak harus menjadi sugar baby Lisa, kamu itu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Untuk apa kamu menuntut itu tinggi-tinggi jika kamu merendahkan harga dirimu sendiri? apa artinya ilmu itu jika kamu tidak bisa menjaga harga dirimu? bukankah menuntut ilmu setinggi langit agar tidak ada yang bisa merendahkan mu? lalu kenapa kau malah menjatuhkan harga dirimu?" oceh Emir sudah seperti mengocehi adiknya sendiri.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Bang. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa, aku pikir menjadi sugar baby sudah paling aman, kerjanya sembunyi-sembunyi dan uangnya menjanjikan. Aku yakin bisa hidup normal seperti orang lain, lagi pula banyak diluar sana yang berprofesi menjadi wanita penghibur tapi tetap bisa menjalani hidupnya dengan dagu terangkat ke atas, padahal tubuhnya sering di jamah pria hidung belang. Sedangkan jika menjadi sugar baby kan hanya satu pri...."
"Jadi menurut.u profesi yang kamu pilih itu lebih baik dari pada wanita penghibur di luar sama?" sergah Emir menatap sinis pada Lisa.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa Bang" ucap Lisa putus asa, gadis 29 tahun itu seperti kehilangan arah karena baik Ibu dan Kakaknya tidak pernah lagi memperhatikan dirinya, mereka semua mengira jika Lisa sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan buruk, mereka percaya jika Lisa tidak akan melakukan kesalahan tanpa mereka pikir jika Lisa masih butuh perhatian, bimbingan juga arahan agar gadis itu tidak memilih jalan yang salah dalam hidupnya.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1