My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Dilema


__ADS_3

Els tidak tahu harus berbuat apa untuk kembali mendekati Ciara, anak sambung Els itu semakin hari semakin menjauh, terhitung sudah hampir satu minggu Els tidak mendengar canda tawa Ciara, senyum cerah yang selalu menghiasi bibir gadis itupun hilang entah kemana. Ravin sendiri di buat bingung dengan perubahan sikap Ciara yang terlalu mendadak dan mencolok, saat ia bertanya pada Sintia, wanita itu mengatakan tidak berbuat apa-apa pada Ciara, bahkan dengan santainya Sintia mengatakan tidak akan menemui Ciara tanpa izin Ravin dan Els.


"Sayang kenapa tidak makan?" tanya Els, padahal dirinya hari ini memaksakan diri untuk memasak makan favorit Ciara agar gadis kecil itu tidak menjauhi nya.


"Cia tidak suka dengan lauknya" ketus Ciara yang tentu saja bohong.


"Sayang, ini kan makan favorit Cia" bujuk Ravin.


"Sekarang tidak lagi" gadis kecil itu meletakkan sendok yang tadi ia gunakan untuk mengaduk-aduk makanan nya.


"Cia sebenarnya kenapa? coba cerita sama Bunda, atau Bunda punya salah sama Cia?" tanya Els lembut, ia sungguh merindukan pelukan hangat putri sambungnya.


"Bunda tidak jujur sama Cia"


"Memangnya Bunda tidak jujur kenapa?" kali ini Ravin yang bertanya.


"Bunda itu kan...." Ciara menatap Els.


"Bunda kenapa sayang?" Els mengambil gelas berisi air putih.


"Bunda ibu tiri kan? bunda bukan bunda yang melahirkan Ciara?"


Pyarrrrr......


Gelas yang ada di tangan Els meluncur bebas saat mendengar pertanyaan Ciara, jantung Els berdegup kencang, matanya mengembun, dadanya sesak, dan kepalanya mendadak sakit luar biasa.


"Cia..." lirih Ravin menatap tak percaya pada putrinya, ia juga melihat raut kesedihan di wajah Els.


Ternyata ini yang membuat Ciara berubah, hal ini yang membuat Ciara menjauhi Els, kenapa kebenaran itu sangat menyakitkan saat di ucapkan oleh Ciara? Els tidak pernah membayangkan jika gadis kecil yang di cintai dan di sayangi sepenuh hatinya akan bicara seperti ini. Memang kata-kata Ciara tidak salah, tapi kasih sayang yang Els punya dan Els curahkan pada Ciara itu jauh lebih besar dan sangat tulus lebih dari yang Sintia berikan. Els harus apa jika karena hal ini Ciara menjauhinya?.


"Cia kenapa bertanya seperti itu nak?" Els mencoba untuk mengendalikan dirinya.


"Jadi benar jika Bunda itu ibu tiri?" seperti biasanya, gadis itu akan terus bertanya hingga mendapatkan jawaban yang pasti.


"Cia, berhenti bertanya seperti itu pada Bunda, jangan membuat Bunda sedih" ucap Ravin.


"Ayah juga bohong sama Cia? ayah tidak bilang jika Bunda ini bukan ibu kandung Ciara" ucap gadis itu, Els tertegun mendengar kata 'Bunda ini' bukan Bunda Els.


"Cia, ayah tidak pernah berbohong pada Ciara. Hanya saja belum saatnya Cia mengerti" Ravin tidak habis pikir bagaimana Sintia bisa setega itu pada putri kandungnya. Sintia mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan mengingat Ciara masih terlalu kecil untuk mengerti, jika ingin bertemu atau menghabiskan waktu bersama Ciara, kenapa harus berbuat sejauh ini? sekarang Ciara pasti sangat kebingungan dan takut.


"Tidak, ayah berbohong, ayah tidak mengatakan pada Cia jika Cia punya Mami Sintia. Apa ayah tidak tahu jika ibu tiri itu jahat? kenapa Cia di berikan ibu tiri? kenapa tidak dengan Mami saja? ibu tiri itu hanya sayang sama Ayah, ibu tiri itu jahat, ibu...."


"CIARAAAAAA" bentak Martin tanpa sengaja, membuat gadis kecil itu terjingkit, begitu pun dengan Els.


"Mas..." Els menatap tidak suka pada Martin.


"Maaf, maafkan Ayah, Ayah tidak seng...."


"Ayah jahat, ayah jahat..." teriak Ciara lalu berlari ke kamarnya.

__ADS_1


"Ciara...." Els hendak menyusul Ciara, namun entah mengapa kepalanya terasa berputar-putar hingga..


Brukkkkkkkk.....


"Els..." Ravin terkejut melihat Els terjatuh di lantai.


"Els...bangun" Ravin menepuk-nepuk pipi Els namun wanita itu tetap tidak bangun.


Membuat Ravin bingung, antara mengejar sang putri atau mengurus Els terlebih dahulu.


"Mbok, tolong temani Els di kamar" ucap Ravin membopong tubuh Els yang tak sadarkan diri.


"Tolong hubungi dokter Fitri dulu" titah Ravin pada mbok Yati yang mengikutinya nya di belakang.


🍀🍀🍀


Ravin kini berada di kamar sang putri, gadis kecilnya itu masih merajuk dan tidak ingin bicara dengannya meskipun sudah di bujuk sejak tadi. Sungguh kerak kepala percis seperti dirinya.


Tok...tok...tok...


ceklek...


"Tuan, dokter Fitri sudah datang" ucap mbok Yati.


"Baiklah, saya akan segera kesana" jawab Ravin.


"Tidak" tolak Ciara.


"Ya sudah, ayah lihat bunda sebentar ya, dokter Fitri sedang memeriksa keadaan bunda. Cia, ayah tinggal sebentar bisa?" tanya Ravin lembut, namun gadis kecil itu tidak menjawabnya.


Ravin keluar dari kamar Ciara, ia harus memastikan jika kondisi Els baik-baik saja. Sebab beberapa hari ini keada Els mang kurang baik, di tambah dengan sikap Ciara yang berubah, membuat Els semakin sering uring-uringan.


"Bagaimana mana keadaan istri saya dokter?" tanya Ravin pada dokter Fitri, senior dulu saat di kampus.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Istri kamu baik-baik saja, malah ada kabar gembira untuk kamu" jawab dokter Fitri.


"Kabar gembira apa?" Ravin tidak terlalu antusias sebab pikiran nya masih terbagi dengan sikap Ciara.


"Selamat, kamu akan menjadi ayah lagi" ucap dokter itu.


"Ayah lagi?" Ravin masih mencerna.


"Maksudnya istriku hamil? benar begitu?" mata Ravin berbinar bahagia.


"Tentu saja istrimu hamil, tidak mungkin kucing yang hamil dan kamu yang akan menjadi ayah lagi" dokter Fitri menggelengkan kepalanya.


"Ckk, kau ini" ucap Ravin.


"Jaga dia baik-baik, segera bawa istri mu periksa ke dokter kandungan" pesan dokter Fitri.

__ADS_1


"Hem, aku mengerti. Terimakasih banyak telah memberiku kabar gembira"


"Jangan lupa, bayaran ku double" guraunya.


"Kau ini seorang dokter atau rentenir?"


"Aku tidak perduli, aku pulang dulu, jangan lupa segera bawa istri mu ke rumah sakit" pesan nya sebelum meninggalkan kamar Ravin.


Ravin menatap bahagia pada Els yang masih tertidur, ia sangat bersyukur bisa membuat istrinya hamil. Dengan begitu Cia tidak akan mengatakan jika dirinya tidak bisa membuat dedek bayi lagi, karena dedek bayi yang sangat Cia harapkan kehadirannya kini sudah tumbuh dalam rahim Els.


"Enghh..." Els mulai membuka matanya.


"Mas, kamu disini? dimana Ciara?" tanyanya.


"Cia ada di kamarnya"


"Kenapa mas disini? kenapa meninggalkan Cia sendirian?" protes Els.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu" Ravin menatap serius pada Els.


"Ada apa?"


"Kita akan segera punya anak, adiknya Cia sedang tumbuh dalam rahim mu" ucap Ravin mengelus lembut perut rata Els.


"Be...benarkah Mas?" mata Els sudah berkaca-kaca terharu dan setengah tidak percaya, mengingat di pernikahan pertamanya dulu Els baru bisa hamil setelah empat tahun menikah.


"Tentu saja sayang" Ravin memeluk tubuh Els.


"Aku hamil, aku bisa hamil mas, aku akan melahirkan anakku sendiri Mas, aku bisa memberikan adik untuk Ciara" ucap Els dengan air mata bahagia membasahi pipinya.


"CIA TIDAK MAU PUNYA ADIK DARI BUNDA, CIA GAK SUKA PUNYA ADIK, CIA GAK MAU PUNYA ADIK" teriak Ciara di ambang pintu mendengar percakapan Ravin dan Els.


Deg....deg...deg.....


Jantung Els terasa di hantam batu yang besar setelah mendengar teriakan putri sambung nya yang menolak kehadiran calon buah hatinya.


"Cia..." ucap Els dan Ravin bersamaan, keduanya terkejut mendengar kata-kata Ciara. Ravin tidak pernah menyangka jika reaksi penolakan seperti itu yang akan di tunjukkan oleh sang putri.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2